My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 41 ~ Ayah Nusa Sakit



~ Happy Reading ~


          Nusa yang mengetahuinya tidak kaget lagi dan dia malah menatap Kaya dengan tajam. Akhirnya kamu  jujur juga walau hanya sebagian Kay, batin Nusa sambil tersenyum.


          “Berarti kamu udah punya perusahaan di tempat itu Kay?” tanya Nusa.


          “Iyap, bisa di bilang begitu, tapi hanya setengahnya saja.” Jawab Kaya.


          “Maksudnya sebagian?”


          “Aku punya saham setengah di perusahaan itu.” Jujur Kaya.


          “Perusahaan apa Kay, kalau aku boleh tahu?”


          “Entar kalau udah waktu yang tepat Nus, aku akan cerita sama kamu.” Jawab Kaya.


          Aku sebenarnya sudah tahu Kay, batin Nusa.


          “Oh…, kamu begitu kan sama aku Kay?!” Kaya hanya menyengir menanggapi ucapan Nusa.


          “Oh iya Nus, ada sesuatu yang aku ingin katakan ke kamu!” Kaya menatap manik mata Nusa dengan dalam seakan ingin mengatakan yang sejujurnya.


          “Apa?” tanya Nusa.


          Aku mau jujur kalau aku suka sama kamu Nusa, batinnya.


          “Aku…,” Kaya berhenti berbicara karena bingung harus mulai dari mana.


          Tiba-tiba ponsel Nusa bergetar dengan keras di meja. “Nusa, angkat dulu HP kamu, siapa tahu penting!”  Kaya menunjuk ponsel Nusa yang di meja dengan matanya.


          “Ahhh, paling cewek-cewek ganjen yang ngejar aku Kay,” canda Nusa.


          “Udah lanjutkan Kay! Aku apa?” tanya Nusa penasaran dengan perkataan Kaya.


          “Ih.., angkat dulu!” suruh Kaya.


          “Iya, iya, aku angkat.” Nusa mengangkat panggilan dari nomor yang tidak di kenal.


          “Halo..,”


          “Halo, Tuan Muda?” ucap seseorang pria di telepon.


          “Halo, ada apa?” tanya Nusa dengan cool. Sementara Kaya hanya memperhatikan Nusa berbicara di telepon.


          “Tuan Wijaya, Tuan,  kena serangan jantung.”


          Nusa langsung terkejut sambil berdiri. “Apa?”


          Kaya yang mendengar Nusa terkejut, ikut terkejut juga sambil memperhatikan ekpresi Nusa yang sangat shock mendengarnya.


          “Iya, dia menerima kabar buruk tentang perusahaan Tuan.”


          “Nusa ada apa?” tanya Kaya tapi dihiraukan oleh Nusa.


          “Berita buruk apa?” tanya Nusa dengan ekpresi geram.


          “Yang sudah saya sampaikan sebelumnya Tuan. Tentang informasi keluarga Dirgantara akan mengambil alih jabatan di perusahaan kita Tuan.”


          Nusa langsung menatap Kaya dengan sinis. Tepat seperti yang ku duga Kaya, engkau sengaja melakukan ini untuk kehancuran keluarga kami, batin Nusa.


          “Sekarang gimana keadaan papa, Mischa?”


          “Dia sudah di bawah ke rumah sakit dan sedang dalam pemeriksaan Tuan.”


          “Baik aku segera ke sana. Kirimkan alamat rumah sakitnya!” perintah Nusa.


          “Baik Tuan,” jawab Mischa.


          Mischa adalah asisten pribadi Nusa dan sudah mengabdi sama Nusa semenjak SD (Sekolah Dasar). Namun, Nusa memutuskan hubunga dengan ayahnya sejak SMP karena suatu konflifk dan membuat Nusa harus keluar dari rumahnya sendiri.


          Nusa meminta Mischa untuk menemani ayahnya dan memata-matai ayahnya. Tujuan Nusa baik, yaitu agar ayahnya tak kenapa-napa. Walaupun ia sendiri masih kecewa dengan ayahnya.


          Nusa langsung buru-buru dan ingin keluar ruangan. Kaya langsung berdiri dan melihat Nusa dengan heran. “Nusa, ada apa?” tanya Kaya.


          “Papaku sakit Kay,” jawab Nusa yang menghentikan langkahnya dan tidak menoleh Kaya.


          “Akut ikut yah!” ucap Kaya.


          “Enggak usah, kamu di sini aja!” tolak Nusa berbalik arah menatap Kaya sinis.


          “Aku ikut Nus!”


          “Enggak usah Kaya! Kamu di sini aja!” bentak Nusa. Lalu pergi meninggalkan Kaya di dalam ruangannya.


          “Kenapa sih dia? Apa yang terjadi sebenarnya dengan ayah Nusa?” tanyanya monolog.


          Nusa yang berjalan terburu-buru dan tidak sengaja menabrak Adrian di depan pintu kantor.


          “Bro, kamu mau ke mana?” tanya Adrian menoleh ke belakang.


          Adrian yang ingin bertanya lagi tidak bisa karena Nusa sudah jauh berjalan menuju lift. Ia pun melanjutkan berjalan menuju ruangannya.


          “Om Wijaya sakit apa yah?” gumam Adrian berjalan.


***


Di Rumah sakit.


          Nusa langsung berlari menuju ruangan ayahnya di rawat. Ia melihat ayahnya sedang berbaring menggunakan alat oksigen atau ventilator lewat hidung. Di satu sisi dia kesal sama ayahnya karena ulahnya sendiri, dia jadi begini, tapi di sisi lain dia kasihan.


          Nusa duduk di kusri menunggu ayahnya terbangun. Tak lama kemudian, ayahnya membuka mata dengan perlahan-lahan. Matanya menoleh ke arah samping di mana Nusa duduk di sebelahnya.


          “Nusa,” lirih ayahnya dengan suara seperti kehabisan oksigen.


          “Iya, pah.” Jawab Nusa menoleh ayahnya yang masih lemas.


          “Kamu datang nak?” tanyanya.


          “Iya, pah.” Jawab Nusa dengan lirih.


          “Kamu gimana kabarnya?”


          “Aku baik pah. Papa istirahat saja dulu, jangan bicara lagi!” Nusa memandang ayahnya dengan rasa kasihan. Ayahnya pun mengikuti perintah Nusa dan ia menutup matanya untuk tidur.


          Melihat ayahnya sudah tertidur lelap. Nusa keluar ruangan mencari asistennya yaitu Mischa., dan ternyata sedang duduk di depan kamar tersebut.


          “Mischa,” seru Nusa menghampiri Mischa yang duduk.


          “Iya Tuan,” jawab Mischa berdiri.


          “Saya mau kamu ubah nama saham saya yang saya pakai atas nama Adrian menjadi nama saya sekarang juga!” perintah Nusa berdiri di depannya.


          “Baik Tuan,” angguk Mischa.


          “Dan satu lagi, saya mau kamu tidak memberitahu siapapun tentang penggantian nama ini. Saya akan menelpon Adrian untuk meminta tanda tangannya.”


          “Baik, Tuan.”


          “Sama satu hal lagi, apakah saham saya yang saya pakai atas nama Adrian bisa menjadi CEO juga?” tanya Nusa.


          “Bisa Tuan. Tuan mempunyai saham sebagian, apalagi ayah Tuan mempunyai sisa saham walaupun sedikit.” Jawab Mischa.


          “Baguslah. Saya mau semuanya diubah ke nama saya dan rahasiakan ini kepada pemegang saham terbesar!”


          “Maksud Tuan kepada nona Kaya?” tanya Mischa.


          “Iya. Saya mau kamu juga cari informasi tentang dia!”


          “Baik Tuan,” angguk Mischa.


          “Kamu juga cari informasi, kenapa ayah saya melakukan hal ini kepada keluarga Dirgantara pada beberapa tahun yang lalu.”


          “Baik Tuan.”


          “Jangan informasi ini bocor, apalagi ada mata-mata Kaya di perusahaan saya!”


          “Baik Tuan.”


          “Yasudah, kamu bisa pergi! Saya butuh informasi dengan cepat!” perintah Nusa. Pria paruh baya itu pun pergi meninggalkan Nusa sendirian di sana.


          Nusa masuk kembali ke ruangan ayahnya dan berdiri menyender tembok. Dia menatap ayahnya dengan penuh kuatir, tapi dia juga menatap ayahnyapenuh kebencian.


          “Sebenarnya siapa keluarga Dirgantara? Kenapa papa melakukan hal yang dilakukan Kaya waktu beberapa tahun lalu?” gumam Nusa dengan lirih.


          “Kaya, kamu udah merencanakan ini dengan matang. Tapi, aku sengaja membiarkan kamu. Kita akan bertemu lagi di perusahaan dan kamu enggak akan ku lepaskan Kay. Jika terjadi sesuatu dengan ayahku, kamu akan dapatkan akibatnya Kay!”


Di ruangan Kaya.


          Kaya sedang berbicara dengan seseorang di telepon sambil berdiri memandagi langit lewat jendela kantornya.


          “Ada apa pak Boni?” tanya Kaya di telepon.


          “Saya menerima kabar baik ibu Kaya. Pak Wijaya Tama sedang jatuh sakit saat menerima kabar tentang ibu akan mengambil alih perusahaannya.”


          Boni adalah suruhan Kaya yang sudah masuk ke perusahaan tersebut selama tiga tahun. Kaya sengaja memasukannya agak lama, agar menjadi orang kepercayaan Wijaya Tama.


          “Baguslah, itu yang aku inginkan. Sebentar lagi dia akan merasakan sakitnya kehilangan perusahaan.” Sinis Kaya.


          “Iya bu Kaya,” ucap Boni.


          “Besok saya terakhir bekerja di sini. Saya mau kamu cari informasi lagi, apakah ada pemegang saham lainnya selain dia. Karena saya mendapatkan informasi ada sebagian lagi, saham atas nama Adrian.”


          “Baik bu,” jawab Boni. Kaya menutup teleponnya dan dia duduk di kursi dengan santai.


          “Kamu akan rasakan sakitnya kehilangan perusahaan Tuan Tama dan sebentar lagi aku akan menjadi CEO di tempatmu. Aku tidak butuh perusahaan anakmu yang ini. Aku hanya butuh perusahaanmu yang terkenal Tuan Tama dan yang selalu kau banggakan ini.” Kaya tersenyum sinis sambil menggoyangkan kursinya dengan santai.


~ Bersambung ~