My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 36 ~ Kaya berdebat dengan Lita



~ Happy Reading ~


        Kaya harus bayar hutang terakhirnya yang kalah taruhan waktu itu, dengan menemani Lita belanja di Mall.Dia membawa belanjaan Lita yang banyak di kedua tangannya.


          “Kay, makan yuk!” ajak Lita yang memegang perutnya keroncongan.


          “Aku sih terserah kamu aja Lit! Kan, aku sekarang pelayan kamu!” Kaya merendahkan dirinya.


          “Yelah, gitu amat cans.” Tawa Lita.


          “Iya nyonya terserah kamu,” sindir Kaya.


          “Kamu cocok juga Kay jadi pelayan.” Tawa Lita sambil berjalan di samping Kaya.


          “Iya nyonya, aku cocok jadi apa aja?” ejek Kaya pada dirinya sendiri.


          “Hahaha, dasar!” Tawa Lita.


          Mereka pun berkeliling mencari tempat makanan dan berhenti di salah satu restoran cepat saji yang enak.


          Kaya dan Lita langsung duduk dan memesan makanan kepada pelayan restoran tersebut. Sambil menunggu,Kaya mengambil ponselnya di tas dan mencoba memberi pesan kepada Nusa.


          “Nus, lagi apa?”


          Kaya menunggu balasan dari Nusa,tapi tidak di balas oleh Nusa. “Kamu WA siap sih Kay?” tanyanya melihat Kaya selalu melihat layar ponsel.


          “Aku WA Nusa Lit.” Jawab Kaya sambil menaruh ponselnya di meja.


          “Oh…, kenapa enggak WA Adrian?” tanya Lita.


          “Kenapa harus Adrian?” tanya Kaya bingung.


          “Bukannya kamu suka sama CEO kamu kan waktu itu,yang ternyata Adrian.”


          “Yah kan itu waktu dulu, setelah aku tahu dia itu ternyata mantan kamu Lit. Sekarang mana mungkinlah aku menyukai dia lagi! Lagi pula kan,aku udah pernah bilang, aku itu cuman main-main aja suka sama dia.”


          “Yaelah Kay, kamu jangan suka main-main gitu. Kalau orangnya baper gimana?” tanya Lita.


          “Yah itu urusan dia lah,” jawabnya.


          “Terus kamu sukanya sama siapa sekarang cans?” tanya Lita.


          “Aku enggak suka sama siapa-siapa.”


          “Atau kamu suka sama Nusa?” tanya Lita.


          “Kamu kok jadi banyak nanya sih Lit!” sewot Kaya tidak suka ditanyain.


          “Yah, aku kan cuman nanya aja Kay.”


          Mereka pun terdiam dan tidak saling berbicara lagi sampai makanan tiba. Lalu mereka menyantap makanan tersebut dengan lahap dan cepat. Setelah selesai makan, Kaya mencoba berbicara dengan Lita.


          “Sory Lit, kalo tadi aku sewot?!” Ucap Kaya dengan nada agak rendah.


          “Iya Kay, aku juga minta maaf kalo tadi banyak tanya.” Ucap Lita.


          Aku begini karena aku takut kamu nyakitin Adrian dan Nusa Kay, karena Adrian suka sama kamu dan kemungkinan Nusa juga suka sama kamu.


          “Iya enggak papa Lit,” senyum Kaya.


          “Kay,” seru Lita.


          “Iya Lit,” ucap Kaya menatap Lita.


          “Aku mau kamu tahu sesuatu!”


          “Apa?” tanya Kaya.


          “Adrian suka sama kamu,” jawab Lita terus terang.


          “Hah?” kaget Kaya. “Serius Lit?” tanya Kaya.


          “Iya, dia bilang itu semua aku. Kalau dia suka sama kamu.”


          “Aku agak enggak percaya Lit,” ucap Kaya.


          Aku tahu Lit, kamu masih sayang sama dia. Di satu sisi aku senang Lit telah membuat dia jatuh cinta dan bisa membalaskan dendamku  ke Adrian Partama. Tapi di satu sisi lainnya, aku sedih melihat kamu yang tersakiti.


          “Dan yang harus kamu tahu, aku masih cinta sama dia.” Lanjut Lita dengan jujur.


          Aku udah tahu itu Lita, aku bisa lihat itu dari matamu.


          “Tapi aku akan relain kalau dia memilih kamu Kay, karena kamu sahabatku dan aku tahu kamu pasti menyukai dia juga.”


          Kamu salah Lit,  aku enggak pernah menyukai dia. Rasa sukaku adalah rasa dendam untuk menghancurkan dia saja. Aku sengaja bertaruh untuk mendapatkan dia agar dendam dan kesenanganku terpenuhi.


          “Kamu suka kan sama dia Kay?” tanya Lita.


          “Aku enggak suka sama dia Lita,” jawab Kaya jujur.


          “Kenapa? Bukannya kamu dulu targetin dia?! Kenapa kamu sekarang mundur? Apa itu karena aku Kay?” tanya Lita.


          Iya, karena aku tahu kalau kamu masih sayang sama dia. Makanya aku berhenti mendekati dia Lit, dan aku berubah pikiran.


          “Iya awalnya aku emang targetin dia Lita. Tapi perasaan aku berubah dan tidak menyukai dia lagi. Tapi itu bukan karena kamu.” Jawab Kaya.


          “Kenapa Kaya? Dia itu tampan, kaya, dan keren?”


          “Bukan karena tampan dan dia kaya Lita. Karena emang aku enggak jatuh cinta sama dia.” Jawab Kaya.


          “Aku tahu  selama ini kamu suka mainin perasaan pria Kay. Kamu hanya ingin main-main sama pasanganmu saja. Tapi kali ini aja,aku mohon sama kamu Kay, terima Adrian dan cintai dia.” Pinta Lita membuat Kaya merasa sedih, karena Lita sebegitu besarnya mengorbankan perasaannya demi pria yang mencintai orang lain.


          “Sory Lit, aku enggak bisa. Suatu hari aku akan cerita ke kamu  kenapa aku enggak bisa.”


          “Kaya, aku mohon sama kamu untuk mencintai dia juga,” pinta Lita menatap Kayadengan lirih.


          “Aku enggak bisa Lita. Kalo kamu terus mohon sama aku, aku akan tinggalin kamu di sini!” ancam Kaya dengan sewot.


          “Yaudah, silahkan!” Ucap Lita dengan sewot.


          “Oke, kalau itu mau kamu!” Kaya beranjak dan mulai melangkah namun Lita memanggilnya.


          “Kay, apa kamu suka sama Nusa?” tanya Lita tanpa menoleh Kaya yang berdiri di sampingnya.


          Iya, aku suka sama  Nusa Lit dan aku tidak bisa beritahu kamu  sekarang karena tujuanku sebentar lagi.


          “Aku belum bisa jawab semua pertanyaan kamu Lit. Apakah aku suka Nusa?! Kamu akan tahu jika aku sudah mendapatkan yang aku mau Lit.” Jawab Kaya.


          “Heh,” decih Lita.


          “Apa yang sebenarnya kamu mau Kay?” tanya Lita masih tetap tidak menoleh Kaya. Begitu pun Kaya tidak menoleh Lita saat berbicara.


          “Aku enggak bisa beri jawaban sekarang. Kalau sudah selesai aku ingin pergi?” Tanya Kaya dengan muka datar. Lita hanya terdiam tak menjawabnya.


          Kaya pun pergi meninggalkan Lita sendirian di meja makan dengan belanjaannya. Sedangkan Lita mematung terdian dengan air mata yang mulai jatuh dari pelupuknya.


           Lita merasa sedih karena harus berdebat oleh sahabat yang dia sayangi. Dia pun mencoba mengambil ponsel dan menelepon Kaya.


          “Hallo Lit,” jawab Kaya yang sudah diluar Mall dan berjalan menuju hutlle bus.


          “Hallo Kay,”


          “Iya, kenapa?” tanya Kaya.


          “Aku minta maaf soal tadi Kay.”


          “Iya, enggak papa Lit. Aku juga minta maaf.” senyum Kaya.


          “Iya Kay,”ucap Lita.


          “Sory yah, aku enggak balik lagi Lit. Soalnya aku udah di hutlle bus nih!Malah belanjaan kamu banyak lagi Lit, terus aku malah tinggalin gitu aja.” Nyengir Kaya di telepon.


          “Iya enggak papa Kay,” senyum Lita.


          “Yaudah aku tutup dulu yah! Busnya udah datang soalnya. Dah Lita,” ucap Kaya.


          “Dah Kay,” ucap Lita sambil menutup teleponnya.


~ Bersambung ~