
Kaya berjalan memasuki ruangan dengan melirik kesana-kemari, ia malu bertemu Adrian, sambil menutupi mukanya dengan tas agar tak terlihat oleh Adrian.
“Pagi bu,” sapa karyawan di sana.
“Pagi,” Kaya tersenyum dengan muka yang masih ditutupin tas.
“Aneh banget bu Kaya hari ini? Kenapa mukanya ditutupin tas?” gumam karyawan di sana.
“Iya yah?” sahut karyawan lain.
“Mungkin dia takut kecantikannya menyinari ruangan ini kali.” Canda karyawan tersebut dan mereka pun tertawa.
****
Kaya berhenti di depan ruangan Adrian, menuruni tas dari wajahnya. Matanya melirik ruangan tersebut dan lampu masih mati, membuat dirinya berpikir Adrian belum datang.
“Syukurlah dia belum datang, jadi aku enggak ketemu dia. Nanti aku juga enggak usah keluar ruangan deh!” usulnya tersenyum senang.
“Ehem,” Adrian berdehem dan berdiri di samping Kaya.
“Kayak ada suaranya?” monolog Kaya tak menyadari Adrian yang sudah berdiri di sampingnya.
Adrian mencolek bahu Kaya sambil berdehem sekali lagi dengan lantang. Kaya langsung menoleh ke samping dengan ekspresi cukup terkejut. Namun, berusaha menahan agar tidak terlihat malu di depan Adrian.
“Ngapain kamu di depan ruangan saya?” tanya Adrian.
“Hem, saya mau cek aja. Bapak udah datang apa belum?” nyengirnya.
“Ohh,” gumam Adrian langsung masuk ke ruangan meninggalkan Kaya yang masih terdiam berdiri.
Oh doang?
“Jangan-jangan dia lupa kejadian jumat malam kali yah?” gumamnya.
“Hayo, ngapain kamu berdiri di sini?”tanya Nusa mengagetkan Kaya.
“Nusa kamu selalu aja ngagetin tau!” sewot Kaya memukul lengan Nusa pelan.
“Maaf Kay,” nyengir Nusa.
“Lagian, kamu ngapain di sini?” tanya Nusa.
“Enggak ngapa-ngapain. Udah ah, aku mau ke ruanganku dulu! Bye!” Kaya berjalan menuju ruangannya.
“Kamu udah enggak mabuk lagi kan Kay?” tanya Nusa keceplosan dan Kaya langsung berbalik arah menutup mulut Nusa.
“Nusa!” Kaya melotot dan menarik Nusa ke ruangannya.
“Kay sesak tau!” desis Nusa melepaskan tangan Kaya di mulutnya.
“Lagian, udah tau banyak karyawan di sini? Kalau pada denger gimana?” dumel Kaya menatap Nusa tajam.
“Hehe, aku keceplosan Kay.” nyengir Nusa.
“Yaudah duduk gih! Ada yang mau aku tanya sama kamu Nus?”
“Kamu mau nanya apa Kay?” Nusa duduk di depan meja Kaya.
“Waktu hari sabtu siapa aja yang liat aku mabuk?” tanya Kaya yang duduk juga.
“Aku sama Adrian. Emang kenapa?”
“Oh baguslah,” Kaya menghela napas.
“Aku takut semuanya tau. Mau ditaruh mana nih muka dan image aku Nus?” tunjuk Kaya ke wajahnya sendiri.
Nusa tertawa terbahak-bahak. “Terus kalo sama aku, kamu enggak malu Kay?” tanya Nusa.
“Kagak. Kamu kan yang bikin aku mabuk waktu itu!” ketus Kaya.
“Kok aku sih Kay? Kamu yang salah minum juga?!” tunjuk Nusa.
“Iya sih, tapi kan, kamu yang mesan minuman itu Nus. Udah itu aku malu banget lagi sama bos kamu!”
“Kok malu? Berarti kamu ingat apa yang terjadi saat kamu mabuk Kay?”
“Iyah aku ingat semuanya.”
“Baguslah kalo inget semua,” nyengir Nusa. “Udah lupain aja. Lagi pula Adrian sudah melupakan kejadian itu kok.”
“Serius?” Kaya langsung semangat.
“Iya serius,” jawab Nusa.
“Baguslah,” ucap Kaya dengan lega.
“Makanya kamu sekali lagi tanya dulu sebelum minum! Masa kamu enggak bisa bedaiin sih!” omel Nusa.
“Yah kan, aku kehausan Nus. Jadi lansung aku minum tanpa nanya dulu. Abis lampunya juga gelap, jadi aku enggak bisa bedaiin deh yang mana minuman soda dan yang mana minuman kamu.”
“Yaudah, yang menting kamu kan, udah enggak mabuk lagi sekarang.”
“Yah enggaklah, masa aku mabuk melulu.” Ketus Kaya membuat Nusa terkekeh.
“Aku bercanda Kay,” ucap Nusa.
“Iya aku tau. Tapi awas Nus, kalau kamu keceplosan lagi! Aku jahit tuh mulut!” ancam Kaya menunjuk mulut Nusa dengan jari telunjuk kanannya.
“Iya.”
“Kay kenapa saat mabuk enggak nyebut nama aku sih?” tanya Nusa.
“Yaelah namanya juga mabuk. Mana aku tau siapa yang harus aku sebut Nus.” Jawab Kaya sambil memulai mengetik.
“Iya tapi kenapa Adrian Kay?” tanyanya tak terima.
Kaya berhenti mengetik dan menatap Nusa. “Lah mana aku tau Nusa? Kalo aku tau, aku akan bakal sebut nama kamu GANTENG?” ketus Kaya hampir mau melotot.
Nusa tertawa melihat ekspresi kesal Kaya. “Enggak usah sampai ngotot begitu dong matanya Kay!”
“Lagian nanya melulu? Aku juga enggak mau sebut nama dia Nus! Soalnya mau ditaruh mana nih muka aku!” desis Kaya dengan ekspresi sedih.
“Yah, di muka kamulah Kay? Masa muka Adrian?” canda Nusa.
“Iya itu juga aku tau kali Nusa,” kesal Kaya yang menanggapi jawaban Nusa yang tak berfaedah.
“Udah kamu balik Nus ke alam! Aku mau kerja nih!” usir Kaya.
“Entar dulu Kay! Ada yang mau aku ceritain ke kamu.” Ucap Nusa.
“Apa Nus?” Kaya penasaran.
“Kamu kan muntahin baju Adrian tuh kemarin pas mabuk Kay?!”
“Iya, terus.”
“Serius Nus?”
“Serius! Udah itu, si Adrian malah buka jendela mobilnya lagi. Katanya masih kecium bau muntahanmu Kay.”
“Ohh gitu, aku jadi ngerasa bersalah dong Nusa.”
“Enggak papa Kay.”
“Terus abis itu Nus?” tanya Kaya penasaran.
“Terus yang parahnya lagi Kay. Pas, di lampu merah ada cewek pakai mobil sport yang enggak ada atapnya.”
Flash back....
Adrian memberhentikan mobilnya karena lampu merah. Ia membuka kaca mobil dari rumah Kaya karena bau muntahan Kaya masih tercium di mobil. Dirinya tak peduli masuk angin atau tidak yang penting baunya hilang di mobil.
Sebuah mobil dengan atap ke buka berjejer di samping mobil Adrian. Mobil tersebut dikendarai oleh seorang wanita sexy dengan temannya yang sexy juga.
Dua wanita tersebut menoleh ke samping dan melihat Adrian hanya memakai kaus kutang, menampilkan bentuk body Adrian yang sexy. Jiwa wanita tersebut tergoda, apalagi wajah Adrian yang tampan.
“Qyu.., Qyu...,” siul wanita tersebut.
“Mas, bajunya ke mana? Kok, pakai kaus kutang doang? Saya beliin mau enggak?” tanya wanita yang memegang stir.
“Mas, saya aja yang beliin mau nggak? Tapi temanin saya yah semalaman?” goda sampingnya.
Nusa hanya bisa menahan tawa mendengarnya. Dirinya ingin sekali julid dan mengompori dua wanita tersebut agar terus menggoda Adrian, namun lirikan Adrian membuat Nusa seketika tak berani berkomentar.
Adrian hanya diam dan tak ingin menanggapi dua wanita yang kurang belaian tersebut.
“Mas, kok diam aja sih? Eh, yang sebelahnya juga ganteng? Hai ganteng? Kalau dia enggak mau, sama kamu juga enggak papa?” godanya.
Nusa terkekeh mendengarnya dan melambaikan tangan sambil tersenyum, tapi Adrian langsung menutup kaca jendela mobilnya. Lirikan mata Adrian langsung sinis ke Nusa.
Nusa langsung terdiam membeku, bahaya jika Adrian kesal. Bisa-bisa dia di turunkan di jembatan.
Lampu berganti hijau, Adrian langsung melajukan mobilnya kencang, seperti menghindari dua wanita tadi.
Flash back berakhir....
Kaya tertawa terbahak-bahak mendengarnya, andai Kaya di sana pasti dia puas melihat ekspresi Adrian yang datar.
“Lucu kan Kay?” tanya Nusa yang diangguki Kaya.
“Udah ah Nus, capek ketawa melulu!” ucapnya berhenti tertawa. “Tapi kamu murahan yah Nus! Digenitin cewek mau aja, buktinya langsung melambai!”
“Yaelah Kay, aku itu murah hati, murah senyum, dan murah berbaur, bukan berarti murahan dalam arti cowok murahan.” Jelasnya.
“Iya, ya, ya,” Kaya memutar bola matanya malas.
“Tapi hanya sama kamu aja aku bisa murahan kok!” gombalnya tersenyum genit.
“Dasar! Iya sangking murahnya aku bingung mau jual kamu ke mana?” tawa Kaya bercanda.
“Kay, jangan sampai aku mengeluarkan jurus murahan ke kamu!” ancam Nusa dengan tangan memperagakan ciuman.
“Ampun! Ampun deh Nus!” Kaya langsung ngeri melihatnya meski bercanda.
“Tapi, aku merasa enggak enak sama Adrian Nus. Karena aku, dia jadi kena musibah digodain cewek pula.”
“Yaelah enggak papa Kay, malah jadi punya cerita lucu. Sekali-kali melihat dia menderita.” Tawa Nusa.
“Dasar, udah sana balik Nus! Aku mau kerja nih! Kerjanya julid melulu!” usir Kaya.
“Yaelah Kay, segitunya kamu belain Adrian sampai ngusir aku!” Nusa berdiri dari duduknya. “Yaudahlah, yang penting kamu udah enggak mabuk lagi!” lanjutnya langsung berlari keluar ruangan Kaya.
“Nusaa!” teriak Kaya.
*****
Di ruangan Adrian.
“Ada apa yah pak?” tanyanya masih berdiri di depan meja Adrian, karena dirinya tadi di panggil menghadap ke sini.
“Duduk dulu!”
“Baik pak, makasih.”
“Kamu gimana sudah baikan?” tanya Adrian lembut.
“Sudah pak. Maaf yah pak. Waktu itu, saya bertindak tidak sopan ke bapak.” Ucap Kaya merasa bersalah.
“Tidak usah minta maaf. Ini salah Nusa kok, bukan salah kamu.”
“Iya. Tapi, saya kemarin tidak enak muntahin kemeja bapak.”
“Oh kamu inget semuanya?” tanya Adrian.
“Inget pak,” jawab Kaya.
“Enggak papa Kay, itu hal kecil.” Ucap Adrian sambil mengetik.
Tumben dia baik, batin Kaya.
“Saya tadi mau bilang apa yah?” Adrian yang lupa mau bicara apa.
“Oh iya, saya mau kamu email saya laporan keuangan bulan ini yah! Sama saya mau tanya kamu sudah sampai mana ngerjain sales?”
“Oh sudah selesai kok pak. Nanti, saya email dua-duanya ke bapak.”
“Baiklah. Yang kemarin sudah kamu lupakan saja!” senyum Adrian.
“Iya pak, terimakasih.” Senyum Kaya.
“Lagian Nusa yang salah dalam hal ini. Makanya Kay, sekali lagi sebelum kamu minum, kamu tanya dulu yah?”
“Iya pak,” senyum Kaya.
“Yasudah. Kamu kembali bekerja yah!” Senyum Adrian.
“Baik pak. Terimakasih yah pak sekali lagi,” ucap Kaya.
Tumben Adiran sikapnya enggak cuek, terus senyum melulu lagi? Kaya berjalan keluar ruangan Adrian.
Kaya yang kembali ke ruangannya bertanya-tanya dengan sikap Adrian yang baik dan hangat.
“Kok dia berubah yah? Perasaan aku kok dia merasa lebih rileks dan tenang di banding kemarin. Sikapnya yang sekarang lebih hangat, tenang dan suka tersenyum. Apa jangan-jangan dia sudah punya pacar lagi makanya kayak gitu?” gumam Kaya sambil duduk.
“Kalo itu benar? Ohhh God tidak boleh! Aku yang harus jadi pacarnya?”
~ Bersambung ~