My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 31 ~ Perasaan yang berbeda



~ Happy Reading ~


Di rumah Kaya.


          Kaya membaringkan dirinya di tempat tidur dan memandangi langit atap rumah, mengingat kejadiannya bersama Nusa.


          Kaya merasa nyaman di dekat Nusa yang sering membuatnya tersenyum. Perasaan ini membuat Kaya merasa harus membuangnya sebelum mendapat tujuan yang dia inginkan. Namun, dia selalu mengingat kejadian bagaimana Nusa mencoba untuk menciumnya.


          “Argghhh….!” teriak Kaya di malam hari membuat burung hantu bersuara, “kuk.., kuk...”


          “Apa kau burung hantu!” omel Kaya sendiri.


          “Tapi aku harus bisa mendapatkan yang aku mau dulu!” gumam Kaya.


Di rumah Adrian.


          Adrian berdiri di balkon rumahnya. Ia menatap langit malam dengan bintang yang bertaburan. Wajahnya tersenyum berhalusinasi melihat wajah Kaya ada di langit dengan senyum.


          “Kaya, aku sudah tahu kamu akan menyukai diriku.” Senyum Adrian memandangi langit. Adrian mulai tertarik dengan Kaya, dirinya terus memikirkan Kaya.


Di Apartemen Nusa.


          Nusa berdiri di balkon memandangi langit juga. Dia menutup mata sejenak dan mengambil napas lalu membuangnya. Angin malam yang sangat sepoi membuat dirinya tenang. Nusa menghirup udara malam dan berpikir tentang Kaya.


          “Apa sebenarnya tujuan kamu Kay?” Gumam Nusa sambil memandangi langit. “Aku akan mengawasi kamu terus Kay!” dengan memicingkan mata menghadap langit malam.


Keesokan harinya…


          Kaya sedang menikmati sarapannya bersama orang tuanya dengan senyum. Ia tampak sumringah di pagi hari yang indah ini. Tiba-tiba kupingnya mendengar suara klakson mobil yang berisik dari luar rumahnya.


          “Siapa sih itu? Enggak ada sopannya banget!” gerutu Kaya meletakkan rotinya.


          “Bentar pah, Kaya mau lihat dulu siapa yang pagi-pagi berisik dengan klakson mobilnya!” ucap Kaya dan ayahnya mengangguk. Kaya membukakan pintu dan terkejut melihat Adrian yang berada di dalam mobil terbuka di depan rumahnya.


          “Adrian? Ngapain dia di sini?” pikuk Kaya berdiri di depan pintu rumahnya.


          “Kaya, ayuk kita berangkat bareng!” ajak Adrian berteriak.


          “Iya pak, bentar yah!” teriak Kaya.


          Kaya menuju ruang makan dan mengambil tasnya yang sudah disiapkan dari tadi. “Siapa itu Kay?” tanya ibunya sambil menuangkan air putih ke ayah Kaya.


          “Oh, dia atasan Kaya mah,” jawab Kaya


          “Oh,” gumam ibunya.


          “Ngapain dia ke sini?” tanya ayah Kaya yang sedang memakan roti.


          “Dia mau bareng aku pah,” jawab Kaya.


          “Oh..,” ucap ayahnya.


          “Aku pergi dulu yah mah, pah!” ucap Kaya langsung berjalan menuju pintu.


          “Habisin dulu rotinya Kay!” Teriak ibunya.


          “Aku udah kenyang mah,” jawab Kaya menutup pintu.


          Kenapa dia jemput aku yah? tanya Kaya dalam hati berjalan menuju mobil Adrian.


          “Bapak tumben jemput saya?” tanya Kaya berdiri di samping pintu mobil Adrian.


          “Saya tadi kebetulan lewat, jadi saya sekalian aja jemput kamu.” Jawab Adrian menggeser dirinya untuk membuka pintu mobil buat Kaya.


          “Ayuk Kay, masuk!” ucap Adrian kembali duduk di depan stir mobil.


          “Makasih pak,” senyum Kaya masuk ke dalam mobil Adrian.


          Adrian langsung menjalankan mobilnya dan memencet tombol atap mobil, agar mobil tertutup.


Selama di perjalanan….


          “Kamu, kenapa enggak balas WA saya kemarin?”  tanya Adrian sambil menyetir.


          “Ohh, HP saya lowbate kemarin pak.” Jawab Kaya dengan senyum.


          “Ohhh,” gumam Adrian masih bingung mau berkata apalagi, karena dia selama ini hanya bisa bersikap dingin dan cuek.


          “Kamu udah makan?” tanya Adrian.


          “Sudah sih pak, tadi saya makan roti. Kalo bapak?” tanya Kaya balik.


          “Baik pak,” angguk Kaya.


***


          Adrian memberhentikannya mobilnya di jalan dekat penjual makan bubur ayam dengan gerobak dan kursi seadanya.


          “Kita makan di sini yah Kay!” tunjuk Adrian ke gerobak tersebut.


          “Baik pak,” angguk Kaya.


          Ternyata Adrian bukan orang kaya yang sombong. Buktinya dia mau makan di tempat seperti ini, batin Kaya sambil keluar dari mobil Adrian.


          Adrian langsung duduk di kursi plastik tersebut. Sementara Kaya masih berdiri karena dia memakai rok. “Kamu kenapa masih berdiri? Ayok duduk!” tanya Adrian.


          “Saya pakai rok pak.” Kaya menunjuk roknya menggunakan matanya. Adrian langsung mengerti dan berdiri membuka jasnya.


          “Ayok duduk!” titah Adrian dan Kaya pun duduk.


          Adrian langsung menutupi paha Kaya dengan jasnya. Kaya kaget dengan sikap dan perhatian Adrian hari ini, membuat pikirannya bingung.


          “Makasih pak,” senyum Kaya.


          Adrian hanya tersenyum sambil duduk kembali menghadap Kaya. Mereka langsung memesan dua mangkuk bubur ayam kepada pedagang tersebut.


          “Ini pak, bu!” ucap pedagang tersebut mengasih mangkuk.


          “Makasih pak,” senyum Adrian dan Kaya. Mereka memakan bubur tersebut dengan lahap.


          “Enak yah pak?” ucap Kaya dengan senyum.


          “Enak kan! Ini langganan saya dari dulu,” ucap Adrian.


          “Oh, bapak ternyata orang yang sederhana juga yah?” Adrian hanya tersenyum mendengar ucapan Kaya.


          Adrian melihat Kaya makan dengan berantakan membuat dirinya tertawa. “Kenapa bapak tertawa?” tanya Kaya menghentikan makannya.


          “Kamu itu selalu yah, kalo makan berantakan melulu?” Senyum Adrian dan mengambil tisu di kursi plastik yang disediakan oleh bapak tersebut.


          Adrian menaruh mangkuknya di kursi dan mencondongkan dirinya ke wajah Kaya. Ia mengelap wajah Kaya yang ada noda kuning di dekat bibirnya.


          Mata Kaya langsung membelalak terkejut melihat sikap Adrian hari ini. Pertama, Adrian datang menjemputnya. Kedua, Adrian mengajak makan. Ketiga, Adrian memperhatikan dirinya. Bukannya senang, Kaya malah merasa aneh dengan semua sikap Adrian.


          Adrian yang sudah selesai mengelap mulut Kaya kembali  ke posisi duduk semula dan mengambil mangkuk yang ditaruhnya.


          “Makasih pak,” senyum Kaya. Adrian hanya tersenyum mengangguk.


****


Di basement kantor.


          Kaya turun dari mobil dan berdiri menunggu Adrian memakirkan mobilnya. Setelah mobilnya sudah dipakirkan dengan benar. Adrian menghampiri Kaya.


          “Yuk!” Kaya hanya mengangguk dan berjalan bersama Adrian menuju lift.


          Kaya berhenti sejenak dan ia baru sadar jas Adrian masih berada di pundaknya. Tangannya melepaskan jas tersebut dan mengasihnya ke Adrian dengan mengucapkan terimakasih. Adrian menerimanya dan mengangguk.


          Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata meperhatikan mereka dari tadi. Matanya menatap tidak suka dengan interaksi mereka. Dia adalah seorang pria yang selalu dekat dengan mereka yaitu Nusa.


          Nusa berjalan menghampiri mereka dari belakang. “Halo?” ucapnya berdiri di tengah berusaha memisahkan mereka berdua.


          “Nusa,” teriak Kaya pelan.


          “Kamu selalu aja membuat orang kaget!” omel Kaya memegang dadanya.


          “Sorry, aku kan, cuman ingin menyapa kalian aja, dengan semangat 45.” Tawa Nusa. Sedangkan Adrian hanya tersenyum melihat kelakuan Nusa.


          “Dasar!” desis Kaya.


          Mereka berjalan bersama menuju lift. Nusa yang berada di tengah-tengah mereka selalu membuat lelucon. Sehingga Kaya dan Adrian selalu tertawa sambil berjalan.


          Nusa memang pria yang humoris. Setiap Nusa bercerita selalu saja membuat Kaya tertawa. Bahkan Adrian yang cuek dan dingin saja bisa tertawa oleh lelucon Nusa.


          Mereka masuk ke dalam lift menuju ruangan mereka. Saat sudah sampai mereka terpisah dan masuk ke dalam ruangan masing-masing.


          Kaya yang sudah di ruangannya mengingat sesuatu. Ia langsung memeriksa lacinya dan ternyata yang dicarinya masih aman di dalam laci tersebut.


          Kaya mengambil kertas tersebut dan memandangnya dengan sinis. “Ketika aku sudah sampai tujuanku, aku akan meninggalkan tempat ini!”


~ Bersambung ~