
~ Happy Reading ~
TING TONG TING TONG
Kaya memencat bel apartemen Nusa dengan membawakan buah-buahan. “Kok enggak di bales sih!” Kaya mencoba memencet bel lagi.
TING TONG TING TONG
“Siapa sih?” desis Nusa berbaring di tempat tidur dengan lemas. Nusa beranjak dari kasur dan membukakan pintu.
“Kaya?” Nusa kaget melihat Kaya tersenyum berdiri di depan pintu dengan membawakan buah-buahan.
“Hai Nusa?” Senyum Kaya dan Nusa hanya tersenyum lemas.
“Eh…,” Kaya mencoba memegang Nusa yang hampir mau jatuh. “Kamu kenapa?” tanya Kaya menopang Nusa.
“Aku sakit Kay,” lirih Nusa yang sangat lemas dengan memakai kaos putih dan celana jeans pendek.
“Ayuk ke tempat tidur dulu!” dengan menompang Nusa menuju tempat tidur.
Kaya membaringkan Nusa dengan lembut dan menyelimutinya sambil duduk di samping Nusa. Dia menaruh buah-buahan di meja dekat tempat tidur Nusa.
“Kamu panas banget Nusa?” Kaya memegang jidat Nusa.
“Iya aku panas Kay. Hatiku juga panas Kay!” canda Nusa.
“Nusa, kamu masih aja bercanda!” Kaya memukul lengan Nusa.
“Aw.., sakit Kaya!” nyerngit Nusa memegang lengannya.
“Sakit yah? Maaf Nus,” ucap Kaya dengan muka bersalah.
“Hehehe, aku bercanda kok.” Nyengir Nusa.
“Dasar!” desis Kaya.
“Kamu kok bisa tahu alamat Apartemen aku?” tanya Nusa.
“Iya, aku nanya ke Lita.” Jawab Kaya.
“Ohhh,” gumam Nusa.
“Kamu tidur gih! Aku mau siapin bubur dulu!” Kaya berdiri dari tempat tidur Nusa dan berbalik badan hendak ke dapur.
“Kay, enggak usah!” Nusa memegang tangan Kaya dan Kaya berbalik badan. “Aku jadi ngerepotin kamu entar.” Nusa melepaskan tangannya.
“Udah enggak papa. Itu gunannya teman Nus.” Nusa hanya tersenyum dan Kaya beranjak menuju dapur yang tidak jauh dari tempat tidur Nusa.
Contoh tempat tidur Nusa.
Kaya membuka kulkas Nusa dan kaget melihat isinya penuh dengan bahana makanan. “Buset, Nusa banyak banget makanannya?”
Kaya mencoba mencari sesuatu yang ingin dimasak. Lalu mengambil daging sapi yang masih segar, wortel, kentang dan daun bawang. Ia pun mengambil jahe dan beberapa bumbu dapur lainnya. Setelah itu semua bahan makanan diletakkan di meja dapur.
Contoh dapur Nusa yang berada di samping tempat tidur tapi tidak terlalu dekat dan jauh juga:
Dapur Nusa seperti dapur restoran dengan gelas yang dipajang di atas meja dapur. Kompor gas yang menyatu dengan meja berbentuk stainlees. Lalu pisau yang bermacam-macam dan segala panci berada di meja dapur tersebut.
“Nusa, lengkap banget semua peralatan masaknya?” gumam Kaya melihat Nusa dari dapur yang tertidur lelap.
“Huft,” Kaya mencoba menghela napas dan mengikat ulang lagi rambutnya ke atas semua.
Kaya langsung memulai masak dengan merebus beras dan memotong daging. Ia berencana memasak sop dan bubur untuk Nusa. Kaya terlihat sudah biasa memasak di dapur. Tangannya terampil memakai alat-alat dapur dan memotong semua sayuran.
Setelah masakan selesai, dia mengambil nampan dan mangkuk untuk plating. Kaya menyiapkan dua mangkuk untuk menaruh sop dan bubur ke mangkuk tersebut. Lalu terakhir ia menyiapkan minum dan membawa semuanya ke tempat tidur Nusa.
“Taraaaa, sudah selesai Nus.” Kaya membawa makanan tersebut dan duduk di samping Nusa. Lalu Nusa bangun dengan duduk menyenderkan kepalanya ke headboard bed.
“Kay, aku jadi ngerepotin kamu.” Ucap Nusa enggak enak hati.
“Enggak papa Nus. Selow aja,” senyum Kaya.
Kaya menaruh nampannya di meja lampu. Dia mengambil bubur terlebih dahulu. “Nih Nus! Buka mulut kamu!” Kaya menyendok bubur tersebut.
“Kay enggak usah! Aku bisa sendiri makannya!” tolak Nusa.
“Yaelah, cepetan buka mulutnya Nusa!” suruh Kaya dengan memegang sendok.
Nusa membuka mulut dan menerima suapan sendok dari Kaya. “Nah gitu dong! Kamu mau makan sendiri, mana bisa? Kamu aja masih sakit? Tadi aja mau pingsan?” omel Kaya.
“Makasih yah,” senyum Nusa.
“Nus, kamu selalu bilang makasih melulu. Kita ini kan teman? Enggak usah ber-terimakasih lah!” Ucap Kaya dan Nusa hanya mengangguk.
“Buka lagi mulutnya!” Kaya yang sudah selesai meniup bubur yang disendokinya. Lalu Nusa membuka mulut dan memakannya.
“Oh iya? Kamu sakit pasti gara-gara kemarin kedinginan yah Nus?” tanya Kaya sambil menyuapi Nusa.
“Enggak kok Kay, aku memang udah mau sakit.”Jawab Nusa.
“Ohhh gitu. Makanya kamu jaga kesehatan yang bener!” nasehat Kaya.
“Iyaa,” senyum Nusa.
Kaya menyuapi Nusa dengan lembut sambil berbincang. Bubur pun selesai di makan oleh Nusa dan Kaya mengambil Sop buatannya.
“Itu apa Kay?” tanya Nusa menunjuk dengan mulut.
“Ini Sop,” jawab Kaya dengan meniup Sop tersebut.
“Kay, aku udah kenyang!” tolak Nusa dengan memelas.
Nusa langsung membuka mulut dan menerima suapan dari Kaya dengan pasrah.
Kaya selesai menyuapi Nusa dan memberinya minum. Lalu Kaya menaruh semuanya ke dapur dan mengambil pisau untuk memotong buah yang di belinya tadi.
“Nih Nusa!” Kaya menyodorkan buah Apel yang sudah dipotongnya.
Nusa membuka mulut dan menerima suapan Apel dari tangan Kaya sambil menatap Kaya dengan senyum.
“Kamu makan juga Kay!” suruh Nusa sambil mengunyah.
“Ini aku bawa buat kamu Nus.” Kaya selesai memotong Apel itu dengan kecil dan mengasihnya ke Nusa.
Nusa memegang tangan Kaya yang memegang potongan apel dan menyodorkan ke mulut Kaya. “Aku tau kamu belum makan Kay?”
“Ayok makan, kalo enggak aku akan sedih?!” Tangan Nusa masih menggenggam tangan Kaya yang memegang potongan Apel.
Kaya memasukan potongan Apel tersebut ke dalam mulutnya. “Nah gitu dong.” Senyum Nusa melepaskan tangan Kaya.
“Nih lagi buat kamu Nus!” Kaya menyodorkan ke mulut Nusa dan Nusa mengambil dengan mulutnya. Mereka saling tersenyum sambil memakan Apel.
“Oh iya Nus. Kamu kok lengkap banget yah dari makanan sampai peralatan makan lengkap semua?” tanya Kaya berganti buah yaitu mengupas buah Jeruk.
“Iya, aku hidup sendiri, jadi aku harus mandiri melakukan semuanya.” Lirih Nusa.
“Kenapa kamu enggak beli aja di luar?”
“Aku malas makan di luar melulu. Lebih baik masak sendiri?!” senyum Nusa.
“Hebat kamu Nus, aku suka kemandirian kamu. Berarti kamu pinter masak dong?”
“Iyalah aku kan Chef,” canda Nusa.
“Chef apaan? Chef-chefan?!” ledek Kaya sambil tertawa.
“Kamu enggak tau aku bisa ngalahin Chef yang terkenal di TV itu.”
“Kagaklah. Mana mungkin?” Tawa Kya
“Yah, dibilangin enggak percaya.”Nusa tersenyum.
“Iya, iya, aku percaya. Yaudah nih makan!” Kaya menyodorkan jeruk ke mulut Nusa dan Nusa memakannya.
“Kay, kamu enggak papa di sini? Soalnya udah larut malam?” Nusa melihat jam dinding yang berada di depan.
“Enggak papa. Aku kasihan liat kamu sendirian ngurus diri.” Jawab Kaya.
“Ohh iya Nus, aku boleh nanya sesuatu enggak?”
“Boleh,”jawab Nusa.
“Kamu sama Adrian pacaran enggak?” tanya Kaya terus terang dan membuat Nusa langsung tertawa.
“Kok kamu ketawa sih?”
“Kamu lagian ada-ada aja pertanyaannya?!”
“Heheh, abisnya aku pernah liat kamu pegang tangan Adrian sambil tertawa gitu.”
“Maksudnya? Aku sama Adrian gay gitu?”
“Hehhe, iya.” Nyengir Kaya.
“Kamu liat di mana aku pegang tangan Adrian?”
“Waktu di kantor,” jawab Kaya.
“Ohhh, aku pegang tangan Adrian, karena melihat dia memakai jam tangan yang diberi kamu Kay. Jadi aku ledekin dia.”
“Ohh gitu, tapi kamu beneran enggak gay kan Nus?”
“Yah enggak lah, kamu ngaco deh. Sekarang aku tanya sama kamu Kay?” Nusa mendekatkan dirinya ke Kaya dan memegang wajah Kaya dengan kedua tangannya sambil menatap Kaya.
“Menurut kamu, aku gay enggak?” tanya Nusa dengan menatap Kaya serius.
“Kagak sih,” jawab Kaya.
“Kagak kan?” Nusa melepaskan kedua tangannya dari wajah Kaya.
“Abisnya waktu itu, kamu kayak mesra gitu sama Adrian.”
“Emang salah aku mesra sama sahabat aku sendiri?”
“Yah kagak sih, cuman aneh aja.” Nyengir Kaya.
“Kay, Kay, kamu yah emang dasar. Bisa aja bikin aku tertawa.” Tawa Nusa menyender kembali ke headboard bed dan Kaya hanya menyengir.
Mereka berbincang dan tertawa sampai jam 12 malam. Kaya yang sudah merasa mengantuk menguap dan mencoba menutup matanya, lalu membukanya kembali. Dia pun tak tahan dan tertidur dipangkuan Nusa.
“Kay,” panggil Nusa melihat Kaya tertidur dipangkuannya.
“Hemm, dia tidur.” gumam Nusa.
Nusa mencoba memindahkan kepala Kaya dengan lembut ke samping. Lalu ia beranjak dari tempat tidur dan menggendong Kaya ala bridal style untuk di bawa ke kamar atas.
Nusa menahan sakitnya untuk menggendong Kaya ke kamar atas. Ia berusaha menaiki tangga walau badannya masih lemas.
Nusa membuka kamar dengan sikutnya. Lalu membaringkan Kaya yang tertidur lelap di tempat tidur dan menyelimutinya. Nusa yang masih membungkuk menatap Kaya dengan intens.
“Kaya, Kaya, seandainya kamu tahu yang sebenarnya. Kamu pasti tidak akan menyukaiku lagi.” Gumam Nusa membelai pipi Kaya dengan lembut.
“Selamat malam Kaya.” Nusa mengecup jidat Kaya dengan lembut dan berdiri memandangi Kaya yang tersenyum dalam tidur. Setelah itu, Nusa beranjak meninggalkan Kaya dan kembali ke tempat tidurnya yang di bawah.
~ Bersambung ~