My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 48 ~ Kaya Menampar Nusa



~ Happy Reading ~


          Nusa yang menyetir memperhatikan Kaya


yang sedari tadi terdiam. Ia merasa semenjak kejadian Adrian yang mengungkapkan


kekesalannya padanya, Kaya menjadi sangat pendiam.


          “Kay, kok kamu diam aja dari tadi?” tanya Nusa.


          “Aku lagi enggak mood aja Nus,” jawabnya.


          “Kenapa? Karena perkataan Adrian tadi yah?” tanya Nusa.


          “Bukan,” elak Kaya.


          Sebenarnya iya Nus. Aku merasa bersalah. Seharusnya aku tidak mempermainkan dia, karena yang salah adalah Wijaya Tama bukan dirinya. Batin Kaya.


          “Kalau bukan karena Adrian, terus karena apa?”


          “Karena aku enggak mood aja,” kelak Kaya dengan senyum.


          Heh, kamu bohong Kaya?! Pasti kamu merasa bersalah,batin Nusa tersenyum sinis memandang ke depan.


          “Oh iya Nus, kamu kok enggak pernah bilang kalau punya perusahaan?” tanya Kaya menoleh Nusa.


          “Aku itu memang enggak punya perusahaan, yang punya perusahaan itu papaku Kay.”


          “Sama aja Nusa, itu juga perusahaan kamu! Kamu kan anaknya, gimana sih?” desis Kaya.


          “Iya perusahaan aku deh,” nyengir Nusa.


          “Terus papa kamu kenapa sakit? Terus aku udah lama menanyakan ini. Kenapa kamu enggak tinggal sama papa kamu Nus? Aku pengen nanya itu, tapi enggak enak sama kamu, Nus.”


          “Papaku sakit karena ditipu sama orang. Kepercayaan papaku menipu papa dan meminta tanda tangan untuk dokumen yang


palsu.” Jawab Nusa.


          Kok sama dengan yang aku lakukan sekarang yah, batin Kaya mengerutkan dahinya.


          “Kasihan banget papa kamu Nus. Papaku juga pernah merasakan seperti itu Nus.”


          “Maksudnya Kay?” tanya Nusa.


          “Iya, papaku pernah ditipu rekan bisnisnya sendiri.”


          “Ohhh...,” gumam Nusa tersenyum.


          “Terus Nus, papa kamu gimana keadaannya sekarang? Udah sehat?” tanya Kaya.


          “Udah, tapi aku belum jenguk lagi.” Jawab Nusa.


          “Kenapa?”


          “Karena aku banyak urusan.”


          “Ohhh...,” gumam Kaya. “Terus kamu kenapa enggak tinggal sama papa kamu Nus?”


          “Aku waktu itu ada konflik dengannya. Jadi aku berpikir untuk pergi dari rumah itu.”


          “Ohh...,” gumam Kaya tersenyum dan tidak menanyakan lagi karena tidak enak kepada Nusa.


          “Ohhh, iya Kaya. Kamu kenapa ingin jadi CEO di perusahaan Tama?” tanya Nusa.


          “Karena itu tujuanku Nus dari dulu,” jawabnya.


          “Jika aku punya perusahaan, apa kamu mau jadi CEO di perusahaan aku Kay?” tanya Nusa tersenyum.


          “Hahaha, kamu kok nanyanya gitu sih?! Yah mana mungkinlah, aku mau jadi CEO di perusahaan kamu. Kan, udah ada kamu Nus. Buat apa juga aku menjadi CEO di perusahaan kamu.”


          “Kan, aku meminta kamu Kay?” Nusa tersenyum.


          “Tetap aja aku enggak mau Nus. Aku ingin jadi CEO di perusahaan ini karena ada tujuan aku Nus.” Lirihnya.


          Kamu enggak mau tapi sudah merebutnya tanpa ku minta Kay, batin Nusa.


Di rumah Kaya.


          Mereka sampai di depan rumah Kaya.


Nusa memberhentikan mobilnya di depan rumah Kaya, ia hanya terdiam sambil memandang ke depan.


          “Nus, aku pulang yah!” senyum Kaya.


          Nusa hanya tersenyum mengangguk. Kaya yang hendak ingin membuka pintu tidak jadi, karen dipanggil oleh Nusa.


          “Kay?” Panggil Nusa tanpa menoleh Kaya dengan memegang stir mobil.


          “Kalau aku punya perusahaan, apakah kamu mau berhenti di perusahaan itu dan kamu bekerja di perusahaanku?” tawar Nusa.


          “Kenapa kamu bicara seperti itu lagi Nus?” Kaya heran dengan Nusa dari


tadi dia selalu membahas ini.


          “Jika aku punya segalanya, apakah kamu mau meninggalkan tujuan kamu itu?” tanya Nusa tidak memandang Kaya sama sekali.


          “Maksud kamu apa sih Nusa?” tanya Kaya dengan mengerutkan dahinya.


          Nusa mengunci mobilnya dan menoleh ke arah Kaya. “Heh,” Nusa tersenyum sinis. “Kamu enggak usah berpura-pura? Aku udah tahu semuanya. Kamu hanya mengincar kekuasaan dan harta aja kan Kay?”


          “Nusa kayaknya kamu udah mulai mabuk?! Sebaiknya kamu pulang! Aku pulang dulu yah!” Kaya mencoba membuka pintu mobil tapi tidak bisa karena di kunci.


          “Nus, buka Nus!” Kaya menoleh kembali  ke arah Nusa.


          Nusa tersenyum dengan sinis menatap Kaya. “Aku akan berikan kamu mobil  Kay, rumah, dan perusahaan yang lain.”


          “Nusa, kamu apaan sih mulai enggak jelas?!” desis Kaya dengan menatap Nusa tajam.


          Nusa langsung memajukan dirinya ke wajah Kaya dan mereka saling menatap. “Kay,


kenapa kamu harus memilih perusahaan itu?” tanya Nusa.


          “Kamu lebih baik keluar dari perusahaan itu selagi bisa! Karena aku enggak tahu apa yang akan terjadi dengan kamu nantinya?!” Nusa menatap Kaya dengan tajam.


          “Nusa, kamu minggir dari hadapanku! Kamu udah mabuk kayaknya.” Sinis Kaya.


          “Aku mabuk? Ha…, ha….,ha. Aku enggak akan pernah mabuk Kaya.” Tawa Nusa dengan sinis.


          “Kayaknya kamu udah gila Nusa?!” sinis Kaya dengan jari telunjuk dijidatnya.


          “Aku gila? Iya aku gila karena kamu Kay.” Nusa duduk tegap kembali sambil tertawa sinis.


          Ada apa dengan Nusa? apakah maksud dia sebenarnya? tanya Kaya dalam hati.


          Nusa mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Kaya. Mereka saling memandang. Nusa memegang bahu Kaya dengan kedua tangannya dan memundurkan Kaya mentok ke pintu mobil.


          “Nus, kamu mau ngapain?” tanya Kaya mencoba mendorong bahu Nusa, namun tak


bisa karena Nusa terlalu kuat menahan tubuhnya.


          “Kenapa kamu menjadi CEO di perusahaan itu?” Nusa mencoba


mencium Kaya, tapi Kaya terus menolak.


          “Nusa lepasin!” teriak Kaya dengan kesal dan terus mencoba mendorong Nusa.


          “Kenapa Kaya? Aku akan beri yang kamu mau dari harta, jika kamu melepasnya.” Nusa terus bertanya dan mencoba mencium Kaya.


          Kaya terus menolak dicium dengan menyingkirkan wajahnya menoleh ke kiri


dan ke kanan.  “Nusa, hentikan!” bentak Kaya.


          Nusa mengabaikan perkataan Kaya dan terus mencari celah untuk mencium Kaya. Tapi Kaya terus menolak dan berusaha mendorong Nusa.


          Nusa terus mencoba mencari celah untuk mencium Kaya dengan paksa, sambil menekan bahu Kaya. Hingga akhirnya, Kaya tidak suka dengan perlakuan Nusa. Ia mendorong Nusa dengan sekuat tenaga. Lalu menampar pipinya dengan keras.


PLAK!


          Nusa langsung memegang pipinya yang merah akibat tamparan  Kaya. Tapi ia masih tersenyum sinis sehingga membuat Kaya heran.


           “Heh,” Nusa tersenyum sinis dan mengelus pipinya.


          “Nusa, aku minta maaf. Aku reflek Nus,” ucap Kaya merasa bersalah.


          “Kamu menampar aku Kaya?”tanyanya berpura-pura sendu.


          “Aku enggak sengaja Nusa,” lirih Kaya.


          “Benar-benar hebat tamparan kamu ini?!” tawa Nusa membuat Kaya bingung dan kesal.


          “Kamu kenapa sih Nusa?” desis Kaya. “Buka kuncinya!”


          Nusa membuka kuncinya dan membiarkan Kaya keluar dari mobil. Lalu Nusa juga ikut keluar dari mobil.


          “Kaya?” seru Nusa yang berdiri di samping pintu mobil. Kaya menoleh ke arah belakang, tepat di mana Nusa memanggilnya.


          “Jangan harap ini berlalu Nyonya Dirgantara! Kita akan bertemu lagi nanti. Kamu lihat saja, apa yang akan aku lakukan kepada kamu!” teriak Nusa tersenyum menyeringai.


          Kaya yang mendengarnya membeku di tempat. Ia merasakan kebingungan terhadap ucapan Nusa. Dalam pikirannya, mengapa Nusa bisa tahu nama belakang keluarganya, sedangkan selama ini dia tidak pernah memberitahu kepada siapapun. Sementara Nusa sudah pergi dengan mobilnya.


~ Bersambung ~