
~ Happy Reading ~
Keesokan harinya....
Di kantor Tama.
Kaya berjalan masuk ke dalam ruangan. Mila yang melihatnya langsung bangkit berdiri dari kursi dan menghampiri Kaya.
“Ibu Kaya.” Ucapnya senang memeluk Kaya yang berdiri.
“Iya Mila,” senyum Kaya dan Mila melepaskan pelukannya.
“Ibu Kaya ke mana aja sih?” tanya Mila.
“Saya sakit Mil. Maaf yah enggak ngabarin,” nyengir Kaya.
“Ohh ibu sakit? Sakit apa bu? Terus ini tangan ibu kenapa?” tanya Mila memegang tangan Kaya yang dibalutkan kain.
“Ini kemarin saya kena luka air panas,” kelak Kaya.
“Tapi udah enggak kenapa-napa kan bu?”
“Enggak kok,” senyum Kaya.
“Yaudah ibu duduk dulu nanti kecapaen lagi!” Kaya menuruti ucapan Mila. Ia duduk di kursinya dan Mila berdiri di depan mejanya.
“Ibu tahu enggak kemarin ibu Jessica datang ke sini ngumumin tanggal pertunangan mereka?!”
“Aku tahu. Mereka kan ngumumin di TV.”
“Iya bu. Ishh...., aku kesal sama ibu Jessica. Ia telah merebut calon pacarku,” gerutunya.
“Hahahha..., kamu rebutlah kalau bisa.” Tawa Kaya.
“Iya sih..., nanti aku rebut.” Ucapnya penuh yakin.
“Oh iya bu Kaya. Aku boleh bertanya sesuatu enggak?” tanya Mila.
“Apa?”
“Emang benar ibu merebut setengah saham perusahaan ini dari menipu ayahnya Nusa?” tanya Mila dengan polos. Kaya sontak bingung menjawabnya dan tiba-tiba Nusa datang.
“Ehem,” Nusa berdehem sambil berjalan melewati meja Kaya.
“Eh ada pak Nusa,” senyum Mila berbalik badan melihat Nusa berjalan menuju mejanya. Mila langsung menghampiri meja Nusa.
“Bapak mau minum apa?” tanya Mila dengan genit kepada Nusa yang sudah duduk.
“Saya mau kamu bawakan kopi pahit,” jawab Nusa.
Kaya yang mendengarnya langsung bingung. Aneh, bukannya dia tidak suka kopi. Kenapa dia pesan kopi?
“Baiklah pak,” senyum Mila berbalik badan.
“Oh iya Mil,” panggil Nusa dan Mila menoleh kembali ke arah Nusa.
“Iya pak,” sahut Mila.
“Kamu buatkan juga ibu Kaya teh manis hangat yah!” perintah Nusa.
Mila langsung berhenti senyum dan bingung. Kenapa pak Nusa perhatian sama ibu Kaya?
“Baik pak,” senyum Mila. Kaya yang mendengarnya hanya diam saja. Mila langsung berjalan keluar ruangan.
Nusa berdiri dari kursi dan menghampiri Kaya. Lalu dia duduk di meja Kaya. “Oh iya Kay, kok aku tidak pernah melihat pak Boni?” tanya Nusa dengan senyum.
“Iya, dia sudah tidak di sini lagi.” Jawab Kaya dengan senyum.
“Kenapa? Apakah engkau menyembunyikannya Kaya?” tanya Nusa mendekatkan wajahnya dengan wajah Kaya. Kaya pun teringat dan melamun memikirkan Boni.
Flash back....
Kaya mencari-cari Boni di ruang kerjanya tapi tak ada. Ia keliling ruangan tapi tidak ada. Kaya pun balik ke ruangannya dan mengambil ponsel di meja. Nusa dan Mila yang duduk hanya heran melihat Kaya yang bingung.
“Ke mana pak Boni?” gumam Kaya mondar-mandir, tanpa sadar di perhatikan Nusa dan Mila.
“Coba aku telepon aja deh.” Kaya berhenti mondar-mandir dan menelepon Boni dengan berdiri membelakangi Nusa dan Mila.
“Angkat dong pak Boni,” ucap Kaya kesal sambil menggigit jarinya. Sementara Mila kembali bekerja dan mengabaikannya, sedangkan Nusa terus memperhatikan Kaya. Akhirnya telepon Kaya diangkat oleh Boni.
“Halo nona Kaya,”
“Halo pak Boni, kau ke mana saja? Sudah tiga hari kau tidak masuk?” tanya Kaya dengan kesal.
“Saya sakit bu,”
“Ohhh..., aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Ucap Kaya.
“Aku juga ingin bilang sesuatu padamu ibu Kaya. Ini suatu hal penting tentangku.”
“Tidak ditelpon bu. Kita ketemu di suatu tempat saja bu.”
“Oke kamu kirimkan alamatnya yah!”
“Iya bu, sekarang yah kita bertemu.”
“Oke, saya akan ke sana sekarang.” Kaya menutup teleponnya dan bergegas hendak pergi setelah mendapat WA dari Boni.
“Nona Kaya engkau mau ke mana?” tanya Nusa melihat Kaya membelakangi dirinya.
“Aku ada urusan, lagi pula aku tidak ada gunanya di sini.” Ketus Kaya tanpa menoleh Nusa.
“Emang iya sih. Soalnya kamu kerjanya mondar-mandir doang. Yasudah pergilah!” ledek Nusa dengan senyum. Kaya tidak menggubris ucapan Nusa dan melangkah pergi keluar ruangan.
Di rumah Boni.
Kaya memencet bel rumah Boni dan dibukakan oleh Boni. Ia menyuruh Kaya untuk berbicara di balkon dan Kaya mengikutinya.
“Bapak terlihat tidak sehat sekarang?” tanya Kaya bersandar di pagar balkon melihat Boni yang lemas.
“Iya nona aku sakit kemarin,” jawabnya berdiri di depan Kaya.
“Ada apa pak Boni? Tadi bapak ingin bilang sesuatu yang penting tentang dirimu sendiri? Maksudnya apa?” tanya Kaya.
Bagaimana ini, jika aku bilang sebenarnya. Aku pasti akan dihukum olehnya, ucap Boni dalam hati.
“Pak,” Kaya melambaikan tangannya.
“Maaf nona Kaya,” sadar Boni dan kembali menatap Kaya.
“Ada apa sepertinya ada yang bapak pikirkan?” tanya Kaya.
“A-aku..., aku minta maaf nona Kaya,” Boni langsung memasang muka sedihnya dan bersimpuh di lantai.
“Heh, ada apa pak?” tanya Kaya bingung mencoba memegang bahu Boni agar berdiri.
“Aku telah berdusta selama ini nona. Selama ini aku menipumu,” Boni menundukkan kepalanya sambil menangis.
“Maksud bapak?” Kaya tambah bingung.
“Namaku sebenarnya bukan Boni tapi Angga Putra,” ucap Boni sambil menangis.
Kaya yang memegang bahu Boni langsung melepasnya dan sadarkan ucapan Michael. Ia memundurkan langkahnya dengan terkejut sehingga mentok pagar balkon.
Jadi ayah Michael adalah Boni. Jadi selama ini Boni berbohong. Jadi Boni itu orang yang suka main judi dan tukang selingkuh, batin Kaya
Flash back tentang Michael.....,
Kaya berjalan bersama Boni menuju lift. Pak Boni tiba-tiba mendahului Kaya berjalan masuk ke dalam lift karena berpapasan dengan seorang pria yang dia kenal, sambil membuang muka ke arah lain.
Kaya yang ingin menyusul Boni terhenti karena mendengar suara pria yang memanggilnya. Kaya berbalik badan melihat pria tersebut. Sementara pintu lift sudah tertutup.
“Hai Kaya,” sapanya.
“Hai Michael,” sapa Kaya tersenyum.
“Kamu tadi sama siapa?” tanya Michael.
“Sama pak Boni,” jawab Kaya.
“Ohhh..., pak Boni asisten pak Wijaya dulu bukan?” tanya Michael.
“Iya,” senyum Kaya.
“Jujur aja aku belum pernah ketemu dirinya, soalnya aku sibuk keluar kota melulu.” Nyengir Michael.
“Masa sih?” tanya Kaya tersenyum.
“Iya,” senyum Michael.
“Ohhh...,” gumam Kaya yang bingung mau bicara apalagi.
Tapi kenapa pak Boni tadi tiba-tiba langsung meninggalkan aku begitu saja yah, batin Kaya.
“Kamu ada waktu enggak?” tanya Michael tersenyum.
“Kenapa emangnya?” tanya balik Kaya.
“Soalnya aku ingin bicara denganmu,” jawab Michael.
“Baiklah,” setuju Kaya.
“Yaudah yuk! Aku juga sekalian mau ngajak kamu ke suatu tempat!” ajak Michael berjalan dan Kaya mengangguk mengikutinya.
~ Bersambung ~