
~ Happy Reading ~
Wijaya datang ke rumah Erlangga dan Kasih. Ia datang bermaksud untuk meminta maaf dan memohon pada Erlangga. Wijaya memencet bel rumah Erlangga.
“Ia,” teriak Mina yang berada di ruang makan sedang menuang minum ke dalam gelas untuk Erlangga yang duduk di meja makan. Mereka baru saja selesai makan.
“Siapa?” tanya Erlangga sambil minum.
Mina mengangkat kedua bahunya. “Enggak tahu, aku buka dulu yah pintunya Er.” Erlangga hanya mengangguk dan Mina berjalan menuju pintu.
Mina pun membuka pintunya dan terkejut dengan kedatangan Wijaya. “Kau! Buat apa dirimu datang ke sini?” tanya Mina sinis.
“Siapa Min?” tanya Erlangga dengan berteriak sambil menyusul istrinya ke pintu.
Erlangga yang melihatnya juga ikut terkejut dengan kedatangan Wijaya. Semenjak Erlangga tahu sebenarnya tentang Wijaya dari Mina. Ia memutuskan untuk tidak berhubungan dengannya lagi.
“Buat apa dirimu ke sini?” tanya Erlangga berdiri di samping Mina.
Wijaya perlahan-lahan turun ke bawah dan bersimpuh di lantai bermaksud untuk bersujud. Mina dan Erlangga bingung dengan tindakan Wijaya. Buat apa dia bersujud.
“Maafkan aku Er! Selama ini aku membohongi dirimu dan bertindak licik terhadapmu. Akulah yang menyebabkan dirimu menjadi terangsang sehingga Mina hamil.” Ungkap Wijaya dengan sedih.
Erlangga dan Mina yang melihat ketulusan Wijaya merasa iba. Bagaimana pun semua itu sudah terjadi dan menjadi masa lalu yang harus di kubur.
“Bangunlah Wijaya! Aku sudah memaafkan dirimu!” Erlangga berjongkok memegang kedua bahu Wijaya untuk menyuruhnya berdiri. Erlangga memang orang yang sangat baik dan berhati lembut. Dia dapat mudah terbawa perasaan.
“Akulah yang bertanggung jawab atas pernikahan kalian selama ini. Aku yang membuat kalian harus menikah. Kalian pantas memaki diriku dan memukulku!” ucap Wijaya sedih dengan berdiri di hadapan mereka berdua.
“Sudahlah, semua sudah berlalu yah kan Mina?” Erlangga menoleh ke arah Mina dan Mina hanya mengangguk. Sebenarnya Mina belum percaya seratus persen ucapan Wijaya.
“Lagi pula aku sudah bahagia bersama Mina.” Senyum Erlangga.
Erlangga pun menyuruh Wijaya masuk dan duduk. Sementara Mina menyiapkan minum untuk mereka berdua.
“Apakah pernikahan kalian baik-baik saja Wi?” tanya Erlangga.
Wijaya menggeleng pelan. “Aku baru menyadari bahwa cintaku tak akan bisa di balas olehnya.”
Mina datang membawa minum dan menaruhnya di meja, lalu ikut duduk di sebalah Erlangga.
“Maafkan aku Wijaya, mungkin dia belum bisa melupakanku!” ucap Erlangga.
“Ini bukan salahmu! Ini adalah salahku. Jika saja aku tidak memisahkan kalian berdua, mungkin dia akan selalu bahagia.”
Mina hanya menjadi pendengar yang baik. Ia tak mau berkomentar tentang Kasih.
“Tapi semua sudah terjadi Wijaya. Lagi pula aku sudah bersama Mina.” Erlangga merangkul bahu Mina dan mereka tersenyum. Wijaya iri melihat kebahagian mereka.
“Kalian terlihat bahagia!”
“Kau pun bisa bahagia dengan Kasih. Ubah caramu dan cobalah terus berusaha untuk membuatnya bahagia.” Erlangga melepaskan rangkulannya.
Wijaya menggeleng. “Hanya ada dirimu di hatinya.” Tunjuk Wijaya. Mina merasa bersalah pada Kasih yang belum move on dari Erlangga.
“Tapi aku tak akan memaksamu untuk kembali padanya karena aku tahu kau sudah menyukai Mina.” Lanjut Wijaya.
Wijaya menghela napasnya berat. “Sebenarnya selain minta maaf, kedatangan diriku ke sini adalah meminta bantuan darimu!”
“Aku tak tahu apakah kau akan setuju atau tidak, tapi aku sangat memohon padamu. Bantulah aku mengembalikan kecerian Kasih dengan selalu menemaninya. Kau tak perlu datang setiap hari. Kau hanya perlu datang seminggu sekali ke rumahku.”
Mendengar itu Mina dan Erlangga saling melirik satu sama lain. Mina tak mungkin membiarkan suaminya menemui wanita yang sudah menjadi istri Wijaya. Begitu pun Erlangga, ia tak mungkin menemui Kasih karena dirinya tidak ingin kehilangan Mina untuk dua kali. Lagi pula dia sudah berjanji dengan Mina.
“Itu tak mungkin Wijaya, aku tak mau memberi harapan pada Kasih. Lagi pula dia adalah istrimu dan aku sudah bersama Mina sekarang!” tolak Erlangga.
Wijaya kembali bersimpuh dan memegang kaki Erlangga. “Kumohon Erlangga! Kasih sedang hamil anakku. Dia selalu murung dan jarang makan. Aku takut terjadi sesuatu kepada anakku. Apalagi kehamilannya memasuki 7 bulan dan hanya kau yang bisa memberikan kecerian padanya.” Pinta Wijaya dengan memelas.
Erlangga merasa tidak enak hati dengan sikap Wijaya yang memohon sambil bersujud. “Bangunlah Wijaya! Kau tak perlu seperti ini!” titah Erlangga.
Mina bimbang dengan ucapan Wijaya. Di satu sisi ia kasihan padanya, di sisi lain ia tak merelakan Erlangga bersama Kasih lagi. Namun, ia juga kasihan dengan anak yang berada dalam kandungan Kasih. Anak itu tak berdosa dan ia tak mau kejadian dirinya di alami oleh anak itu.
“Baiklah Erlangga akan membantumu Wijaya!” Mina membuka suaranya dan mereka menoleh kepada Mina.
Wijaya yang mendengarnya langsung memegang tangan Mina. “Kau serius?” tanya Wijaya memastikan dan Mina mengangguk. Sementara Erlangga menatap Mina dengan muka seriusnya seakan marah dengan jawaban Mina.
“Terimakasih Mina,” ucap Wijaya senang. Mina langsung menyuruh Wijaya untuk duduk kembali dan Wijaya pun melakukannya.
“Tunggu sebentar Wij!” titah Erlangga menarik tangan Mina dan membawanya ke arah dapur.
“Apakah kau sedang sakit sehingga menjawab dengan jawaban anehmu itu?” tanya Erlangga dan Mina menggeleng pelan.
Mina mengambil tangan kanan Erlangga dan mengelus punggung tangannya. “Aku tahu ini akan berat bagiku Er. Tapi aku tak mau anak dalam kandungan itu menjadi tiada hanya kesalahan masa lalu kita.” Ucap Mina lembut.
“Tapi kau juga hamil Mina! Aku tak mungkin meninggalkanmu seperti waktu itu. Aku tak mau anak kita kenapa-napa lagi.”
“Kau tak perlu khawatirkan aku, kandunganku masih muda dan lagi pula di sini ada bibi Mirna yang selalu datang senin sampai jumat membantuku membereskan rumah.”
“Tetap saja aku tak setuju! Aku tak mau memberi harapan pada Kasih lagi. Cukup untuk yang dulu dan sekarang aku tak mau!” Erlangga bersikeras pada pendiriaannya.
Mina langsung memeluk Erlangga dengan mengadahkan wajahnya ke wajah Erlangga. “Apakah kau tidak kasihan pada anak yang di kandung Kasih?” Erlangga diam dan tak memberikan jawaban.
“Mungkin akan menyakitkan bagi diriku, kau dan Kasih nantinya. Tapi anak itu harus lahir Er. Saat anak itu lahir kau bisa mengambil keputusanmu sendiri. Lagi pula hanya satu kali seminggu mungkin dua kali.”
“Lagi pula kau tak perlu menjadi kekasihnya hanya cukup bertamu sebagai teman dan memberikan kecerian padanya,” lanjut Mina.
“Kumohon bantulah Wijaya! Kasihan dia!” Mina memberikan tatapan melasnya.
“Jika kau memintanya aku akan melakukannya, tapi hanya saat anak itu lahir dan tidak lagi untuk selanjutnya!” Mina mengangguk dan memeluk Erlangga dengan erat sambil berterima kasih.
Mina dan Erlangga kembali ke ruang tamu dan duduk di hadapan Wijaya. “Aku melakukan ini karena Mina bukan karena aku masih cinta pada Kasih.”
“Aku tahu Er,” angguk Wijaya.
“Lagi pula kita dulu berteman dan aku akan membantumu sebagai teman. Tapi hanya saat Kasih sudah melahirkan dan setelah lahir aku tak akan menemuinya lagi Wijaya.”
“Baik Er, aku tak akan memaksamu. Aku sangat senang sekali, kalian mau membantu diriku! Aku tidak tahu harus berkata apa kepada kalian. Padahal diriku sudah berbuat banyak kesalahan kepada kalian.”
“Sudahlah Wijaya, semua sudah masa lalu. Mungkin ini jalan yang di sediakan Tuhan untuk kita,” senyum Mina dan Wijaya tersenyum mengangguk.
Flash back berakhir.....
~ Bersambung ~