My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 112 ~ Lita Mabuk



~ Happy Reading ~


          Lita duduk di pinggir meja bar menikmati indahnya dentuman musik yang cukup keras dan kerlap-kerlip lampu. Dirinya memegang gelas yang berisi alkohol.


          “Ayuk berdansa!” teriaknya sangat keras dengan gelas yang disodorkan ke atas, entah dia menawari kepada siapa. Sementara pelayan bar yang sedang meracik minuman heran akan wanita itu.


          “Musik nyalakan!” teriaknya lagi dengan semangat sambil menggoyangkan badannya dalam posisi duduk. Ponselnya pun bergetar di meja bar dekat gelas yang diletakkannya tadi.


          “Halo?” Jawabnya setengah mabuk sambil badan bergoyang.


          “…….”


          “Mas.., mas…,” Panggilnya kepada pelayan yang berdiri di depannya.


          “Iya,” jawab pelayan tersebut mendekatkan diri menghadapnya dengan penghalang meja bar.


          “Ini emang dimana yah?” tanyanya tersenyum mabuk sambil memegang ponsel di telinganya.


          “Emang mbak enggak tahu ini dimana?” tanya balik pelayan tersebut.


          Lita hanya menggelengkan kepalanya sambil menyengir. “Ini ada di diskotik xxxxx….,” ucap pelayan itu.


          “He.., he…, diskotik yah?!” Lita tersenyum bodoh. Maklumlah dia sedang mabuk.


          “Halo sayang?” ucap Lita mengubah ekspresinya dengan tersenyum menggoda


          “…..”


          Lita hanya mengangguk tersenyum dan menaruh ponselnya di meja yang belum dimatikan olehnya atas perintah pria yang ditelponnya.


****


          Michael yang sedang berbaring di tempat tidur, tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang aneh di dadanya. Ia merasa cemas dan selalu mengingat satu nama yaitu Lita.


          Michael dan Lita akhir-akhir ini sering sekali bertemu. Mereka saling curhat dan mengungkapkan isi hatinya yang kesal. Lita pernah bercuhat dengan Michael tentang dirinya bertemu Adrian dua hari yang lalu. Ia tak sengaja bertemu dengan Adrian di Kafe.


Flash back…,


          Lita yang sedang memasuki kafe tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang ingin masuk ke kafe tersebut.


          “Adrian?” ucap Lita terkejut melihat pria yang ditabraknya.


          “Hay Lit,” sapa Adrian yang berdiri dihadapannya.


          “Apa kabar?” tanya Lita dengan senyum manisnya.


          “Baik,” jawab Adrian.


          “Apakah kamu ingin makan di sini juga?”


          “Iya,” jawab Adrian.


          “Bagaiman kita satu meja?” ajak Lita yang antusias.


          “Baiklah,” setuju Adrian


          Adrian dan Lita masuk dan duduk satu meja. Mereka langsung memesan makanan kepada pelayan yang datang menghampiri mereka. Setelah memesan Lita dan Adrian hanya terdiam.


          Sebenarnya Lita sangat senang bertemu Adrian secara kebetulan, karena Adrian jika diajak olehnya selalu saja menolak dan tidak pernah memberikan respon.


          Melihat Adrian memainkan ponselnya. Lita pun cemberut dan dia tak berani berbicara duluan. Sampai makanan datang, Adrian menaruh ponselnya di kantong celan dan mengambil makanannya untuk dimakan.


          Keheningan membuat Lita bosa dan akhirnya dia mulai berbicara duluan sambil memakan makanannya dengan santai.


          “Hmmm…, Adrian. Apakah aku boleh bertanya?” tanya Lita.


          “Iya,” jawab Adrian yang sangat singkat sambil memakan pastanya.


          “Kamu dan Kaya bagaimana?”


          “Maksudnya?”


          “Hmm…, maksudnya. Kamu dan Kaya apakah sering bertemu?” tanya Lita.


          “Iya,” bohong Adrian padahal selama ini Kaya jarang bertemu Adrian karena sibuk.


          “Entahlah.., mungkin masih teman. Tapi aku akan menjadi pacarnya nanti.” Adrian melontarkan jawaban yang membuat Lita sakitnya di dada.


          “Oh…,” Lita melanjutkan makanannya. Adrian tidak memperdulikan perasaan Lita yang sakit hati, dia malah asyik melanjutkan makanannya.


          “Bagaimana kabar Nusa?” tanya Adrian.


          “Dia baik.”


          “Aku dengar dia akan bertunangan dengan Jessica?”


          “Iya,” jawab Lita singkat karena sudah tidak badmood lagi.


          “Jessica sama Nusa memang cocok.” Ucapnya tersenyum mengejek.


          “Ohh.., kau tidak cemburu dengan Nusa? Bukankah dia MANTANMU?” tanya Lita dengan nada agak ditinggikan.


          “Heh.., buat apa aku cemburu. Lagi pula dia bukan pacarku dulu, dianya saja yang mengaku-ngaku.”


          “Ohh.., lalu jika aku dengan orang lain. Apakah kau tidak cemburu?” tanya Lita terus terang dengan isi hatinya.


          “Bukankah aku sudah pernah bilang! Aku memaafkanmu atas kejadian dulu, tapi aku tidak menyukaimu karena yang ku cinta sekarang adalah Kaya.”


          Jawaban Adrian membuat hati Lita semakin menohok sakitnya. Lita seharusnya tahu apa jawabannya dan kenapa Lita bertanya seperti itu. Ia merutuki dirinya bodoh menanyakan hal yang sudah tahu jawabannya.


          Lita pun terdiam dan tidak banyak bicara lagi. Ia sungguh merasa awarkd dengan keadaan ini dan muak dengan jawaban Adrian yang selalu menyukai Kaya.


          “Aku ada urusan lain, biar aku yang bayar semua ini!” ucap Adrian dengan sikap dinginnya.


          Lita hanya mengangguk dan berpura-pura tersenyum. Ia sedih melihat Adrian yang meninggalkannya secara cepat dan menuju kasir. Lita berharap Adrian mau mengobrol dengan dirinya begitu lama dan mengenang semua masa lalu. Tapi itu hanya khayalannya saja, sekarang sosok Adrian menganggap dirinya sebagai orang asing.


Flash back berakhir…..,


          Saat mendengar curhatan Lita, entah mengapa hati Michael merasa sesak. Mungkinkah dia menyukai Lita, itu yang ada dipikirannya.


          Michael menghilangkan rasa itu, karena menurutnya itu hanya perasaan kuatir dengan teman.  Namun semakin ia menampik perasaan itu, ia semakin terus memikirkan Lita.


          Dan hari ini, Michael merasa gundah. Ia terus memikirkan Lita. Akhirnya Michael memutuskan ke rumah Lita.


          Sampai di rumah Lita, Michael hanya disambut oleh pelayan Lita. Michael pun bertanya kepada pelayan itu, apakah Lita ada dirumah. Lalu pelayan itu menjawab tidak ada dan tak tahu kemana keberadaannya.


          Michael pun pamit dan kembali menyetir sambil menelpon Lita dengan memakai earphone kecil di telinganya.


          “Halo Lit, kau dimana?” tanya Michael yang cemas.


          Michael mendengar semua percakapan Lita yang bertanya kepada seorang pria. Lita menanyakan dirinya ada dimana. Ini sungguh konyol sekali, rasanya Michael ingin tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak? Lita tidak tahu dimana dirinya berada.


          “……”


          Sepertinya dia mabuk, gumam Michael dalam hati yang mendengar ucapan Lita yang ngawur. Karena Lita memanggil dirinya sayang.


          Michael yang mendengar perbincangan Lita dan pria tadi langsung memutar arah menuju tempat yang didengarnya dari percakapan mereka.


          “Tunggu disana! Jangan kemana-mana dan jangan dimatikan telponnya!” perintah Michael.


          Michael sengaja menyuruh wanita itu untuk tidak mematikan teleponnya, karena ia khawatir akan keadaannya yang mabuk. Ia takut ada pria belang yang membawanya kabur dan Michael tidak mau itu terjadi. Sambil mendengarkan ocehan Lita yang berteriak di telepon, Michael mengemudikan mobilnya dengan cepat.


          “Ayo terus berjoget!”


          “AYOK LAKUKAN!”


          “DASAR PRIA SEMUA SAMA AJA!”


          “KEMBALIKAN ADRIANKU..,”


          Ada rasa sedih saat Lita berucap kata ‘kembalikan Adrianku’ itu membuat Michael sesak. Rasanya ingin sekali mendekap Lita dan membiarkannya menangis dari pada harus ke tempat seperti itu.


          “HAHAHAHA….,”


          Michael mendengar tawa Lita yang aneh dan membuatnya tambah was-was, takut Lita berbuat hal anel. Pedal mobil pun dibuat kecepatan penuh agar dirinya cepat sampai di sana.


~ Bersambung ~