
~ Happy Reading ~
“Kalau aku boleh kasih saran sebaiknya ibu kasih saja semua saham yang ibu ambil dan berbaikan kepada Nusa. Lalu ibu bilang kepadanya bahwa ibu mencintainya.” Mila melepaskan pundak Kaya.
Kaya hanya terdiam dan mengangguk. Dia masih bimbang, tapi apa yang dikatakan Mila adalah benar.
“Mila terimakasih atas semua saran, nasehat dan pendapatmu.” Kaya memeluk Mila dengan erat, lalu melepaskannya.
“Kamu ternyata wanita yang baik, walaupun awalnya aku mengira kamu seperti Jessica.” Mila tertawa kecil mendengarnya.
“Sama-sama bu,” ucap Mila.
Matahari mulai terbenam, langit tampak gelap dan hanya cahaya lampu yang menghiasi pantai. Ombak yang tadinya kencang mulai tenang dengan angin malam yang segar.
“Bu, ke sana yuk!” ajak Mila menunjuk Nusa dan Jessica yang sedang menikmati air laut di tepi pantai.
Kaya menggeleng pelan menolaknya. Mila berdiri dari duduknya. “Kenapa?” tanya Mila.
“Aku takut Mil. Aku pernah hampir tenggelam di pantai itu.” Jawab Kaya.
“Maaf bu aku enggak tahu,” ucap Mila.
“Enggak papa Mil,” senyum Kaya.
“Tapi ibu ikut aja! Kita enggak akan ke tengah pantai kok, lagi pula ini udah malam. Jadi kita main di tepi pantai aja bu.” Ajak Mila menarik tangan Kaya untuk ikut dengannya.
“Ayuklah bu! Masa saya harus sendirian saja di sana. Malah ada Jessica sama pak Nusa yang selalu berduaan. Kalau saya di sana yang ada saya kayak perusak suasana mereka.” Ungkap Mila dengan muka yang di cemberutkan. Melihat raut Mila, Kaya tersenyum geli.
“Baiklah,” Kaya bangkit dari duduknya. “Tapi jangan ke tengah-tengah laut yah!”
“Siap ibu bos,” Mila memberikan hormat dengan tangannya dan Kaya hanya terkekeh melihat tingkah Mila.
Mereka melangkah ke tepi pantai dengan memberikan jarak kepada Nusa dan Jessica. Mereka tidak ingin dekat dengan Nusa dan Jessica. Lalu mereka mulai bermain di tepi pantai tersebut.
Mila yang usil mencipratkan air ke wajah Kaya dan membuat Kaya merasakan air asin di mulutnya. Kaya yang diusili tidak mau kalah, ia membalas dengan mencimpratkan air kepada Mila.
Mila yang mendapat serangan dari Kaya menghindar dan berlari. Kaya mengejarnya dan mendapatkan Mila. Ia memeluk tubuh Mila dan mencoba untuk menjatuhkan Mila ke air. Mila menahan tubuhnya agar tidak di jatuhkan di air, namun Mila gagal. Dia sudah di jatuhkan Kaya ke dalam air dan membuat bajunya basah.
Nusa yang tak jauh dari mereka tersenyum melihatnya. Ia merasa bahagia melihat Kaya tertawa lepas. Matanya terus melirik tingkah Kaya yang menghindar dari Mila yang ingin membalasnya dan membawa pasir di tangannya. Sementara Jessica sedang asyik menikmati air dengan berjalan di tepi pantai.
Tiba-tiba Adrian datang dan sudah berdiri di belakang Kaya. Sementara Kaya tidak sadar akan kehadiran Adrian. Kaya terus melangkah mundur sambil tertawa melihat Mila yang basah membawa pasir di tangannya. Mila melangkah sambil menakuti Kaya dengan pasir di tangannya.
Bukk!
Kaya menabrak seseorang yang berada di belakangnya. Ia pun menoleh. “Adrian?” kaget Kaya.
“Hai Kay,” senyumnya.
“Oh ada pak Adrian?” Mila tersenyum sambil melepaskan pasir di genggamannya.
“Hai Mil,” sapa Adrian dan dibalas senyum oleh Mila.
Nusa yang melihatnya ada rasa tidak suka dengan kehadiran Adrian. “Nusa, yuk kita ke sana samperin mereka!” ajak Jessica menunjuk tempat Kaya yang tidak jauh dari mereka. Nusa mengangguk dan mengikuti Jessica menuju mereka.
“Hai Adrian,” sapa Jessica.
“Hai Jess,” ucap Adrian datar.
“Hai Nus,” sapa Adrian.
“Kamu udah lama di sini Adrian?” tanya Jessica.
“Enggak, baru saja.” Jawabnya.
“Nus, sebaiknya kita makan yuk!” ajak Jessica dan Nusa hanya mengangguk.
“Mila tolang bilang ke manajer untuk menyiapkan makan malam buat kita!” titah Nusa.
“Baik pak,” angguk Mila.
“Kamu mau makan juga enggak Adrian?” tanya Kaya.
“Aku belum lapar, dan ada hal yang ingin ku bicarakan kepadamu!”
“Apa?” tanya Kaya.
“Maukah kamu temanin aku Kay, bermain di pantai sebentar? Soalnya aku telat ke pantainya tadi?!” ajak Adrian dengan senyum.
“Baiklah,”
“Yaudah kalau begitu. Nus ayuk kita makan! Aku sudah lapar ini?!” Jessica menarik lengan Nusa dan Nusa hanya bisa pasrah. Tapi matanya menyipitkan melihat Adrian tidak suka, karena mengajak Kaya bersamanya. Sedangkan Mila mengikuti Nusa dan Jessica dari belakang.
***
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan. Pria itu duduk santai sambil menikmati minumnya.
“Nus?” Panggil Jessica berjalan menghampiri Nusa yang duduk di outdoor hotel tersebut.
“Iya?” Nusa menoleh ke arah Jessica.
“Aku ke kamar duluan yah bersama Mila! Soalnya badanku sudah lengket kayaknya.” Ucap Jessica berdiri di samping Nusa yang duduk dengan memegang bajunya yang sudah lengket.
“Baiklah,” ucap Nusa.
“Okey, dah Nusa sayang!” Nusa hanya tersenyum menanggapinya. Matanya kembali menatap ke arah Kaya dan Adrian yang tengah asyik mengobrol di tepi pantai.
***
“Tunggu Kay!” ucap Adrian dan mereka berhenti berjalan.
“Iya?”
“Sepertinya ada keong mas di rambut kamu?!”
“Masa sih?” tanya Kaya dengan heran. Pikir Kaya mana mungkin ada keong mas tiba-tiba nemplok di rambut apalagi malam hari begini.
“Serius,” ucap Adrian meyakinkan.
“Masa sih? Kamu bohong yah Adrian?” tuduh Kaya dengan canda.
“Benaran, makanya diam dulu! Ini aku ambilin sebentar!” titahnya.
Kaya menuruti perintah Adrian dan mendekatkan dirinya kepada Adrian sehingga mereka sangat dekat.
Adrian melangkah mendekati rambut Kaya dan dia berpura-pura mengambil sesuatu di rambut Kaya, padahal tidak ada sama sekali keong mas di rambutnya.
Tangan kanan Adrian mengambil sebuah benda di kantong celananya. Benda itu adalah sebuah kalung yang berbentuk keong mas. Ia membuka pengait kalung tersebut dan hendak memakaikannya di leher Kaya.
contoh kalungnya:
Kaya yang merasa Adrian lama sekali menjadi curiga dan mencoba melirik tangan Adrian, namun Adrian sudah terlebih dahulu memakaikan kalung tersebut ke leher Kaya.
Kaya yang melihatnya terdiam kaget karena secara tiba-tiba Adrian sudah memakaikan kalung pemberiannya.
“Cantik,” ucap Adrian yang sudah memasangkan kalung di leher Kaya.
“Ini maksudnya apa Adrian?” tanya Kaya memegang kalung yang sudah di pasangnya. Sekarang Kaya ada dua kalung di lehernya, satu punya Nusa dan satu lagi punya Adrian.
“Aku tidak sengaja melihat kalung ini di pinggiran jalan dan aku teringat mu Kay. Jadi aku beli untuk dirimu!” senyum Adrian.
“Adrian aku tidak mau nerima ini!” tolaknya ingin melepas kalung tersebut.
“Kenapa?” tanya Adrian. “Apa karena kamu tidak mencintaiku?” lirihnya dan Kaya tidak jadi melepas kalung pemberian Adrian.
“Bukan.., bukan karena itu.”
“Aku merasa tidak pantas saja mendapat hadiah dari mu, karena aku telah banyak mengecewakan mu." lanjut Kaya.
“Tidak Kay, aku tahu perasaan tidak bisa dipaksakan. Tapi izinkan aku untuk memberimu hadiah ini, agar kau selalu mengingat aku sebagai temanmu.” Adrian memegang ke dua bahu Kaya dan menatapnya dengan tatapan tulus.
“Kau benar Adrian, maafkan aku selama ini mengecewakanmu.” Lirih Kaya.
“Tak apa Kay,” senyum Adrian.
“Makasih Adrian,” senyum Kaya dan Adrian mengusap rambut Kaya karena gemas melihat wajahnya.
“Sama-sama Kay.”
“Adrian kenapa kau mengasih ku kalung berbentuk keong mas?” tanya Kaya melihat bentuk kalungnya sambil melanjutkan jalan santai bersama.
“Entahlah.., mungkin karena kau mirip keong mas.”
“Jadi maksudmu aku lambat?” sewot Kaya.
Adrian yang mendengarnya terkekeh. “Bukan, kau itu indah seperti keong mas tapi dalam hatinya rapuh.”
“Hah? Maksudnya?” Kaya berhenti berjalan mencerna semua ucapan Adrian, tapi tidak juga mengerti.
“Yasudahlah, nanti kau akan mengerti.” Ucap Adrian. “Sebaiknya kita pulang, soalnya ini sudah mau tengah malam?!” ajak Adrian.
“Baiklah,” jawab Kaya.
~ Bersambung ~