My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 89 ~ Kangen Masakanmu



~ Happy Reading ~


          Nusa yang sudah selesai mandi turun dari tangga sambil mengelap rambutnya yang basah dengan handuk. Ia memakai kaos putih dan celana jeans pendek. Dirinya melihat Kaya yang belum selesai dan menghampirinya dengan berdiri di belakang Kaya.


          “Belum selesai juga?” tanya Nusa.


          “Belum,” jawab Kaya yang fokus mengetik.


          Nusa sedikit membungkuk dengan rambut yang masih basah dan wajahnya berada di samping wajah Kaya. Ia dengan jelas melihat Kaya serius mengerjakannya di layar laptop. Tetesan air turun dari rambut Nusa jatuh ke lengan Kaya dan membuat Kaya menoleh ke samping tepat wajah Nusa.


          Kaya seketika terpesona dengan tampannya Nusa. Wajah yang sangat manis dan selalu enak di pandang. Mata yang indah, bibir yang tipis dan hidung yang mancung. Membuat Kaya semakin terperangah. Hatinya mulai berdegup kencang dengan cepat.


          Nusa menyadari diperhatikan oleh Kaya, lalu tangannya memegang atas kepala Kaya dan memutarnya untuk menghadap laptop. Seketika Kaya malu ketahuan memperhatikannya dengan pipi yang merona merah.


          “Cepetan kerjakan! Masa ngerjain ini doang lama!” Nusa berdiri tegap lagi.


          “Emang gampang apa ngerjain ini!” umpat Kaya kesal.


          “Aku dengar yah!”


          Kaya kembali fokus kepada laptop dan Nusa pergi berjalan menuju dapur. Ia menuang segelas minum dan membawanya kembali menuju Kaya.


          “Nih minum!” Nusa meletakkan gelasnya di samping laptop dan dia bersandar di meja, tepat samping Kaya.


          “Makasih,” ucapnya tak ikhlas dan menghabiskan semuanya.


          Dia langsung menghabiskannya?! Mungkin dia dehidarasi kemarin, batin Nusa melihatnya dengan senyum.


          “Makan dulu yuk Kay!” ajak Nusa.


          “Entar dulu nanggung ini,” Kaya masih serius dengan pekerjaannya.


          Nusa hanya diam dan menunggu Kaya dengan berdiri menyender di meja. Sedangkan Kaya tidak peduli Nusa ada di sampingnya. Beberapa menit kemudian Kaya selesai mengerjakannya dan tersenyum senang bisa selesai.


          “Akhirnya selesai juga,” Kaya tersenyum senang.


          “Udah selesai? Coba ku lihat?” Nusa bangun dari sandarannya di meja dan berbalik badan menghadap laptop, dengan sedikit membungkuk memperhatikan yang dikerjakan Kaya.


          Nusa memegang mouse dan menggeser kursor untuk menyimpan yang dikerjakan Kaya ke dalam foldernya. Sedangkan Kaya memperhatikan wajah Nusa yang di sampingnya dengan dekat.


          “Aku sudah simpan yah Kay,” ucap Nusa menoleh Kaya dan pandangan mata mereka bertemu. Mereka bertatapan cukup lama dan Nusa perlahan memajukan wajahnya menuju wajah Kaya. Sesekali dia memperhatikan bibir Kaya dan ingin menciumnya tapi Kaya langsung tersadar.


          “Hem, iya.” Kaya mengelus lehernya dan menghadap ke laptop. Nusa hanya tersenyum dan kembali menghadap laptop.


          Setelah selesai Nusa mematikan laptopnya dan berdiri tegap di belakang Kaya yang duduk. Kaya yang melihatnya, berdiri dari kursi dan membawa mantelnya untuk pulang.


          “Sebaiknya aku harus pulang Nusa. Lagi pula pekerjaannya sudah selesai kan?!” pamit Kaya dengan senyum. Nusa menarik tangan Kaya dan mendekatkan dengan dirinya.


          “Aku mau kamu makan dulu di sini!”


          “Nusa lepasin! Aku makan di rumah aja!” tolak Kaya.


          “Kaya! Aku tidak suka dibantah sekarang. Lagi pula badan kamu lemah sekarang, nanti kalo kamu pingsan di jalan siapa yang mau tanggung jawab? Aku tidak mau disalahkan karena dirimu?!”


          “Kau tidak usah tanggung jawab tuan Nusa, biarkan saja aku pingsan di jalan.”


          Nusa yang tidak tega melihat Kaya habis sakit, dia menggendong Kaya dibahunya dan membawa ke meja makan. “Nusa lepasin!” Kaya memukul pundak Nusa.


          Nusa mengabaikan ucapan Kaya dan membawanya ke meja makan. Lalu dia meletakkan Kaya duduk di kursi makan. Nusa mengunci Kaya dengan kedua tangan menumpu di pegangan kursi.


          “Sekarang kamu harus makan atau kamu tidak akan bisa keluar dari tempat ini!” ancam Nusa. Kaya hanya menatap sinis Nusa.


          Kenapa dia jadi tukang ancam sekarang, batin Kaya.


          Nusa melepaskan tangannya dan duduk di samping Kaya. Nusa mengambil bubur dan menuangkannya ke mangkuk, lalu mengasihnya ke Kaya.


          Kaya hanya terdiam. “Kay dimakan buburnya bukan dilihat doang!” ucap Nusa dan Kaya masih membungkam.


          “Kaya dimakan!” Nusa menekankan ucapannya.


          “Kalo kamu enggak makan. Kamu enggak akan keluar dari rumah ini!” ancam Nusa.


          “Iya ini aku makan,” sewot Kaya menaruh mantelnya di pangkuannya dan memulai untuk makan.


          “Kenapa dia jadi pemaksa begini sih?” umpat Kaya sambil makan.


          “Aku mendengarnya yah Kaya,” sahut Nusa mengambil makanan untuknya dan mulai makan.


          Kaya makan dengan perlahan. Dia mengambil buburnya sambil menghayatinya seakan ada pikiran dalam kepalanya.


          Nusa aku kangen sekali dengan masakanmu. Setiap hal yang aku suka adalah masakanmu. Saat kita menjadi musuh kamu pun memperhatikan diriku. Aku jadi terharu melihatnya. Makasih Nusa.


          Kaya meneteskan air mata di pipinya dan Nusa melihatnya. “Kamu kenapa Kay?” tanya Nusa.


          “Enggak aku kepedasan,” nyengir Kaya mengelap air mata di pipinya.


          “Pedas?” gumam Nusa bingung. Masalahnya bubur yang dibuat Nusa tidak dipakai sambal sama sekali.


          “Pedas dari mana? Buburnya kagak ada sambal kok?!” ucap Nusa.


          Kaya yang mau memasukkan sendok ke mulutnya, tiba-tiba langsung sadar atas ucapannya yang salah. Dia kembali lagi menaruh sendoknya. “Ohh.., bukan buburnya pedas, tapi mata aku yang kepedasan Nusa karena kelilipan.” Kelak Kaya mengipas matanya, berpura-pura seperti kelilipan matanya.


          “Ohhh..,” gumam Nusa melanjutkan makannya. “Masih kelilipan?” tanya Nusa.


          “Udah enggak,” jawab Kaya kembali memakan buburnya.


          “Oh yah di situ juga ada sop buat kamu! Tapi bukan berarti aku baik hati atau sok perhatian buat kamu. Aku melakukan ini hanya karena aku enggak mau sainganku begitu lemah saat melawanku.”


          Bilang aja sih kamu tuh sebenarnya perhatian, segala mengelak lagi. Kaya memutarkan bola matanya.


          Kaya selesai makan buburnya, dengan cepat mengambil sup yang dibuat Nusa dan memakannya dengan lahap. Nusa yang melihatnya tersenyum miring, seakan senang melihat wanita tersebut.


          Kaya makan dengan berantakan seperti anak kecil dengan ada sisa makanan di mulutnya. Nusa yang memperhatikannya mengambil tisu dan mencoba mendekati bibir Kaya untuk mengelapnya, tapi Kaya langsung mengambil tisu dari tangan Nusa.


          “Aku aja,” Kaya mengelap mulutnya dengan tisu.


          Aku tahu Nusa kamu ingin mengelapnya. Tapi aku tidak mau hatiku terbawa suasana lagi dan mengingat tentangmu lagi.


          Setelah selesai makan Kaya merasa kenyang sekali dan bersandar di kursi. Lalu Kaya beranjak dari kursi dan memakaikan mantelnya.


          “Kau mau ke mana nona Kaya?” tanya Nusa melihat Kaya berdiri.


          “Pulanglah. Emang mau ngapain lagi aku di sini tuan Nusa?!” tanya Kaya dengan ketus.


          “Tapi terimakasih atas makanannya aku puas,” Kaya mulai melangkahkan kakinya.


          Nusa berdiri dari kursi dan menarik lengan Kaya menghadapkannya pada dirinya. “Enak aja kamu pergi begitu saja! Cuci dulu semua piring ini!” perintah Nusa.


          “Hah?” Kaya langsung kaget. “Aku tidak mau, lagi pula kan kamu yang paksa diriku makan. Bukan kemauanku!” tunjuk Kaya tepat di dada Nusa.


          “Enak saja, cepat cuci atau kau tidak pulang sama sekali!” ancam Nusa tersenyum.


          “Kenapa kamu jadi mengancamku melulu sih Nus?” tanya Kaya mengerutkan dahinya.


          “Karena kamu harus digituin. Udah cepat cuci, udah makan gratis di sini. Malah mau pulang begitu saja?!” Nusa melepas lengan Kaya.


          “Iya aku cuci,” Kaya berjalan menghampiri meja makan. Dia melepas mantelnya dan menaruhnya di kursi. Lalu mengambil semua piring yang kotor menuju wastafel. Sementara Nusa berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan dirinya dengan kaki menapak lantai.


~ Bersambung ~