My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 22 ~ Mengintai Dua Pria



~ Happy Reading ~


          Saat ini Nusa dan Adrian sudah keluar dari tempat gym kecuali Michael. Kaya pun mengikuti mereka berdua entah tujuannya kemana. Mereka berdua berjalan hampir seperapat jam melirik-lirik tempat makan dan akhirnya berhenti di sebuah restoran.


          Oh iya, tempat gym mereka berada di dalam Mall. Jadi mereka juga makan berada di dalam Mall.


          Adrian dan Nusa masuk ke dalam restoran tersebut dan Kaya pun mengikutinya dengan memberikan jarak agar tidak ketahuan. Adrian dan Nusa langsung duduk di dekat jendela yang bisa melihat orang lalu lalang berjalan.


          Kaya yang berdiri masih mencari tempat duduk yang aman dari jangkauan mereka. Setelah mencari, ia mendapatkan bangku kosong yang bisa menghadap mereka, tapi tidak dekat dengan mereka juga. Ia langsung mendudukan pantatnya.


          “Bro, mau apa?” tanya Nusa.


          “Aku ikut aja bro, asal jangan yang pedas!” Jawab Adrian.


          “Oke.”


          Nusa memanggil pelayan dan pelayan wanita pun datang. Nusa memesan makanan yang sama untuk dirinya dan Adrian. Lalu pelayan itu mencatat semua pesanan Nusa dan pergi.


          Tak lama kemudian pelayan wanita yang menulis pesanan mereka datang kembali dengan membawa makanan yang dipesan oleh mereka. Makanan pun ditaruh pelayan di meja mereka masing-masing dan setelah itu pelayan


tersebut meninggalkan mereka.


          Kaya terus memperhatikan mereka yang asyik mengobrol sambil makan dengan muka yang ditutupin menggunakan buku menu. Tanpa di sadari Kaya, ada seorang pelayan wanita sudah dari tadi berdiri di samping meja Kaya dengan menatap Kaya heran.


          Mbak ini kenapa yah? Kok mukanya ditutupin buku menu segala? Tanya pelayan itu dalam hati.


          “Mbak mau pesan apa?” tanya pelayan itu sedikit membungkuk.


          “Ah…, mbak, entar dulu! Ganggu aja nih!” sinis Kaya serius memperhatikan Adrian dan Nusa.


          Pelayan itu langsung naik pitam. “Mbak kalau enggak mau pesan makan, mending keluar aja! Jangan di sini!” ketusnya bertolak pinggang.


          Gila ini pelayan berani ngomelin aku, batin Kaya.


          Kaya sontak kaget dan menoleh ke arah pelayan tersebut. “Heheh, maaf yah mbak. Saya pesan makanan kok. Saya mau pesan ini dan itu!” dengan menunjuk buku menu yang di pegangnya.


          “Nah gitu dong mbak!” Kaya hanya bisa menyengir dan pelayan itu pergi meninggalkan Kaya.


          “Dasar pelit! Aku kan niatnya mau numpang duduk doang untuk melihat mereka.” Gerutu Kaya pelan. Lalu Kaya kembali memperhatikan mereka.


          “Ih.., kok, Nusa megang tangan Adrian sih? Mereka itu pacaran apa kagak sih sebenarnya? Kok lama-lama aku jijik melihat mereka? Malah mereka tertawa bareng lagi?”


          Tak lama kemudian pelayan tadi datang membawa makanan yang di pesan oleh Kaya. “Makanannya mau ditaruh mana yah mbak?” tanya pelayan tersebut dengan melihat Kaya menutupi mukanya dengan buku menu.


          “Taruh aja di situ!” titah Kaya, tanpa melihat pelayan tersebut dan fokus memandang Nusa dan Adrian.


          “Mbak saya mau taruh dimananya? Soalnya mbak di meja makan tempat?!” ketusnya.


          “Heheh, maaf mbak.” Nyengir Kaya mengankat wajahnya dari meja dengan posisi tegap.


          “Ini mbak makanannya! Selamat menikmati!” pelayan tersebut mencoba tersenyum walau sudah bete dengan sikap Kaya.


          “Iya mbak makasih yah,” ucap Kaya.


          Pelayan itu pergi sambil mendumel dengan pelan. “Dasar aneh, mau makan pakai masker? Udah itu pakai topi dan celingak-celinguk. Stress kali nih mbak-mbak!” dengan melirik Kaya sinis.


          “Ih.., mereka ngapain sih?” Kaya melihat mereka tertawa sambil makan.


          Aku laper juga seharian ikutin mereka! Aku makan juga lah! Tapi bagaimana caranya aku makan? Aku kan pakai masker?


          “Ohh iya, aku tutupin aja pakai buku menu.” Gumam Kaya.


          Kaya pun makan dan menutpi mukanya dengan buku menu, sambil membuka masker setengah. Kaya yang belum selesai makan melihat mereka berdua beranjak dan membayar ke kasir.


          “Berapa mbak?” tanya Adrian ke kasir.


          “Berapa ajalah pak, asalkan saya dapat nomor bapak.” Senyum Kasir itu dengan genit dan membuat Nusa terkekeh.


mentransfer kata-kata yang digantungkan Nusa.


          “Pacaran maksudnya?” tukas Kasir tersebut.


          “Yap…,” Nusa melepas rangkulan Adrian dengan senyum genit.


          Kaya yang mendengarnya tersedak makanan. Ia mencoba mengambil air dan tak sengaja Nusa menoleh kearahnya. Kaya langsung membuang muka dan meminum airnya.


          Semoga Nusa enggak lihat aku!


          “Idih…! Jadi segini pak harganya!” ucapnya sewot sambil mengasih struk kepada Adrian.


          “Nih mbak!” Adrian mengasih uang ke kasir tersebut.


          “Ambil aja kembaliannya yah mbak!”


          Nusa menarik tangan Adrian dan melambaikan tangan sambil berkata. “Dadah mbak sayang!” goda Nusa dengan genit dan membuat kasir itu jijik.


          Kaya yang mendengar perbincangan mereka merasa jijik juga dan mengakhiri makananannya.


Flash back berakhir…


          Lita tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Kaya.


          “Tuh kan, kamu pasti tertawa?!”


          “Tapi asli Nusa itu lucu banget,” tawa Lita.


          “Lucu dari mana? Jijik tau!”


          “Iya, dia itu lucu banget. Tapi sebenarnya yah Kay, nama Nusa itu kayak enggak asing. Aku soalnya punya abang namanya Nusa juga.”


          “Oh yah? Bisa kebetulan sekali namanya sama?”


          “Iya, tapi dengar dari cerita kamu kayaknya bukan abang aku pastinya. Masa abang aku gay?!” tawa Lita.


          “Hahaha.., kalau itu abang kamu berarti kamu saudaranya gay dong Lit. Terus semua keluarga kamu jangan-jangan…!” Kaya meledek Lita dan menakutinya.


          “Hus.., enak aja kamu cans. Keluarga aku normal semua yah!”


          “Hehehe, maaf deh.” Nyengir Kaya.


          “Terus jadinya gimana? Berarti kamu kalah taruhan dong dari aku?” tanya Lita dengan senang.


          “Iya Lit, aku nyerah sama dia.”  Jawab Kaya.


          “Hahahha, kan udah aku bilang kamu yakin?” Tawa Lita.


          “Iya deh aku apes banget bisa kalah lagi dari kamu. Udah si Michael, terus CEO aku.” Ucap Kaya dengan bete.


          “Yasudahlah hiraukan aja! Berarti kamu harus nemenin aku besok ke Mall yah! Bawain belanjaan aku yang banyak! Hahaha…,” tawa


Lita.


          “Iya aku bakal jadi babu kamu di Mall seharian puas!” Ucap Kaya pasrah dan Lita hanya tertawa meledek.


          “Eh Lit, kemarin juga aku ketemu Michael secara tidak sengaja!”


          Lita berhenti tertawa. “Masa sih? Terus gimana?”


          “Jadi….,”


Flash back….


~ Bersambung ~