
~ Happy Reading ~
Di Mall.
Lita sedang berbelanja keperluan bulanannya di supermarket yang berada dalam Mall. Ia membawa troli dengan belanjaan yang sudah banyak. Matanya melirik-lirik produk yang dia inginkan di rak dan ternyata ada.
Lita pun mengambilnya dan secara bersamaan ada seorang pria yang mengambilnya juga. Tangan mereka pun bersentuhan secara bersamaan saat memegang produk itu. Lalu mereka saling melirik.
“Michael,” ucap Lita menunjuk Michael.
“Lita,” ucap Michael dengan senyum.
“Hei, apa kabar?” tanya Lita tersenyum.
“Baik,” senyum Michael. “Kamu sendiri?” tanya Michael.
“Baik,” senyum Lita.
“Kamu sedang belanja banyak kayaknya?”
“Hehe, iya. Biasa Michael belanja bulanan,” nyengir Lita.
“Oh iya kamu sekarang gimana kerja atau udah nikah?” tanya Lita sambil bercanda.
“Hahha..., nikah. Kamu enggak lihat Lit, muka aku masih baby face, masih umur 17 tahunan lagi.” Canda Michael.
“Hahaha, iya sih. Masih aja tampan kayak dulu,” puji Lita.
“Aku sekarang bekerja di tempat abang kamu,” jawab Michael.
“Hah? Siapa maksud kamu?’ tanya Lita.
“Nusalah, siapa lagi.”
“Heheh..., iya sih abang aku cuman satu yaitu Nusa.” nyengir Lita.
“Ohh.. iya. Kamu udah selesai belanja atau gimana?” tanya Michael.
“Masih sih,” jawab Lita.
“Yuk aku temanin Lit sekalian kita mengenang masa lalu,” senyum Michael.
“Baiklah,” senyum Lita. Mereka berjalan bersama membawa troli keliling supermarket, sambil nostalgia masa lalu.
Setelah selesai keliling mereka membayar semua belanjaannya ke kasir. Michael membantu Lita mengangkat semua kantong belanjaannya menuju basement. Saat sampai basement, Michael menaruh belanjaan Lita di bagasi mobilnya.
“Michael makasih yah,” senyum Lita.
“Iya sama-sama. Kamu tuh belanja kayak mau buka sembako Lit, banyak amat pegal nih badan aku.” Canda Michael.
“Hahahah..., maaf yah. Biasalah cewek, suka nyetok buat sebulan.”
“Yaudah kamu masuk gih!” Lita masuk ke dalam mobil.
“Oh iya Michael, besok malam kamu ada waktu enggak?” tanya Lita duduk di tempat stir mobil dengan jendela dibuka.
“Kenapa emangnya?” tanya Michael.
“Besok ke kafe bar yuk!” ajak Lita. “Sekalian traktir kamu yang sudah membantu aku mengangkat semua belanjaan.”
“Baiklah,” setuju Michael.
“Yaudah aku pulang duluan yah! Bye Michael...,” lambai Lita dan menjalankan mobil meninggalkan Michael.
Michael berjalan menuju mobilnya sambil memikirkan perkataan Lita.
Besok ke kafe bar yuk!
Apa aku ajak Kaya aja yah? Biar kita bisa nostalgia bareng, batin Michael membuka pintu mobilnya dan masuk. Michael mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Kaya.
“Halo Kay,” ucap Michael saat telponnya tersambung.
“Halo Michael,”
“Kaya besok ke bar yuk!” ajak Michael.
“Ke bar?”
“Iya, besok malam.”
“Bolehlah. Di bar mana?”
“Nanti aku WA kamu besok siang di mana barnya,” jawab Michael.
“Oke, baiklah.”
“Yaudah aku tutup yah Kay! Sampai jumpa besok!” ucap Michael dengan senyum.
“Iya, sampai jumpa besok Michael. Bye...”
Michael menutup teleponnya dan menyalakan mesin mobil, lalu menjalankan mobilnya untuk pulang.
Keesokan harinya....
Michael yang sudah sampai duduk di depan meja barista. Sambil menunggu, Michael memesan minum duluan kepada barista yang sedang mengocok minuman di depan mejanya.
Barista tersebut membuat minuman yang dimau Michael yaitu wine. Sambil menikmati minum, Michael duduk menyamping memandang penyanyi yang ada di depan..
“Hai Michael,” sapa Lita langsung duduk di samping Michael.
“Hai,” ucap Michael sambil minum.
“Udah lama datangnya Michael?” tanya Lita.
“Belum.” Jawab Michael. “Oh yah, pesan minuman gih!”
“Iya,” Lita memesan minuman wine juga yang sama dengan Michael. Lalu Kaya datang menghampiri Michael.
“Hai Michael,” sapa Kaya.
Lita yang mendengar suara Kaya tiba-tiba langsung keselak. “Lit, kamu enggak papa?” tanya Michael.
“Enggak,” senyum Lita menaruh gelasnya dan memperhatikan Kaya yang sedang berdiri.
“Kok..., ada Lita Mic?” tanya Kaya menunjuk Lita.
“Harusnya aku yang bertanya kepadamu Kaya?! Kenapa kamu di sini?” tanya Lita dengan ketus.
“Kalian kenapa jadi saling bertanya. Maafkan aku Lit tidak bilang kepadamu. Aku yang mengajak Kaya,” ucap Michael dan Lita hanya diam.
“Kalo gitu aku pulang aja Michael. Enggak enak ganggu kalian,” ucap Kaya berbalik badan.
“Eh Kay,” Michael menarik tangan Kaya dan Kaya berbalik badan mengarah mereka lagi.
“Kok gitu sih. Kenapa malah pulang sih Kay? Aku kan ajak kamu biar kita reuni SMA?!” Michael tersenyum mengangkat alisnya dan melepaskan tangan Kaya.
“Lit enggak papa kan?” tanya Michael dengan senyum.
“Iya,” jawab Lita dengan bete dan kembali menghadap depan. Kaya pun duduk di samping Michael. Jadi Michael berada di tengah-tengah mereka.
“Pesan dulu Kay!” suruh Michael.
“Iya,” senyum Kaya memesan minuman yang sama dengan Lita dan Michael.
“Saya satu lagi pak!” Lita unjuk jari satu ke atas mengarah ke barista.
“Lit kamu enggak takut mabuk?” tanya Michael dengan heran.
“Enggak, aku udah biasa.” Jawab Lita yang bete dengan Michael.
Kaya dan Lita saling diam dan tidak berbicara sama sekali. Sementara Michael bingung harus bagaimana.
Tau gini aku enggak pertemukan mereka. Dikirain mereka masih akur kayak dulu, batin Michael menumpu tangannya di pipi, sambil menikmati minumnya bersama mereka yang terus meminum.
Michael kini memulai perbincangan dengan topik tentang masa lalu mereka di SMA dan terus saja berbicara sambil tertawa. Sedangkan Lita dan Kaya hanya tersenyum menanggapinya.
Michael terus bercerita masa-masa mereka di SMA dengan antusias. Sedangkan Kaya dan Lita terus meminta minum kepada barista. Mereka menambah terus-menerus wine tersebut dengan mata saling memandang sinis. Hingga akhirnya mereka tak sadar dan mulai kehilangan akal. Michael pun berhenti bercerita.
“Hei kalian kenapa?” tanyanya bingung dengan Kaya dan Lita yang mulai tak sadarkan diri akibat kebanyakan minum wine.
Kaya dan Lita berbicara yang enggak-enggak dengan kepala menumpu meja dan tangan lurus menempel meja.
“Kaya kamu yah selalu. Enggak SMA sampai sekarang bisanya ngerebut yang aku mau.” Ucap Lita dengan kepala sempoyongan sambil menunjuk Kaya.
Kaya yang mendengarnya mengangkat kepalanya ke atas dengan sedikit sempoyongan dan matanya berkaca-kaca mendengar perkataan Lita. Bibirnya dimemblekan dengan muka yang sedih.
“Kamu emang dasar wanita yang tak pernah mau kalah dari siapapun. Dari mulai juara kelas hingga urusan cinta.” Lita mengomeli Kaya dengan mata yang kadang menutup terus kebuka lagi.
“Lit kamu kenapa?” Michael memegang kedua pipi Lita.
“Lepas!” Lita melepas tangan Michael.
“Aku mau omelin dulu dia!” ucapnya melihat Michael dengan bibir dimonyongkan.
Michael pun tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya dia punya ide untuk menelepon Nusa, sambil memperhatikan Lita yang terus mengomeli Kaya dalam keadaan mabuk.
“Halo,” ucap Michael saat sudah tersambung dengan Nusa.
“Halo,”
“Nus, Lita dan Kaya mabuk. Terus Lita mengomeli Kaya melulu. Kamu ke sini yah bro!” ucap Michael di telepon dengan dahi mengerut.
“Iya, aku ke sana. Kirim aja alamatnya!”
“Ehe..., ehe..., maafkan aku Lita.” Rengek Kaya dalam keadaan mabuk. Lita terus mengomeli Kaya.
“Kamu perebut semuanya. Pertama Adrian dan sekarang siapa lagi?” tanya Lita berdiri dari kursinya mencoba untuk mendekati Kaya. Tapi Michael langsung mencegahnya.
“Lita kamu mending duduk dulu yang tenang yah!” Michael mengelus bahu Lita untuk menenangkannya dan Lita kembali duduk lagi dengan kepala menempel meja. Begitu dengan Kaya menempelkan kepalanya kembali ke meja.
Ternyata Lita tidak berhenti mengomel. Dia terus mengomeli Kaya dengan kepala masih menempel di meja dan menengok Kaya yang di depannya.
~ Bersambung ~