
~ Happy Reading ~
Di Kantor Adrian.
Kaya masu ke dalam kantor Adrian dan berjalan menuju ruangan Adrian. Ia menampilkan senyumannya saat melihat beberapa karyawan di sana.
“Eh, itu kan ibu Kaya!” tunjuk Desi yang duduk bersebalahan dengan Lena.
Lena menoleh ke belakang melihat Kaya berjalan ke arah mereka. “Iya Des,” ucap Lena.
Kaya pun berjalan melewati Lena dan Desi. Ia tersenyum ramah kepada mereka, namun mereka tidak menanggapinya. Kaya merasa tertohok melihat sikap Lena yang acuh padanya. Kakinya melangkah lambat sambil mendengar perbincangan Lena dan Desi.
“Len bukannya dia itu merebut perusahaan pak Nusa yah? Dia mau ngapain lagi ke sini?” tanya Desi.
“Mana aku tahu?! Emang aku pengawalnya!” Jawab Lena agak sewot.
“Yah…, enggak usah sewot juga Len. Aku tahu kamu itu teman dekat pak Nusa makanya kesal sama ibu Kaya.” cengirnya.
“Tau ah.., udah kerja sana! Enggak usah urusin penipu cantik kayak dia!” Lena sedikit bernada tinggi agar Kaya mendengarnya dan benar saja Kaya mendengarnya.
Kaya beridir di depan pintu Adrian dengan perasaan sedih akibat ucapan Lena. Namun, ini memang pantas ia dapatkan karena Lena dekat dengan Nusa dibanding dirinya. Kaya pun membuka pintu dan menyapa Adrian.
“Hai Adrian,”
“Hai Kay, silahkan duduk!” senyum Adrian.
“Apa kabar?” tanya Kaya.
“Baik,” jawabnya dengan senyum.
“Jadi, ada apa kamu suruh aku kesini Ad?” tanya Kaya terus terang.
“Kay, kamu baru saja datang. Biarkan kamu bernafas dulu!” senyum Adrian.
“Aku harus ke kantor Adrian, ada banyak yang harus ku kerjakan.”
“Baiklah.., kalau kamu ingin terburu-buru.”
“Aku hanya ingin melihatmu saja Kaya..,” senyum Adrian.
“Apa?” ucap Kaya dengan terkejut sambil menganga.
“Jadi kamu menyuruh aku kesini hanya untuk melihatku saja?” Kaya terlihat kesal dan Adrian hanya mengangguk dengan senyum.
“Adrian kamu tahu enggak? Aku ini banyak,” Kaya yang sudah emosi ingin mengomeli Adrian panjang
lebar, tapi Adrian memotongnya terlebih dahulu.
“Maaf Kay, tadi itu bercanda.” Tawa Adrian.
“Adrian…., jangan bercanda!” desis Kaya. Adrian pun berhenti tertawa dan menatap Kaya dengan serius.
“Kay…, kamu jadi ke Bali besok?”
“Iya. Kan, aku sudah bicara sama kamu di telepon tadi.”
“Sama siapa saja?” tanya Adrian seperti mengintrogasi.
“Sama Nusa, Jessica, dan sekertaris Nusa.”
“Ohh…, aku juga akan ke Bali besok.”
“Serius? Kamu tidak mengikutiku kan Adrian?” tanya Kaya dengan heran.
“Tidak nona Kaya. Aku emang ada perlu di sana.”
“Baiklah, aku percaya. Lalu kamu ke Bali mau ngapain?” tanya Kaya.
“Aku ingin mengerjakan suatu proyek besar juga di Bali dan bertemu klien di sana.”
Sebenarnya aku tidak ingin jauh darimu Kaya dan tidak akan ku biarkan Nusa mendekatimu, batin Adrian.
“Ohh…, bisa kebetulan sekali yah Adrian.” Senyum Kaya.
“Kay…., ada sesuatu yang ingin ku tanyakan.”
“Iya, apa?”
“Apakah kamu mencintai Nusa?” tanya Kaya.
Apakah aku harus ceritakan Nusa kepada Adrian, bahwa dia menyatakan cintanya kepadaku, batin Kaya.
“Kay.., apakah engkau tidak menganggap aku teman? Bukankah kita bersepakat menjadi teman?” tanya Adrian.
“Jika aku mengatakan sebenarnya, apakah aku akan menyakiti hatimu lagi Adrian?” tanya Kaya dengan hati-hati mengingat Adrian dulu menyukainya.
“Tidak, aku tidak akan tersakiti karena aku tahu jawabanmu.” Kelak Adrian dengan senyum padahal hatinya sakit sekali mendengarnya.
“Aku ragu Adrian. Apakah aku harus mengubah presepsiku atau aku terus melanjutkannya? Nusa menyatakan cintanya padaku kemarin dan membuatku ragu untuk melanjutkan dendamku terhadap ayahnya.”
Apakah sebegitu besarnya cintamu pada Nusa Kaya, sehingga mukamu berubah menjadi sendu, batin Adrian.
“Apakah kamu yakin dia mencintaimu atau hanya berpura-pura?”
“Tidak, aku hanya berpikir karena kalian musuh mungkin saja ini taktiknya.”
“Entahlah Adrian, aku pun ragu. Tapi jika dia memang benar ingin menyakitiku biarkanlah aku sudah siap, walau aku harus menderita.” Lirihnya.
Segitunyakah cintamu Kaya, sampai-sampai kamu siap tersakiti olehnya, batin Adrian.
“Lalu bagaimana dengan dendam mu Kaya?”
“Aku akan melupakannya jika benar tulus mencintaiku. Tapi untuk saat ini aku fokus pada yang di depan dulu Adrian. Aku sedang mengerjakan proyek itu agar nanti aku dapat menang menjadi CEO.”
“Baiklah…, aku akan selalu mendukungmu Kaya.”
“Terimakasih..,” Kaya tersenyum.
Di Ruangan Nusa.
Nusa berjalan menuju mejanya dan melirik arah meja Kaya, namun tidak melihat perempuan itu. Sejenak dia berhenti dan melirik Mila yang sedang duduk.
“Mila, Kaya kemana?” tanya Nusa.
“Tidak tahu pak,” jawab Mila mengangkat bahunya.
“Kemana dia?” pikir Nusa.
“Coba telepon dia! Kenapa jam segini belum datang? Apakah dia ada gangguan di jalan atau di pikirannya!” perintah Nusa membuat Mila tertawa kecil mendengar ucapannya.
“Baik pak,” angguk Mila.
Nusa berjalan kembali menuju kursinya untuk duduk. Sementara Mila mencoba menelepon Kaya, tapi tidak diangkat. Dia terus mencobanya dan hasilnya nihil, Kaya tidak mengangkat telepon Mila.
“Pak.., ibu Kaya tidak mengangkatnya.”
“Baiklah Mila, kamu bisa lanjutkan tugasmu!” perintah Nusa.
“Baik pak.”
“Kemana dia? Apa dia malu datang ke kantor karena aku menyatakan cinta kepadanya?” pikuk Nusa.
“Atau dia sudah tahu semuanya rencanaku?”
“Tidak.., tidak mungkin. Adrian tidak akan mempengaruhi Kaya.”
“Lalu kemana dia?” tanya Nusa bingung.
Beberapa menit kemudian Kaya datang dengan santainya menuju tempat duduknya. Sedangkan Nusa bingung dari tadi mencari Kaya, namun Kaya dengan santainya tersenyum tanpa dosa.
“Bagus sekali yah nona Kaya. Kamu terlambat 2 jam dan langsung duduk dengan santai?!” Omel Nusa.
“Maaf Nus, tadi aku kesiangan.” Kelak Kaya.
“Baiklah…, kesiangan yah? Atau kamu memikirkan yang lain?” tanya Nusa membuat bingung Kaya dan Mila juga ikut bingung.
Apa maksud pak Nusa sih? tanya Mila dalam hati sambil memperhatikan mereka yang saling berpandangan.
“Apa maksud mu Nusa?” tanya Kaya dengan muka mengkerut.
“Mila.., tolong tinggalkan kami berdua! Ada hal yang ingin ku bicarakan dengan ibu Kaya!” perintah Nusa menoleh Mila.
“Baik pak,” angguk Mila berdiri dari kursi.
“Apasih yang mau dibicarakan pak Nusa ke ibu Kaya sampai aku harus disuruh keluar?” pikirnya berjalan menuju pintu.
Nusa berdiri dari kursi dan menghampiri Kaya. Ia berdiri di samping Kaya sambil bersandar di meja.
“Apakah kamu lupa kemarin aku menyatakan cinta padamu Nona Kaya? Apakah kamu tidak ingin membalasnya?” tanya Nusa sedikit mencodongkan badannya ke kuping Kaya.
“Ohh…, kemarin itu kamu menyatakan cinta? Tapi…, kok, kayak tidak menyatakan cinta yah?” sindir Kaya karena memang kemarin hanya pernyataan saja yang diucapkan Nusa.
“Malah hanya seperti ungkapan kalimat saja.” Lanjut Kaya.
“Oh.., jadi itu bukan menyatakan cinta. Baiklah.., akan ku katakan sekali lagi padamu nona Kaya. Aku sangat mencintaimu. Apakah kau mau menjadi pacarku?” tanya Nusa.
Kaya terdiam bingung seribu bahasa, tak tahu harus jawab apa. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, rasanya ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Hatinya sangat bahagia, tapi pikirannya kaku bingung harus bicara apa. Perutnya mulai sakit dan berbunyi. Pikir Kaya ini akibat pertanyaan cinta Nusa, tapi ternyata tidak. Perutnya mulai memulas dan Kaya memegang perutnya tersebut.
“Emmm…….,” bingungnya dengan tangan sedikit gemetar.
Aduh.., dalam situasi seperti ini segala pengen ke kamar mandi lagi, batin Kaya.
“Nus, kayaknya aku kebelat pipis deh!” Kaya berdiri dari kursinya dan mencoba melangkah perlahan melewati Nusa. “Sudah enggak tahan soalnya,” nyengir Kaya, lalu berjalan keluar terburu-buru.
Nusa yang melihat sikap Kaya bingung dengan menggarukkan tengkuknya yang tidak gatal. “Ada apa dengannya?”
Kaya langsung buru-buru ke arah kamar mandi. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Mila. “Maaf Mila,” teriak Kaya terburu-buru menuju kamar mandi. Sedangkan Mila hampir saja jatuh dan untungnya dia bisa menahan dengan kakinya.
“Kenapa ibu Kaya terburu-buru begitu?” pikir Mila.
“Ahh.., sudah biarkan sajalah!” Mila kembali berjalan menuju ruangannya
~ Bersambung ~