My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 129 ~ Cinta Pertama



      ~ Happy Reading ~


          Dret..., Dret...,


          Nusa mengambil ponselnya yang bergetar di meja samping kasur. “Dari siapa?” tanya Kaya.


          “Jessica,” jawab Nusa bersandar di belakang tempat tidur.


          “Oh,” gumam Kaya.


          “Apa katanya?”


          “Dia pamit pulang.”


          “Kenapa pamit? Bukankah kita juga harusnya pulang hari ini juga yah?” tanya Kaya ikut bersandar sambil menarik selimutnya.


          “Kalau pun kita pulang, kita sudah telat sayang. Jadwal keberangkatan kita tadi pagi harusnya.” Jawab Nusa dengan senyum.


          “Oh iya yah? Terus sekarang kita bagaimana?” tanya Kaya.


          “Sebenarnya aku sudah bilang kepada Jessica dan Mila sebelum kamu bangun. Aku bilang kepada mereka untuk pulang duluan karena aku ada kerjaan yang harus di kerjakan denganmu bersama klien.”


          Kaya terkekeh mendengarnya. Pria ini berbohong kepada mereka. “Kamu pintar sekali berbohong sayang?!”


          “Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu lebih lama lagi di sini tanpa adanya pengganggu.”


          “Lalu, apakah dia setuju?”


          “Ia dia setuju, soalnya dia juga ada jadwal pemotretan.”


          “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?”


          Mendengar pertanyaan Kaya, Nusa tersenyum jahil dan membuat Kaya waspada. “Aku akan melakukan kejadian semalam di tempat ini selama sehari!” Nusa mendekati Kaya seakan ingin menerkamnya.


          “Oh., no..., no...,” tolak Kaya mendorong tubuh Nusa.


          “Aku sudah lelah akibatmu semalam!” lanjut Kaya.


          “Tapi aku kurang puas semalam sayang!” rengek Nusa dengan manjanya.


          “Tidak Nusa, aku benar lelah. Cukup hari ini aja! Aku ingin kita jalan-jalan dan ke pantai bersama saja! Bagaimana?” usul Kaya.


          “Baiklah,” Nusa mengalah.


          “Kalau begitu aku mandi duluan yah!” Kaya beranjak dari kasur dengan memegang selimut untuk menutupi tubuhnya.


          “Kamu tidak ingin kita mandi bersama sayang?”


          “In your dream beb,” Kaya langsung buru-buru ke kamar mandi dan mengunci pintu. Nusa yang melihatnya hanya terkekeh.


****


Pasar Seni Ubud.


          Kaya dan Nusa berjalan melihat toko-toko yang ada di pasar seni ubud. Mereka berhenti di depan toko yang menjual assesoris topi, gelang dll.


          Kaya mengambil topi pantai rajutan berwarna ungu. Ia memakainya dan menunjukkannya kepada Nusa.


          “Cocok,” ucap Nusa. Ia menyuruh Kaya untuk tidak melepasnya dulu dan mengeluarkan sebuah ponsel di kantong bajunya. Kaya yang tahu maksud Nusa, berpose dengan senyum lebar dan Nusa memotretnya.


          Cantik, batin Nusa melihat hasilnya.


          Kaya mengembalikan topi tersebut ke tempatnya dan mencari topi lain yang menurut dia bagus. Nusa terus mengambil foto Kaya yang mencoba semua topi berada di situ.


          Tiba-tiba ponsel Kaya bergetar di tas slempang kecil yang dipakainya. Kaya pun mengambilnya.


          “Dari siapa?” tanya Nusa.


          “Adrian,” jawab Kaya dengan tatapan bertanya. Apakah aku boleh mengangkatnya?


          “Angkat aja!”


          Kaya pun mengangkatnya. “Halo Adrian,”


          “Halo Kay,”


          “Iya?” tanya Kaya.


          “Aku mau bilang, aku sudah di Jakarta. Tadi subuh aku udah balik dari Bali.”


          “Oh,”


          “Kamu udah di Jakarta?”


          “Aku masih di Bali,” jawab Kaya.


          “Kenapa? Bukannya harusnya kamu tadi pagi berangkat?”


          “Oh itu, karena aku dan Nusa sedang ada kerjaan jadi diundur pulangnya.” Elak Kaya.


          “Oh..,”


          “Adrian, sudah dulu yah aku sudah di tunggu meeting!” bohong Kaya membuat Nusa tersenyum. Ternyata gadisnya pintar berbohong.


          “Iya Adrian, sampai jumpa nanti.”


          “Iya Kay.” Kaya langsung menutup teleponnya dan memasukkan ponselnya ke tas.


          “Kenapa kamu berbohong sayang?” tanya Nusa.


          “Kan itu semua ajaranmu!” tunjuk Kaya di dada Nusa.


          Nusa terkekeh mendengarnya dan mencubit hidung Kaya. Ia merangkul bahu Kaya dan mereka beranjak dari toko tersebut.


Di Pantai.


          Matahari yang mau terbit membuat mereka menyudahi jalan-jalan mereka dan langsung ke pantai. Mereka ingin melihat indahnya matahari terbenam di pantai.


          Mereka berjalan di pinggir pantai dengan beriringan sambil mengobrol santai. Kaki mereka selalu di siram ombak air pantai. Kaya memang tidak takut air, namun ia akan takut jika sudah ke dalam pantai.


          Nusa tersenyum jahil, ia memikirkan untuk mengerjai Kaya. Nusa mengambil beberapa air dan menyipratkannya ke Kaya.


          Kaya yang terkena tidak terima dan membalas Nusa dengan melakukan hal yang sama. Mereka terlihat saling mengejar dan membalas satu sama lain.


          Kaya mengambil pasir yang banyak dan melemparnya ke muka Kaya. Nusa yang tak terima mengejar Kaya yang tertawa meledeknya dan berlari menghindari dirinya. Kaya terus menghindar dari Nusa yang membawa segenggam pasir dan ingin membalasnya.


          Nusa akhirnya mendapatkan Kaya. Ia langsung memeluk perut Kaya  dengan erat lalu memberikan pasir yang di genggamnya ke muka Kaya. Alhasil muka Kaya penuh dengan pasir.


          Nusa melepasnya dan melihat muka Kaya dengan tertawa terbahak-bahak. Tak lupa dia mengabadikan dengan ponselnya yang anti air.


          Kaya yang merasakan asin di bibirnya melepeh karena pasir itu masuk ke mulutnya. Melihat Nusa tertawa puas, ia mengambil pasir dan melempar ke muka Nusa.


          Nusa yang tertawa berhenti, melepehkan pasir di mulutnya karena masuk ke dalam mulut. Sekarang bergantian, giliran Kaya tertawa melihat muka Nusa.


          Nusa menunjuk Kaya, “awas yah!” ancam Nusa.


          Kaya berusaha berlari dari Nusa, tapi dia gagal. Nusa terlebih dahulu mendapatkannya. Nusa membawa Kaya kedalaman pantai, tapi tak terlalu dalam.


          “Nusa aku takut kedalaman,” ucap Kaya yang diangkat Nusa dengan kedua tangannya. Kaya berusaha membuka jari-jari Nusa, namun tak berhasil. Nusa terlalu kuat menahan jarinya, ia terus membawa Kaya ke dalam pantai.


          “Nus.., aku takut!” lirih Kaya mengingat kejadian masa kecilnya yang hampir tenggelam Nusa mengabaikan ucapan Kaya dan ia terus membawa Kaya ke ke dalaman pantai.


          Byur!


          Nusa menyeburkan Kaya di air laut yang tidak dalam. “Nusa tolong!” pinta Kaya memegang pundak Nusa yang berdiri di depannya.


          “Tenanglah Kay, ini tidak dalam! Kamu harus lawan takutmu itu!” Nusa memeluk perut Kaya di dalam air.


          Kaya masih terlihat ketakutan dengan melirik ke kiri dan ke kanan. Pandangannya mulai kabur mengenang dirinya hampir tenggelam di pantai.


          “Hey!” Nusa memegang dagu Kaya yang ketakutan untuk memandang dirinya. “Tidak akan terjadi padamu Kay, percayalah padaku! Lawan rasa takutmu itu!”


          “Tapi jika aku akan tenggelam bagaimana Nus?”


          “Aku akan selalu menyelamatkanmu,” Nusa membenarkan rambut Kaya ke belakang kupingnya.


          “Aku akan menyelamatkanmu saat pertama aku menyelamatkan mu dulu!”


          “Maksudnya?” tanya Kaya bingung.


          “Waktu kecil kamu pernah tenggelam di pinggir pantai dan aku yang menyelamatkanmu.” Nusa tersenyum memegang lembut pipi gadisnya.


          “Apa?” Kaya terkaget.


          “Jadi kau anak kecil yang telanjang dada dengan rambut sebahu yang menyelamatkan ku waktu itu?” tanya Kaya. Nusa mengangguk mengatakan itu benar.


          Mata Kaya langsung berbinar. Dirinya senang sekali bertemu anak yang pernah dia cari dulu. Kaya langsung memeluk Nusa dengan erat dan berkata. “Aku senang sekali, dunia ini sempit sekali. Aku senang kau menyelamatkan ku waktu itu.” Kaya melepaskan pelukannya dan mengalungkan tangannya ke leher Nusa.


          “Aku ingin berterimakasih waktu itu, tapi kau malah pergi duluan Nus. Aku terus mencarimu di seluruh sekolah yang berada di Bali, tapi aku tak menemukanmu.” Tunjuk Kaya.


          “Kenapa kau mencariku?” tanya Nusa.


          “A-ku, a-ku ingin mengucapkan terimakasih kepadamu waktu itu, dan...,” Kaya berhenti berbicara.


          “Dan...,”


          “Kamulah cinta pertamaku waktu itu!” tunjuk Kaya malu-malu.


          “Apa? Kamu waktu itu masih kecil dan kamu sudah bilang aku cinta pertamamu?” tawa Nusa terdengar mengejek Kaya.


          “Aku serius, kaulah cinta pertamaku! Entah bagaimana, aku merasakan hal yang aneh saat kau menyelamatkan ku. Mungkin ini dinamakan cinta monyet kali yah?!”


          “Tapi aku tak tahu selama ini kau anak itu!”


          “Awalnya aku juga tidak tahu Kay, tapi saat kamu ketakutan di kolam renang saat acara reuni SMPmu, membuatku mengingat kejadian itu. Dan setelah aku mengingatnya saat ayahmu datang untuk membawamu, aku baru tahu itu adalah kamu.”


          “Kamu tahu, mungkin Tuhan mempertemukan kita lagi karena ini adalah takdir kita.” Kaya semakin mendekatkan wajahnya dengan kedua tangan di kalungkan ke leher Nusa.


          “Aku sangat berterimakasih dengan waktu yang membuat kita bertemu.” Kaya menempelkan keningnya ke kening Nusa.


          “Aku bersyukur, anak itu ternyata engkau dan aku bersyukur mempunyai dirimu. Aku mencintaimu selamanya sampai nanti aku mati.” Kaya mengecup bibir Nusa dengan lembut.


          “Aku juga bersyukur mempunyai dirimu!” Nusa memagut bibir Kaya dan mereka menikmatinya tepat saat matahari terbenam. Benar-benar indah.


~ Bersambung ~