
~ Happy Reading ~
Nusa turun dari tangga melewati Mina yang berdiri di dekat bawah tangga untuk menuju pintu.
“Nusa,” panggil Mina menghampiri Nusa yang berjalan menuju pintu.
“Iya tan,” senyum Nusa berbalik badan.
“Tante boleh bertanya sesuatu?”
“Apa tan?”
“Kamu suka sama Kaya?” tanya Mina seperti tahu Nusa menyukai anaknya.
Nusa langsung terkejut degan pertanyaan ibu Kaya. “Kenapa tante tanya seperti itu?”
Tanpa disadari mereka Kaya mengumpat di balik tembok dekat atas tangga dan mendengar semua percakapan mereka.
“Tante hanya bertanya saja,” senyum Mina.
“Iya, tante benar. Aku menyukai anak tante yang cantik.” Senyum Nusa.
Dasar pembohong! batin Kaya.
“Maaf Nusa. Jika tante lancang menanyakan ini!” Mina memegang bahu Nusa dengan senyum.
“Tak apa tan. Sebagai seorang ibu wajar menanyakan hal ini, karena mereka tidak mau anaknya tersakiti. Tapi tante tenang aja, aku tidak akan menyakiti Kaya.” Nusa memegang tangan Mina yang dibahunya dengan senyum lalu melepasnya.
Dasar penjilat kau Nusa! batin Kaya.
“Kamu benar Nusa. Tante senang jika kamu menyukai Kaya, karena kamu anak yang sangat baik.” Mina tersenyum senang.
Mama belum tahu aja dia anak dari siapa, batin Kaya.
Aku berbohong nyonya Dirgantara. Anakmu adalah awal agar kau merasakan kesakitannya, batin Nusa.
“Kalau begitu aku mau balik kerja dulu yah tan!” pamit Nusa.
“Baiklah! Tante anter sampai pintu yah!”
“Tidak usah tan. Terima kasih,” Nusa tersenyum dan berbalik badan menuju pintu.
Kaya kembali lagi menuju kamarnya dengan perasaan kesal terhadap Nusa. “Dasar kurang ajar dia, berani-beraninya berbohong di depan mamaku?!” gerutu Kaya duduk di tempat tidur.
Nusa keluar dari pintu berjalan menuju mobilnya yang diparkirkan di depan rumah Kaya. Tanpa disadari Nusa, Erlangga berjalan menuju rumahnya dan melihat Nusa masuk ke dalam mobil. Erlangga berhenti di depan pintu dan merasa tidak asing dengan wajah anak itu.
Erlangga melihat mobilnya sudah melaju pergi dari hadapan rumahnya, lalu membuka pintu untuk masuk. Istrinya menyambut suaminya dan menyalim tangan suaminya tersebut.
“Tadi papa melihat ada seoarang anak muda keluar dari rumah ini. Dia siapa mah?” tanya Erlangga.
“Ohhh..., dia adalah rekan kerja Kaya namanya Nusa.”
“Deg”
Seketika jantung Erlangga terkejut mendengar nama pemuda tersebut. Yah..., nama yang dia kenal yaitu anak dari Wijaya Tama. Namun, dia tidak pernah cerita kepada Kaya tentang anaknya Wijaya. Karena dulu ia berpikir Nusa tak akan kembali ke rumahnya sendiri.
“Nusa?”
“Iya.., emang kenapa?” tanya Mina mengerutkan dahinya.
Apakah dia benar pemuda yang ku lihat tadi adalah anak dari Tama? Atau hanya kebetulan saja? Tapi kenapa namanya sama? Apakah selama ini Kaya berbohong padaku dan Mina? Lalu kenapa dia ke sini? Apa hubungan mereka sebenarnya?
Erlangga terus bertanya-tanya dalam hatinya. Ada rasa ragu terhadap anaknya. Dia menjadi termenung memikirkan pemuda tadi. Sementara istrinya bingung melihat Erlangga.
“Pah, emang kenapa?” tanya Mina yang membuyarkan lamunan Erlangga.
“Tidak apa-apa, hanya saja papa tak asing mendengar namanya.” Senyum Erlangga.
“Yaudah papah mau menonton TV dulu!”
Erlangga berjalan menuju ruang tamu dan mengambil remote di meja yang terbuat kaca, lalu duduk menyalakan TV. Sementara Mina berjalan menuju dapur melanjutkan masakannya yang tertunda.
Jika itu benar Nusa? Kenapa Kaya bisa mengenalnya? Atau jangan-jangan mereka pacaran? Ahh..., tidak mungkin. Kaya buka orang seperti itu, yang mengumpat tentang cintanya. Lalu mengapa dia ada di sini? Sebenarnya apa yang terjadi?
Erlangga masih memikirkan tentang Nusa dan bertanya terus di dalam hatinya. Dia malah mengabaikan tontonannya dan menerka-nerka tujuan Nusa ke sini. Erlangga memang tahu tentang anak Wijaya saat Nusa masih SMP, karena Erlangga pernah ke rumah Wijaya.
Flash back....
Di rumah Tama.
“Erlangga duduklah!” Wijaya mempersilahkan Erlangga duduk di ruang tamunya dan ikut duduk juga.
“Aku pulang!”
“Dia siapa Tama?” tanya Erlangga.
“Salim Om Erlangga Nusa!” perintah Wijaya.
“Hai, Om.” Nusa menyalim tangan Erlangga.
“Ohhh..., dia mirip sekali denganmu.” Senyum Erlangga tapi Nusa seperti tidak menyukai perkataan Erlangga.
“Aku naik ke atas dulu pah!” Nusa melangkah berjalan menuju tangga.
“Siapa namanya Tam?” tanya Erlangga.
“Nusantara Gemilang Raya, biasanya dipanggil Nusa.” senyum Wijaya.
Flash back berakhir....
***
Selama di perjalanan.....
Nusa menyetir dengan perasaan emosi akan tindakan Kaya. Bibirnya yang berdarah mulai mengering sekarang. Tidak peduli dengan jalanan yang begitu ramai, dia terus menerjang dan menyalip setiap mobil dengan perasaan kesalnya terhadap Kaya.
Matanya fokus melihat jalanan yang lalu lalang. Seperti singa yang mencoba menerkam mangsanya. Hatinya panas bagaikan api yang terbakar. Dirinya bagaikan elang yang membawa terbang mangsanya dari atas.
Kaya sesuatu besar akan terjadi padamu. Tunggu dan lihat saja! Apa yang akan ku lakukan untukmu sayang! Kau akan menangis darah melihat ini! Permainanku tidak akan mudah kau tebak sayang!
Di Perusahaan Tama.
Nusa masuk ke dalam ruangan dan mendapati Jessica duduk di depan mejanya. Dia pun berjalan menuju tempat duduknya.
“Pak Nusa sudah balik?” tanya Mila berdiri dari kursi.
“Iya,” senyum Nusa duduk di kursi.
“Bibir kamu kenapa Nusa?” tanya Jessica berdiri dengan heran.
“Tidak sengaja ke gigit,” jawab Nusa.
“Ohh...,” senyum Jessica duduk kembali.
“Nusa sayang, kamu tahu enggak? Tadi aku dapat duta iklan shampo. Terus yah...? Aku juga dapat job sebagai iklan handbody dan satu lagi......”
Bla...., bla.......
Jessica terus berbicara panjang lebar tentang dirinya yang mendapat promosi dimana-mana. Sedangkan Nusa hanya tersenyum dan malas menanggapi ucapan Jessica. Dengan setengah senyum dan setengah serius menatap laptopnya sambil mengetik.
Nusa merencanakan beberapa anggaran untuk projectnya terhadap restoran di Bali. Ia akan menggabungkan ide Kaya dan idenya sendiri, untuk project di Bali termasuk urusan dengan anggaran. Sementara Jessica masih
bercerita terus sehingga jam dinding menunjukan jam 3 sore.
Drt...., Drt...., Drt.....,
Ponsel Jessica bergetar dengan kencang dan ia mengambilnya dari dalam tas.
“Bentar yah sayang!” Jessica beranjak dari kursi dan membelakangi Nusa sambil menerima telepon dari seseorang.
“Halo,” jawab Jessica.
“....”
“Oh iya saya lupa pak,” senyum Jessica.
“....”
“Baik pak, saya ke bawah!” Jessica langsung menutup teleponnya.
Jessica berbalik badan dan terlihat girang. “Sayang ayuk! Wartawannya sudah datang di bawah!”
“Iya Jess,” Nusa mematikan laptopnya dan berjalan bersama Jessica. Namun langkahnya terhenti melihat Mila.
“Mil, nanti laptop saya kamu suruh satpam untuk bawa ke mobil! Saya mau sekalian pulang soalnya!” perintah Nusa.
“Baik pak,” senyum Mila.
Jessica hanya melihat Mila dengan tatapan meledeknya. Tangannya mencoba menggandeng tangan Nusa dan membiarkan Mila merasakan kecemburuan. Mereka berjalan bersama menuju pintu, namun Jessica menoleh kembali dan memeletkan lidahya kearah Mila.
“Dasar ular!” umpat Mila dengan kesal melihat punnggung mereka mulai menghilang.
Mereka keluar gedung menuju tempat parkiran yang luas. Wartawan yang berjongkok langsung berdiri menghampiri mereka. Tanpa basa-basi semua wartawan mengerumuni dan menanyakan beberapa pertanyaan terhadap mereka.
~ Bersambung ~