My Target Is CEO

My Target Is CEO
Episode 46



Kaya masih tersenyum mendengar semua ucapan manis dari


semua karyawan di sana. Dia tak henti tertawa dan tersenyum. Semuanya


menyampaikan dengan gaya yang lucu dan bercanda. Semua karyawan sudah maju


semua, kini giliran Kaya yang maju dan menyampaikan sepatah kata buat


perpisahan.


          “Test....,


test...,” Kaya memukul micnya dengan jari dan mengetesnya.


          “Sebelumnya


saya mengucapkan terimakasih kepada kalian semua yang telah menerima saya dan


menyambut saya di perusahaan ini. Saya sangat berterimakasih sekali kepada


kalian. Kalian semua baik dan ramah kepada saya dan membuat saya terharu. Saya


juga berterimakasih kepada Pak Adrian dan Pak Nusa yang telah menerima saya


bekerja di sini.” Kaya melirik Adrian yang memandangnya dengan sinis dan sedang


minum. Sementara Jessica mendengarnya, merasa kesal.


          “Dasar


sok cantik,” ucap Jessica pelan dengan sinis.


          “Saya


tahu selama ini saya mungkin ada kesalahan yang saya buat tidak sengaja ataupun


sengaja. Saya ingin minta maaf kepada kalian semua dan saya berharap kalian


semua memaafkan saya.”


          Gue tidak akan memaafkan elo Kay, batin


Adrian sambil minum minuman yang beralkohol.


          “Saya


udah maafkan Ibu dari lahir kok,” sahut karyawan cowok yang menggombal dan


semuanya tertawa mendengarnya.


          “Hahaha,


kamu bisa aja. Sudah hampir setahun saya bekerja di perusahaan ini. Saya juga


tidak menyangka harus keluar dan meninggalkan kalian semua yang baik kepada


saya. Tapi apa boleh buat, saya haru keluar karena ada urusan penting.”


          “Urusan


apa Bu?” tanya karyawan yang di sana.


          “Nanti


saya jelaskan. Impian saya dari dulu adalah ingin menjadi CEO dan kini sudah


terwujud. Saya menjadi CEO di perusahaan yang kalian makan ini. Saya ada urusan


di perusahaan Tama dan menjadi CEO di perusahaan Tama grup.” Ucap Jaya


menjelaskan-nya dengan senyum.


Semuanya langsung kaget dan heran, termasuk Adrian dan


Jessica begitu kaget mendengarnya. Adrian yang minum dari tadi menghentikan


minumnya. Adrian memegang gelas di tangan kanan-nya dan dia heran mendengar


ucapan Kaya. Dia langsung menatap Nusa dengan sinis.


          Apa sebenarnya maksud Kaya? Kenapa dia


menjadi CEO di perusahaan Nusa? Pantesan Nusa meminta pengalihan nama saham


kemarin. Apakah Nusa tidak ingin Kaya jauh darinya?,batin Adrian dan mulai meminum lagi.


          Hah? Jadi CEO? Segitu hebatkah Kaya sehingga


dia menjadi CEO di perusahaan yang terkenal yaitu Tama, batin Jessica yang


tak suka mendengarnya.


          Akhirnya elo mengucapkan dengan mulut


elo sendiri Kay,batin Nusa tersenyum sinis melihat Kaya.


          Semua


karyawan masih kaget dan heran. “Ibu jadi CEO di perusahaan ini?” tanya Lena


menunjuk tempat makan dengan jarinya. Kaya hanya mengangguk. “Bukan kah?


Perusahaan ini punya....,” Lena menghentikan ucapan-nya karena di pelototin


oleh Nusa dan dia langsung kembali duduk.


          “Kenapa


Lena? Ayuk lanjutkan bicaranya?” tanya Kaya.


          “Enggak


bu, perusahaan ini punya Pak Wijaya Tama.” Ucap Lena.


          “Iya


emang benar, karena Pak Wijaya Tama sakit. Saya yang akan menggantikan-nya,”


Kaya berbohong dengan melirik Adrian sinis.


          “Wah Ibu


hebat yah?” sahut yang lain-nya. “Selamat yah Ibu,” sahut karyawan tersebut


dengan senyum. Kaya hanya tersenyum malu.


          Nusa


berdiri dari kursi dan bertepuk tangan. “Kaya elo sangat hebat sekali bisa jadi


CEO di perusahaan Tama grup.”


          “Kalian


harusnya bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada CEO yang cantik ini!”


Ucap Nusa melirik semuanya dan mereka semua bertepuk tangan kecuali Jessica dan


Adrian.


          “Terimakasih


semuanya,” senyum Kaya dan duduk kembali ke tempat duduknya yang di samping


Nusa.


          Nusa


masih bertepuk tangan dan menyambut Kaya dengan tersenyum. “Hai CEO cantik.”


Kaya hanya tersenyum dan duduk. Lalu Nusa maju ke depan.


          “Perhatian


semuanya! Saya mau menyampaikan sesuatu kepada kalian semua.” Ucap Nusa dengan


serius.


          “Hari ini


saya juga terakhir bekerja di sini.” Nusa tersenyum memandang semuanya.


Semua langsung kaget termasuk Kaya dan Jessica kecuali


Adrian. Mereka langsung menoleh Nusa di depan.


          Apa maksud Nusa terakhir bekerja di sini?


Apakah dia resign juga, tapi kenapa?, Kaya bertanya dalam hatinya.


          Semua


karyawan berbisik-bisik. “Kenapa Pak Nusa berhenti?, ada juga yang berbisik,


          “Semuanya


mohon perhatian! Saya ingin menjelaskan kenapa saya keluar? Saya keluar karena,


Ayah saya sakit dan saya ingin menggantikan-nya.”


          Nusa punya perusahaan, kenapa dia tidak


pernah cerita., batin Kaya heran.


          Ini sangat membingungkan dan lucu sekali.


Nusa inging mengantikan Ayahnya tapi Kaya juga ingin menggantikan-nya., batin Adrian tersenyum geli.


          Nusa punya perusahaan?, batin Jessica


kaget. Bukankah dia pernah bilang dia itu


enggak punya apa-apa bahkan Ayah.


          “Saya


memberitahu kalian mendadak sekali dan saya tidak sempat bilang ke kalian


kecuali kepada Pak Adrian. Saya tahu ini terlalu mendadak, tapi saya berharap


tanpa adanya saya perusahaan kita akan terus maju.”  Senyum Nusa.


          “Pak,


saya sedih sekali Bapak pergi.” Sahut Desi yang merengek.


          “Hahah,


makasih Desi. Kamu jangan menangis nanti saya akan sering ke perusahaan untuk


berkunjung. Yaudah hanya itu saja yang saya ingin bicarakan, saya tidak bisa


berbicara banyak lagi karena sekarang juga sudah mau larut malam.” Ucap Nusa


dan duduk ke tempat duduknya.


Semua karyawan masih terheran dan ingin bertanya kepada


Nusa. Namun, karena sudah pukul jam 10 malam. Semua karyawan berpamitan dan


mengucapkan minta maaf kepada Nusa dan Kaya. Semua karyawan berjabat tangan


mengucapkan Kaya selamat dan berjabat tangan ke pada Nusa mengucapkan minta


maaf dengan sedih.


          “Pak,


maafin saya Pak kalo ada salah.” Ucap Lena dengan sedih sambil berjabat tangan.


          “Iya Len,


tidak apa-apa.” Nusa tersenyum.


Setelah karyawan semua pulang tinggalah Adrian, Jessica,


Nusa dan Kaya yang duduk saling berhadapan. Adrian yang sudah banyak minum


meminta pelayan menambah lagi dan Nusa juga meminta untuk di ambilkan minuman


beralkohol. Kaya dan Jessica hanya diam melihat mereka minum dengan banyak.


Adrian berdiri dan berjalan dengan oleh menuju tempat


duduk Kaya sambil memegang gelas di tangan kanan-nya. Jessica mencoba mencegah


Adrian, tapi di tolak oleh Adrian.


          “Kaya,


kenapa elo nolak jadi kekasih gue?” tanya Adrian di depan wajah Kaya yang


sedang duduk. Kaya hanya terdiam dan membuang muka.


          Jessica


yang mendengarnya kaget. Apa Adrian suka sama Kaya?, batin Jessica berdiri dan


menghampir Adrian, lalu menarik tangan Adrian.


          “Adrian


elo kenapa bilang itu. Seharusnya elo bilang suka ke gue?” Ucap Jessica tidak


terima.


          “Diam kau


Jessica!” bentak Adrian.


          “Elo


mempermainkan gue dan sekarang elo bilang enggak suka sama gue. Terus elo


menjadi CEO sekarang. Heh, elo betul-betul wanita licik. Karena elo udah


menjadi CEO, makanya elo nolak gue kan?” Adrian tersenyum dengan mabuk.


          “Adrian,


ayuk kita pulang aja!” ajak Jessica.


          “Lepasin


gue!” Adrian menghempaskan tangan Jessica.


Nusa hanya menikmatinya pertunjukan mereka dengan tenang


dan cool. Dia meminum alkoholnya dengan cool dan duduk menyilang.


          “Kenapa


elo nolak gue Kaya? Kenapa?” Adrin membentak Kaya dan meminum alkoholnya.


“Kenapa?” tanya Adrian lagi di hadapan wajah Kaya.


Kaya hanya terdiam dan tidak ingin menjawabnya. Jessica


terus menarik Adrian untuk menjauh dari Kaya. Sementara Nusa tersenyum bahagia


melihat perseteruan mereka.


          “Nusa,


baiknya kita pulang aja!” ajak Jessica mencoba merangkul Adrian yang sudah


setengah tertidur dan mabuk.


          “Kaya


kenapa elo nolak gue?” Adrian yang di rangkul oleh Jessica dengan muka


sedihnya. “Kenapa semua orang yang gue suka selalu buat gue sakit hati.”


          “Yaudah


Jess,” setuju Nusa. “Ayuk Kay, gue antar elo pulang!” ajak Nusa beranjak dari


kursi. Kaya pun mengangguk dan beranjak dari kursi.


Jessica menompang Adrian berjalan yang sedang mabuk dan


tertidur mengigo. Saat sudah di luar pintu Restoran.


          “Jess,


elo antar Adrian yah. Soalnya gue mau mengantar Kaya!” Ucap Nusa berdiri


dihadapan Jessica yang menopang Adrian.


          “Kaya,


kenapa elo nolak gue?” Adrian mengigau.


          “Iya


Nus,” ucap Jessica berjalan menuju parkiran mobil Adrian.


          “Ayuk


Kay!” ajak Nusa dan Kaya mengikuti Nusa berjalan menuju parkiran mobil. Lalu


mereka masuk mobil dan Nusa menjalankan mobilnya untuk pulang.