
Nusa masuk ke ruangan Kaya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena sudah terbiasa. Ia sengaja berjalan tanpa suara, karena Kaya serius melihat secarik kertas yang di pegang dengan tangannya dan menggunakan kacamata. Ide jahil terlintas di pikirannya.
Buk!
Nusa memukul meja dengan keras sehingga Kaya terkejut. “Hayo lagi ngapain? Kok serius banget?” tanya Nusa dengan terkekeh melihat wajah Kaya yang terkejut.
“Nusa bisa enggak, sehari aja enggak ngagetin?!” omel Kaya menaruh kertas yang dipegangnya terbalik di meja.
“Lagian serius amat Kay? Udah tau aku masuk, tapi enggak sadar?!”
Kaya hanya mendengus kesal. Nusa terkadang semena-mena datang ke ruangannya tanpa sopan santun.
“Kay, kamu pakai kacamata? Tambah cantik Kay?!” gombal Nusa.
“Makasih Nusaku tersayang,” balas Kaya senyum.
“Apa Kay?” tanya Nusa yang kesenangan dengan menyodorkan kupingnya.
“Udah lewat!”
“Kamu mah Kay, selalu aja begitu!” ucapnya cemberut sambil melirik kertas yang di baca Kaya tadi. “Itu kertas apaan Kay?” tunjuknya.
“Bukan apa-apa, ini cuman tagihan bulanan.” Kaya membuka laci dan dengan cepat menaruhnya di laci, membuat Nusa sedikit curiga tapi mengabaikannya.
“Yaelah Kay. Aku kira apa? Makanya sampai serius gitu?!” Kaya hanya menyengir.
“Tagihan apa? Sini biar aku bayarin!” goda Nusa memainkan alis matanya.
“Yakin mau bayarin?”
“Yakinlah, kan kamu calon bini aku!” Kaya terkekeh mendengar gombalan Nusa.
“Calon-calon! Ogah aku jadi calon binimu Nus!” tolaknya bercanda.
“Kok gitu sih Kay? Aku ganteng, tajir melintir, dan humoris. Siapa yang enggak mau sama aku coba? Tentu saja banyak yang mau, tapi hatiku tetap memilih kamu kok!” Kaya tertawa mendengar gombalan Nusa yang lagi-lagi lebay.
“Nusa, udah ah! Jangan nge-gombal melulu! Enek aku lama-lama!”
“Kamu digombalin sama cowok ganteng kayak aku enggak mau! Padahal banyak yang suka sama aku Kay.”
“Coba lihat muka kamu!” Kaya mencodongnkan badannya dan memegang dagu Nusa.
“Iya sih ganteng, manis, ber-karisma, humoris, banyak yang naksir, tapi menyebalkan.” Kaya menggeser dagu Nusa ke kiri dan ke kanan..
“Kay, kamu muji aku tapi setelah itu jatuhin aku! Menyebalkan sekali kamu Kay!” dengus Nusa. Kaya hanya terkikik geli melihatnya.
“Oh iya Nus? Kamu sama Adrian kan dekat, aku mau nanya dong?”
“Nanya apa?”
“Dia itu suka sama cewek nggak sih sebenarnya?” tanya Kaya yang membuat Nusa tertawa.
“Yah suka lah!” jawab Nusa.
“Ohh kirain,” nyengir Kaya.
“Kenapa nanya kayak gitu? Kamu naksir sama dia?”
“Kagak. Siapa juga yang naksir dia?!” elak Kaya memalingkan matanya ke arah komputer.
“Hayo ngaku?”goda Nusa.
“Kagak, apaan sih Nusa! Aku kan, sukanya sama kamu.” Gombal Kaya.
“Ohhh, aku tertembak.” Nusa memegang dadanya sambil tertawa. Kaya pun tertawa melihat kelakuan Nusa.
Kring… kring…
“Halo dengan Kaya,” jawabnya di telepon.
“Kay?” ucap Adrian di telepon.
“Iya pak,” jawab Kaya sambil menyuruh Nusa berhenti tertawa dengan isyarat tangan.
“Ada Nusa enggak ditempat kamu? Saya telepon ditempatnya enggak diangkat soalnya?”
“Ada pak,” jawab Kaya menatap Nusa.
“Suruh ke ruangan saya yah!”
“Bai pak,” jawab Kaya dan menutup telepon. “Nus, di panggil sohib tuh!”
“Panjang umur dia, baru kita bicarain.” Tawa Nusa.
“Yaudah deh, aku ke ruangan Adrian dulu! Bye Kaya,” Nusa beranjak dan keluar. Sementara kaya melanjutkan
kerjanya.
***
Di ruangan Adrian.
“Ada apa Ad?” tanya Nusa.
“Oh iya, aku lupa!” Nusa menepuk jidatnya.
“Aku minta tolong, bikinin kontrak karyawan tetap buat dia yah!”
“Tumben kamu langsung suruh aku buat karyawan untuk pegawai baru? Biasanya kontrak dulu setahun atau dua tahun?” Nusa tersenyum aneh.
“Soalnya dia berbeda dengan pegawai lainnya. Dia rajin dan punya integritas tinggi. Aku suka cara kerjanya.”
“Okelah, siap laksanakan! Untung kamu ingetin aku Ad!”
“Iya, emang aku yang selalu ingetin kamu dari dulu!” dengus Adrian dan Nusa hanya terkekeh.
“Kalau aku Lihat, kamu biasa aja Ad sama dia? Padahal dia cantik, pintar, berpendidikan dan kayaknya tidak matre?” tanya Nusa.
“Apaan sih Nusa! Kenapa juga aku harus bersikap luar biasa, emang aku kamu! Lagi pula ini di kantor, jangan bahas itu di kerjaan!”
“Iya, iya, iya.” Nusa memutar bola matanya malas dan berdiri. Adrian pasti kalau di tanya selalu begitu, tidak bisa di ajak bercanda dikit.
“Kamu yah, selalu aja serius, rileks dikit kenapa sih Adrian?” desis Nusa dan pergi dari ruangan Adrian.
Nusa kembali duduk di ruangannya dan menelepon Kaya.
“Halo Kay?”
“Iya Nus.”
“Ke ruangan aku yah!”
“Ada apa nih?”
“Aku mau kasih kamu surat,” jawab Nusa sengaja membuat Kaya bingung.
“Surat apa?”
“Surat Cinta,” nyengir Nusa.
“Yang bener Nusa!”
“Iya makanya ke sini aja!”
“Iya bentar, aku ke sana!”
*****
“Surat apaan yang mau kamu kasih Nus?” tanya Kaya sambil duduk.
“Dibilang surat cinta enggak percaya?” canda Nusa.
“Nus!” ucap Kaya nada kesal.
“Kay,” balas Nusa dengan nada sama.
“Jangan main-main ah Nus!” sewot Kaya.
“Iya-iya. Nih, tanda tangan surat karyawan tetap!” Nusa menunjuk kertas di mejanya dan mengasih pulpen kepada Kaya.
“Surat karyawan tetap?” tanya Kaya bingung.
“Iya, kamu udah tiga bulan kerja di sini. Sekarang kamu jadi kartap (Karyawan Tetap).” Ucap Nusa dengan tangan dilipatkan ke dalam dada.
“Oh iya yah? Aku udah tiga bulan di sini yah Nus?” Nyengir Kaya dan Nusa hanya bergeming, “hem.”
“Nih udah tanda-tangan!” Kaya mengasih kembali kertas yang ditanda tanganinya kepada Nusa.
“Nih buat kamu Kay salinannya, aslinya buat aku.”
“Makasih yah,” senyum Kaya dengan gembira.
“Iya sama-sama, hadiah buat aku apa?” tanya Nusa dengan tangan mengadah.
“Nih!” Kaya berdiri dan memberi kiss dua jari di tangan Nusa. Lalu berbalik badan untuk keluar ruangan Nusa sambil berkata. “Makasih Nusa.”
“Kay nanti yang beneran yah!” Teriak Nusa melihat Kaya masih di pintunya.
“Suka-suka kamu Nus, mau ngomong apa!” ucap Kaya di depan pintu Nusa sambil kegirangan memegang kertas.
****
Kaya kembali ke ruangannya dan menaruh kertas dari Nusa ke laci. Ia memandang kertas yang tadi di laci.
“Ternyata sudah tiga bulan aku di sini!” gumamnya menyandarkan kepalanya di kursi.
“Berarti aku sudah kalah taruhan dong dari Lita. Huh! semoga aja Lita lupa,” nyengir Kaya sambil menaruh kertas tersebut kembali ke laci.
“Biarkanlah aku kalah taruhan, yang penting masih banyak waktu untuk membuat dia bertekuk lutut dihadapanku!” tawa Kaya.
“Akan ku tunjukan diriku yang sebenarnya Adrian, tunggulah dan nikmati!” senyumnya penuh arti.
~ Bersambung ~