
~ Happy Reading ~
Ke esokan harinya…
Hembusan angin yang masuk melalu jendela terbuka membuat dua insan yang sedang tidur merasa kedinginan. Kaya yang tadinya membelakangi Nusa, berbalik arah menghadap Nusa dan memeluknya dengan erat.
Nusa pun terbangun dan melihat Kaya menghadapnya dari dekat. Senyuman terukir di wajah Nusa melihat paras cantik perempuan itu. Tak bisa dipungkiri, perempuan ini telah merebut hatinya.
Nusa mengelus pipi Kaya dengan lembut sambil tersenyum memandangnya. Satu kecupan mendarat di bibir Kaya. Ia selalu merindukan bibir itu.
“Apakah kau tidak bisa sehari saja tidak mengecupku?” ucap Kaya yang ternyata berpura-pura tidur.
Sebenarnya dia sudah bangun lebih awal. Namun, karena malas bangun dan menikmati momen indah bersama Nusa. Kaya lebih memilih berbaring lagi bersamanya.
“Ternyata kamu sudah bangun dari tadi dan hanya berpura-pura tidur saja?” tanya Nusa dengan senyum dan Kaya hanya membalasnya dengan deheman, tapi matanya masih tertutup.
“Kenapa kamu tidak membuka matamu dan masih memelukku, jika sudah bangun dari tadi?” tanya Nusa lagi.
“Aku kedinginan, jadi malas membuka mata. Dan memelukmu, untuk menghangatkan tubuhku.”
Nusa terkekeh mendengar jawaban dari Kaya yang tak logis. “Aku baru tahu kalau orang kedinginan tidak mau membuka matanya?”
“Ada, itu aku!” ucap Kaya dengan canda. Nusa terkekeh lagi mendengarnya. Ia kembali mengecup bibir Kaya.
Kaya yang mendapat kecupan tersebut, reflek memukul dada bidang Nusa. “Kau senang sekali mengecupku tuan Tama?” tanya Kaya membuka matanya.
“Karena rasamu manis sekali nona Dirgantara.” Bisik Nusa dengan senyum dan Kaya tersenyum malu mendengarnya.
Nusa memeluk Kaya dengan erat. “Biarkan seperti ini dulu Kay!” Kaya hanya menuruti kemaun Nusa dan membalas pelukan Nusa dengan erat.
“Aku sangat mencintaimu.” Ucap Nusa dengan tulus. Entah berapa kalimat cinta yang sudah diucapkannya kepada Kaya.
Kaya yang mendengarnya terdiam membeku. Sejujurnya dia ingin sekali membalas ucapan Nusa, namun ia masih bimbang dengan dirinya.
Nusa meregangkan pelukannya dan kembali memandang Kaya yang diam. Ia mengecup kening Kaya. “Jangan pernah bersama pria lain!” ucapan Nusa terdengar perintah. Kaya hanya mengangguk.
Kaya merasa ia tidak perlu membantah ucapan Nusa sekarang, karena dirinya tidak ingin berakhir dengan debat dan harus kehilangan momen indah ini.
Melihat Kaya mengangguk, Nusa tersenyum senang. “Bagus, karena kamu adalah wanitaku, sekarang sampai selamanya kau tetap wanitaku. Ingat itu Kaya Aqila!”
Perkataan Nusa membuat hati Kaya tambah berdisco. Tadi pengakuan cinta, sekarang menganggap dirinya wanitanya. Entah apa lagi ucapannya nanti.
“Kalau aku wanitamu?! Jessica siapa bagimu?” tanya Kaya yang membuat Nusa tersentak mendengarnya. Ia belum siap menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Kaya.
“Jawab Nusa?” tanya Kaya dengan nada tinggi.
“Dia simpananku,” jawab Nusa asal dan membuat Kaya melotot mendengarnya. “Aku hanya bercanda sayang,” tawa Nusa memeluk erat Kaya.
Kaya memukul lengan Nusa dengan kesal karena candaannya. “Dia bukan siapa-siapa bagiku! Karena hanya kamu adalah wanitaku!” senyum Nusa sambil membelai rambut Kaya.
Nusa menjauhkan kepalanya agar memandang Kaya. “Apakah aku boleh mengecupmu lagi?” tanya Nusa yang sok bersikap polos.
“Apakah itu permintaan?” tanya Kaya dan Nusa mengangguk.
“Biasanya juga kamu langsung nyosor aja dan parahnya lagi brutal!” Kaya menunjukkan lehernya yang masih penuh tanda merah. Hal itu membuat Nusa tertawa.
“Kenapa tertawa?”
“Maaf, hanya saja karyaku bagus juga hasilnya.” Kekeh Nusa dan Kaya langsung memukul dada Nusa dengan pelan sambil tersenyum.
“Dasar mesum!”
“Jadi boleh atau tidak aku mengecupmu lagi?” tanya Nusa.
“Dasar mesum!”
“Tidak, aku ingin di sini bersamamu sepanjang hari!” gombal Nusa membuat Kaya terkekeh mendengrnya.
“Dasar tukang gombal! Kamu tidak pernah berubah yah ternyata?!”
“Bagaimana aku berubah? Jika wanita yang ku miliki adalah dirimu!” gombal Nusa lagi membuat Kaya tertawa lucu mendengarnya.
“Nusa, nanti kita mau ada rapat. Sebaiknya kamu pergi mandi di kamarmu!” usir Kaya bangun dari kasurnya dan berdiri di depan tempat tidur.
“Baiklah, aku akan pergi, tapi kau harus menjawab cintaku tadi?!” Nusa duduk di kasur.
“Apakah tadi itu pertanyaan atau pernyataan?” tanya Kaya melipatkan kedua tangannya ke dalam dada. Dia seolah tidak tahu itu ungkapan yang harus dibalaskan atau tidak.
“Apakah aku harus mengulangnya?” tanya Nusa balik. Kaya hanya menggeleng pelan. Ia tak mau jantungnya berlompat ria di pagi hari.
“Kurasa cukup hari ini tuan Tama. Kita harus mandi dan kau harus keluar sekarang!”
“Baiklah,” Nusa keluar dari kasur dan berdiri di samping kasur. Ia menghampiri Kaya yang berdiri sambil menatapnya.
“Aku akan menunggu jawabanmu!” bisik Nusa sambil mengecup pipi Kaya dan keluar dari kamar.
Kaya hanya tersenyum mendengarnya. Sesungguhnya ia ingin sekali bilang aku mencintaimu, namun dirinya masih bimbang saat ini. Hatinya gembira mendengar semua ucapan Nusa hari ini.
****
Siang hari...,
Nusa dan Kaya mengadakan rapat dengan pak Angkasa di tempat meeting kemarin. Mereka kembali membahas proyek bangunan, anggaran dan desain dalam restoran tersebut.
Tak hanya itu, selesai meeting dengan Angkasa mereka melanjutkan meeting dengan cheff kepercayaan Nusa. Cheff ini adalah kepala cheff dari semua restoran yang dibangun oleh Tama.
Mereka membahas tentang makanan khas di rertoran yang akan di buat di sini dan menambahkan makanan khas dari berbagai macam Negara. Kaya dan Nusa ingin adanya perbedaan dengan restoran lain. Mengingat Bali mempunyai turis yang berbagai macam Negara.
Semua permintaan Kaya dan Nusa disetujui oleh Cheff. Mereka terkadang berdebat sedikit, namun ada jalan keluarnya dan menjadikan suatu perdebatan menjadi suatu kesimpulan bersama.
Setelah selesai meeting dengan Cheff tersebut. Nusa dan Kaya masih berbincang sedikit mengenai masalah proyek tersebut. Mereka terlihat profesional dalam urusan kerja dan mengesampingkan urusan pribadi. Ini yang membuat semua orang kagum pada mereka.
Kaya dan Nusa menyudahi perbincangan merak dan keluar dari ruangan karena sudah menjelang petang.
Saat mereka keluar ruangan, Jessica datang berlari memeluk lengan Nusa. “Nusa, aku kangen banget sama kamu! Kamu lama banget sih meetingnya?” Nusa hanya menanggapinya dengan senyum.
Mila juga datang dan berdiri di depan Kaya. “Gimana meetingnya pak?”
“Baik, semua sudah sesuai rencana Mil. Oh iya Mil, saya minta tolong kamu bikin surat perjanjian dengan pak Angkasa dan Cheff Yudhi!” perintah Nusa.
“Baik pak,”
“Jangan lupa kontrak yang aku tanda tangani kemarin oleh pak Angkasa kamu scan yah!”
“Baik pak,” angguk Mila.
“Mila, kamu udah makan belum?” tanya Kaya dan Mila hanya menggeleng. “Temanin saya makan yuk!” ajak Kaya dan Mila menyetujuinya dengan senyum.
“Nus, kita makan diluar saja yuk! Aku bosen di sini!” ajak Jessica dengan muka manjanya.
Sebenarnya Nusa tidak suka berduaan dengan Jessica, dia hanya ingin dekat Kaya saja. Nusa menghela napasnya berat dan mengiyakan ajakan Jessica.
“Oke.., kalau begitu ayuk kita pergi!” Jessica kegirangan sambil menarik tangan Nusa. Melihat mereka berdua, Kaya merasa cemburu dan tidak suka. Rasanya ingin memisahkan kedua tangan insan tersebut.
Jessica menoleh ke belakang sambil memeletkan lidah meledek Kaya. Sepertinya dia tahu kalau Kaya cemburu dan sengaja membuatnya kesal. Rasakan kau Kaya! Aku akan terus buat kau cemburu!
~ Bersambung ~