
Keesokan hari….
Kaya terbangun dari tempat tidur dan menatap sekelilingnya heran. “Kok aku bisa tidur di sini yah?” gumamnya beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar.
Kaya menuruni tangga dengan rambut yang berantakan dan wajah kusut. Matanya menangkap Nusa yang sedang memasak di dapur.
“Pagi Kaya,” seru Nusa yang sedang memasak di dapur.
“Kok aku bisa tidur di sini yah Nus?”tanya Kaya berdiri di depan tempat tidur.
“Iya. Kemarin kita bercerita sampai kamu ketiduran. Jadi aku bawa aja ke kamar atas.” Jawabnya.
“Oh.., gitu.” Kaya menoleh ke arah jam dinding dan melihat jarum jam di angka 9.
“Buseet, udah siang nih?” panik Kaya mondar-mandir entah ke arah mana.
“Kamu kenapa Kay?” tanya Nusa heran melihat Kaya kebingungan mondar-mandir.
“Aku mau mandi Nus, udah telat kerja soalnya. Tapi aku lupa kalo ini rumah kamu, bukan rumah aku.” Jawabnya berhenti mondar-mandir.
“Haha…, ini kan tanggal merah Kayaku sayang.”
“Masa sih?”
“Iya, coba liat aja di kalander!” Tunjuk Nusa dengan mulut mengarah kalender di dekat TV.
Kaya pun menuju kalender di samping TV dan melihatnya. “Ohh iya Nus?” nyengir Kaya memegang kalender tersebut.
“Iya makanya, santai aja.”
“Tapi aku mau mandi nih Nus?! Malah bau iler, gerah dan berantakan lagi nih rambut.” Kaya mencium bajunya sendiri dan setelah itu memegang rambutnya yang kusut.
“Iya yah? Yaudah tunggu dulu! Biar kita ke atas ambil baju buat kamu!”
“Emang kamu ada baju buat aku?”
“Kagak ada sih. Paling baju aku Kay,” nyengir Nusa.
“Baju kamu Nus?”
“Iya, dari pada kamu enggak pakai baju.”
“Itu mah maunya kamu kali Nus?!” ketus Kaya.
“Ohi iya? Emang kamu udah sembuh Nusa?” tanya Kaya melihat Nusa yang memasak dan wajahnya terlihat segaran.
“Udah dong. Ini kan berkat kamu Kay.” Senyum Nusa melepas celemek dan menghampiri Kaya di ruang tamu yang berhadapan dengan tempat tidur.
“Yuk!” Nusa menarik tangan Kaya menuju kamar di atas dan Kaya mengikutinya.
Saat di kamar atas, Nusa membuka lemari pakaiannya. Lemarinya terbuat dari kayu dengan cat berwarna hitam dan seperti menyatu dengan dinding. Semua pakain Nusa tersusun sangat rapi sekali.
“Wah.., banyak banget baju kamu Nus.” Dengan mulut menganga.
“Biasa aja Kay. Ini cuman sedikit kok. Ayok pilih baju yang kamu mau?!”
“Ini kan baju cowok semua Nus,” desis Kaya.
“Emang iya, dari pada kamu enggak ada baju.”
“Iya juga sih.”
“Aku pilih kaos aja lah, yang ini!” tunjuk Kaya
“Terus, celananya?”
“Emang muat ke aku Nus?”
“Coba aku cari dulu!” Sambil berpikir melihat yang cocok dengan Kaya. Lalu Nusa menarik celana levis pendek di tumpukan celananya.
“Nih, kayaknya cocok dengan kamu Kay! Soalnya udah enggak muat lagi di aku.” Dengan mengasih celananya ke tangan Kaya.
“Oh.., oke makasih Nusa. Nanti aku coba,” senyum Kaya.
“Tapi ngomong-ngomong Apartemen kamu mewah banget yah Nus?” tanya Kaya memperhatikan sekeliling kamar atasnya.
“Biasa aja kok Kay,” senyum Nusa.
“Kamu duit dari mana?” tanya Kaya mengintimidasi Nusa dengan mengangkat alis matanya.
“Aku godain tante-tante kesepian Kay,” jawab Nusa dengan canda.
“Serius? Jadi kamu itu selain gay? Jadi pria malam juga?” tanya Kaya yang percaya ucapan Nusa.
Nusa langsung tertawa. “Aku bercanda Kaya. Aku pakai duit aku sendirilah, masa iya aku nyolong?! Terus kamu yah!” dengan menarik tangan Kaya dan mendekatkannya ke hadapannya.
“Masih aja bilang aku itu gay?! Coba kamu liat aku! Gay enggak? Lama-lama aku buktiin juga ke kamu Kay!” Nusa memegang wajah Kaya dengan gemas.
“Heheh, maaf Nus. Aku kan bercanda,” nyengir Kaya. Nusa melepaskan kedua tangannya dari wajah Kaya.
“Yaudah mandi gih! Di sini ada kamar mandi juga. Kamu bisa pakai. Kamar mandinya di situ tuh!” tunjuknya ke arah samping lemari.
“Oke makasih Nusa,” senyum Kaya.
Kaya masuk ke kamar mandi dan melihatnya dengan terpaku. Kamar mandi yang mewah dengan bahtup dan shower yang bagus. Toilet yang terpisah di ujung dengan pintu kaca. Luasnya kamar mandi ini
hampir sama dengan luasnya ruang tamu.
Kaya mencoba memegang bahtup yang bersih dan menyalakan keran. “Ternyata dia bersih juga orangnya.” Gumam Kaya melihat sekeliling kamar mandi Nusa yang tidak nampak kotor sama sekali.
****
Selesai mandi, Kaya turun dari tangga dengan handuk menggosok rambutnya yang masih basah. Nusa yang sedang menyiapkan makanan di meja makan mendongak melihat Kaya turun dari tangga. Dirinya terpesona melihat Kaya yang baru mandi. Wajah yang mulus tanpa makeup, rambut di gerai masih basah dengan memakai kos putih dan celana levis pendek punyanya.
“Nusa,” panggil Kaya yang sudah berdiri di depan meja makan.
“Eh iya Kay,” Nusa tersadar dari bengongnya.
“Kamu masak apa?” tanya Kaya memperhatikan makanan yang di meja makan.
“Tada…, aku masak banyak buat kamu Kay!” Nusa tersenyum sambil menunjukan makanannya di meja makan.
“Buset deh banyak banget?” Kaya sedikit kaget sambil menggosok rambutnya.
“Eh iya, gimana cocok enggak bajunya ke diriku Nus?” tanya Kaya menunjukkan baju dan celana yang dipakainya.
“Cocok kok Kay. Kamu pakai apa aja pasti cocok!” puji Nusa dengan senyum.
“Ahhh, kamu bisa aja Nus.” Kaya tersenyum malu.
Nusa menghampiri Kaya dan menggeser kursi. “Yaudah kamu duduk dulu Kay!” titah Nusa.
“Iya tapi aku belum sisiran. Terus rambut aku masih basah Nus.” Ucap Kaya menoleh Nusa di sampingnya.
“Entar aku yang keringin!”
“Nusa enggak usah aku aja,” toleh Kaya kebelakang.
“Udah aku aja Kaya. Kamu itu adalah tamu yang spesial hari ini. Jadi aku harus perlakukan kamu sebagai ratu.” Ucap Nusa sambil menggosok rambut Kaya dengan handuk dan lembut.
“Aku ambil sisir dulu yah!” ucap Nusa.
“Oke,”
Nusa mengambil sisir di meja riasnya. Lalu ia kembali dan memulai menyisir rambut Kaya dengan lembut sambil membelainya.
“Kay kalo kamu di gerai pasti cantik banget?!” puji Nusa.
“Kamu bisa aja Nus, sama aja kok.” Senyum Kaya.
“Iya sih, kamu tetap cantik mau di gerai sama di kuncir.” Pujinya.
Kaya terdiam menikmati lembutnya tangan Nusa menyisir rambutnya. Ia bisa merasakan Nusa sangat perhatian pada dirinya.
“Udah Kay,” ucap Nusa selesai menyisir rambut Kaya.
“Makasih yah Nus,” senyum Kaya dan Nusa duduk menghadap Kaya.
“Ayuk di makan Kay!” Nusa menyendok nasi buat Kaya.
“Makasih Nusa,” senyum Kaya.
“Sama-sama,” senyum Nusa.
Kaya mengambil lauk-pauknya banyak sekali dan melahapnya dengan rakus. Ia seperti belum di kasih makan lima hari.
“Kayaknya kamu laper banget Kay?” tanya Nusa memperhatikan Kaya.
“Heheh, iya aku enggak makan kemarin.” Nyengir Kaya.
“Benerkan yang aku bilang kemarin? Kamu pasti enggak makan?!”
“Iya, abisnya aku kuatir sama kamu Nus.”
“Thanks yah Kay untuk kemarin,” senyum Nusa.
“Iya Nusa, kita kan ini teman. Apalagi kamu teman curhatku! Aku merasa sepi di situ kalo enggak ada kamu Nusa!”lirihnya.
Jadi hanya sebatas teman saja Kay, batin Nusa.
“Kamu ternyata emang chef handal Nus! Semuanya kalah sama masakan kamu!” puji Kaya sambil menyengir.
“Kamu bisa aja Kay,” senyum Nusa.
“Kok kamu enggak makan sih?” tanya Kaya.
“Ngeliat kamu aja, aku udah kenyang.” Gombal Nusa.
“Mulai deh gombalnya!” desis Kaya sambil mengunyah dan Nusa hanya menyengir. “Udah makan sana nanti sakit lagi!”
“Iya, ini aku makan” dengan mengambil beberapa makanan dan melahapnya.
Setelah selesai makan. Nusa membereskan piring yang kotor untuk di cuci. “Sini aku bantu!” tawar Kaya mengambil piring yang di tangan Nusa dan berjalan menuju wastafel.
“Enggak usah Kay, aku aja.”
“Yaelah, enggak papa Kali Nus.” Kaya menyalakan keran dan mencuci piring.
Nusa bersandar di dekat wastafel tersebut sambil memperhatikan Kaya mencuci piring. Kaya yang sedang mencuci berpikir jahil, ia menyipratkan air ke muka Nusa.
“Kay!” seru Nusa menutupi mukanya. Kaya terus menyipratkan air ke muka Nusa.
“Kaya?” dengan mencoba menggelitik Kaya sambil tertawa.
“Geli Nus,” tawa Kaya yang geli dengan tangan masih ada sabun.
“Lagian?” dengan masih meggelitik Kaya.
Nusa menarik tangan Kaya untuk menaruh dipundaknya. Tapi tangan Kaya tidak menyentuh pundak Nusa karena masih ada sabut. Kaya dan Nusa berhadapan. Wajah mereka dekat sekali. Kaya yang melihatnya tertegun memandangi wajah Nusa.
Nusa perlahan memajukan wajahnya dekat dengan wajah Kaya dan mencoba mencium Kaya. Hampir sedikit lagi bibir mereka bersentuhan, Kaya merasakan ada air di kakinya. Kaya lupa membuka pentup wastafel sehingga air terus mengisi dan tumpah ke bawah.
“Nus, airnya tumpah!” ucap Kaya menoleh ke samping dan menarik tangannya dari
pundak Nusa.
Nusa langsung memutarkan matanya. Sial segala tumpah tuh air, batin Nusa.
“Iya Kay tumpah,” senyum Nusa berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Yah becek deh dapurnya Nus?!” nyengirKaya.
“Yaudah entar aku bersihin Kay!”
“Enggak usah aku aja Nus!”
Kaya membuka penutup wastafel dan mencuci tangannya bersih, lalu mengelap lantai yang basah. Kaya pun selesai dan membersihkan tangannya.
“Makasih yah Kay.”
“Sama-sama Nusa.”
“Oh iya, aku kayakya harus balik deh Nus. Soalnya nanti nyokap nyariin aku lagi.”
“Emang kamu belum bilang ke nyokap kamu Kay?” tanya Nusa
“Udah sih, tapi aku bilangnya nginap sama teman kantor cewek.”
“Ohh gitu.”
“Yaudah aku antar kamu pulang?!”
“Enggak usah Nus, aku bawa mmobil kok.” Tolak Kaya.
“Yaudah aku yang nyetir.”
“Ih.., enggak usah! Kamu kan baru aja sakit. Nanti sakit lagi gimana?”
“Kagak bakal Kay. Kan, aku udah sembuh.”
“Kagak usah. Udah ah, aku mau pulang nih. Udah kamu di sini aja! Aku bisa pulang sendiri!” Kaya mengambil tas dan baju kotornya di sofa.
“Ohh yaudah, aku antar sampai bawah yah?”
“Yaudah, baiklah.” Mereka pun berjalan bersama menuju parkiran.
Di tempat parkir.
“Aku masuk yah? Kamu jaga kesehatan Nus!” dengan masuk ke mobil dan menyalakan mesin. “Bye Nusa,” lambai Kaya
“Hati-hati Kay,” senyum Nusa dan Kaya hanya tersenyum menutup jendela mobilnya.
~ Bersambung~