My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 35 ~ Mengakui Perasaan dalam hati.



~ Happy Reading ~


Pagi hari…,


          Kaya yang tidur menyamping menghadap Nusa membuka matanya perlahan-lahan. Pandangannya jatuh kepada wajah Nusa yang tidur menghadapnya.


          Ada senyuman terbit di wajah Kaya melihat pemandangan indah di depannya. Ia membelai tangan Nusa yang memegang pipinya dengan lembut. Lalu perlahan Kaya memajukan wajahnya mendekati wajah Nusa. Tangannya mulai membelai alis, mata, hidung, dan pipi Nusa dengan lembut.


          “Nusa, aku enggak tahu perasaan apa yang aku rasakan saat ini?” sambil membelai pipi Nusa.


          Kaya mengecup kening Nusa dengan lembut. Bibirnya tersenyum penuh cinta. Kaya yang puas memandang wajah Nusa, beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


          Tak lama kemudian Nusa membuka matanya sambil melihat badan Kaya yang masuk ke kamar mandi. Matanya menatap tajam ke arah kamar mandi, seperti ada makna sesuatu dalam matanya.


           Sebenarnya Nusa sudah bangun dari tadi dan mendengar ucapan Kaya. Tapi, ia sengaja berpura-pura tidur. Saat Kaya keluar dari kamar mandi. Nusa kembali berpura-pura tidur.


          Kaya melangkahkan kakinya menuju kasur lagi dengan rambut berantakan yang diikat ke atas semua. Matanya melihat arah jam dinding yang tertempel di tembok.


          Saat melihat jarum jam pukul 05.00 pagi, Kaya sedikit terkejut. Dirinya bangun terlalu pagi dari biasanya. Lalu ia berpikir untuk ke dapur membuatkan sarapan pagi buat Nusa dan dirinya.


****


          Nusa berpura-pura bangun sambil menguap di tempat tidur. Matanya melihat Kaya yang sibuk memasak. Dia pun beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Kaya.


           Kaya yang sibuk memasak tidak sadar kehadiran Nusa di belakangnya. Nusa langsung memeluk perut Kaya dari belakang dengan kepala ditelusupkan dileher Kaya.


          “Pagi Kayaku sayang,” sapa Nusa tersenyum lebar.


          Kaya langsung berhenti melakukan kegiatannya dengan spatula yang menyentuh wajan panas. Ia merasa agak terkejut dengan Nusa yang memeluk dirinya.


          “Lepas Nusa!” desis Kaya memukul pelan lengan Nusa.


          “Kenapa emangnya? Aku enggak mau lepasin!”  ucap Nusa manja membuat Kaya terheran.


          Kenapa Nusa jadi manja begini yah?


          “Ihhh…, Nusa lepasin!” Kaya mencubit tangan Nusa.


          Nusa langsung melepas pelukannya. “Kay sakit tau!” cibir Nusa mengusap tangan yang dicubit Kaya.


          “Lagian, kamu manja banget hari ini!” desis Kaya sambil memasak lagi.


          Lagipula kamu juga tadi nyium kening aku Kay?!


          Nusa mengubah posisinya dengan bersandar di meja dapur dan berdiri di samping Kaya yang sedang memasak. “Kamu masak apa?” tanya Nusa.


          “Aku masak ayam rica-rica dan kangkung,” jawab Kaya.


          “Oh…, tumben kamu kagak panik kayak kemarin Kay? Mondar-mandir mau mandi untuk berangkat kerja?” Canda Nusa.


          “Yeh, kemarin kan aku reflek. Sekarang, aku tahu hari ini libur kerja.” Jawab Kaya sambil mencicipi makanannya.


          “Nus, coba deh!” Kaya memberikan sendok ke mulut Nusa. Lalu Nusa mencoba makanan tersebut. “Gimana rasanya?” tanya Kaya.


          “Enak,” gumam Nusa masih mengunyah makanan tersebut.


          “Iyalah, aku kan chef handal.” Tawa Kaya dan Nusa hanya tersenyum.


          Nusa terus memandangi Kaya yang memasak. Sampai-sampai Kaya yang selesai masak, Nusa masih setia memandangi Kaya.


          “Nus,” seru Kaya membuat Nusa tersadar.


          “Hah? Iya?” tanyanya tersadar.


          “Udah selesai, yuk ke meja makan!”


          Nusa mengangguk dan membantu Kaya membawa beberapa hasil makanan ke meja makan. Lalu mereka duduk saling berhadapan.


          “Mari makan Nusa!” ajak Kaya dengan menyantap makanan tersebut.


          “Selamat Makan Kaya. Makasih udah dibuatin.” Senyum Nusa sambil menyantap makanan tersebut.


          “Sama-sama.”


****


          Selesai makan Nusa menyuruh Kaya untuk tidak mencuci piring dan beristirahat, karena dirinya yang akan mencuci piring. Kaya menuruti perintah Nusa. Ia berjalan menuju balkon dengan berdiri sambil memandangi


langit pagi yang cerah.


          Saat Nusa selesai mencuci semua piring kotor, ia berjalan menghampiri Kaya yang sedang berdiri di balkon. Nusa langsung memeluk Kaya dari belakang dengan kepala ditempelkan di bahu Kaya.


Deg.., deg…, deg…,


          Jantung Kaya berdegup kencang saat di peluk Nusa dari belakang. Ia mengakui dirinya memang telah jatuh cinta pada Nusa dan tak bisa mengelaknya di dalam hati. Namun, ia harus berpikir jernih dan mengingat tujuannya.


          “Nusa!” seru Kaya mencoba melepaskan tangan Nusa.


          “Sebentar aja Kay!” pinta Nusa memeluk Kayadengan erat dan tidak mau melepasnya.


          Kenapa dia jadi begini yah? Perasaanku juga tak karuan? Apakah aku memang benar jatuh cinta olehnya?  tanya Kaya dalam hati.


          Nus, aku mengakui sekarang hatiku memang memilihmu! Tapi aku harus mengejar tujuanku terlebih dahulu. Lanjutnya dalam hati.


          Nusa yang memeluk Kaya menikmati indahnya pemandangan langit dan hembusan angin yang mereka rasakan di pagi hari. Ia menyium pucuk kepala Kaya dengan lembut. Sedangkan Kaya hanya berdiam diri merasakan sensai pelukan Nusa.


          “Kay,” seru Nusa.


          “Kamu belum mandi yah?” tanya Nusa dengan canda.


          Kaya berbalik badan melepaskan pelukan Nusa dan memukul lengan Nusa sambil bersandar di pagar balkon. “Kamu yah ada-ada aja?! Yah, aku belum mandilah, orang aku nginep di sini semalaman. Gimana sih kamu Nus?!” gerutu Kaya.


          “Hahhaha, sory aku bercanda Kaya.” Tawa Nusa.


          “Kayak kamu udah mandi ajaNus?” tanya Kaya sinis.


          “Hehehe, belum juga sih.” Nyengir Nusa.


          “Dasar!” desis Kaya memukul dada Nusa pelan sambil tersenyum. “Nusa, aku mau tanya sesuatu?”


          “Apa?” sambil mengelus rambut Kaya dengan lembut.


          “Kamu suka sama aku?” tanya Kaya terus terang dan membuat Nusa sedikit terkejut dengan menyerngitkan keningnya.


          “Kalau aku suka sama kamu. Apa kamu juga suka sama aku?” tanya balikNusa.


          Maafkan aku Nusa, aku tidak bisa memberikan jawabannya sekarang. Karena aku harus mengejar tujuanku dulu sekarang. Lirih Kaya dalam batinnya.


          “Aku…,” Kaya bingung menjawab pertanyaan Nusa dengan melirik ke arah yang lain dan tidak menatap Nusa.


          Nusa langsung mendekatkan dirinya dengan kedua tangan menumpu pagar balkon dan membuat Kaya terkunci di dalamnya. “Apa Kay?” tanya Nusa menatap Kaya tanpa kacamata yang di pakainya setiap hari.


          “Aku…,” jawab Kaya bingung.


          Haduh, aku harus jawab apalagi ke dia? tanya Kaya dalam hati.


          “Akuapa Kay?”


          “Aku kayaknya harus pulang Nus, udah dicariin mamaku?!” nyengir Kaya langsung keluar lewat kolong tangan Nusa.


          Nusa hanya tersenyum menyeringai dan membalikkan badannya menghadap Kaya yang sudah di belakangnya.  “Yaudah, aku anter!”


          “Iya,” jawab Kaya.


          “Tapi aku mandi dulu yah! Bau Nih!” Nusa mencium kemejanya sendiri.


          “Iya,”ucap Kaya.


          “Kamu enggak mandi Kay?” tanya Nusa.


          “Enggak Nus, aku di rumah aja.” JawabKaya.


          “Dasar jorok kamu Kay!”


          “Biarin aja, ueee!” Kaya memeletkan lidahnya.


          “Yaudah aku mandi dulu yah!”


          “Iyahhh,” senyum Kaya. Nusa berjalan menuju dalam dan meninggalkan Kaya sendirian di balkon.


***


          Nusa yang selesai mandi turun dari tangga. Ia memakai kaos putih dan celana jeans dengan rambut yang masih basah. Kaya yang duduk di tempat tidur melihatnya langsung terpesona.


          Hati Kaya berdegup sangat kencang. Dia merasakan adanya desiran di tubuhnya. Apalagi melihat mata Nusa yang indah tanpa kacamata, membuatnya tak berkedip sedikitpun.


          “Kay,”Nusa membungkuk di depan wajah Kaya yang melamun.


          “Oh iya Nus,”sadar Kaya dari lamunannya.


          “Kamu kenapa?” tanyaNusa berdiri tegap.


          “Enggak kenapa-napa. Yuk!” ajak Kaya langsung berdiri.


          “Ayuk!”


****


Saat di dalam mobil…,


          “Kamu kenapa sih Kay, diam aja?” tanya Nusa yang memperhatikan Kaya terdiam.


          “Kagak kenapa-napa kok,” senyum Kaya. “Kamu ternyata kalau enggak pakai kacamata ganteng juga Nus,?!” puji Kaya dengan senyum.


          “Kamu bisa aja Kay,” senyum Nusa.


          “Iya benar. Tiap hari dong kamu enggak pakai kacamata. Pasti makin banyak fans kamu di kantor?!” canda Kaya.


          “Hahaha, termasuk kamu yah Kay!” Tawa Nusa.


          “Aku,” Kaya menunjuk dirinya sendiri. “Ih…, ogah aku jadi fans kamu Nus!”


          “Yaelah Kay, iya juga enggak papa kali.”


          “Iya deh, aku fans berat kamu yang sangat menggilai kamu, mencintai kamu, menyayangi kamu, dan memuja kamu Nus.” Canda Kaya dengan lebay.


          “Enggak usah lebay juga kali Kay?!” tawa Nusa.


          Emang benar Nus aku sangat menyukai kamu, batin Kayasambil menyengir ke arah Nusa.


~ Bersambung ~