
~ Happy Reading ~
Kaya berjalan di koridor tempat karoke. Ia berjalan menuju ruangan yang sudah diberitahu oleh resepsionis tempat tersebut. Kaya datang terlambat karena dirinya harus mencari kado terlebih dahulu.
Kaya memakai baju tertutup seperti biasa. Ia mengumpatkan seluruh tubuhnya sampai leher mengingat tanda yang diberikan Nusa belum hilang. Kaya memakai baju turtleneck putih lengan pendek yang dibalutkan cardigan coklat panjang sampai betis dan celana jeans ketat.
Contoh pakaian Kaya:
Kaya memegang kado kecil dengan senyum sambil berjalan mencari ruangan tersebut di koridor karoke tersebut.
Contoh koridor karoke:
Kaya berhenti sejenak. Ia terkejut melihat sosok pria yang sedang berhadapan dengan wanita. Kaya memasukkan kado kecilnya ke dalam kantong cardigannya.
Kaya melihat dengan intens mereka. Wanita itu berdiri di depan pria tersebut sambil mengalungkan tangannya ke leher. Terlihat pria itu tak menolaknya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celananya.
Wanita itu terlihat berjinjit mendekatkan wajahnya menuju pria tersebut. Kaya yang melihatnya berubah menjadi sendu. Ia tak tahan apa yang akan terjadi. Kaya tahu wanita itu akan mencium pria yang ia cintai.
Kaya membalikkan dirinya dan tak ingin lebih lama melihat adegan mereka. Ia tak tahu harus bagaimana. Kaya tak mungkin menamparnya, karena dirinya belum menerima cinta pria itu.
Matanya sendu harus melihat adegan mesra mereka. Hatinya seperti tertusuk jarum sekarang. Pria itu selalu mengucapkan cinta, namun dia menerima sentuhan wanita itu. Pikirannya menjadi kalut, ia berpikir pria itu telah menipunya.
“Apakah selama ini kau hanya menipuku saja Nusa?” Kaya meneteskan air matanya. Ia tak kuat lagi dan berjalan meninggalkan mereka tanpa melihat mereka lagi.
****
Jessica mengalungkan kedua tangannya ke leher Nusa. Ia mencoba berjinjit menuju wajah Nusa.
Nusa dengan gayanya yang cool membiarkannya. Ia tak tahu Jessica ingin berbuat apa.
“Nusa, aku mencintaimu.” Bisik Jessica tersenyum, lalu kembali memandang Nusa. Jessica memajukan bibirnya menuju bibir Nusa, melihat itu Nusa langsung menghalangi dengan tangan kanannya.
“Maaf Jess, aku ingin ke kamar mandi!” Nusa mencoba menghindar dari perbuatan Jessica yang ingin menciumnya.
Jessica tersenyum mengangguk. Ia berpikir Nusa menolaknya karena malu.
“Yaudah aku tunggu di dalam bersama Mila yah!” ucapnya.
“Iya,”
Jessica masuk ke dalam ruangan dengan tersenyum sambil melirik Nusa. Setelah Jessica masuk ke dalam ruangan, Nusa yang gayanya cool dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celana melihat sosok wanita berjalan dengan cepat membelakangi dirinya menuju belokan koridor.
“Kaya,” gumam Nusa. Lalu dia mengingat perbuatan Jessica yang ingin menciumnya dan berpikir Kaya melihatnya.
“Shit!” geram Nusa kesal. “Ia pasti melihat kejadian tadi,” ucapnya. Lalu mengejar Kaya, namun ia tak mendaptkan Kaya.
Apakah dia secepat itu berjalan atau dia berlari? pikir Nusa berhenti melihat koridor panjang dan tak menemukannya. Lalu Nusa berlari cepat untuk keluar karoke.
****
Adrian yang sedang turun dari mobil melihat Kaya keluar dari tempat karoke dengan muka sedih. Ia merasa aneh dan bertanya-tanya ada apa dengan Kaya.
Adrian berusaha mengejar Kaya. Tapi telat, Kaya telah memasuki taksi yang kebetulan lewat di depan karoke dan berlalu meninggalkan tempat karoke tersebut. “Sial,” umpat Adrian
Adrian kembali lagi menuju mobilnya. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengejar taksi yang ditumpangi Kaya.
Adrian terus mencari taksi yang dinaiki Kaya, namun ia tak menemukannya di jalan raya. Taksi terlalu banyak dan warnanya hampir sama semua, sehingga membuat Adrian kesulitan menemukan Kaya dengan melihat dari jendela mobil taksi saja. Jendela mobil taksi tersebut transparan.
***
Nusa masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan cepat. Pikirannya hanya Kaya saat ini. Nusa tahu Kaya melihat kejadian Jessica yang mencoba menciumnya.
Saat di jalan raya, ia melambatkan mobilnya dan mencoba mencari sosok Kaya.
Nusa terus memperhatikan ke arah kiri dan kanan. Ia berharap menemukan Kaya. Ponselnya bergetar di kasur dan melihat panggilan atas nama Jessica.
Nusa mengabaikannya dan membiarkan panggilan itu terus berdering. Dirinya terus memikirkan wanitanya yang pasti sedih akibatnya.
***
Kaya menatap ke jendela dengan tatapan sendu. Hatinya sangat sakit sekali. Rasanya dia ingin menenggelamkan wajahnya. Baru kemarin Nusa menyatakan cintanya, sekarang ia memberikan luka.
“Berhenti pak!” Kaya memberhentikan taksinya di pinggir Jalan.
Setelah membayar taksi, Kaya berjalan dengan perasaan sedih melewati jembatan layang. Dirinya berjalan di pinggir jalan entah tujuannya ke mana.
Matanya hanya menghadap ke depan tak melihat sekitarnya. Ia melipatkan kedua tangannya ke dalam dada. Merasa kedinginan akan angin malam yang berhembusan di dalam dirinya.
Tanpa terasa dia sudah berjalan jauh dan berhenti di suatu kedai minum dan makanan. Kaya masuk ke dalam untuk menghangatkan badannya. Pelayan wanita datang memberikan buku menu kepada Kaya yang baru saja duduk.
Kaya membolak-balik buku menu dan menemukan yang dia mau. Kaya memesan minuman ber-alkohol yaitu sejenih vodka dengan kadar alkohol yang tinggi.
Jika yang kadar alkoholnya rendah membuat Kaya mabuk apalagi yang tinggi. Tapi untuk saat ini, dia tak mau ambil pusing, dirinya ingin cepat melupakan segalanya.
Minuman itu datang dan Kaya langsung menuangkan botol itu ke dalam gelas. Kaya meminum sekali teguk gelas tersebut, lalu menuangkannya kembali.
Kaya mengingat kembali di mana Nusa selalu bilang dirinya adalah wanitanya, miliknya dan selalu menyatakan cintanya.
Nusa meregangkan pelukannya dan kembali memandang Kaya yang diam. Ia mengecup kening Kaya. “Jangan pernah bersama pria lain!” ucapan Nusa terdengar perintah. Kaya hanya mengangguk.
Kaya merasa ia tidak perlu membantah ucapan Nusa sekarang, karena dirinya tidak ingin berakhir dengan debat dan harus kehilangan momen indah ini.
Melihat Kaya mengangguk, Nusa tersenyum senang. “Bagus, karena kamu adalah wanitaku, sekarang sampai selamanya kau tetap wanitaku. Ingat itu Kaya Aqila!”
Ia meneteskan air matanya sambil tersenyum getir mengingat hal itu. Lalu dirinya kembali meneguk minuman itu sampai habis, dan menuangnya kembali.
Benar-benar dirinya seperti orang frutasi. Kacau? Yah dia memang kacau sekarang. Sakit? Yah, memang sakit hati sekarang. Ia menuangkan kembali botolnya ke dalam gelas. “Byurrrr!” Dirinya sudah mulai mabuk dan berbicara tidak jelas.
Untung saja dalam kafe tersebut tidak terlalu ramai dan hanya dua pria paruh baya yang duduk saling berhadapan. Mereka duduk tidak jauh dari Kaya, namun masih bisa melihat sikap Kaya.
“Pelayan satu lagi!” teriak Kaya dengan mengajukan jarinya ke atas. Benar-benar sudah mulai mabuk dan bertingkah seperti anak kecil dengan cengengesan sendiri.
Pelayan itu berjalan membawa satu botol vodka dan memberinya kepada Kaya. “Jangan terlalu mabuk mba!” saran pelayan wanita itu.
“Kamu siapa hah?” Kaya menunjuk ke muka pelayan itu dengan mata yang disipitkan.
“Jangan ikut campur urusan saya!” sarkas Kaya mengusir pelayan itu dengan tangannya. Pelayan itu pergi dengan mengumpat.
“Kenapa kau selalu saja menyakitiku Nusa?” Kaya menuang botol tersebut ke gelas dengan tatapan sedih.
“Kenapa?” ucapnya meminum vodka itu.
Tak terasa Kaya sudah tiga jam di kafe itu. Dirinya sudah mabuk berat dengan menempelkan kepalanya di meja dan tangan kanan yang memegang botol.
Pelayan wanita yang menjaga kafe itu sangat prihatin melihatnya, sedangkan ini mau tengah malam. Pelayan itu pun menghampiri Kaya dan membangunkan dirinya untuk pulang, karena kafenya juga mau tutup.
“Hemm,” Kaya mengigau.
“Mbak saya mau tutup!” ucapnya menepuk bahu Kaya pelan.
Kaya menegakkan kepalanya yang oleng dan mencoba duduk tegap. “Udah mau tutup yah?” tanyanya cengengesan dengan mata setengah sadar.
“Iya mbak,” jawab pelayan itu.
Kaya mencoba berdiri dengan memegang lengan pelayan itu. Ia berjalan sempoyongan keluar dari kafe tersebut. Pelayan itu hanya menggelengkan kepala saja.
~ Bersambung ~