
~ Happy Reading ~
Nusa, Kaya, Mila dan Jessica makan siang bersama di restoran terdekat dengan perusahaan. Nusa dan Kaya duduk saling berhadapan, sedangkan Jessica dan Mila duduk di samping Nusa. Jadi Nusa duduknya di tengah-tengah antara mereka berdua. Tempat duduk restoran tersebut menggunakan sofa.
Makanan yang sudah di pesan mereka pun tiba dan ditaruh di meja oleh pelayan. Nusa merasa kesusahan karena tangan kanannya terluka. Jessica dan Mila mencoba membantu Nusa.
“Sini sayang aku bantu!” Jessica mencoba mengambil sendok dari tangan Nusa.
“Enggak usah bu Jessica, saya aja!” Mila mengambil sendok yang di ambil Jessica. Mereka saling menarik sendok tersebut.
“Apaan sih kamu Mila?! Udah kamu makan aja, saya yang suapin Nusa.” Jessica mencoba menarik sendok tersebut.
“Saya aja bu. Ibu kan tamu, enggak baik menyuapi pak Nusa. Apalagi ibu Model, nanti kotor tangan Ibu?!” Ucap Mila dengan kesal.
“Tidak apa Mila. Saya saja,” Jessica menariknya lagi dengan mata melotot.
“Saya aja bu,” Mila menariknya dengan melotot juga.
Nusa yang memperhatikan mereka hanya menghela napas dan menunggu mereka selesai berdebat. Sementara Kaya tertawa kecil melihat kelakuan Jessica dan Mila.
“Mila, lepasin enggak!” Kini Jessica lebih galak.
“Saya aja bu,” Mila tidak mau kalah.
Nusa yang tidak tahan akhirnya membentak mereka. “Kalian bisa enggak sih, enggak berebutan!”
Jessica dan Mila melepaskan sendok tersebut, sehingga jatuh ke piring Nusa. “Lihat kan! Waktu kita terbuang sia-sia karena kalian. Jessica kamu suapin saya! Mila kamu diam saja makan!” perintah Nusa.
Jessica langsung memeletkan lidahnya ke arah Mila dan merasa menang darinya. Sedangkan Mila merasa kesal sambil memegang sendok garpu yang ditancapkan di makanannya dengan kasar. Kaya yang mengamati mereka hanya tertawa dalam hati sambil makan dengan cool.
“Yaudah Nusa, aku suapin kamu yah!” Jessica mengambil kembali sendok tadi dan menyendok makanan untuk Nusa.
“Nus, buka mulutnya!” Jessica menyuapi Nusa dan Nusa membuka mulutnya. Mila yan melihatnya merasa kesal sambil memakan ayamnya agak kasar.
“Kamu kenapa Mila?” tanya Kaya berpura-pura tidak tahu, sambil tersenyum.
“Ayamnya keras bu, jadi harus digigit kasar.” Jawab Mila dengan kesal.
“Ohhh...,” gumam Kaya mengumpatkan tawanya.
“Nusa sayang buka mulutnya lagi!” Jessica menyuapi Nusa dengan gayanya yang lenje dan membuat Kaya sama Mila ingin muntah.
Nusa menuruti pekataan Jessica, dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Jessica. “Aku haus,” ucap Nusa.
Mila dan Jessica langsung bergegas mengambil air minum Nusa yang sudah di meja. Mereka berebutan lagi.
“Saya aja bu,” Mila menarik gelas tersebut.
“Saya aja,” Jessica mengotot.
Kaya yang melihat kelakuan tidak sengaja tertawa dan membuat Jessica sama Mila melihatnya. Kaya langsung terdiam.
“Lanjutkan...., lanjutkan...,” Kaya melanjutkan makan mie goreng pesanannya, sambil meliha perdebatan mereka lagi.
Jessica dan Mila melanjutkan berebut gelas. Nusa hanya pasrah dan menikmati saja perdebatan mereka lagi. Padahal dirinya sudah haus dan tenggorokannya sudah srek.
“Bu..., saya aja!” Mila menarik gelasnya.
“Mila, kenapa sih dengan kamu? Kamu itu hanya sekertaris tapi berani yah sama saya!” Jessica menarik gelas tersebut dan mereka saling tarik menerus, sehingga gelas tersebut tumpah ke muka Nusa.
“Yah tumpah,” Mila langsung melepas gelas tersebut dan membiarkan Jessica yang memegangnya.
Jessica dan Mila langsung terdiam memperhatikan wajah Nusa yang tertumpah minuman manis. Kaya sontak langsung tertawa terbahak-bahak. Nusa mengelap mukanya dengan tangan kirinya.
Selesai mengelap, Nusa melihat mereka dengan sinis. Jessica dan Mila terdiam merasa bersalah. Sedangkan Kaya terus tertawa melihat Nusa dan Nusa langsung menatap Kaya dengan sinis.
“Bu Kaya,” panggil Mila mengisyaratkan untuk diam.
“Maaf... maaf.., abisnya kalian lucu.” Kaya menahan tawanya dan mencoba terdiam.
“Nusa, aku juga minta maaf.” Jessica berdiri dari kursi dengan muka bersalah. “Aku elap lagi yah!” Jessica ingin mengambil tisu.
“Enggak usah!” ketus Nusa.
“Kalian bisanya buat saya marah saja dari tadi!” Omel Nusa berdiri dari kursi.
“Maaf Nusa,” ucap Jessica.
“Iya maaf pak,” ucap Mila bersalah.
“Minggir kalian!” Nusa ingin keluar dari mereka. Jessica pun minggir dan mempersilahkan Nusa keluar.
“Kamu mau ke mana Nusa?” tanya Jessica.
“Ke toilet. Kenapa kamu mau ke toilet cowok juga bersama aku?” tanya Nusa dengan ketus.
“Enggak Nus,” jawab Jessica melas.
Nusa memperhatikan Kaya dengan sinis yang dari tadi masih tertawa kecil. Lalu Nusa pergi meninggalkan mereka menuju toilet. Jessica dan Mila kembali duduk dan berdebat lagi.
“Ini semua karena kamu Mila!” omel Jessica menunjuk Mila.
“Enak aja. Ini semua juga gara-gara ibu yah!” tunjuk Mila yang tak mau kalah.
Mereka pun berdebat dan saling menyalahkan. Kaya hanya merasa bosan melihat mereka berdebat lagi dengan tangan menumpu pipi dan memainkan mienya dengan sendok garpu.
“Ibu harusnya mengalah! Udah nyuapin pak Nusa sekarang gantian saya yang kasih minum.” Ucap Mila.
“Kamu suka sama Nusa yah?” tanya Jessica dengan mata melotot.
“Iya emang kenapa? Saya memang suka sama pak Nusa.” Jawab Mila dengan jujur.
“Nusa itu pacar saya. Jadi kamu jangan menggoda dia!” Jessica berkacak pinggang.
“Enak aja. Nusa belum jadi pacar ibu yah. Jangan ngaku-ngaku deh.” Tunjuk Mila dengan kesal.
Kaya yang merasa capek melihat mereka, meletakkan garpunya dengan keras sehingga berbunyi dan membuat mereka memandang Kaya.
“Kalian lanjutkan yah debatnya! Saya mau ke toilet dulu. Kalau perlu hancurkan saja restoran ini!” Kaya berdiri dari kursi dan mengomeli mereka. Kaya langsung berjalan menuju toilet. Mereka menghentikan perdebatannya dan saling membuang muka.
Sebelum ke toilet, Kaya menuju bar untuk memesan minum. Setelah selesai, Kaya membawa minuman tersebut menuju toilet cowok. Kaya menunggu Nusa di depan pintu toilet dengan menyender tembok. Nusa pun keluar dari kamar mandir. Kaya langsung menghampiri Nusa.
“Nih minum! Aku tahu kamu tadi haus.” Kaya menyodorkan gelas ke Nusa. Lalu Nusa mengambilnya dari tangan Kaya dengan senyum.
“Kasihan banget sih kamu Nusa. Harusnya kamu bagi aja badan kamu. Biar satu di kasih ke Mila dan satu lagi ke Jessica.” Ejek Kaya sambil tertawa.
“Kenapa kamu cemburu bukan?” tanya Nusa tersenyum.
“Heh, mana mungkin aku cemburu denganmu. Aku hanya merasa kasihan pada dirimu yang disukai perempuan seperti mereka.”
“Lebih baik seperti mereka daripada perempuan sepertimu, penipu.” Ucap Nusa dengan tajam. “Tapi bagaimanapun aku harus berterimakasih soal ini.” Nusa menunjukkan tangan terlukanya di depan muka Kaya.
“Tidak perlu berterimakasih. Harusnya kamu berterimakasih kepada Jessica yang telah menggantinya dengan perban.”
Nusa langsung menarik Kaya dengan tangan terlukanya ke arah tembok dan menyederkan Kaya di tembok. “Katakan padaku, kamu cemburu kan?” tanya Nusa menatap Kaya dengan tajam.
“Sudah ku bilang berapa kali. Aku takkan pernah cemburu. Lagi pula buat apa aku cemburu, aku tidak pernah mencintaimu Nusa.” Kaya menatap mata Nusa dengan sinis.
“Baiklah,” Nusa melepaskan tangan Kaya.
“Cepatan minum! Karena kita akan ada meeting hari ini!” Kaya manatap Nusa dengan sinis, lalu pergi meninggalkan Nusa di sana.
“Kaya, aku akan buat kamu cemburu dan engkau akan mengatakan sendiri dengan mulutmu, bahwa kau menyukaiku.” Nusa tersenyum sambil meminum minuman yang diberi oleh Kaya.
~ Bersambung ~