
Di rumah Kaya.
Kaya masih emosi dengan tindakan Nusa yang mengumumkan dirinya sebagai pemegang saham di perusahaan Tama, sehingga kedua orangtuanya mengetahui semuanya.
Kaya mengepal kedua tangannya dan memukul tempat tidur yang ia duduki. Hatinya mulai memuncak dan ingin sekali melabrak Nusa. Menurut dia Nusa sengaja melakukan ini agar orangtuanya tahu.
Kaya beranjak dari tempat tidur menuju lemari pakaiannya. Ia mengganti pakaiannya dengan kaos biasa dan mengambil mantel berwarna coklat. Pintu lemari ditutupnya dengan kasar. Lalu mengambil ponsel dan
tasnya di tempat tidur.
Kaya menuruni tangga dan melihat ayahnya sedang berada di sofa. Sedangkan ibunya berada di meja makan. Kaya melewati mereka dan mengambil sepatu di dekat pintu.
Erlangga yang melihat anaknya terburu-buru ingin pergi bertanya. “Mau ke mana kamu?”
“Aku mau ke rumah teman menenangkan diri. Mungkin aku tidak akan pulang. Jadi kalian tidak usah khawatir padaku!” Kaya dengan cepat membuka pintu dan keluar dari rumah.
“Lihat Mina! Anakmu sekarang sudah mulai arogan karena dendamnya. Itu yang tidak aku inginkan.” Erlangga menoleh Mina yang sedang merapikan piring di meja makan.
Mina hanya terdiam dan memikirkan Kaya yang sangat marah sekarang. Kenapa kamu jadi pendendam sayang?
Selama di perjalanan….
Kaya melajukan mobilnya dengan cepat, dia tidak peduli dengan tangan kanannya yang masih sakit dan kondisi yang masih kurang sehat.
Tangannya yang diperban menimbulkan darah akibat tekanan yang dibuat oleh Kaya tadi. Ia memukul tempat tidur dengan tangan kanannya, sehingga tangannya terluka lagi.
Perasaan sakit fisik tidak berarti lagi untuknya. Tujuannya yaitu satu membuat Nusa merasakan akibatnya. Tatapannya tajam melihat semua jalanan di depan. Hatinya tak terkendali sekarang.
“Dasar Nusa kampr*t!” umpatnya memukul stir mobil.
“Awas aja kau Nusa. Aku akan labrak dirimu sekarang juga!” Tatapnya dengan sinis.
Matahari mulai tenggelam, langit berubah menjadi gelap. Lampu pijar di pinggir jalan dinyalakan dengan gedung tinggi-tinggi yang menyalakan lampu dengan indah.
Jalanan semakin ramai, semua mobil memadati jalanan kota dan kebetulan sekarang adalah jam karyawan pulang. Kaya yang menunggu terlalu lama, tidak sabar bertemu dengan Nusa dan mengklakson mobil yang berada di depannya agar tidak berjalan dengan lambat.
Pria yang diklakson oleh Kaya menongolkan kepalanya setengah di jendela, sambil menghadap ke mobil Kaya. “Woi, sabar!” teriak pria tersebut emosi, lalu kepalanya masuk lagi ke dalam mobil dan menyetir dengan cepat.
Kaya tertegun, ia langsung diam dan kikuk. Mungkin sedikit takut dengan pria tersebut.
“Sial! Ini semua gara-gara Nusa!” umpat Kaya.
****
Saat sampai Apartemen Nusa....
Ting…, Tong….,
Kaya memencet bel apartemen Nusa dengan kasar dan terus memencetnya. Nusa yang sedang minum minuman kesukaannya merasa terganggu. Dengan kesal dia menaruh gelasnya di meja dapur dan beranjak dari kursi. Kakinya melangkah untuk membukakan pintunya.
Ketika di buka, Nusa merasa agak terkejut dengan kedatangan tamu yang tidak disukanya.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Nusa berdiri di depan Kaya.
Kaya melangkah masuk melewati Nusa dan mengabaikan pertanyaan Nusa yang berdiri di depannya. Nusa merasa aneh dengan sikap Kaya sekarang ini. Ia menutup pintunya dan berbalik badan mengarah Kaya yang di depannya sekarang.
Kaya melangkah menuju tempat tidur Nusa dan berbalik badan mengarah Nusa yang membelakangi pintu. Kedua tangannya dilipatkan ke dalam dada, ia sudah siap untuk memaki Nusa.
“Dirgantara yang terhormat. Kamu ngapain ke sini?” tanya Nusa dengan nada menekan dan menghampirinya tepat di depan wajah Kaya.
Kaya tersenyum miring. “Kau sungguh lucu Nusa? Setelah semua yang kau katakan di media, kau bertanya kepadaku kenapa aku datang ke sini?!”
“Tuan Nusa yang terhormat, jelas aku ke sini untuk melabrak dirimu! Engkau sengajakan memberitahu media, agar kedua orangtuaku mendengar dan mengetahuinya?!” lanjut Kaya.
“Oh..., jadi orangtuamu tidak tahu?!” Nusa tersenyum palsu.
“Lalu kenapa?” tanya Nusa dengan cool.
“Bukankah bagus jadinya orangtumu sudah tahu Kaya.” Nusa kini balik menatap Kaya dengan sinis.
“Aku enggak suka yah, Nusa. Kalau kamu bawa-bawa orangtuaku dalam masalah ini.” Tekan Kaya.
“Lalu bagaimana dengan orangtuaku Kaya Aqila Naya Raya? Bukankah kamu sudah menipunya?!” Nusa memajukan mukanya dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada.
“Itu berbeda NUSANTARA yang tehormat!” Kaya tak mau kalah dari tatapan Nusa. Mereka saling menatap dengan tajam dan pandangan benci telah dipancarkan dari mereka masing-masing.
“Berbeda dari mana Kaya Aqila Naya Raya?”
“Yah jelas beda. Semua itu penyebabnya ayah kamu duluan Nusa.”
“Bahkan ibu kamu meninggal pun karena ayah kamu kan?” lanjut Kaya tersenyum sinis.
“Diam kau Kaya! Jangan bawa mamaku dalam hal ini!” Nusa mencengkram kedua pundak Kaya dengan erat.
Kaya melirik cengkraman Nusa di pundaknya, tapi dia mengabaikannya dan kembali menatap Nusa dengan sinis.
“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menyebut mamamu dalam hal ini? Sedangkan kamu bilang waktu itu mamaku pelacur?”
“Karena memang kenyataannya begitu Kaya!” bentak Nusa.
“Diam kau Nusa! Dan kenyataannya juga mamamu meninggal karena ayahmu yang suka mabuk!” balas Kaya dengan membentak.
Nusa melepas cengkramannya di pundak Kaya. “Kaya!” bentak Nusa ingin menampar Kaya. Namun, Kaya tidak sama sekali takut. Malah ingin menantang Nusa.
“Kenapa berhenti Nusa? Ayok tampar aku?! Tampar aku sekarang!” bentak Kaya menantang Nusa.
Nusa yang menggertakkan giginya, menurunkan tangannya ke bawah. Mukanya geram sekali melihat Kaya. Ia tak mungkin menampar wanita.
“Aku mengatai ayahmu pemabuk engkau langsung marah. Sedangkan engkau mengatai mamaku dengan sebutan pelacur, aku menerimanya. Bukankah tidak adil, jika aku tidak mengatai keluargamu juga Nusantara!”
“Pergilah, aku tidak ingin melihatmu!” Nusa berbalik badan menghadap tempat tidur.
“Kenapa, apakah kau takut bahwa kenyataan mamamu meninggal karena ayahmu yang tukang mabuk?!” senyum Kaya dengan sinis.
Nusa langsung berbalik badan dan menghadap kembali kepada Kaya dengan dekat. Muka mereka hanya berjarak 1 jari sekarang.
“Kaya!” bentak Nusa dengan amarah.
“Cih,” decih Kaya kearah samping.
“Kau marah? Padahal kenyataannya seperti itu! Lalu bukankah kau pernah bilang aku ini pelacur?!” Kaya menunjuk dirinya sendiri.
“Aku akan tunjukan padamu, bagaimana tindakan seorang pelacur?! Kaya mendorong Nusa tepat jatuh berada di tengah-tengah tempat tidur.
“Kaya kamu mau apa?” tanya Nusa bingung mendorong dirinya mundur ke belakang hingga mentok di sandaran tempat tidur.
“Aku bilang, aku akan tunjukin pelacur itu seperti apa?! Bukankah kamu bilang aku itu pelacur.” Kaya membuka mantel dan kaosnya, sehingga yang terlihat hanya tanktop warna hitam.
“Kaya jangan gila!”
“Kenapa bukankah semua pria suka sama pelacur?” Kaya mulai merangkak di atas tubuh Nusa yang berbaring di tempat tidur.
“Nusa sayang, bukankah ini yang kamu inginkan dariku?!” Kaya tersenyum menggoda dan hampir mendekati wajah Nusa.
“Kaya kamu jangan gila! Cepat pakai bajumu!”
~ Bersambung ~