
~ Happy Reading ~
Kaya dan Adrian berpisah di pantai karena mereka tidak searah. Kaya menaiki tangga menuju hotel. Tiba-tiba Nusa sudah berada di samping Kaya dan mengikuti langkah kakinya.
“Sepertinya kau menikmati jalan-jalanmu bersama Adrian nona Kaya?” tanya Nusa dengan raut muka cemburu.
“Bukan urusanmu!” ketus Kaya tanpa menoleh Nusa yang di sampingnya.
“Kau ketus sekali!” Kaya memutar bola matanya malas sambil berjalan.
“Kau sepertinya terlihat bahagia bersamanya? Apalagi kau di beri kalung mahal olehnya?” Nusa terus bertanya kepada Kaya.
“Kau menguntit ku?” tanya Kaya menunjuk badan Nusa.
“Tidak, aku hanya kebetulan lihat saja.” Kelak Nusa.
Kaya terus berjalan dan kini mereka memasuki hotel melewati koridor. “Kenapa kau tidak menjawabnya? Apakah kau bahagia mendapat kalung mahal dari Adrian? Oh iya, aku lupa? Sekarang kau punya dua kalung. Satu punyaku dan satu lagi punya Adrian. Kalung ini sama-sama mahal. Yah.., pantas saja diterima.” Nusa terus membuat Kaya kesal.
Kaya berhenti dan berpaling menghadap Nusa. “Nus, aku lelah! Bisakah kau tidak mencari ribut denganku?!” sarkas Kaya dan kembali berjalan meninggalkan Nusa yang terdiam di sana.
Apakah aku keterlaluan? tanya Kaya dalam hati. Ah…, sudahlah! Lagian dia selalu maunya ribut terus denganku dengan pertanyaan anehnya?!
Kaya sudah berada di depan pintu kamarnya. Nusa langsung menarik tangan Kaya masuk ke dalam kamar Kaya dan merapatkan badannya di belakang pintu kamarnya.
“NUSA!” bentak Kaya. “Kau apa-apain sih?” desis Kaya.
“Kenapa jika kau mengobrol denganku seperti tidak bahagia? Dan jika dengan Adrian kau sangat bahagia?”
“KENAPA?” bentak Nusa. Dirinya sudah termakan namanya cemburu sekarang.
Kaya merasakan adanya kecemburuan di mata Nusa. “Kapan aku terlihat bahagia mengobrol dengan Adrian?” tanya Kaya bersikap polos.
“Aku melihatnya Kay, aku enggak buta! Kamu senyam-senyum terus bersama Adrian?!”
“Kalau pun aku senyam-senyum, apa salah?”
“Jangan mengalihkan pertanyaanku Kay?”
“Nusa aku lelah sekali sekarang, jadi aku mohon jangan cari ribut denganku sekarang! Kau ini seperti anak kecil!”
“Anak kecil katamu?! AKU CEMBURU KAYA!” ucapnya dengan penekanan pada cemburu.
“Oh rupanya kau cemburu? Bilang dong dari tadi?” Kaya tersenyum mendengarnya.
“Kenapa kamu tersenyum?”
“Tidak.., aku hanya senang saja mendengarnya.” Kaya tersenyum lebar.
“Kau KAYA AQILA NAYA RAYA MEMBUAT AKU CEMBURU SEKARANG! JADI KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS KESALAHANMU!” Nusa menunjuk ke muka Kaya.
“Maksudnya?” tanya Kaya dengan heran.
Tanpa aba-aba Nusa mengecup bibir Kaya dengan cepat dan memainkannya dengan lembut. Kaya langsung membulatkan matanya, tapi dia tidak juga menolaknya.
“Ini hukumannya!” Nusa mengusap bibir Kaya yang basah dengan ibu jarinya sambil tersenyum.
“Dasar mesum!” senyum Kaya.
“Sudahlah, sebaiknya kau kembali istirahat di kamarmu Nus, karena besok kita harus bertemu dengan pak Angkasa lagi!” usir Kaya melangkah maju menuju lemari pakaian untuk mengmbil piyamannya.
“Tidak, aku di sini saja!” tolak Nusa yang sudah berbaring di tempat tidur.
“Terserah kau sajalah!” Kaya masuk ke kamar mandi dan membiarkan Nusa di sana.
***
Kaya keluar dari kamar mandi dengan memakai baju piyamanya sambil mengelap rambutnya yang basah dengan handuk. Ia heran dengan Nusa yang masih berada di kamarnya dengan berbaring di kasur.
Nusa yang berpura-pura tidur membuka matanya sedikit dan melihat Kaya yang sedang mengeringkan rambut. Ia tersenyum memandang Kaya, dirinya mengingat kembali saat Kaya menginap di apartemennya.
Flash back....,
Nusa menghampiri Kaya dan menggeser kursi. “Yaudah kamu duduk dulu Kay!” titah Nusa.
“Iya tapi aku belum sisiran. Terus rambut aku masih basah Nus.” Ucap Kaya menoleh Nusa yang di sampingnya.
“Entar aku yang keringin!”
Nusa mengambil handuk di tangan Kaya dan menyuruhnya duduk. Kaya menuruti semua perintah Nusa dengan duduk di depan meja makan. Lalu Nusa mengeringkan rambut Kaya dengan handuk.
“Nusa enggak usah aku aja,” toleh Kaya ke belakang.
“Udah aku aja Kaya. Kamu itu adalah tamu yang spesial hari ini. Jadi aku harus perlakukan kamu sebagai ratu.” Ucap Nusa sambil menggosok rambut Kaya dengan handuk dan lembut.
“Aku ambil sisir dulu yah!” ucap Nusa.
“Oke,”
Nusa mengambil sisir di meja riasnya. Lalu ia kembali dan memulai menyisir rambut Kaya dengan lembut, sambil membelainya.
“Kay kalo kamu digerai pasti cantik banget?!” puji Nusa.
“Kamu bisa aja Nus, sama aja kok.” Senyum Kaya.
“Iya sih, kamu tetap cantik mau digerai sama di kuncir.” Pujinya.
Kaya terdiam menikmati lembutnya tangan Nusa menyisir rambutnya. Ia bisa merasakan Nusa sangat perhatian pada dirinya.
“Udah Kay,” ucap Nusa selesai menyisir rambut Kaya.
“Makasih yah Nus,” senyum Kaya dan Nusa duduk menghadap Kaya.
Flahback berakhir....,
Ingin rasanya aku mengulang semuanya waktu itu Kay, batin Nusa tersenyum. Melihat Kaya bangkit dari kursinya, Nusa langsung menutup matanya kembali dan berpura-pura tidur.
“Nusa bangun!” seru Kaya menghampiri Nusa yang tertidur di kasur. “Aku tahu kamu berpura-pura tidur, jadi ayuk bangun dan keluar dari kamarku!” usir Kaya menarik lengan Nusa.
Nusa tidak mau dan menahan dirinya untuk tidak bangun dari kasur. “Nusa keluar!” usir Kaya dengan nada tinggi.
Nusa hanya diam tak bergeming, dia tetap berpura-pura tidur dan menahan tubuhnya agar tidak mudah ditarik oleh Kaya.
“Nusa.., ini udah tengah malam! Keluar sekarang!” Kaya terus berusaha menarik tangan Nusa.
“NUSA!” bentak Kaya menghempaskan tangan Nusa dengan kasar.
Nusa yang mendengarnya tersenyum menyeringai dan dia menarik tangan Kaya hingga terjatuh di kasur. Nusa memeluk Kaya dari belakang dengan erat.
“Biarkan seperti ini! Aku sangat merindukan pelukan ini!” lirih Nusa mencium aroma bunga mawar di tubuh Kaya.
Kaya terdiam membeku mendengarnya dan membiarkan perilaku Nusa saat ini. Pikirannya mengatakan dia juga merindukan pelukan hangat dari Nusa setelah sekian lamanya. Kaya kembali teringat akan saran Mila.
“Kalau aku boleh kasih saran sebaiknya ibu kasih saja semua saham yang ibu ambil dan berbaikan kepada Pak Nusa. Lalu ibu bilang kepadanya bahwa ibu mencintainya” saran Mila.
“Biarkan seperti ini sampai pagi!” pinta Nusa menggenggam erat tangan Kaya. “Aroma tubuhmu membuatku candu Kay.” Nusa mengecup leher Kaya.
Kaya memejamkan matanya saat Nusa mengecup lehernya dengan lembut. Dirinya terdiam dan tak tahu harus bicara apa. Hatinya selalu menerima perbuatan Nusa dari yang baik maupun yang jahat.
“Kamu tenang saja! Aku tidak akan berbuat buruk padamu!” ucapnya sambil mengelus telapak tangan Kaya yang di genggamnya dengan lembut dan mengecup kepala belakang Kaya. Akhirnya mereka pun tertidur dengan lelap .
~ Bersambung ~