My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 74 ~ Bertemu Lita.



~ Happy Reading ~


Sore harinya....


          Nusa berjalan menuju pintu dan mendengar suara getar ponsel di kantong celananya. Nusa langsung mengambil dan mengangkatnya.


          “Halo Lit,” ucap Nusa.


          Kaya langsung menengok melihat Nusa yang masih memegang pintu untuk keluar. Dari Lita, batin Kaya. Sebenarnya Kaya kangen dengan sahabatnya, namun dia segan untuk bertemu karena dirinya telah menipu pamannya.


****


Di parkiran....


          Nusa masuk ke dalam mobil dengan memegang ponsel di telinganya. Dia  masih mengobrol dengan Lita dari tadi di ponsel.


          “Bang, aku mau ketemu! Ada yang ingin ku bicarakan tapi tidak di telpon.” Ucap Lita di telepon.


          “Baiklah, jam berapa Lit?” tanya Nusa.


          “Jam 7 malam di restoran kamu.”


          “Baiklah,” senyum Nusa menutup telepon dan menjalankan mobilnya menuju restoran Tama.


Di kantor Lita.


          Lita memegang ponselnya yang baru saja menelepon Nusa. “Aku akan menanyakan langsung ke kamu Nus. Karena aku tidak mendapat jawaban dari papa.”


          “Apa sebenarnya alasan paman?” tanya Lita sendiri pada dirinya. Lita menyenderkan kepalanya ke kursi dan menatap atap langit-langit dengan duduk santai.


Flash back....


          Saat pulang bertemu dengan Adrian. Lita yang sudah sampai di rumah langsung  menghampiri papanya sedang duduk santai menonton TV.


          “Pah aku mau tanya sesuatu,” ucap Lita berdiri di samping ayahnya yang duduk.


          “Apa?”


          “Papa tahu enggak alasan paman melakukan semua ini kepada keluarga Dirgantara?” tanya Lita.


          Ayahnya langsung kaget dan berdiri menghadap Lita. “Kenapa kamu menanyakan ini Lita?” tanya ayahnya.


          “Kenapa? Yah jelaslah aku tanya, Kaya adalah temanku dan Nusa adalah sepupuku jadi aku mau tanya?”


          “Kamu jangan ikut campur Lita, ini urusan pribadi mereka.” Ayahnya berjalan membelakangi Lita.


          Lita langsung berbalik badan. “Kenapa aku tidak boleh ikut campur?” tanya Lita menunjuk dirinya dengan muka kesal.


          “Karena papa enggak mau kamu menjadi musuh diantara keduanya.”


          “Katakan padaku pah, apa sebenarnya alasan paman melakukan ini?” tanya Lita menghampiri ayahnya yang berhenti di depannya.


          “Papa juga enggak tahu kenapa alasan pamanmu,” jawab ayah Lita.


          “Pasti papa berbohong kan?” tunjuk Lita.


          “Tidak mungkin papa tidak tahu. Papa kan, sahabat diantara mereka berdua dulu. Emang Lita tidak pernah tahu selama ini.”


          “Kamu tahu dari mana Lita?”


          “Aku pernah lihat foto papa, Om Erlangga dan Paman. Lalu ada foto tante Kasih juga yang berada di tengah-tengah kalian.” Ucap Lita menatap ayahnya dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada.


          Brahma merasa takut memberitahu sebenarnya karena dia tidak ingin anaknya memusuhi diantara keduanya. “Iyah itu benar, memang papa dan mereka adalah temanan saat SMA. Tapi saat kuliah papa tidak lagi bersama mereka karena papa pergi ke Luar Negeri untuk kuliah.”


          “Lalu?”


          “Lalu papa tidak tahu kejadian sebenarnya. Papa hanya tahu saat sudah pulang ke sini. Mereka berdua sudah menikah dan selang berapa lama papa juga menikah. Setahu papa,  mereka menjadi rekan kerja, namun papa tidak sering menemui keduanya. Jadi papa tidak tahu alasan pamanmu melakukan ini.”


          Apakah papaku berkata jujur atau sekarang berbohong? Lita seakan tidak percaya omongan ayahnya sendiri.


          “Jika kamu ingin tahu alasannya. Tanyakan sendiri diantara mereka berdua. Papa tidak mau ikut campur ataupun mengurusi pribadi mereka.” Lalu ayahnya berjalan menuju keluar pintu.


          Kenapa papaku tidak pernah mau memberitahuku? Apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka berdua, batin Lita.


Flash back berakhir....


          “Bu saya duluan yah!” pamit Mila.


          “Iya Mil,” senyum Kaya masih mengerjakan pekerjaannya.


          Mila pergi meninggalkan Kaya sendirian. Lalu ponsel Kaya berdering dengan keras di meja. Kaya pun mengambilnya di meja.


          “Hemm.., Adrian.” Gumam Kaya melihat nama Adrian dilayar ponsel.


          “Halo Kay.”


          “Iya Adrian,” jawab Kaya.


          “Aku ingin mengajak kamu makan malam Kay. Apakah kamu bisa?”


          “Hemm,” Kaya berpikir dulu. “Iya Adrian, aku mau. Kita mau makan malam di mana?” tanya Kaya membereskan mejanya sambil menelepon.


          “Di restoran Tama.”


          “Baiklah. Jam berapa?”


          “Sekitar jam 8 malam. Nanti aku jemput kamu di kantor Tama.”


          “Tidak usah Adrian, aku bawa mobil sendiri saja.”


          “Baiklah,”


          “Yaudah, aku beres-beres dulu yah!” ucap Kaya.


          “Iya, aku juga mau bersiap-siap.”


****


Di Restoran Tama.


          Lita dan Nusa sudah berada di restoran Tama dan sedang berbincang-bincang sambil makan. Lalu Kaya dan Adrian tidak sengaja melihat mereka berdua di sana.


          Kaya yang melihat mereka makan di sana berbalik badan. Kenapa ada mereka sih di sini? Tanya Kaya dalam hatinya. Ia merasa canggung untuk bertemu Lita.


          Adrian masih berdiri melihat Lita dan Nusa sedang serius berbicara. Nusa pun tidak sengaja menengok ke arah mereka dan melihat Adrian berdiri tidak jauh dari pandangannya bersama Kaya yang membelakangi dirinya.


          “Kay kamu kenapa berbalik badan?” tanya Adrian menoleh Kaya.


          “Adrian, kayaknya kita makan di tempat lain aja!” ajak Kaya berusaha untuk tidak bertemu Nusa dan Lita.


          “Baiklah,” Adrian langsung setuju karena memahami perasaan Kaya.


          Mereka hendak berjalan, namun Nusa sudah berjalan menghampiri mereka duluan dan memukul pundak Adrian.


          “Kalian mau ke mana?” tanya Nusa.


          Kaya dan Adrian berbalik badan dengan berpura-pura tersenyum. “Kami mau cari tempat duduk dekat sana,” kelak Adrian tersenyum cool. Adrian tidak mungkin bilang yang sebenarnya karena akan membuat diri mereka malu.


          “Ohh...., kalian tidak keberatan kan, jika bergabung dengan kami!” ajak Nusa tersenyum sinis.


          “Baiklah,” setuju Adrian.


          Mereka menuju tempat duduk bersama Nusa. Lita menggeser dirinya untuk pindah ke samping Nusa. Sehingga Kaya duduk bersampingan dengan Adrian. Posisi duduk Kaya berhadapan dengan Nusa dan Lita berhadapan dengan Adrian.


          “Hai Lit, apa kabar?” sapa Kaya.


          “Baik,” senyum Lita.


          Nusa memanggil pelayan untuk membersihkan meja mereka dan mengganti dengan makanan yang baru. Nusa menanyakan kepada Adrian dan Kaya untuk memesan makanan apa.


          Adrian dan Kaya melihat buku menu dan memesan makanan dengan menunjukkan menu tersebut. Pelayan tersebut langsung mencatatnya. Nusa juga bertanya kepada Lita dan Lita hanya memesan minuman saja karena sudah kenyang makan. Begitu juga dengan Nusa, dia hanya memesan minuman kesukaannya seperti biasa yaitu alkohol.


          “Kebetulan sekali bukan, kalian datang ke sini?” tanya Nusa tersenyum.


          “Iya, memang kebetulan sekali.” Adrian tersenyum.


          Pesanan mereka pun datang dan diletakkan oleh pelayan di meja mereka. Kaya dan Adrian pun makan dengan tenang tanpa bicara sama sekali. Sedangkan Nusa dan Lita terlihat berbincang sambil tertawa senang.


~ Bersambung ~