My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 136 ~ Alasan Wijaya dendam



~ Happy Reading ~


         “Awalnya sampai Kasih lahir, namun Wijaya terus memohon dan kami tidak enak hati. Hingga akhirnya kau lahir!” tunjuk Mina menghadap Kaya.


          “Saat kau lahir sayang, papa tak mau menemui Kasih lagi dan memutuskan untuk tidak menuruti kemauan Wijaya walaupun dia memohon.”


          “Tapi kenapa?” tanya Kaya.


          “Karena saat kau lahir papa tersenyum bahagia sambil menangis. Papa enggak mau nanti kamu tumbuh tanpanya sehari pun dan dia juga tak mau memberikan harapan pada Kasih. Papa memberitahu kepada Kasih untuk tidak mengingat masa lalu dan berubah, lalu melihat anaknya sebagai seorang ibu.”


          “Tapi Kasih tetap keras kepala dan berhati batu, ia tak melihat Nusa. Wijaya yang terus memohon tidak dituruti.” Mina menghela napasnya.


          “Hingga suatu hari saat Nusa dan kau memasuki SMP, walaupun kalian hanya beda bulan saat lahir. Kasih memutuskan untuk bunuh diri.”


          “Terkadang mama kasihan dengan anaknya. Mama memang tidak tahu dulu namanya setelah papa memberitahunya waktu itu. Nusa yang lahir tumbuh dari keberadaan yang tidak di terima oleh Kasih.”


          “Mama tidak tahu hati Kasih, apakah dia merasa bersalah hingga bunuh diri atau dia tidak menerima semua ini. Mama tidak tahu yang sebenarnya.”


          “Setelah kematian Kasih, Wijaya datang sebagai partner bisnis dan membangun kembali hubungan dengan kita. Ternyata di balik semua itu dia ingin membalaskan dendam atas kematian Kasih.”


          “Jujur memang kami bersalah, namun jika terus membuat Kasih seperti itu, akan lebih kasihan lagi nantinya. Menurutmu apakah tindakan kami salah sayang?” tanya Mina meneteskan air matanya.


          Kaya memeluk Mina dengan penuh haru. “Tidak mama tidak salah, mama sangat kuat. Jika aku jadi mama, aku takkan biarkan papa membantu Wijaya dari awal.” Kaya melepaskan pelukannya.


          “Mama tahu kamu menyukai Nusa. Dia anak yang kesepian. Mama menceritakan semua ini agar kau tahu yang sebenarnya. Mama tahu kau dendam pada Wijaya, tapi mama tak mau dirimu kenapa-napa.”


          “Wijaya adalah orang yang licik. Memang mama kasihan padanya, cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun mama lebih kasihan pada Nusa yang tidak menerima kasih sayang dari ibunya.”


          “Jadi mama mohon untuk tidak menyukainya karena mama takut Wijaya akan bertindak jahat padamu. Mungkin dia sudah memberitahu Nusa, tapi dia mungkin tidak memberitahu yang sebenarnya.”


          “Kaya tidak akan membalasnya lagi mah, setelah mendengar cerita dari mama. Kaya akan ke tempat Nusa dan mengembalikan semuanya kepadanya. Lalu menceritakan yang sebenarnya.” Kaya berbalik badan dan mencoba mengambil kunci mobil, tapi Mina berbicara sehingga Kaya berhenti.


          “Jangan beritahu Nusa, biarkan dia tahu dengan sendirinya. Ia baru saja berbaikan dengan Wijaya. Mama tahu dari papa. Selama ini Wijaya dan Nusa selalu bermusuhan dan menganggap papanya sendiri sebagai penyebab kematian ibunya.”


          “Jadi jangan beritahu dia! Mama bukan membela Wijaya, tapi mama enggak mau Nusa menjadi pendendam terhadap orangtuanya sendiri.” Lanjut Mina.


          Kaya berbalik badan dengan mengangguk, namun dalam hatinya ia ingin sekali memberitahu Nusa agar Nusa tahu sebenarnya tentang ayahnya yang licik itu.


          Kaya berjalan keluar kamar dan berlari turun tangga menuju parkiran mobil. Ia ingin sekali memeluk Nusa dan berkata yang sebenarnya.


****


Di apartemen Nusa.


          Kaya beridiri di depan pintu apartemen Nusa sambil memencet bel. Ia terlihat ingin sekali cepat menemui Nusa, pikirannya hanya Nusa saat ini. Setelah mendengar cerita mamanya, Kaya malah cemas pada Nusa. Pasti prianya telah banyak yang dilalui selama ini. Kaya pun meneteskan air matanya tanpa ia sadari, lalu ia mengusapnya.


          Akhirnya Nusa membukakan pintu dan Kaya langsung melompat ke dada bidang Nusa sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Nusa.


          Nusa yang tak siap langsung reflek memegang pinggang Kaya agar tak terjatuh dan menatap Kaya dengan tatapan bingung. Kaya langsung menutup pintu dengan tangan kirinya dan mencium bibir Nusa.


          Tentu Nusa merasa bingung dan belum siap, namun ia membalasnya. Cukup lama mereka berciuman, Kaya melepaskannya dan terlihat terengah-engah.


          “Ada apa?” Kaya hanya menggeleng dengan wajah yang sendu.


          “Lalu kenapa kau mendadak menciumku?” tanya Nusa lagi.


          Kaya menenggelamkan kepalanya dicuruk leher Nusa. “Aku rindu sekali denganmu.”


          “Apakah aku tidak boleh rindu kepadamu?” tanya Kaya mendongak wajah Nusa.


          Nusa tersenyum. “Kau boleh rindu kepadaku kapan pun.” Kaya kembali menenggelamkan kepalanya di leher Nusa.


          “Apakah aku boleh tidur di sini?” tanya Kaya dengan manja dan Nusa berjalan menggendong Kaya menuju kasur.


          Nusa menjatuhkan tubuh Kaya di kasur agar melihat raut mukanya. “Ada apa? Apa kau kabur dari rumahmu?” Kaya menggeleng.


          “Aku hanya takut kehilanganmu saja,” Kaya menarik tangan Nusa untuk memeluknya.


          “Aku tak akan kemana-mana sayang.” Nusa mengelus rambut Kaya dengan lembut.


          “Aku tahu itu,” ucap Kaya.


***


Malam hari....


          Nusa memeluk Kaya dari belakang. “Nusa,” panggil Kaya.


          “Hemm,” gumam Nusa.


          Kaya membalikkan badannya menghadap Nusa. “Besok adalah pengumuman siapa akan menjadi CEO di perusahaan Tama.”


          “Lalu?”


          “Aku ingin mengembalikan semuanya padamu, karena aku merasa berdosa telah mengambil perusahaan itu dari ayahmu.”


          Nusa agak terkejut mendengarnya. Sikap Kaya aneh hari ini. “Tidak usah sayang. Kita tetap bersaing menjadi CEO. Lagi pula ayahku juga bersalah dengan mengambil perusahaanmu dulu.”


          “Tapi, aku tidak butuh karena aku sudah mempunyaimu sekarang.” Kaya menyentuh hidung Nusa dengan jari telunjuknya sambil tersenyum.


          “Kau manis sekali,” Nusa mencubit hidung Kaya dengan gemas.


          Nusa membaringkan tubuhnya lurus menghadap langit-langit. Ia menghembuskan nafasnya pelan. “Aku tidak ingin karena ini kau mengubah pikiranmu Kaya. Aku tidak apa-apa dan kau memang pantas bersaing denganku menjadi CEO. Jadi mari kita bersaing sampai besok!”


          Nusa kembali berbaring menghadap Kaya dan mengelus pipinya. “Lagi pula aku sudah mendapatkan yang aku mau, itu sudah cukup bagiku!”


          “Maksudmu?” tanya Kaya bingung.


          “Aku mendapatkan dirimu itu saja sudah cukup.”


          “Aku juga bersyukur mendapatkan dirimu.” Kaya mencium pipi Nusa, lalu memeluknya.


          “Pasti selama ini banyak sekali yang telah kau lalui,” lirih Kaya. “Maafkan diriku selama ini!”


          Nusa merasa bingung dengan ucapan Kaya. Ia mengangkat dagu Kaya. “Untuk apa dirimu meminta maaf?” tanya Nusa.


          Kaya memeluk erat dan menenggelamkan wajahnya di dada Nusa. “Untuk semua yang ku lakukan padamu. Untuk mengambil perusahaan kakekmu dan untuk membuatmu terluka waktu itu!”


          “Kay,” Nusa mengelus punggung Kaya. “Akulah yang terus membuatmu terluka.”


          “Dan mungkin ke depannya aku akan membuatmu terluka,” lanjut Nusa dengan lirih yang tak terdengar oleh Kaya. Mereka pun tertidur dengan pulas sambil berpelukan.


~ Bersambung ~