My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 53 ~ Rival



~ Happy Reading ~


          Kaya mengangkat alisnya satu dengan tersenyum sinis. “Kenapa emangnya kalau pak Boni setia sama diriku?” tanya Kaya. “Emang semua orang bisa dibeli dengan uang. Dia setia karena aku dulu membantunya.”


          Nusa tertawa remeh mendengar perkataan Kaya. “Membantu? Mana mungkin aku percaya bahwa kamu membantu Boni Kay. Sedangkan kamu saja seorang penipu!” ketus Nusa menatap Kaya tajam, sambil memegang kedua bahu Kaya dengan erat agar tidak lari.


          “Percaya atau pun tidak percaya itu bukan urusanku. Lepasin aku sekarang Nusa atau aku akan berteriak!” ucapnya dengan nada tinggi.


          “Silahkan saja! Tidak ada yang akan datang ke sini.” Ucapnya dingin.


          “Lepasin aku Nusa!” bentak Kaya.


          Nusa melepaskan kedua tangannya dari bahu Kaya. “Kaya, Kaya, Kaya. Semakin lama aku mengenal kamu. Semakin aku  tahu sifat kamu yang sebanarnya. Kamu itu diluar aja cantik dan ramah. Tapi di dalam hati dan pikiran licik.” Tunjuk Nusa sambil berdecih.


          “Aku akan buat kamu menyesal melakukan ini!” ancam Nusa.


           “Sebaiknya kamu harus berhati-hati dari sekarang, karena aku akan terus memperhatikan kamu nyonya Dirgantara!” bisik Nusa tersenyum sinis, lalu meninggalkan Kaya sendirian terdiam.


          Kaya langsung tersungkur ke lantai, karena tidak tahan mendengar ancaman Nusa. Ia merasa sesak sekali dengan meneteskan air matanya. Orang yang dicintainya akan menjadi musuhnya sendiri.


          Kenapa aku harus mencintai musuhku sendiri, lirihnya dalam hati.


***


Ke esokan harinya....


          Pagi hari ini Kaya dan Nusa beserta semua Direksi dan manager melakukan rapat di ruang meeting yang kecil. Mereka membahas tentang penambahan penjualan dan pemasaran dalam perusahaan. Kaya dan Nusa selalu memberikan idenya kepada mereka semua. Ada yang setuju dengan ide Kaya dan ada juga yang setuju dengan ide Nusa.


          Kaya dan Nusa seperti rival dalam perusahaan ini. Mereka saling bersaing memberikan pendapat dan ide untuk perusahaan ini. Sementara beberapa lainnya bingung dengan sikap mereka. Seolah-olah mereka sendiri tak mau disaingin dalam hal apapun dan selalu saling melempar pendapat.


          Melihat mereka selalu bersaing akan pendapat mereka. Pak Danil pun memutuskan agar mereka bekerja sama dalam mencari solusi penjualan dan pemasaran yang akan ditambahkan pada beberapa cabang. Mereka awalnya menolak, tapi mau tidak mau mereka harus setuju.


          Semuanya pun mengangguk setuju dengan keputusan pak Danil, karena ini salah satu cara agar semuanya berjalan dengan baik tanpa melibatkan permusuhan pribadi.


~


          Danil adalah seorang Direksi yang di percaya Wijaya Tama. Danil sangat sibuk sekali mengurusi banyak pekerjaan. Makanya ayah Nusa memberikan kepercayaan juga kepada Boni yaitu sebagai asisten pribadinya waktu itu.


          Tapi karena Danil sudah tahu Boni menipu Wijaya. Danil ingin mengusirnya, namun apa daya Danil. Boni sudah mendapatkan kekuasaan di perusahaan ini sebagai asisten pribadi Kaya yang mempunyai setengah saham di perusahaan ini.


~


          Meeting pun selesai. Semua yang ada di sana keluar dari ruangan tersebut, kecuali Kaya dan Nusa. Mereka masih saling menatap dengan sinis dan duduk berhadapan. Kaya masih kesal dengan Nusa karena tak mau mengalah akan pendapatnya, begitu pun Nusa ia juga tak mau kalah dari Kaya. Karena sudah bosan menatap Nusa, Kaya memutuskan kontak matanya dan beranjak dari kursi.


          “Mau ke mana CEO cantik?” tanya Nusa dengan nada ejekan.


          Kaya berbalik menoleh ke arah Nusa yang duduk di hadapannya tadi. “Bukan urusan mu!” ketus Kaya.


          “Emang bukan urusan aku sih CEO cantik.” Senyum Nusa berdiri dari kursi dengan gayanya yang cool.


          “Tapi ibu CEO yang cantik. Bukankah anda mendengarnya, kita harus bekerja sama dalam memberikan pendapat?!”


          Dia ada benarnya juga. Aku harus tahan menghadapinya, batin Kaya.


          Kaya tersenyum sinis. “Oh iya, aku lupa pak Nusa yang terhormat.”


          “Heh, buat apa aku menghindar dari kamu.” Sinis Kaya.


          “Oke kalau begitu. Kamu harus ke ruangan saya sekarang!” perintah Nusa dengan cool.


          “Kenapa saya harus ke sana. Anda saja yang ke ruangan saya.” Tolak Kaya memutar bola matanya malas.


          “Bukankah kau tidak ada ruangan?” tanya Nusa dengan nada ejekan.


          Iya juga. Aku belum ada ruangan, sadar Kaya dalam hati.


          “Aku akan memintanya dari pak Danil,” jawab Kaya.


          “Heh, semua ruangan sudah penuh nyonya Kaya.”


          “Aku akan menyuruhnya membuat ruangan!” kesalnya.


          “Segampang itukah ibu Kaya yang terhormat?!” dengan tersenyum sinis.


          Sial aku bisa apa jika dia berkata seperti itu. Emang tidak gampang membuat ruangan dalam waktu yang singkat, gerutunya dalam hati.


          “Sementara ibu Kaya calon CEO tidak punya ruangan. Jadi saya berbaik hati untuk menyuruh anda duduk di ruangan saya!” titahnya tersenyum menang.


          Sepertinya dia sengaja, agar dia tahu gerak-gerik ku, batin Kaya.


          “Baiklah pak Nusa yang terhormat, saya setuju denganmu!” ucapnya dengan nada tinggi seperti menantangnya.


          Mischa masuk ke ruangan meeting dan menghampiri Nusa yang sedang berdiri berhadapan dengan Kaya. “Tuan muda, saya sudah mencarikan sekertaris tuan yang cantik dan sexy. Dia sekarang ada di ruangan tuan.” Ucap Mischa.


          “Baiklah saya ke sana!” Nusa berbalik badan dan berjalan. Namun dia berbalik badan lagi melihat Kaya. “Oh iya, ibu Kaya? Apakah anda bisa ikut saya untuk menilai sekertaris tersebut?” tanya Nusa dengan sengaja memanasinya.


          “Baiklah, pak Nusa yang terhormat.” Kaya tersenyum pura-pura.


          Mereka berjalan bersama menuju ruangan Nusa. Setelah sampai di ruangan, Nusa memperlakukan Kaya bagaikan tamunya yang terhormat. Ia membuka pintu untuk Kaya dan memberi jalannya terlebih dahulu.


          “Silahkan CALON CEO CANTIK yang terhormat!” sambil memegang pegangan pintu. Kaya hanya diam saja melihat kelakuan Nusa. Ia tidak ingin tersulut emosi atas omongannya.


          Setelah itu Nusa dan Mischa masuk ke dalam ruangan. Ruangan Nusa cukup besar dan minimalis bahkan muat untuk puluhan orang bahkan.


Ini hanya contoh ruangan Nusa yang terlihat dari bangku Nusa. Karena di samping kiri dan kanan ada meja dan bangku lagi.



          Sekertaris yang diberitahukan oleh Mischa asisten pribadi Nusa sudah duduk di depan meja Nusa. Ia duduk sangat tegap seakan sudah siap diberikan pertanyaan nanti.


           Kaya mengikuti Nusa dan Mischa berjalan menuju meja dan Nusa pun duduk dihadapan sekertaris tersebut. Sedangkan Kaya dan Mischa berdiri di samping meja Nusa.


          “Hai, perkenalkan saya Nusa.” Nusa menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.


          “Saya, Mila pak.” Jawabnya dan membalas jabat tangan Nusa.


          “Ini adalah ibu Kaya calon CEO cantik di sini dan ini adalah asisten pribadi saya. Ibu Kaya ini yang akan menilai kamu!” Nusa menunjuk mereka. Mila hanya tersenyum melihat mereka dan mereka membalasnya dengan senyum juga.


~ Bersambung ~