My Target Is CEO

My Target Is CEO
BAB 14



Keesokan harinya…


“Pagi bu Kaya.” Sapa karyawan satu persatu saat Kaya berjalan.


Kaya membalas dengan tersenyum lebar. “Hai, pagi semuanya!” balas Kaya melambaikan tangan.


Semua karyawan cowok di sana langsung terpesona dengan sapaan Kaya, sampai ada yang berbisik kepada temannya.


“Kok aura ibu Kaya berbeda yah hari ini?”


“Iya dia beda banget,lebih cantik dari sebelumnya?”


“Heeh, apalagi tambah sexy! Uh jadi iri deh!”


Masih banyak lagi yang membisikin Kaya, namun yang dibisikkin hanya cuek dan berjalan menuju depan ruangan Adrian.


Kaya berhenti di depan ruangan Adrian sambil menarik napas dan menampilkan senyuman lebar. Ia membuka pintu Adrian tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


“Pagi pak Adrian,” senyum lebar dengan bibir merah gelap membuat Kaya semakin cantik.


Adrian langsung terheran melihat Kaya yang menyapanya di pagi hari karena biasanya Kaya langsung ke ruangannya. “Iya pagi juga,” balas Adrian datar.


“Semangat pak kerjanya!” ucapnya lagi tanpa melunturkan senyumannya.


“I-iya,” ucapnya agak gugup, namun langsung mendatarkan kembali wajahnya. Kaya langsung menutup pintu Adrian dan kembali ke ruangannya.


“Aneh?” gumam Adrian.


***


“Hari ini aku akan tunjukan betapa menariknya aku di mata kamu Adrian.” Kaya tersenyum sambil duduk menunggu komputernya menyala.


Seperti biasa Nusa selalu ke ruangan Kaya tanpa mengetuk pintu dan duduk di depan meja Kaya.


“Hari ini kayaknya ada yang beda dari kamu Kay?”


“Maksudnya? Emang apa yang beda?” tanya Kaya balik dengan senyum.


“Aura kamu seperti berbeda aja dari kemarin? Kamu tambah cantik, manis, dan menarik aja sekarang.”


Kaya langsung mendatarkan mukanya. “Berarti kemarin-kemarin aku enggak menarik?”


“Eh, bukan begitu Kayaku sayang! Maksud aku kamu tambah menarik sekarang!” nyengir Nusa.


“He..,he..,he.” Kaya mengejek cengiran Nusa dengan menggayakan bibirnya. “By the way, thanks atas pujiannya tadi tuan Nusa!”


“Kay, kamu enggak mabuk lagi kan Kay?” canda Nusa.


Kaya berubah kecut. “Maksud kamu? Aku mabuk melulu gitu?”


“Hehehe, siapa tau,” nyengir Nusa.


“Lihat dong Nus, aku sehat aja!” Kaya berdiri menujukkan dirinya ke Nusa.


“Iya sih, sehat,” nyengir Nusa.


“Kalo setiap berubah pasti bilangnya mabuk? Padahal aku mabuk waktu itu, gara-gara kamu tau Nus!” gerutu Kaya yang masih berdiri.


“Heheh, maap Kayaku. Aku kan, cuman bercanda.”


“Tunggu Kay! Kamu jangan duduk dulu!” suruhnya dengan memperhatikan Kaya dari ujung kaki sampai kepala.


Nusa pun berdiri memperhatikan Kaya dan mengelilingi Kaya. “Kayaknya ada yang aneh dengan kamu Kay?” tanyanya dengan jari telunjuk di dagu seperti berpikir keras.


“Coba tebak?”


“Apa yah?” Nusa masih mengelilingi Kaya.


“Oh aku tau! Rok kamu pendek banget sekarang Kay? Terus kamu kayak lebih swag sekarang, sama pakai anting sekarang, terus sepatu kamu haknya lebih tinggi dan lipstik kamu lebih merah gelap sekarang?” Ucap Nusa sangat detail.


“Yap benar!” Kaya setuju dengan pendapat Nusa dan kembali duduk.


“Kamu kayaknya agak lebih genit sekarang Kay? Jangan-jangan ada yang kamu suka lagi? Siapa yang kamu suka Kay?” tanya Nusa sambil duduk.


“Apaan sih Nusa! Aku itu nggak genit! Cuman pengen lebih keren aja.” Senyum Kaya dengan mengangkat alisnya.


“Yaelah, banyak gaya kamu Kay!” tawa Nusa.


“Huh, dasar kamu Nus! Enggak bisa apa lihat aku seneng dikit?!”


“Iya dah, emang kamu keren Kay dari dulu saat kamu masuk Kay.” Gombal Nusa.


“Tapi sekarang tambah keren kan?” senyum Kaya mengangkat alisnya.


“Iya keren banget, ” senyum Nusa dengan mengasih dua jempolnya. Kaya dan Nusa pun saling tertawa.


*****


Saat Istirahat.


 “Kay makan yuk?” ajak Nusa di depan pintu ruangannya.


“Ayuk!” Kaya berhenti mengetik dan menghampiri Nusa.


“Nus, ajak pak Adrian!”  Mereka berhenti di depan pintu ruangan Adrian.


“Oh iya, lupa!” Nusa mau membuka pintu ruangan Adrian tapi dicegah Kaya.


“Aku aja Nus yang bilang!”


“Oh oke.” Nusa langsung mundur dan membiarkan Kaya membuka pintu Adrian.


“Misi pak,” Kaya membuka pintunya.


“Iya Kay,” ucapnya.


“Oh iya, udah jam 12 siang yah? Yasudah saya ikut yah? Bentar yah!” Adrian membereskan mejanya.


“Baik pak,” senyum Kaya dan menutup pintu Adrian. Lalu menunggu di depan ruangan Adrian.


“Ayuk!” ajakadrian yang sudah di samping mereka.


“Iya pak,” senyum Kaya dan Nusa hanya terdiam.


“Kay, nanti kita ke restoran berbeda yah? Soalnya saya sudah lama tidak makan di sana!” ajak Adrian di samping Kaya sambil berjalan sementara Nusa di belakang mereka.


“Iya pak, terserah bapak aja.” Senyum Kaya.


“Gimana bro?” tanya Adrian.


“Terserah ajalah,” jawab Nusa yang bete dengan sikap Kaya yang genit dengan Adrian.


Di Restoran.


“Yuk!” ajak Adrian yang sudah memarkirkan mobilnya. Kaya mengikuti Adrian berjalan di sampingnya,sementara Nusa selalu di belakang mereka.


“Ini restoran kesukaan bapak?” tanya Kaya dengan menunjuk.


“Iya, ini restoran kesukaan keluarga saya Kay.” Jawab Adrian sambil berjalan menuju pintu restoran.


“Wah? Pasti makananya enak yah pak?”


“Iya,” jawabnya singkat.


Mereka masuk ke dalam restoran dan duduk. “Kalian nanti tidak usah bayar yah!” Adrian duduk menyilang.


“Kenapa emangnya pak?” tanya Kaya yang memegang buku menu.


“Iya saya yang bayar aja, karena kalian mau menuruti keinginan saya untuk makan di sini.”


 “Yaelah pak, enggak papa kali, kan saya jadi enak.” canda Kaya dengan tersneyum.


“Kamu bisa aja Kay,” senyum Adrian.


Nusa yang melihatnya cukup terkejut, Adrian tersenyum pada Kaya. Apakah Adrian mulai tertarik dengan Kaya? tanyanya dalam hati.


“Pesan yang kamu suka Kay!” suruh Adrian.


“Baik pak, terimakasih.” Senyumnya membalikan buku menu untuk memilih makanan. Setelah memilih, ia bertanya kepada dua pria tampan itu. “Pak Nusa sama pak Adrian mau pesan apa?”


“Saya mau makanan favorite saya yang ini!” tunjuk Adrianke buku menu yang di pegang Kaya di meja.


“Oh oke pak. Terus pak Nusa?” tanya Kaya.


“Aku ikut Adrian aja Kay,” ucapnya malas.


Kaya memesan makanan pada pelayan tersebut. Sambil


menunggu makanan tiba, Kaya dan Adrian berbincang. Hanya Nusa saja yang terdiam dan cuek dari tadi.


“Makanan yang bapak pesan, kok bisa makanan favorite bapak?Emang enak yah pak?” tanya Kaya penasaran.


“Iya makanan itu ada sejarahnya bagi saya Kay,” jawabAdrian.


“Ohhh,” senyum Kaya. “Sejarah apa pak?” tanya Kaya.


“Dulu saya sama keluarga saya sering ke sini dan adik saya suka makanan ini. Namun, karena umurnya sudah tidak lama lagi, dia meninggal.” Curhat Adrian.


“Ohhh, maaf pak. Saya tidak bermaksud,” ucap Kaya.


“Tidak apa Kay, dia adik perempuan saya satu-satunya dan saya sekarang anak tunggal.”


“Emang adik bapak meninggal karena apa?” tanya Kaya penasaran.


“Karena penyakit kanker,” jawabnya.


“Ohh, maaf yah pak, saya jadi menanyakan ini.” Senyum Kaya.


“Tidak apa Kay, kamu seperti adik saya selalu minta maaf melulu.” Senyum Adrian.


“Masa sih pak?” senyum Kaya.


“Iya, waktu dulu dia selalu minta maaf saat dia melakukan kesalahan pada saya.”


“Ohhh, pasti adik bapak sangat cantik dan baik.” Puji Kaya.


“Iya dia cantik dan baik sekali,” senyum Adrian. “Sama seperti kamu Kay selalu tersenyum.” Senyum Adrian dan Kaya tersipu mendengarnya.


Perkataan Adrian membuat Nusa ingin muak mendengarnya dan kesal. Lama banget sih tuh makanan datang, batin Nusa yang sudah kesal.


“Oh, makanya bapak suka makanan ini. Karena selalu ingin mengenang adik bapak?” tanya Kaya.


“Iya,” jawabnya.


“Tuh makanan udah datang!” tunjuk Nusa dengan senang dan pelayan menaruh makanan tersebut di meja mereka.


“Wahhh, kayaknya makanan ini enak semua deh.” Ucap Kaya dengan senang.


“Makasih yah pak, saya sudah ditraktir.” Senyum Kaya menatap Adrian di depannya.


“Sama-sama,” jawabnya cool.


“Makasih yah bro aku juga ditraktir.” Ucap Nusa seperti tidak ikhlas.


“Iya,” ucap Adrian.


“Ayuk mari makan semuanya!” seru Nusa dan semuanya menyantap makanan mereka.


~ Bersambung ~