
Nusa langsung mengambil gelasnya yang masih penuh dan mencoba mencium aromanya lalu meminumnya.
“Ini punya dia bro!”
“Coba cium gelas yang dia minum!” titah Adrian yang sudah enggak bisa bergerak karena dipeluk Kaya dengan erat.
“Ah.., Adriaan!” Kaya cengengesan sendiri sambil memeluk erat Adrian.
Nusa mengambil gelas yang diminum habis oleh Kaya dan mencoba menciumnya. “Iya bro dia minum punyaku!” Nusa meletakkan kembali gelas tersebut.
“Minggir Kaya!” Adrian berusaha menjauhkan kepala Kaya dari bahunya dan melepaskan pelukan Kaya.
“Adrian, jangan pergi!” Kaya kembali memeluk Adrian dengan erat.
“Kay, sadar Kay!” Nusa berusaha menarik Kaya.
“Ah, Adrian tolong aku!” ucapnya cemberut bak anak kecil.
“Kay sadar!” Nusa menepuk pipi Kaya tapi Kaya memberontak.
“Aku maunya sama Adrian,” rengek Kaya.
“Kamu pesan alkohol apaan sih Nus?” desis Adrian.
“Aku pesan Vodca,” jawab Nusa sambil memegang kedua tangan Kaya agar tidak menempeli Adrian.
“Lagian segala pesan minuman beralkohol, kan jadinya begini!” omel Adrian.
“Kok ngomelin aku sih bro? Yah, mana aku tau kalo jadinya begini?!” Nusa sedikit merasa bersalah juga.
“Terus ini gimana? Malah dia berontak melulu lagi?” tanya Nusa bingung.
“Yah, urusinlah! Ini kan salah kamu!” ketus Adrian beranjak dari sofa.
“Mau kemana Ad?” tanya Nusa.
“Mau pulang,” jawabAdrian enteng.
“Terus ini gimana Ad? Masa tega sama dia? Malah dia manggil nama kamu melulu lagi?”
“Adrian jangan pergi!” Kaya memberontak dan melepaskan tangan Nusa. Lalu memeluk betis Adrian. “Jangan pergi cintaku!” rengeknya.
“Kay, sadar Kay! Dia bukan cinta kamu. Aku cinta kamu Kay.” Nusa mencoba melepaskan tangan Kaya di paha Adrian.
“Ih, lepasin!” Kaya menghempaskan tangan Nusa.
“Kamu bukan cintaku! Kamu itu genit ke semua cewek, terus banyak omong lagi!” tunjuk Kayadengan tangan kiri dan tangan kanan masih memegang betis Adrian.
“Kay, kok kamu gitu sih? Aku mana pernah genit sama cewek, cuman kamu doang yang selalu aku genitin.”
Adrian tersenyum simpul mendengarnya. “Kenapa bro senyum?” tanya Nusa kesal.
“Kagak, lagian apa yang dibilang Kaya bener kok? Emang kamu genit Nus?” Adrian menahan tawanya.
“Dasar! Giliran ngejelekin aja senang! Nolongin enggak mau?!” ketusnya.
“Kaya lepasin dia!” Nusa melepaskan tangan Kaya dari betis Adrian.
“Nusa jangan ganggu aku! Adrian tolong aku?” rengeknya dengan menatap Adrian yang berdiri sambil mengulurkantangan kanannya.
“Kay, ngapain sih minta tolong dia? Dia itu berhati dingin?!” Sinis Nusa.
“Adrian jahat,” rengeknya. Adrian hanya melihat saja tanpa ada minat untuk membantu Nusa.
“Bro tanggung jawab nih!” ucap Nusa.
“Tanggung jawab apasih Nusa? Emang aku hamilin dia apa?” ketus Adrian.
“Buset amit-amit kamu hamilin dia bro,” ucapnya tak rela.
“Yaudah sini aku anter dia pulang!”
“Enggak, nanti bawa ke kamar hotel lagi!” tolak Nusa.
“Emang aku itu kamu Nus!” ketus Adrian.
“Sejak kapan aku bawa cewek ke hotel Ad?” tanya Nusa.
“Enggak pernah sih,” jawab Adrian dan Nusa mendengarnya mendengus kesal, karena menuduh dirinya yang enggak-enggak.
“Yaudah sini! Aku bawa pulang dia ke rumah!” Adrian berjongkok mencoba untuk menggendong Kaya, namun Nusa langsung mencegahnya.
“Eh, mau ngapain?”
“Gendong dialah,” jawab Adrian.
“Aku aja, kamu siapin aja mobil!” suruh Nusa tak rela Kaya di gendong oleh Adrian.
“Yaudah, terserah kamu Nus,” Adrian berdiri dan keluar ruangan.
“Adrian jangan pergi!” rengek Kaya yang menatap Adrian pergi dari pintu.
“Kay sadar napa?” Nusa mulai kesal dengan sikap Kaya yang merengek melulu.
“Kay sadar!” bentak Nusadengan geram.
Kaya langsung terdiam dan mencoba merengek lagi. “Nusa jahat!” ucapnya dengan bibir yang dimemblekan.
“Hadeh, malah tambah jadi parah dia.” Gumam Nusa lelah.
“Nusa jahat!” Kaya menangis kencang, namun tak mengeluarkan air mata.
“Yaudah, aku minta maaf yah Kay?! Kamu mau kan nurut sama aku? Nanti kita menyusul Adrian?” tanya Nusa dengan lembut.
“Beneran?” Kaya menghentikan tangisannya dan menatap Nusa.
“Iya Kayaku sayang,” ucapnya.
“Nusa kamu memang paling baik,” nyengir Kaya mencubit kedua pipi Nusa sambil tersenyum lebar.
“Emang aku selalu baik Kaya,” gumam Nusa.
“Kamu sangat baik Nusa,” teriak Kaya kencang dan Nusa langsung menutup mulutnya.
“Kay, jangan teriak! Entar di dengar tetangga!” Nusa membekap mulut Kaya dengan tangan. Kaya yang ingin mencoba ngomong menggigit Nusa dengan kencang.
“Aw!” teriak Nusa langsung melepaskan tangannya.
“Kay, sakit tau!” Nusa melihat gigitan Kaya di telapak tangannya.
Kaya berdiri dan menyanyi kegirangan sambil memegang mic dengan tidak benar. Sementara Nusa sudah pasrah melihat Kaya yang mabuk tak karuan. Ia menyerah menghadapi Kaya yang begini.
“Lalalalala…,” nyanyi Kaya dengan kegirangan tapi tidak benar liriknya.
“Hadeh, lama-lama aku bisa gila? Malah dia buka cardigannya lagi tadi.” Nusa melihat Kaya yang menyanyi dengan
tidak benar dan memakai baju you can see berwarna putih.
“Lalallalallalala....,” Kaya masih bernyanyi dengan oleng.
Nus udah di depan
Sebuah pesan masuk dari Adrian. Nusa langsung membalasnya dengan cepat.
oke
Nusa langsung mengambil cardigan Kaya dan menutupi Kaya dengan cardigan sampai bahunya. Ia tak mau orang melihatnya yang mabuk.
“Ayuk Kay, kita pulang! Udah ada Adrian di sana!” ajak Nusa membimbing Kaya keluar.
“Ih, Nusa! Aku belum selesai menyanyi.”
“Kamu mau ketemu Adrian enggak?” tanya Nusa.
“Mau,” angguk Kaya dengan senang.
“Yaudah ayuk!” ajaknya.
Nusa membawa Kaya dengan tegap sambil menutupi kepalanya dengan cardigan dan dia langsung masuk ke mobil Adrian. “Ayuk bro, kita antar dia!” suruh Nusa dan Adrian langsung jalan.
“Pusing aku Ad sama kelakuan dia!” gerutu Nusa melihat Kaya sudah tertidur di sampingnya dengan nyenyak dan kadang suka senyum sendiri.
“Lagian, pesan minuman kayak gitu, udah tau ada dia!” omel Adrian sambil menyetir dengan gayanya yang cool.
“Iya aku salah, maap deh.”
“Ad, kamu tahu rumah dia?” tanya Nusa.
“Tahu,” jawab Adrian.
Kok dia tahu sih?
“Kok bisa tahu?” tanya Nusa penasaran dengan rasa cemburu..
“Kan, pernah pulang bareng sama dia.”
Pantesan Kaya sering pulang malam, biar dianter Adrian.
“Oh, kamu sama dia emang sering pulang bareng sih aku lihat akhir-akhir ini. Tapi, aku kira Kaya bakal naik angkutan atau taksi online.” Ucap Nusa.
“Kagak, soalnya rumah dia sama aku searah. Lagi pula mobil dia masih di bengkel kemarin, jadi aku ajak aja.” Ucap Adrian
“Oh”
“Oh iya bro, mobil enggak papa masih di sana?” tanya Adrian.
“Enggak papa. Nanti ada yang ambil besok,” jawabnya.
“Oh,” gumamAdrian fokus menyetir.
~
Bersambung ~