
~ Happy Reading ~
Di rumah Kaya.
Kaya masih terdiam membeku. Pikirannya seketika berhenti. Ia tak menyangka Nusa adalah anak dari Wijaya Tama. Hatinya bergejolak sedih. Seketika Kaya merasakan sakit di dadanya.
Perlahan-lahan Kaya bersimpuh ke lantai dan bersandar ke kaki meja belajarnya. Hatinya
merasakan kecewa pada dirinya sendiri. Ia tak menyangka Nusa adalah anak Tama.
“Argggghhhh!” Kaya menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.
“Kenapa orang yang aku suka adalah anak dari musuhku.” Kaya mulai meneteskan air matanya. Rasanya sakit sekali mengetahui yang sebenarnya.
Ia meringkuk dirinya sendiri sambil
duduk di lantai. Hatinya merasakan sakit sekali. Air matanya mengalir begitu saja dan tak bisa berhenti. Semua hal ada dalam dirinya, kecewa, marah, cinta, dan penyesalan.
Kaya mengusap air matanya kasar dan
berdiri dengan wajah kusutnya. Ia berjalan menuju meja rias. Kaya langsung menyingkirkan semua yang tertata di meja rias, seperti gincu, bedak, makeup, light lampu, dan peralatan makeup lainnya. Kaya melampiaskan kekesalannya terhadap benda itu.
“Kenapa? Kenapa harus terjadi kepadaku? Kenapa orang yang aku suka adalah anak musuhku sendiri? Hahhh?” bentaknya memukul meja, sambil memandang dirinya di kaca dengan air mata yang mengalir.
“Kenapa?” tanyanya terisak sambil
perlahan bersimpuh di lantai memegang kaki kursi di depan meja rias.
“Kenapa orang yang aku sayang justru adalah musuhku? Kenapa aku enggak tahu nama panjang Lita dan Nusa? Kenapa?” bentak
Kaya pada dirinya sendiri sambil menangis terisak.
“KENAPA?” teriaknya terisak sambil
memegang dadanya yang sakit.
“Kenapa?” lirihnya.
“Pantasan Nusa mengetahuinya? Karena dia anak dari Wijaya Tama. Kenapa aku enggak bisa tahu? Teman sendiri selama 7 tahun bersama, aku tidak mengetahui nama panjangnya. Sekarang Nusa orang yang ku cinta.” Kaya menangis terisak. Ia bergelut dalam hati dan pikirannya dengan sedih. Setiap ucapan yang diucapkan olehnya tadi, seperti ada penekanan kata dengan sedih.
“Ahhhhh....,” teriak Kaya.
“Kenapa orang yang ku sayang ternyata musuhku?” Kaya menangis tak karuan dengan rambut berantakan dan barang-barang
yang dijatuhkannya ke lantai.
****
Malam telah berlalu dan pagi sudah mendatang menyambut sinar mentari di kamar Kaya. Ia tampak segaran dengan duduk di meja rias. Barang-barang yang tadinya berantakan semalam kini sudah kembali tertata rapi di tempatnya.
Kaya merias wajahnya yang cantik. Ia
menutupi matanya yang sembab menggunakan foundation. Keahliannya dalam ber-makeup tidak perlu diragukan lagi. Dirinya yang sudah
cantik akan tambah cantik dan elegan dengan makeup.
Hari ini adalah hari di mana Kaya akan
menjadi seorang CEO di perusahaan Tama. Ia memandang dirinya di kaca dengan intens. Kaya tak mau sedikit pun ada kesalahan dalam dirinya.
Saat ia mengaca dirinya yang sudah cantik dan elegan. Ia mengingat kembali kenyataan tentang Nusa.
“Nusa, walau aku udah tahu siapa kamu?! Aku enggak akan mundur dan terus maju untuk menghancurkan keluarga kamu!”
***
Kaya turun dari tangga dan melihat ibunya sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.
“Kay,” panggil Mina.
“Iya mah,” jawab Kaya menghampiri ibunya di meja mekan.
“Kamu cantik banget hari ini?” tanya Mina.
“Iya, aku soalnya udah pindah kerja.” Jawab Kaya tersenyum menggeser kursi dan duduk.
“Pindah kerja?” gumam Mina.
“Kamu pindah kerja ke mana?” tanya Erlangga.
“Aku pindah ke perusahaan besar pah,” jawab Kaya dengan senyum.
“Perusahaan industri dan restoran,” jawab Kaya.
“Yaudah, aku makan dulu yah mah! Nanti telat lagi, soalnya hari pertama bekerja.” Kaya langsung makan terburu-buru, agar tidak diberikan pertanyaan lagi oleh kedua orangtuanya.
Mina yang ingin bertanya diurungkan niatnya, karena Kaya makan terburu-buru. Mina melanjutkan makannya kembali.
Kaya yang sudah selesai makan beranjak
dari kursi menyalim tangan kedua orangtuanya untuk berangkat kerja. Lalu ia berjalan menuju pintu.
****
Selama di perjalanan….,
Ponsel Kaya berdering sangat keras. Ia
yang fokus menyetir mengambilnya di samping bangkunya dan menjawab telepon tersebut.
“Halo pak Boni,” jawab Kaya.
“Halo bu Kaya, untunglah ibu menjawabnya. Kemarin saya menghubungi ibu susah banget.”
“Kemarin ponsel saya mati. Terus ada apa kamu telepon saya?” tanya Kaya sambil menyetir.
“Saya mau bilang bu, ternyata Nusa adalah anak Wijaya Tama bu.”
“Saya udah tahu itu.”
“Ibu udah tahu?”
“Iya pak, saya baru tahu kemarin.”
“Bukan hanya itu aja bu. Pak Nusa mengganti nama saham Adrian menjadi namanya bu.”
“Apa?”
Kaya terkejut dengan mengerem mendadak di jalan raya. Mobil yang di belakang pun ikut terkejut dan hampir menabrak mobil Kaya dari belakang. Pengendara mobil itu langsung mengklakson mobilnya dengan keras, agar mobil Kaya menyingkir dari jalannya.
“Bu ada apa?”
“Bentar dulu pak!” jawab Kaya.
Kaya melihat spion kaca mobilnya yang
di atas dan melihat pria pengendara itu seperti kesal. Ia pun meminggirkan mobilnya ke tepi jalan.
“Kalau bawa mobil yang benar dong mbak!” omel pria itu membuka kaca jendela mobilnya. Kaya hanya bisa minta maaf dengan tangannya. Lalu pria itu menjalankan mobilnya dengan cepat.
“Maksud kamu gimana? Kenapa dia begitu mudah mengganti nama Adrian?” tanya Kaya.
“Saya juga kurang tahu bu. Tapi yang saya dengar begitu.”
“Lalu bagaimana? Apakah semuanya sudah berkumpul di ruang meeting?” tanya Kaya.
“Sudah bu. Direksi dan pemegang saham yang kecil berkumpul semua di sini. Mereka semua menunggu ibu Kaya saja. Tapi bu Kaya, saya dengar pak Nusa juga akan hadir.”
“Dia pasti akan hadir karena sahamnya ada di perusahaan tersebut.”
“Iya bu Kaya.” Suara Boni terlihat ketakutan di telinga Kaya.
“Kamu jangan takut pak Boni! Nusa tidak akan membalasnya ke kamu. Saya akan pastikan itu.” Ucap Kaya.
“Baik bu, terimakasih.”
“Saya minta tolong ke kamu Boni! Tolong kamu siapkan data pemegang saham perusahaan Tama! Saya mau lihat apakah
sudah ada perubahan.” Suruhnya.
“Baik, bu.”
“Yasudah saya tutup dulu yah! Sebentar lagi saya akan sampai!” Kaya menutup teleponnya dan kembali menyetir menuju perusahaan Tama.
Kenapa dia mudah sekali mengganti nama saham punya Adrian. Apakah itu sebenarnya saham milik Nusa?
Nusa kita akan bertemu lagi di perusahaanmu sendiri. Namun,kini kita tidak akan seperti dulu, karena kau adalah musuhku sekarang!
Kaya fokus menyetir dengan tatapan
sinis. Seakan Nusa berada di depannya.
~ Bersambung ~