My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 94 ~ Michael sudah tahu semuanya



~ Happy Reading ~


          Kaya ke kamar mandi membersihkan kemeja putihnya dengan air, agar tidak terlalu terlihat noda teh. Namun malah membuat kemejanya semakin melebar basahnya. Kaya pun kesal dan mematikan showernya.


          “Hadeh bagaimana ini!” dengan kesal. “Apa aku pulang aja kali yah?” pikuk Kaya.


          Kaya pun keluar kamar mandi dan melangkahkan kakinya menuju lift untuk pulang. Tanpa sadar dia sedang berpapasan dengan Michael dan Kaya tak melihatnya.


          “Loh itu Kaya?” pikuk Michael berhenti melangkah dan berbalik badan menoleh Kaya menuju lift.


          “Kay,” panggil Michael dan Kaya berhenti melangkah, lalu menoleh ke belakang.


          “Hai Michael,” senyum Kaya dan Michael menghampiri Kaya.


          “Baju kamu kenapa?” tanya Michael menunjuk kemeja Kaya yang basah di bagian bawah kerah.


          “Ohh..., tadi tidak sengaja ke tumpah teh.” Jawab Kaya dengan senyum.


          “Kay ke rooftop yuk! Sekalian menenangkan diri, siapa tau kamu mau melepas penat.” Ajak Michael sambil bergurau.


          Haduh padahal aku mau balik tadi.


          “Haha..., baiklah. Emang penatku terlalu banyak ini. Kamu tau aja Michel,” tawa Kaya.


          “Yaudah yuk!” ajak Michael berjalan menuju lift dan Kaya mengikutinya.


***


Di Mall.


          “Nusa ke sini dulu yah!” ajak Jessica menunjuk sebuah toko pakaian wanita. Mereka pun masuk ke dalam toko baju.


          Jessica ke sana kemari mencari baju yang cocok dengannya. Dia memilih dengan kegirangan dan mengambil beberapa baju. Sedangkan Nusa yang dari tadi bersikap cool melirik sebuah baju kantor yang bagus dan memegangnya.


          “Mungkin ini cocok dengannya!” gumam Nusa.


          Jessica melihat Nusa memegang baju kantor menghampirinya dan bertanya. “Nus, kamu mau beli juga?” tanya Jessica.


          “Enggak aku cuman liat doang. Ini cocok buat kamu kayaknya!” Nusa menyodorkannya kepada Jessica dengan senyum palsu.


          “Ini buat aku?” tanya Jessica mengambil dari tangan Nusa.


          “Iya,” senyum Nusa.


          “Oh..., kamu so.., sweet.., banget sih.” Jessica memeluk Nusa.


          “Hehe.., Iya.” Nusa seperti tidak ikhlas mengucapkannya dan Jessica melepas pelukannya.


          “Yaudah kamu pilih lagi baju yang kamu mau!” suruh Nusa dengan senyum. Jessica kembali mencari baju dengan senang.


          Nusa yang berdiri menunggu Jessica memilih baju, selalu melihat jam di tangan. “Cewek kalo belanja kagak bisa apa langsung ambil aja? Lama banget memilihnya?!” gerutu Nusa menunggu terlalu lama. Akhirnya Nusa menghampiri Jessica.


          “Jess, udah selesai belum?” tanya Nusa


          “Sudah sih,” senyum Jessica.


          “Yaudah yuk pulang!” ajak Nusa.


          “Nus bisa enggak minta tolong bawaiin ini!” Jessica memegang banyak sekali tas tote bag yang terbuat dari plastik, buat menaruh baju.


          Buset banyak banget bajunya. Dia mau jualan atau mau dipakai tuh baju.


          “Yaudah. Kita bayar yuk, terus pulang yah!” ajak Nusa mengambil sebagian kantong dari tangan Jessica


          “Yaudah deh, tapi bayarin yah Nusa sayang.” Jessica tersenyum sumringah.


          “Iya,” Nusa memutarkan bola matanya.


          Setelah Nusa membayar semua belanjaan Jessica. Mereka berjalan melangkahkan kakinya keluar dari toko tersebut dan menuju pintu Mall. Saat sampai pintu Mall.


          “Jess kamu pulang naik taksi yah! Soalnya aku buru-buru ada meeting nanti sore.” Nusa berbohong, sambil memegang kantong belanjaan Jessica yang banyak dan berdiri di samping Jessica.


          “Ohh yah udah deh Nusa sayang,” senyum Jessica melepaskan gandengannya. Nusa melirik taksi yang berada di luar gedung Mall dan dia melihat supir taksi sedang berdiri di depan mobil.


          “Taksi!” teriak Nusa.


          Supir taksi itu datang membawa mobilnya ke depan mereka. Nusa langsung menaruh belanjaan Jessica di belakang mobil dan Jessica masuk ke dalam mobil. Setelah selesai Nusa kembali berdiri di samping mobil dan Jessica membuka jendela mobil taksi tersebut.


          “Bye Nusa,” lambai Jessica tersenyum genit.


          “Bye, senyum Nusa yang tak ikhlas.


          Taksi itu pun jalan dan Nusa kembali ke dalam Mall. Kakinya melangkah ke toko baju wanita kantor. Tangannya memegang beberapa kemeja kantor wanita. Dia memegang hangirnya dan memandang kemeja di depan matanya.


          “Kira-kira ini cocok enggak yah buat dia?” gumam Nusa memikirkan badan Kaya.


          “Cocok kali, aku beli aja beberapa buat dia,” ucap Nusa mengambil tiga kemeja dengan warna berbeda dan langsung membayarnya ke kasir.


          Sehabis itu dia melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil dan masuk ke dalam mobilnya. Dia menjalankan mobilnya untuk kembali menuju kantor.


****


Di rooftop gedung Tama.


          “Kay,” ucap Michael.


          “Hem,” gumam Kaya.


          “Aku boleh bertanya tidak?”


          “Boleh,” jawab Kaya dengan senyum


          “Kata Nusa kamu tahu di mana ayahku?” tanya Michael membuat Kaya terkejut dan menatap Michael.


          Apakah Nusa sengaja memberitahunya?


          “Iya. Lalu apalagi yang dikatakan Nusa?” tanya Kaya.


          “Dia hanya bilang kamu telah menemukan ayahku,” jawab Michael.


          Ternyata dia tidak memberitahu Boni adalah ayahnya. Tapi kenapa dia tidak memberitahunya.


          “Iya, aku telah menemukannya dan akan ku berikan nanti alamatnya yah Michael.”


          “Benarkah, makasih Kaya. Engkau memang tidak pernah berubah,” ucap Michael.


          “Maksudnya tidak pernah berubah?” tanya Kaya bingung.


          “Iya kamu emang selalu baik dari dulu, walau dulu kamu itu playgirl.” Canda Michael.


          “Emang aku playgirl dulu?” tanya Kaya tidak terima dengan muka mengerut.


          “Hahaha.., aku bercanda Kaya.” Tawa Michael dan Kaya hanya ikut tertawa juga.


          “Oh iya Kamu ketemu ayahku di mana?” tanya Michael.


          Sebenarnya aku sudah lama bertemu dengan ayahmu Michael. Apakah aku harus jujur denganmu Michael. Bahwa ayahmu membantu diriku menipu ayah Nusa.


          “Aku lupa Michael. Saat aku mendengar namanya aku langsung bertanya dan ternyata benar dia ayahmu.” Kelak Kaya.


          “Ohh...,” gumam Michel tersenyum. “Tapi dia cerita banyak tidak padamu?”


          “Tidak. Dia hanya bilang benar aku ayah dari Michael Malaeki dan aku langsung meminta alamatnya. Aku juga bilang kalo kamu mencarinya selama ini. Lalu dia langsung senang,” bohong Kaya dengan senyum.


          “Kamu tidak berbohong kan Kaya?” tanya Michael membuat Kaya terkejut mendengarnya.


          “Kenapa aku harus berbohong?” tanya Kaya balik dengan senyum.


          “Aku sebenarnya sudah tahu semuanya,” gumam Michael memandang ke depan. Kaya


langsung terkejut mendengarnya.


          “Maksudnya?”


          “Aku tahu ayahku adalah pak Boni dan dia membantumu menipu ayah Nusa.”


          Seketika Kaya langsung behenti berdetak mendengar pengakuan Michael yang sudah mengetahuinya. Kaya langsung menoleh Michael yang tak memandangnya. Dia memperhatikan wajah Michael yang biasa saja dan tak ada ekspresi marah.


          “Maafkan aku Michael telah membohongi dirimu. Aku tidak mau kamu membenci lagi ayahmu hanya karena dia membantuku.” Lirih Kaya.


          “Its okey,” Michael menoleh Kaya dengan senyum.


          “Kamu enggak marah Michael?” tanya Kaya heran.


          “Buat apa aku marah. Aku hanya kecewa saja padamu tapi aku tahu alasanmu yang sebenarnya.”


          “Kamu tahu sejak kapan bahwa pak Boni adalah ayahmu?”


          “Sebenarnya aku berbohong padamu. Aku sudah melihat ayahku sejak aku mulai kerja di sini. Tapi ayahku selalu mengumpat dan tak ingin melihat diriku. Mungkin karena dia malu bertemu diriku karena ulahnya  di masa lalu.”


          “Maafkan aku Michael. Kamu jangan marah pada ayahmu. Akulah yang patut kau benci, karena diriku, ayahmu terjerumus dalam masalah pribadiku.”


          “Aku tahu Kay, kamu dan Nusa sekarang menjadi musuh karena masa lalu keluarga kalian. Tapi aku yakin sama Nusa dia tidak akan berani mengancam diriku dan ayahku. Karena dia menganggapku sebagai saudaranya.”


          “Aku boleh bertanya padamu?”


          “Apa?”


          “Apa Nusa di matamu Michael? Kenapa dia baik sekali membiayi semua kebutuhanmu?”


          “Di mataku dia orang yang sangat baik dan penyayang kalo mengenalnya. Nusa selalu menganggapku sebagai brothernya. Tapi kadang dia juga bisa menjadi pemarah karena satu hal. Dia tidak suka disebut anak pemabuk.”


          “Ohh..., pantesan waktu itu dia pernah marah.” umpat Kaya.


          “Kay kamu takut ketinggian enggak?”


          “Enggak sih emang kenapa?”


          “Kita duduk di atas tembok ini mau enggak?! Soalnya lebih seru pemandangannya!” ajak Michael.


          “Baiklah, tapi naiknya pakai apa?” tanya Kaya.


          “Aku akan menggeser meja kesini!” Michael mengambil meja kecil  dan menaruh dekat dengan tembok. Mereka pun naik dan duduk bersampingan sambil memandang langit menjelang sore yang indah dengan bawahnya terlihat jalan dan rumah serta gedung-gedung kecil.


~ Bersambung ~