My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 86 ~ Maafkan Aku



~ Happy Reading ~


          “Nusa sayang, bukankah ini yang kamu inginkan dariku?!” Kaya tersenyum menggoda dan hampir mendekati wajah Nusa.


          “Kaya kamu jangan gila! Cepat pakai bajumu!”


          Kaya sudah berada di atas tubuh Nusa dengan merangkak dan mencoba membuka semua kancing kemeja Nusa.


          “Kenapa kau seperti tidak menyukainya sayang!” senyum Kaya menyeringai.


          “Hentikan Kaya!” bentak Nusa memegang tangan Kaya yang sudah membuka semua kancing kemejanya. Kaya melepaskan tangan Nusa dengan kasar.


          Dirinya tersenyum menyeringi sambil duduk di atas perut Nusa. Ia perlahan ingin membuka tanktopnya dengan senyum. Namun dengan sigap Nusa langsung mengambil selimut di sampingnya dan membalutkan tubuh Kaya dengan selimut, sehingga Kaya tidak jadi membuka tanktopnya.


          Nusa menarik Kaya yang duduk agak sedikit membungkuk kehadapan wajahnya, dengan kedua tangan masih memegang selimut yang menutupi tubuh Kaya sampai leher.


          Seketika Kaya kagum melihat tindakan Nusa, bagaimana tidak, lelaki mana yang  tidak mau ketika wanita sudah memberinya jalan. Tapi Nusa tidak dan malah membalutkannya dengan selimut, agar tidak terjadi yang dia inginkan.


          Wajah Kaya tepat berada di atas wajah Nusa. Kedua mata mereka saling mengunci dan mereka terdiam sama sekali. Kedua tangan Kaya menumpu pada samping tubuh Nusa, agar tidak jatuh ke dalam dada Nusa yang bidang.


          Mereka terkesiap memandang satu sama lain, sekarang ada perasaan cinta di kedua mata mereka. Pandangan yang tak sama sekali lepas dan hanya terdiam dalam posisi tersebut.


          Namun tangan Kaya yang sakit tidak kuat lagi, karena terus mengeluarkan darah melalui perban. Tapi Nusa tidak menyadarinya. Kaya yang masih lemah, merasa kehilangan cairan karena sama sekali tidak minum di rumahnya. Sedangkan lukanya terus mengeluarkan darah, sehingga perban tersebut penuh dengan noda darah.


          Muka yang pucat pasi tampak jelas di wajahnya. Tapi Kaya membiarkannya dan terus memandang Nusa. Lalu tiba-tiba Kaya menutup matanya dan ambruk tepat di dada Nusa yang bidang.


          Nusa langsung terkejut melihat Kaya pingsan. Kedua tangan yang tadinya memegang selimut beralih memegang kepala Kaya. Dia mencoba menepuk pipi Kaya dengan pelan.


          “Kay,” panggilnya.


          Dengan panik Nusa memeriksa kening Kaya yang hangat dan mengeluarkan keringat. Nusa merasa Kaya memang belum sembuh total tadi, namun karena amarah, Nusa tampak tak jelas memperhatikannya.


          Tubuh Kaya dibalik dengan kedua tangannya, agar tidur berbaring lurus di tempat tidur. Lalu dia menyelimuti tubuh Kaya dengan selimut. Nusa duduk di samping Kaya dengan membenarkan rambutnya yang acak adul dan memperlihatkan wajahnya yang pucat.


          Dengan sigap Nusa turun dari tempat tidur menuju dapur. Tangannya mengotak-atik mencari baskom di rak piring, lalu di dapatkannya. Di isinya air panas di baskom tersebut dan  mengambil kain handuk kecil di dapur untuk menjadi kompresan buat Kaya.


          Nusa kembali lagi duduk di samping Kaya tepat dekat dengan kepalanya. Ditaruhnya baskom tersebut di tempat tidur. Lalu dia mengompres kain yang dimasukkan ke air panas. Tangannya begitu kuat memeras kain tersebut dan menahan air panas. Lalu menempelkan kain tersebut di kening Kaya.


          Nusa menunggu kain tersebut dingin dan diperasnya lagi, hingga berulang terus menerus. Sampai akhirnya air tersebut sudah tidak panas lagi.


          Nusa melihat Kaya yang berkeringat memeras kain tersebut dan  mengelap wajah, lalu leher Kaya. Nusa mengambil tangan kiri Kaya yang berada di dalam selimut untuk dielapnya. Dia mengelap Kaya dengan lembut sekali.


          Setelah selesai tangan kiri, kini tangan kanan diambilnya dibalik selimut dan dia kaget melihat perbannya yang penuh dengan darah. Dengan sangat khawatir Nusa memandangi tangan Kaya tersebut.


          Tanpa berpikir panjang lagi Nusa melangkah menuju dapur untuk menaruh baskom. Lalu dari dapur menuju kamar atas untuk mencari perban di kotak P3K yang ia simpan.


          Dulu Kaya menanyakan perban untuk membaluti tangan Nusa waktu itu, namun karena Nusa waktu itu emosi. Dia tidak memberitahukannya.


          Dengan cepat dia turun ke bawah dan kembali duduk di samping Kaya. Perlahan-lahan dia membuka perbannya yang sudah penuh dengan darah tersebut agar Kaya tidak merasa kesakitan.


          Ketika perbannya dibuka semua. Dia terkejut dengan luka Kaya.  Matanya berbinar memandang wajah gadis yang tengah tidur. Rasanya Nusa ingin sekali memaki dirinya dan merasa bersalah. Bagaimana tidak lukanya sangat parah sekali. Punggung tangan Kaya kulitnya terkelupas, sehingga memperlihatkan daging putih dengan memar merah di sekelilingnya.


          Maafkan aku Kaya!


          Hatinya kini sakit melihat keadaan Kaya. Dengan pelan Nusa meletakkan tangan Kaya di atas perut Kaya. Nusa mencari olesan luka di kotak P3K yang di taruhnya di tempat tidur. Dia pun menemukannya.


          Nusa kembali mengambil tangan Kaya dan mengolesnya dengan lembut, sambil meniupnya agar tidak terlalu perih. Lalu setelah olesannya mengering, diambilnya sebuah plester untuk menutupi luka tersebut dan dia membalutkannya dengan perban agar tidak terkena hinggapan dari lalat.


          Setelah itu Nusa kembali menaruh tangan Kaya tepat diatas perutnya. Dia kembali mengecek kening Kaya dan ternyata panasnya sudah turun. Kini nafasnya lega dan tenang, sambil menyenderkan kepalanya ke sandaran


tempat tidur.


          Jam pun berlalu dengan cepat. Jarum jam menunjukkan pukul 11 malam. Nusa merasa lelah dan mengantuk. Dia memindahkan kotak P3K tersebut ke meja lampu yang di samping tempat tidurnya.


          Nusa sedikit menggeser tubuh Kaya agak ke samping, agar dirinya dapat tidur di samping gadis tersebut. Nusa tidur menyamping menghadapnya yang tidur lurus ke depan. Dia mengambil tangan Kaya yang di perban olehnya, lalu mengecupnya.


          “Maafkan aku.”


          Nusa mengangkat kepala Kaya sedikit, agar tangannya menjadi bantalan untuk kepala Kaya. Dari dekat dia bisa memandang Kaya. Tangan kirinya mengelus tangan Kaya yang di perban.


          Nusa kini terbawa perasaan kepada Kaya. Hatinya memandang gadis tersebut dengan penuh khawatir dan rasa cinta. Kini tangan kirinya beralih membelai wajah manis gadis tersebut. Hatinya merasa senang saat membelai gadis tersebut.


          Untuk hari ini saja aku akan melupakan perasaan benciku. Andai engkau bukan anak Erlangga Kaya. Mungkin aku akan memanjakan dirimu dengan sepenuh hatiku sekarang. Aku akan memberikanmu kehangatan cinta. Aku ingin sekali merasakan hangatnya tubuhmu. Aku ingin kita menjalin kisah cinta layaknya sepasang kekasih.


          Tapi entah mengapa ketika melihat wajahmu yang mirip sekali dengannya. Perasaan benciku muncul seketika dan menyakiti dirimu. Rasanya aku ingin menghilangkan perasaan ini, namun pikiranku menghungkum diriku!


          Nusa terus membelai wajah Kaya dengan lembut. Dia sedikit mengangkat kepalanya dan mendekati wajah Kaya. Perasaannya memang tidak bisa di bohongi. Dirinya sangat menyukai gadis tersebut. Nusa memberikan  kecupan di kening Kaya dan tersenyum melihat wajah gadis tersebut.


          “Selamat malam My girl,” gumam Nusa dan kepalanya kembali menempel pada tempat tidur yang empuk.


          Tangannya yang membelai pipi Kaya, kini beralih memeluk pinggang Kaya. Dalam hitungan menit, perlahan matanya tertutup dan bayangan melihat Kaya menghilang. Mereka pun tertidur terlelap dalam alunan malam yang indah dan hening.


~ Bersambung ~