My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 87 ~ Ciuman Panas



Di rumah Kaya.


          Mina sangat khawatir dengan Kaya yang tidak pulang. Ia mondar-mandir di depan pintu menunggu kehadiran anaknya sambil memegang ponsel di tangannya. Erlangga yang dari tadi menonton TV, beranjak dari sofa dan menghampiri istrinya yang khawatir.


          “Sudahlah mah. Kaya kan sudah bilang, dia mungkin tidak akan pulang. Mungkin saja dia  menginap di rumah temannya.” Erlangga mencoba menenangkan istrinya tersebut dengan memegang bahunya.


          “Tapi pah. Dari tadi ponselnya tidak diangkat sama sekali.” Mina masih khawatir.


          “Sudahlah! Kaya sudah dewasa. Mungkin dia masih marah sama kita karena aku membentaknya. Kita harus berpikir positif terhadapnya.” Kini tangan Erlangga mengelus pundak istrinya agar tenang.


          “Tapi pah...,” Mina menatap suaminya tersebut.


          Erlangga langsung menatap dengan penuh sayang. “Sebaiknya kita tidur! Karena sudah jam 12 malam. Jika kita sakit, itu akan menambah beban Kaya. Ayuk kita tidur!” Erlangga membalikkan badan Mina untuk berjalan menuju kamar.


          Mina masih khawatir terhadap Kaya dan menoleh kearah pintu. Semoga kamu baik-baik saja sayang! Mama tidak mau kamu terlalu meluapkan amarahmu kepada dirimu sendiri nak, sehingga kau terluka.


****


Keesokan harinya…..


          Pagi hari yang sangat indah, dengan angin yang berhembus di tiap horden, membuat Nusa perlahan membuka matanya. Posisi tidur mereka sekarang berubah. Nusa memeluk Kaya dari belakang yang tidur menyamping, sambil menggenggam erat tangan kiri Kaya dan tangan kanan masih menjadi bantalan untuk


kepala Kaya.


          Dari belakang Nusa melihat rambut Kaya yang terurai dengan indah. Ia lupa kalau Kaya hanya memakai tanktop sehingga bahunya yang indah nampak jelas di depan matanya.


          Wajahnya tersenyum menyeringai melihat indahnya bahu Kaya. Tangan kirinya mencoba menyingkirkan rambut indah Kaya ke bawah. Dengan mengankat kepalanya sedikit ke atas. Nusa mengecup leher Kaya yang indah.


          Kaya yang masih tertidur merasa risih dan menggedikkan bahunya ke arah leher. Tapi Nusa tidak menghentikannya, dia malah menambah kecupannya di leher Kaya. Nusa menyium harumnya tubuh Kaya.


          Kini Nusa malah menjadi, dia mendongakkan kepalanya ke atas lagi dan mengecup bahu Kaya sambil mengelusnya.


          Kaya yang masih tertidur merasa ada yang mengganggunya dan berbalik badan memeluk erat Nusa. Mungkin Kaya berpikir Nusa adalah bantal guling. Tanpa sadar Kaya menempelkan wajahnya di dada bidang Nusa yang kancingnya di buka oleh Kaya semalam.


          Nusa tersenyum senang dan membalas pelukan Kaya dengan erat, sambil mengecup keningnya. Dia sadar bahwa Kaya adalah musuhnya. Tapi dia sadar dirinya begitu menginginkan gadis tersebut.


          Perasaannya seakan bahagia melihat gadis yang dia inginkan berada disisinya, tapi dia tidak lupa siapa gadis tersebut.


          Nusa mulai tergoda dengan kecantikan Kaya. Dengan sigap dia mengecup semua bagian wajah Kaya yang masih tertidur terlelap. Dimulai dari kening, mata, hidung, pipi, hingga bibirnya yang lembut. Lalu memeluk


kepala Kaya, dengan wajah Kaya di depan dadanya.


          “Untuk hari ini saja aku ingin seperti ini Kay!” gumam Nusa mengecup rambut Kaya. Nusa makin mendekapkan Kaya dalam pelukannya yang hangat dan menutup matanya kembali.


          Tangan Nusa memeluk kepala Kaya dengan erat, membuat Kaya terdiam melihat dada Nusa yang bidang. Kaya mendongakkan dirinya ke arah wajah Nusa dan memandang Nusa yang tertidur. Dengan perlahan Kaya mencoba melepas tangan Nusa yang memeluk leher dan pinggangnya.


          Setelah melepas tangan Nusa, Kaya melepas selimutnya dan ingin beranjak dari tempat tidur. Namun, dengan cepat Nusa mengambil tangan kiri Kaya. Nusa membalikkan dirinya tidur lurus dan membuat Kaya terjatuh tepat di dadanya.


          Tampak jelas di wajahnya tersirat senyuman menyeringai, namun Kaya tak menyadarinya. Nusa menekan kepala Kaya agar tertidur di pelukan dadanya. Kaya hanya bisa pasrah dengan pipinya tertempel di dada Nusa.


          Kaki Nusa beralih memeluk tubuh Kaya dan menguncinya agar tidak bergerak. Kini Kaya hanya bisa pasrah, sampai Nusa terbangun. Kaya yang tak sengaja menyentuh dada bidang Nusa menarik tangannya dan meluruskannya ke belakang.


          Jantung Kaya berdegup lebih cepat sekarang. Wajahnya yang masih berada di dada Nusa, membuatnya semakin gugup. Hatinya merasa tidak karuan.


          Nusa tersenyum mendengar detak jantung Kaya yang kencang. Entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini. Hatinya merasa bahagia mendengar jantungnya.


          Kaya mencoba melepaskan tangan Nusa yang di kepalanya dengan memindahkannya di dada Nusa. Lalu Kaya mencoba menghindar dari tubuh Nusa dengan sedikit membangunkan tubuhnya ke atas.


          Nusa malah menjadi, dia memeluk Kaya dan dirinya kini tidur menyamping di hadapan Kaya yang tidur menyamping juga. Kakinya memeluk kaki Kaya, agar Kaya tidak bergerak lagi.


          Wajah mereka sangat dekat sekali. Kaya dapat jelas melihat tampannya Nusa. Kaya merasa curiga dengan Nusa. Apakah dia benar tertidur atau dia berpura-pura. Dengan berani Kaya mencoba membelai mata Nusa agar dia merasa terganggu. Namun Nusa tidak juga bergerak.


          Di benak Kaya ada perasaan curiga, tapi Nusa sama sekali tidak ada ekspresi apapun saat dia mengganggunya. Kini dia mencoba membelai hidung Nusa dan bibir Nusa, tapi Nusa tetap tak ada ekspresi apapun. Jadi dia menghilangkan rasa curiganya.


          Sedangkan di dalam hati, Nusa ingin sekali tersenyum melihat Kaya yang pasti bingung. Entah apa yang dipikirkan Nusa. Dirinya ingin sekali memeluk Kaya untuk waktu yang cukup lama.


          Tak lama kemudian Kaya kembali menatap Nusa dengan penuh kecurigaan. Kaya memajukan bibirnya untuk mendekati bibir Nusa, agar Nusa tergoda. Kaya pun menempelkan bibirnya dan mulai memainkannya. Sontak Nusa langsung kaget dan membuka matanya dengan lebar.


          Setelah mengetahuinya Kaya merasa puas dengan kebenaran, bahwa  Nusa hanya berpura-pura saja dari tadi. Kaya ingin melepas pagutan bibirnya, namun Nusa menahannya dengan memegang kepala Kaya agar memperdalam ciuman mereka.


          Kaya membiarkannya dan tidak memberontak sama sekali. Justru dia menikmati setiap sentuhan gigitan lembut di bibirnya. Nusa semakin memperdalam dan terus mencari yang berada di balik mulut tersebut. Kaya menutup matanya dan membiarkan Nusa melakukannya. Ini pertama kalinya mereka saling menikmati sentuhan ciuman tersebut tanpa ada rasa benci.


          Dengan cukup waktu lama Nusa melepas pagutan bibir di antara mereka berdua dan menatap Kaya yang terengah-engah, dengan tangan memegang kepala belakang Kaya.


          Nusa tersenyum menyeringai. “Kau senang sekali menyiumku nona Kaya?”


          Kaya hanya membuang muka ke arah samping. “Bukankah kau malah menikmatinya berengs*k!”


          Untuk pertama kalinya Kaya berkata kasar dan membuat Nusa terkejut. “Bukankah kau ingin membuktikan bagaimana menjadi seorang pelacur?!


          Nusa langsung membalikkan badan Kaya dengan berada posisi di bawahnya. Lalu menindih perut Kaya dan menekan kedua tangan Kaya berada di atas kepala Kaya.


~ Bersambung ~