My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 104 ~ Ingatan Masa Kecil



~ Happy Reading ~


Di kamar Kaya.


          Kaya yang habis selesai mandi berjalan menuju kaca dengan posisi berdiri. Ia mengelap rambutnya yang masih basah dengan handuk sambil memperhatikan wajahnya di kaca. Pikirannya masih mengingat ucapan Nusa.


          I Love You


          Wajahnya terdiam menatap kaca. Hatinya


berdetak kencang tak karuan. Jiwanya seakan kosong dan hanya memikirkan ucapan Nusa. Ia menyentuh bibirnya dan bertanya pada dirinya sendiri.


          “Apakah Nusa benar-benar tulus


menyatakan hal itu?”


 Tok…, tok…., tok….,


          Suara ketukan pintu membuat lamunan Kaya buyar seketika.


          “Kay, buka pintunya!” teriak ibunya.


          “Iya mah,” balas Kaya dan meletakkan


handuknya di kursi. Lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.


          “Ada apa?” tanya Kaya.


          “Kamu dipanggilin dari tadi enggak


nyahut,” omel ibunya langsung masuk ke dalam kamar dan duduk di tempat tidur. Kaya pun menutup pintu dan berbalik badan melihat ibunya.


          “Mama mau tanya? Tadi itu kamu kenapa?”


          “Emang aku kenapa?” tanya Kaya balik


dengan heran.


          “Kamu tuh berjalan seperti orang keserupan. Ditanya enggak dijawab malah main pergi aja.”


          Oh iya yah? Tadi mamaku nanya dan aku main lewat aja, batin Kaya yang sadar.


          “Oh tadi, aku cuman kedinginan aja,


jadi pengen langsung ke kamar mandi.” Kelak Kaya.


          “Oh dikiriain kamu kesambet setan tadi.” canda Mina.


          “Mama, ada-ada aja sih. Masa orang cantik kayak aku kesambet, yang ada pria yang


kesambet aku.” Canda Kaya dan membuat Mina tertawa.


          “Lagian kamu jalan kayak orang kesambet!”


          “Iya aku kedinginan mah tadi, jadi otakku ini beku sampai lupa ada mamaku yang cantik


tadi.” Canda Kaya.


          Mina tertawa mendengar ucapan Kaya. “Kamu yah paling bisa muji mama.” Mina


berjalan mendekati Kaya dan mencubit kedua pipi anaknya.


          “Lalu tadi itu jas siapa?”


          “Nu...,” Kaya menghentikan perkataanya. Ia mengingat kalau Nusa adalah anak musuh ayahnya tidak jadi.


          “Nu.., siapa?”


          “Nu-din mah, teman aku SMP.” Nyengir Kaya.


          “Oh..., dikirain Nusa.” ucap Mina membuat Kaya menelan salivanya.


          “Mana mungkinlah Nusa! Aku dan dia kan sedang menjadi rival sekarang!” nyengir Kaya.


          “Kay...,” Mina memegang pundak Kaya.


          “Sebaiknya kamu enggak usah berurusan sama mereka. Mama enggak mau kamu kenapa-napa!”


          “Mama,” Kaya memegang kedua tangan Mina. “Apa yang sudah ku putuskan, aku tidak akan mundur. Lagi pula semua yang terjadi itu


karena ulah mereka kok, jadi mama tenang saja aku tidak akan kenapa-napa dan bisa jaga diri.”


          “Mama tahu..., tapi...,”


          “Enggak ada tapi-tapi. Aku tahu resikonya nanti dan biar aku yang urus semuanya.” Kaya


memegang kedua pundak Mina dengan senyum.


          “Sebaiknya mama keluar, karena aku mau bobo, sudah lelah soalnya!” usir Kaya dengan senyum.


          “Baiklah, selamat malam sayang.” senyum Mina dan Kaya hanya tersenyum.


          “Aku tahu mah, mama khawatir. Tapi, aku selangkah lagi mendapatkannya dan akan membiarkan perusahaan mereka yang sudah di bangun hancur ditanganku. Tapi sekarang aku


bingung Nusa sudah mengakui cintanya. Apakah aku harus melepaskan semuanya dan


merelakan yang sudah ku rencanakan lenyap atau aku harus membuang rasa cinta ini?” gumam Kaya duduk di tempat tidur saat ibunya sudah keluar kamar.


Di Apartemen Nusa.


          Nusa memandang wajahnya dan badannya yang setengah telanjang di kaca. Ia mengingat ucapan Kaya yang mengigau dalam mobil tadi dan Nusa mengingat kejadian saat dia kecil.


          “Apa anak yang pernah ku tolong itu Kaya?” tanyanya.


Flash back...,


          “Papa..., tolong aku!” teriak anak perempuan yang sedang berenang di pantai.


          Saat itu Nusa yang masih kecil sedang asyik bermain pasir di tepi pantai. Ia menengok arah suara gadis meminta tolong dan ternyata tidak jauh.


          Nusa yang melihatnya langsung bergegas dan mengambil ban renang di dekatnya. Dengan cepat dia berenang sambil membawa ban tersebut. Saat sudah sampai gadis itu hampir pingsan dan ingin menutup matanya. Nusa langsung mendapatkannya dan


meletakkannya di ban renang, lalu membawanya ke tepi pantai.


          Nusa mencoba menepuk pipinya dan tiba-tiba ada seorang pria dewasa datang memanggil namanya.


          “Kay..,” pria itu menaruh kepala gadis itu dipahanya dengan panik sambil memanggil namanya.


          “Kay.., sadar nak!” dengan ekspresi wajah panik dan sedih.


Flash back berakhir...


          “Apakah Kay adalah Kaya, soalnya hampir mirip?” pikuk Nusa mencoba mengingat kembali.


          “Kay..., sadar nak!”


          “Iya betul..., pria yang bersamanya waktu itu adala Erlangga. Berarti Kaya adalah orang yang pernah aku selamatkan di pantai dulu!” dengan muka mengkerut.


          “Kenapa bisa kebetulan begini?” tanyanya sendiri di depan kaca.


          “Berarti dia berhutang nyawa padaku,” Nusa tersenyum licik sambil melihat dirinya di


kaca dengan memegang kursi.


          “Kaya..., Kaya...,” Nusa membalikkan badannya dan bersandar di kursi dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada.


          “Engkau harus membayar semua ini!” dengan tertawa licik.


          Nusa berjalan mengambil kaosnya yang


ada di tempat tidur dan memakainya. Lalu berjalan ke dapur mengambil wine di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia pun duduk di depan meja dapurnya dan meneguk minuman tersebut dengan tersenyum licik.


          Permainan baru saja dimulai sayangku. Aku akan buat dia semakin dalam menyukaiku, batin Nusa dengan senyuman liciknya.


Di kamar Kaya.


          Kaya berbaring di tempat tidur


menatapi atap langit-langit kamarnya. Benaknya sekarang mendalami sosok Nusa


dan terkadang tersenyum mendengar ucapan Nusa tadi.


          “Apakah ku sudahi saja semuanya dan


bilang padanya bahwa aku sangat mencintainya dari dulu? Atau aku harus


meneruskan semua ini? Tapi, apakah aku sanggup melakukannya dengan perasaan


cintaku yang dalam terhadapnya?”


          “Apa yang harus ku lakukan? Apakah dia


sudah sungguh-sungguh mencintaiku atau ini hanya permainannya saja?”


          “Aku sangat menyukaimu Nusa, aku akan


selalu menyukaimu walau kita akhirnya akan saling menyakiti.”


          “Selamat malam Nusaku.”


Di kamar Nusa.


          Nusa berbaring ke samping di tempat


tidur. Dirinya membayangi Kaya yang dulu berada di tempat tidur bersamanya. Terlihat seutas senyuman manis di wajah Nusa, karena mengingat kejadian Kaya yang mencium dirinya.


          Nusa tersenyum menyeringai. “Kau senang sekali menyiumku nona Kaya?”


          Kaya hanya membuang muka ke arah


samping. “Bukankah kau malah menikmatinya berengs*k!”


*Ada di bab 81


          Senyumannya menghilang menjadi


wajah yang sangat menakutkan. Dipikirannya teringat akan ibunya yang bunuh diri hanya karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan oleh Erlangga.


          “Aku tidak akan terkecoh dengan


perasaanku! Aku akan membuat Kaya Dirgantara menjadi menderita seperti apa yang


dialami oleh mamaku!”


          “Bersiaplah sayangku Dirgantara!”


dengan tersenyum licik. Lalu perlahan menutup matanya dan terlelap tidur.


~Bersambung ~