My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 80 ~ Gosip Tentang Kaya.



~ Happy Reading ~


          Mila sedang membuat kopi untuk Nusa dan ia tidak sengaja mendengar perbincangan antara dua perempuan yang membelakangi dirinya.


          “Eh, Bo dengar yah? Pak Nusa sama bu Kaya itu ternyata satu perusahaan tempat sahabatnya pak Nusa yang namanya pak Adrian dulu.” Ucap perempuan yang sedang berdiri di depan dispenser bersama temannya.


          “Iya aku udah dengar juga bo. Udah itu yah? Ibu Kaya dapatin setengah saham perusahaan ini dengan cara menipu bapaknya Nusa lewat pak Boni loh.” Sahut temannya.


          “Iya bo.., ember. Dan kamu harus tahu juga kayaknya yah, pak Nusa dan ibu Kaya dulu saling suka deh. Soalnya aku dengar dari karyawan sana pak Nusa sama ibu Kaya itu suka makan bareng. Dan pak Nusa sering ke ruangan ibu Kaya.”


          “Iya, tapi tahu deh sekarang. Soalnya yah.., mereka sekarang lagi merebut siapa jadi CEO di sini. Dan kamu tahu bo, Pak Wijaya sampai masuk rumah sakit gara-gara ditipu oleh ibu Kaya.”


          “Jahat yah dia?”


          “Iya. Makanya mereka sekarang kayak musuhan gitu.”


          Mila yang sedang mengocok kopi kaget mendengar perbincangan mereka. “Masa sih ibu Kaya seperti itu?” gumam Mila.


          “Eh yuk kita balik!” ajak temannya.


          “Eh tunggu!” Mila menghentikan langkah mereka dan berbalik badan.


          “Yang kalian ucapin itu benar? Emang Ibu Kaya nipu papanya pak Nusa?” tanya Mila sambil memegang gelas yang sudah diseduhnya tadi.


          “Yahhh…, kamu baru tahu yah Mil?!” Jawabnya.


          “Iya, makanya kamu harus hati-hati sama ibu Kaya. Dia itu jahat!” sahut satunya lagi.


          “Masa sih?” Mila masih belum percaya.


          “Iya benar. Makanya kamu sering dong main ke ruangan kita biar ngegosip.”


          “Iya nanti aku main,” senyum Mila.


          “Yaudah kita duluan yah!” ucap yang satunya lagi.


          “Iya,” senyum Mila dan mereka pergi.


          Mila berjalan menuju ruangannya sambil memikirkan perbincangan dua perempuan tadi. “Apa iya, bu Kaya setega itu sama pak Nusa?”


          Mila ingin membuka pintu tapi terhenti, karena melihat Nusa dan Jessica sedang berbincang dengan serius. Mila pun menguping perbincangan mereka dengan pintu dibuka sedikit.


          “Jadi besok wartawan akan datang ke kantor kamu dan bertanya kepada kita untuk masalah pertunangan.” Ucap Jessica.


          “Kamu enggak keberatan kan? Kalau wartawan datang ke perusahaan kamu?” tanya Jessica


          “Tidak. Apa sih yang enggak buat kamu?” gombal Nusa.


          “Ahhh…, Nusa! Kamu bisa aja ngegombalnya.” Jessica tersipu malu.


          Mila yang mendengarnya sedikit kaget. “Apa? Mereka akan umumin pertunangan mereka di media?”


          Mila berjalan masuk dan menghampiri tempat duduk Nusa untuk mengantar kopi yang diminta Nusa. Mila menaruhnya di meja Nusa sambil memandang sinis Jessica.


          “Apa kamu lihat-lihat saya?” tanya Jessica nyolot.


          “Tidak bu. Ibu hari ini cantik sekali yah? Apalagi memakai blouse merah dan rok.”Mila berpura-pura memuji Jessica.


          Tumben ini anak baik? Biasanya nyebelin, batin Jessica.


          “Baru tahu kamu?”


          Yeah...., udah dipuji malah nyolot lagi, batin Mila kesal.


          “Mil makasih yah kopinya,” potong Nusa mengambil kopinya di meja untuk diminum.


          “Iya pak,” senyum Mila.


          “Saya balik dulu yah pak ke tempat duduk!” Mila tersenyum dan Nusa mengangguk sambil meminum kopinya lagi.


          “Mil,” panggil Jessica dan Mila berbalik arah dengan merendam emosinya.


          “Iya bu,” Mila berpura-pura senyum.


          “Mila, saya mau kasih tahu kamu saya akan bertunangan sama Nusa awal bulan setelah pulang dari Bali.”


          Apa coba maksud dia ngasih tahu aku?


          “Dan besok akan ada media datang ke sini. Jadi awas kamu usir-usir yah!” tunjuk Jessica dengan sinis.


          “Baik ibu Calon Tunangan Nusa,” senyum Mila terpaksa.


          “Yasudah kamu boleh duduk!” perintah Jessica.


          “Makasih ibu,” senyum Mila kembali ke tempat duduknya.


          Awas aja kamu Jessica akan ku rebut Nusa dari kamu, batin Mila sinis melihat mereka sedang mengobrol sambil tersenyum.


           “Oh iya Nus, Kaya ke mana?” tanya Jessica.


          “Aku tidak tahu,” jawab Nusa.


          “Apa dia udah menyerah dan keluar?”


          Pertanyaan Jessica mengingatkan Mila akan perbincangan dua perempuan tadi di pantry. Bahwa ibu Kaya menipu ayah Nusa dan mereka sekarang bersaing.


          “Entahlah,” jawab Nusa dengan cool.


          “Yah biarkanlah! Siapa juga peduli dengannya.” Senyum Jessica mengarah Nusa dan Nusa hanya tersenyum.


Di rumah Kaya.


          Mina datang membawakan sup, minuman  dan obat untuk Kaya yang diletakkan di nampan. Ia duduk di samping Kaya dan menaruh nampan tersebut di meja samping tempat tidur Kaya.


          “Kay, bangun nak!” Mina menepuk bahu Kaya.


          “Iya mah,” ucap Kaya masih lemas.


          “Kamu makan dulu yuk!”


          Kaya menyenderkan kepalanya disandaran tempat tidur dengan kaki yang masih diselimuti. Mina mengambil mangkuk yang berisi sup untuk menyuapi Kaya.


          “Mah enggak usah mah, Kaya aja!” tolaknya mengambil mangkuk dari tangan ibunya.


          “Awww....!” pekik Kaya kesakitan saat mau mengambil mangkuk tersebut. Ia pun menurunkan niatnya untuk makan sendiri.


          “Kaya!” Mina menaruh supnya kembali ke nampan dan langsung mengambil tangan Kaya yang sakit.


          “Mama lupa kemarin balutin luka kamu sayang. Masih sakit yah?” tanya Mina dengan lirih.


          “Iya,” lirih Kaya.


          “Tangan kamu kenapa bisa kayak gini sih? Terkelupas dan memar?”


          “Aku kan kemarin sudah bilang mah, tidak sengaja tertimpa barang.” Jawab Kaya.


          “Yaudah mama ambil perban dulu biar balutin luka kamu!” Mina melepas tangan Kaya dan beranjak untuk mengambil perban di lantai bawah.


          Sambil menunggu ibunya datang, Kaya termenung memikirkan ucapan Nusa kemarin malam.


          Dasar pelacur!


          Ucapan tersebut masih terngiang-ngian di pikirannya. Dan tanpa sadar, Kaya meneteskan air mata dipipinya. Ia tidak tahan dengan ucapan Nusa. Seorang yang sangat dia cintai saat ini tega mengatai dirinya.


          “Kamu kenapa Kaya?” tanya Mina yang membawa kain perban dan melihat air mata di pipi Kaya.


          “Tidak apa-apa mah,” Kaya mengusap air matanya yang keluar sedikit dengan tangan kiri.


          “Kaya hanya terharu aja. Mama sangat baik kepada Kaya,” senyum Kaya berbohong.


          “Yah jelaslah mama peduli, kamu kan anak mama yang paling cantik.” Sarah tersenyum memegang kedua pipi Kaya, sambil duduk di sampingnya.


          “Yaudah, mana tangan kamu!”  Kaya pun memberikannya.


          Mina memberikan olesan salep luka dengan meniup punggung tangan Kaya yang memar serta terkelupas. Lalu membalutkannya dengan kain perban agar tidak tergores lagi dan terinfeksi. Setelah selesai, Mina memberikan kecupan pada tangan Kaya yang sudah diperban dengan kain.


          “Lain kali harus hati-hati yah sayang!” peringat Mina dengan senyum dan melepas tangan Kaya. Lalu ia mengambil mangkuk tadi untuk menyuapi Kaya.


          “Siap bos!” canda Kaya memberikan hormat dengan tangan kirinya.


          Mina hanya tersenyum senang melihat Kaya mulai ceria. Ia pun menyuapinya dengan lembut sambil tersenyum.


~ Bersambung ~