My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 55 ~ Apakah aku salah membalaskan dendamku?



~ Happy Reading ~ 


         “Dasar cewek gila!” gerutu Adrian saat Jessica sudah keluar.


          Tiba-tiba ponsel Adrian bergetar sangat keras. Ia mengambilnya dari meja dan mengangkat panggilan tersebut.


          “Halo,”


          “…..”


          “Ada apa Ta?” tanyanya.


          “…..”


          “Buat apalagi, bukankah sudah jelas. Aku tidak mencintaimu lagi!” ketus Adrian membuat hati Lita sakit.


          “…..”


          “Apa yang harus dibicarakan tentang Kaya? Aku sudah tidak ingin mendengar namanya lagi Ta.”


          “….”


          Adrian langsung mengingat kembali ucapan Kaya. Aku suka sama dia sudah lama dan kamu itu enggak akan pernah aku suka. Karena keluarga kamu telah menghancurkan keluargaku.


          “Di mana kita bertemu?” tanya Adrian.


          “….”


          “Baiklah,” ucap Adrian singkat dan menutup telepon dari Lita. Adrian memandang sinis ke depan.


          Apakah Nusa yang telah menghancurkan keluarga Kaya, sehingga Kaya balas dendam. Tapi kenapa dia membalasnya ke diriku, batin Adrian bertanya-tanya.


***


Di ruangan Lita.


          Lita yang sedang duduk di kursinya menelepon seorang pria yang ia cintai yaitu Adrian.


          “….”


          “Halo Adrian, ini aku Lita.”


          “….”


          “Aku ingin kita bertemu hari ini!”


          “….”


          Segitunyakah dirimu Adrian, sehingga tidak ingin bertemu denganku walau kita ini mantan, batin Lita sedih.


          “Aku ingin membicarakan tentang Kaya.”


          “….”


          “Kamu harus tahu, Kaya salah paham. Dia pikir kamu adalah anak Wijaya Tama, ayah Nusa. Makanya Kaya bersikap seperti itu kepada kamu Adrian.”


          “…..”


          “Di kafe biasa jam tujuh malam.” Jawab Lita.


****


Di Perusahaan Tama.


Ruangan Nusa.


          Nusa beranjak dari kursi berjalan mendekati meja Mila dengan membawa ponsel di tangannya.


          “Mila, saya minta nomor ponsel kamu?! Biar kita bisa chatingan nanti malam.” Nusa menggoda Mila dan menyodorkan ponselnya dengan mata genit.


          “Baik pak,” angguk Mila dan mengambil ponsel dari tangan Nusa. Mila langsung mengetik nomornya di kontak ponsel Nusa.


          “Nih pak!” Mila menyodorkan kembali ponsel Nusa.


          “Taruh dulu di meja kamu!” perintah Nusa duduk di meja Mila dan Mila melakukannya.


          “Mila, kamu cantik sekali. Apakah kamu sudah punya pacar?” tanya Nusa menggoda Mila dengan senyum.


          “Saya belum punya pacar pak,” Mila tersenyum malu.


          “Mila, kamu terlihat sexy dan cantik?” goda Nusa tapi matanya mengarah Kaya.


          “Bapak bisa aja.” Mila tersenyum malu.


          Kaya yang melihat mereka muak dan ingin menyudahi semua pekerjaannya. Sedangkan Nusa semakin menjadi menggoda Mila.


          Nusa berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celanannya. “Mila hari ini saya akan meeting bersama Kaya jam 3 sore. Tolong kamu siapkan semuanya yah!” perintahnya dengan genit.


          “Baik pak,” senyum Mila.


          Nusa sengaja melakukan itu untuk memanaskan hati Kaya. Karena Nusa sudah tahu, kalau Kaya suka padanya. Sedangkan Mila mulai kepedean dan merasa dirinya disukai oleh Nusa.


          Kaya yang sudah panas hatinya beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu, namun dengan cepat Nusa menghadangnya.


          “Kamu mau ke mana ibu Kaya calon CEO?” tanya Nusa tersenyum dengan kedua tangan masih dimasukkan ke dalam kantong celana.


          “Saya mau ke toilet.” Kaya melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.


          “Kenapa? Kamu cemburu sayang?” goda Nusa sambil berbisik di kuping Kaya.


          “Heh,” Kaya tersenyum sinis. “Dengar yah pak Nusa! Aku enggak pernah cemburu sama kamu!” bisik Kaya dengan kesal dan pergi meninggalkan Nusa begitu saja.


          Nusa berbalik badan. “Jangan lama-lama yah ibu Kaya?! Soalnya bentar lagi kita meeting!” teriak Nusa dengan senyum.


          “Baiklah pak Nusa,” teriak Kaya memegang pintu dan keluar.


          Nusa kembali berjalan menuju tempat duduknya dengan tersenyum senang membuat Kaya cemburu.


****


Di Ruang Meeting.


          Kaya berdiri di depan proyector dengan memegang pena proyector. Power point yang sudah disiapkan olehnya dari tadi, dijelaskan kepada Nusa dan Mila yang sedang duduk mendengar penjelasannya.


          Kaya menjelaskan beberapa perencenaan tentang penjualan dan pemasaran dalam perusahaan ini. Ia menjelaskan rencananya secara detail dan jelas.


          Nusa yang duduk di samping Mila mendengarkan Kaya dengan seksama. Ia menatap Kaya dengan tajam, ada tatapan tak suka dalam dirinya. Nusa tak suka jika pendapatnya lebih bagus dari punyanya.


          Saat Kaya sudah selesai mempresentasikan semuanya, ia pun duduk menghadap Nusa dan Mila. Kaya


memperhatikan Nusa, seolah meminta pendapatnya tentang presentasinya tadi.


          “Mila bagaimana menurut kamu?” Nusa malah bertanya kepada Mila.


          “Saya...,” Mila bingung harus menjawab apa. Pasalnya dia tidak mengerti yang dijelaskan oleh Kaya, karena Mila belum punya pengalaman dalam management pemasaran ataupun penjualan.


          “Menurut saya, ibu Kaya hebat pak.” Nyengir Mila.


          “Baiklah ibu Kaya, saya setuju dengan Mila. Saya akan mengatur jadwal lagi untuk meeting berikutnya.” Ucap Nusa dengan cool. Kaya hanya tersenyum menanggapi perkataan Nusa.


          “Mila bisakah kamu meninggalkan kami berdua. Ada yang ingin saya bicarakan dengannya!” titah Nusa menoleh ke arah Mila yang di sampingnya.


          “Baik pak.” Mila beranjak dari kursi dan meninggalkan mereka berdua.


          Nusa beranjak dari kursi dan menghampiri Kaya. Ia menggeser kursi Kaya untuk menghadapnya dan memegang kedua pegangan kursi tersebut dengan badan sedikit membungkuk.


          “Jangan kamu pikir, karena ide kamu yang cemerlang, kamu akan bisa menang dariku Kay?!” sinis Nusa.


          “Dengarkan aku baik-baik Kaya Aqila yang terhormat!” Nusa memegang dagu Kaya dengan tangan kanannya.


          “Sampai ke ujung dunia pun kamu akan ku cari dan membuat diri kamu menderita!” ancam Nusa melepas dagu Kaya dengan kasar dan berjalan berbalik arah menuju pintu.


          Seketika sekujur tubuh Kaya mendadak bergetar hebat mendengar perkataan Nusa. Satu tetes air mata keluar dari matanya. Melihat Nusa belum keluar pintu, Kaya mengusap matanya dan bediri dari kursi.


          Perkataan tersebut membuat Kaya menatap Nusa dengan sinis. “Nusa?” Kaya memanggil Nusa yang berjalan dan Nusa berhenti melangkah.


          “Kenapa kamu selalu ingin membalas perbuatanku Nusa? Harusnya kamu tahu bahwa papa kamu yang sudah membuat keluargaku hidup melarat dan menjadi kekurangan uang. Kenapa kamu selalu menyalahkan diriku? Kenapa kamu tidak terima kalau papa kamu yang berbuat jahat?” tanya Kaya berdiri di belakang Nusa.


          Nusa sama sekali tidak menoleh Kaya yang di belakangnya. Dirinya hanya terdiam dan pergi meninggalkan Kaya.


          Melihat kepergian Nusa yang tidak menjawab pertanyaannya yang begitu banyak, Kaya merasa sedih. Hatinya terasa sesak akan ancaman Nusa.


          Kenapa kau tak menjawabnya Nusa? tanya Kaya dalam hati dengan perasaan lirih.


          Apakah aku salah membalaskan dendamku? Tanyanya dalam hati yang terduduk lemas di kursi.


~ Bersambung ~