
~ Happy Reading ~
Kaya sedang minum kopi sambil mengobrol bersama karyawan wanita di tengah-tengah ruangan. Lalu, seorang wanita dengan berpakain baju pink dan rok jeans pendek melewati mereka.
“Kaya?” Panggil wanita itu dengan Kaget sambil melepas kacamata hitamnya.
“Hah? Jessica?” Gumam Kaya dengan bibir dinaikkan ke atas sedikit, sambil memutarkan bola matanya malas melihat Jessica.
“Kamu kerja di sini?” tanya Jessica sambil menunjuk Kaya.
“Iya bu. Ibu Kaya kerja di sini.” Sahut Lena.
“Ohhh…, kamu kerja di sini!” Ucap Jessica dengan tangan dilipatkan ke dalam dada sambil tersenyum sinis.
“Kamu kenal Lena?” bisik Kaya yang kedengaran Jessica.
“Iyalah kenal. Aku kan, tunangannya Adrian.” Sela Jessica sambil menunjuk diri sendiri.
“Oh, tunangan?” ucap Kaya dengan nada tinggi.
“Iya, jadi kamu enggak bisa dekatin dia! Karena aku lebih cantik dari kamu Kay!” Jessica kepedean sambil menunjuk Kaya lalu dirinya.
“Hah? Siapa juga yang mau deketin tunangaan kamu!” sinis Kaya.
Heh, dia belum tahu aja tunangannya gay hahaha.., tawa Kaya dalam hati.
“Udah dulu yah semuanya! Saya mau ke tunangan saya dulu!” Jessica melambaikan tangan sambil tersenyum sinis ke arah Kaya.
Dasar wanita penggoda! Jangan-jangan ini lagi yang dimaksud Lita, tunangannya Adrian. Ayahnya Adrian, kayaknya matanya lagi terbalik kali. Makanya suka sama si wanita penggoda ini! ucap Kaya dalam hati.
“Bu Kaya, kenal sama ibu Jessica?” tanya Lena.
“Kenal dia teman satu SMA saya dulu,” jawab Kaya.
“Ohhh…,” gumam Lena.
“Wahh ibu? Temannya cantik semua yah? Ibu cantik, ibu Jessica juga cantik, apalagi dia seorang model.”
“Dia model?” tanya Kaya.
“Iya bu. Dia model terkenal. Emang ibu enggak tahu?”
“Kagak,” senyum Kaya.
Ngapain juga aku harus tahu dia! Penting amat! batin Kayamelihat gaya Jessica berjalan dengan sok imut dan tersenyum ke semua orang.
~
Jessica Margareta atau yang akrab dipanggil Jessica ini adalah teman SMA Kaya dan Lita. Namun, mereka tidak saling akrab dan sering berantam hanya karena masalah spele.
Bukan hanya itu saja, Lita dan Kaya tidak suka Jessica karena dia selalu berpura-pura lemah agar dapat di perhatikan semua cowok di SMA. Dia sekarang adalah seorang model yang terkenal di Tahun ini dan sering ke Luar Negeri.
~
“Saya mau ambil minum dulu yah!” Ucap Kaya.
“Ohh iya bu,” jawab mereka semua. Kaya berjalan menuju tempat dispenser yang tidak jauh dari mereka.
“Lena, kamu pilih siapa ibu Kaya apa ibu Jessica?” tanya samping Lena. Kaya mendengar perbincangan mereka.
“Aku sih ibu Kaya,” jawab Lena.
“Kalo aku sih ibu Jessica.”
“Yah sama-sama lah, mereka sama-sama cantik soalnya.”
“Iya juga sih,” nyengir samping Lena.
“Kalo menurut kamu? Ibu Kaya cocok sama pak Adrian apa pak Nusa?” tanya samping Lena.
“Aku sih pak Adrian.”
“Kalo aku sih pak Nusa.”
“Kita kenpa jadi main sesi tanya jawab?” tanya Lena heran.
“Oh iya yah,” nyengirnya.
“Yaudah deh, kita tanya aja langsung sama ibu Kaya.”
Kaya menghampiri mereka lagi untuk berbincang. “Bu? Menurut ibu? Ibu pilih siapa pak Nusa atau pak Adrian?” tanya samping Lena.
“Saya tidak bisa memilih,” jawab Kaya
“Kenapa bu?” sahut samping Lena.
“Dua-duanya teman saya, jadi saya tidak bisa memilih.”
“Yahh, ibu. Tapi ibu cocok sih sama dua-duanya!” goda Lena.
“Kalian ini bisa aja,” senyum Kaya
“Ibu kan cantik, jadi bisalah dua-duanya.” Goda samping Lena.
“Hahaha, yah enggak juga lah. Bukan karena cantik juga orang bisa suka sama kita. Kalian ada-ada aja?!” Kaya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Hehe,” nyengir samping Lena.
“Tau kamu Des,” sahutLena.
“Dia itu pacar Adrian udah berapa lama Len?” tanya Kaya penasaran.
“Lamanya sih enggak tau bu. Tapi denger-denger, dia sering ke sini udah dari dua tahun yang lalu.” Jawab Lena.
“Ohhh? Tapi saya baru liat dia datang ke sini?”
“Dia malah sering dulu bu datang. Cuman denger-denger dari orang, dia sering ke Luar Negri untuk pemotretan, makanya udah lama enggak ke sini dan baru hari ini dia ke sini lagi bu.” Jawab Desi.
“Ohhh,” Kaya hanya tersenyum.
“Kenapa? Ibu cemburu yah?” goda Lena.
“Ih.., kamu jangan sembarangan ngomong!”
“Hehe, bercanda bu. Tenang aja bu, ibu masih tetap paling cantik di hati saya.” Canda Lena sambil menyengir.
“Kamu bisa aja,” senyumKaya.
Istirahat pun selesai…
Jessica yang sudah selesai berbicara dengan Adrian di ruangannya keluar dan berjalan menghampiri Kaya yang masih asyik mengobrol dengan Lena dan Desi.
“Hai Kaya. Saya mau pulang dulu yah! Ada urusan soalnya. Nanti, kita akan berbincang lagi mengenang masa lalu kita yang belum terselesaikan.” Jessica tersenyum sinis dan menatap Kaya dengan penuh ketidak
sukaan.
“Iya ibu Jessica Tunangan Adrian.” Kaya dengan nada tinggi sambil tersenyum sinis.
Gihh! Sono pulang! usir Kaya dalam hati.
“Iya bu. Hati-hati yah!” jawab Desi dan Lena dengan senyum.
Ketika Jessica pergi. Kaya yang memegang gelas dari tadi juga berkata pada Lena dan Desi. “Kalau gitu saya balik keruangan duluan yah!”
“Ohh iya bu,” jawab mereka.
“Jes-Jes kamu belum tahu aja dia gay!” tawa Kaya pelan melewati ruangan Adrian.
“Hayo kamu ngomongin siapa?” tanya Nusa mengagetkan Kaya dari belakang.
Kaya sontak langsung kaget dan berbalik badan. Dia pun tidak sengaja menumpahkan kopi ke kemeja Nusa.
“Ehh Nusa, sory Nus. Aku enggak sengaja.” Kaya panik melihat kemeja Nusa yang biru tertumpah kopi yang masih panas.
“Awww, panas Kay!” Nusa langsung memegang kemejanya agar tidak tertempel dengan badan dan mencoba menggoyangkannya agar tidak panas.
“Sory Nus. Kamu masuk ke ruangan aku dulu deh!” ajak Kaya menarik tangan Nusa.
Kaya langsung menaruh gelas di mejanya dan mengambil tisu yang berada di meja. Dia mencoba membersihkan kemeja Nusa yang tertumpah kopi di dekat dadanya sambil duduk di meja dan Nusa berdiri di depan Kaya.
“Sory Nus, aku enggak sengaja?!” ucap Kaya merasa bersalah.
“Iya, enggak papa Kay.” Senyum Nusa melihat Kaya dengan muka bersalah.
“Aduh, Gimana nih? Malah enggak hilang lagi?” Ucap Kaya mengerutkan dahinya.
“Udah Kay. Enggak papa,” senyum Nusa yang tidak mau membuat Kaya merasa repot.
“Lagian kamu sih, kerjaannya ngagetin aku melulu!” omel Kaya menatap Nusa dengan kesal dan berhenti membersihkan kemeja Nusa.
“Yahh, maap Kay.” Senyum Nusa.
“Kamu yah? Selalu aja bilang gitu! Mana sini kemeja kamu Nus!” dengan tangan meminta.
“Maksudnya Kay?” tanya Nusa bingung.
“Kemeja kamu lepasin Nusa!” Kaya langsung menarik kerah Nusa agar mendekatakannya pada dirinya.
“Kay jangan! Aku malu!” Nusa menutupi dadanya dengan tangan.
“Ya ampun deh, lama kamu Nus!” Kaya mencoba membuka kancing kemeja Nusa dari bawah.
“Kay jangan! Aku malu dilihatin orang!” Nusa mencoba melepas tangan Kaya yang membuka kancing kemejanya.
“Ihh, minggir enggak tangan kamu!” omel Kaya menatap Nusa.
“Kay, aku malu. Jangan berbuat di sini Kay! Di Apartemen aku aja Kay!”
“Apaan sih Nus!” desis Kaya.
“Ngapain malu sih? Lagi pula kamu di ruangan aku!” Kaya melepas semua kancing kemeja Nusa, sedangkan Nusa sudah pasrah.
“Kay, kamu yakin mau di kantor?” tanya Nusa dengan dahi mengerut.
“Iya, makanya lepas!” suruh Kaya.
“Iya ini aku lepas!” Nusa melepas kemejanya dan mengasihnya ke Kaya.
“Celana perlu enggak?” tanya Nusa yang ingin membuka kancing celananya.
“Ehhh kamu mau ngapain Nusa?” tanya Kaya dengan mata melotot.
“Bukannya kita mau berbuat sesuatu Kay?” Nusa memasang kancing celananya lagi.
“Buat apaan?” tanya Kaya bingung.
“Yah gitu deh,” Nusa memperagakan kedua tangan seperti ciuaman.
“Ngaco? Otak kamu Nus, udah mulai kotor?” omel Kaya.
“Terus itu kemeja aku lepasin buat apa?” tanya Nusa bingung sambil menunjuk kemeja di tangan Kaya.
“Yah mau aku bersihin Nusa di wastafel, dari pada kotor.” Jawab Kaya dengan nada tinggi.
“Hehehe, aku kira kita mau melakukan sesuatu. Lagian kamu kagak bilang dari tadi.” Nyengir Nusa.
“Dasar Piktor (Pikiran Kotor) kamu Nus. Tunggu sini!” titah Kaya.
“Iyah. Galak amat kamu Kay? Padahal kamu yang salah!” desis Nusa yang hanya memakai kaus kutang dan celana.
“Hahaha, kamu lucu amat Nus pakai kaus kutang doang.” Tawa Kaya dan pergi keluar ruangan.
Nusa duduk menunggu Kaya dengan kedua tangan dilipatkan ke dada dan merasa kedinginan.Tak lama kemudian Nusa merasa kedinginan.
“Haduh lama nih Kaya!” Nusa meringkuk dirinya sendiri karena kedinginan di sofa.
Beberapa jam kemudian, Kaya Balik dan melihat Nusa sudah tertidur lelap di sofa sambil memeluk dirinya sendiri.
“Nusa.., Nusa…, baru aku tinggal sebentar udah renges.” Gumam Kaya sambil memegang kemeja Nusa.
Kaya menghampiri Nusa yang tidur di sofa panjang dekat dinding kaca dan duduk di samping kakinya sambil melihat Nusa seperti kedinginan.
Kaya pun berdiri dan menyelimuti Nusa dengan kemejanya. “Nus, kamu sebenarnya gay enggak sih? Padahal kamu ganteng? Kenapa kamu bisa suka Michael dan Adrian?” gumam Kaya yang berdiri di samping wajah Nusa.
Kaya pun membungkuk dan maju ke muka Nusa. Dia mencoba melepaskan kacamata Nusa agar tidak sakit tertidur miring. Namun, Nusa langsung membuka mata dan memegang tangan Kaya.
Mereka pun saling bertatap-tatapan sangat lama. Kaya pun tersadar dan langsung berdiri tegap. “Kamu udah bangun Nus?” tanyanya sedikit canggung.
“Hmmm…, udah.” Nusa mengubah posisi menjadi duduk.
“Itu kemeja kamu udah selesai aku cuci!” tunjuk Kaya.
“Ohh, oke. Makasih Kay,” senyum Nusa dan memakai kemejanya.
“Kok bisa kering cepat Kay?” tanya Nusa dengan memegang bagian kemeja yang terkena tumpah kopi tadi.
“Iya, aku tadi pakai pengering di wastafel.” Jawab Kaya yang masih berdiri di depannya.
“Ohhh,” gumam Nusa.
“Yaudah aku kerja dulu! Sana kamu balik ke ruangan gih!” usir Kaya.
“Iya, makasih yah Kay.” Ucap Nusa sambil berdiri.
“Kamu kayak sakit Nus?” tanya Kaya melihat muka Nusa yang pucat dan bibir yang kering.
“Ohh, mungkin karena tadi aku kedinginan.” Jawabnya dengan senyum.
“Sory Nus, aku lupa kecilin AC padahal kamu tadi pakai kaos kutang doang.”
“Iya enggak papa Kay,” senyum Nusa.
“Yaudah kamu minum yang banyak sana!” suruh Kaya yang perhatian sama Nusa.
“Iya makasih yah,” senyum Nusa dan dia balik keruanganya.
~ Bersambung ~