My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 84 ~ Terbongkar Semuanya



~ Happy Reading ~


Di rumah Kaya.


          Kaya yang bosan di kamar mematikan TV dan beranjak dari tempat tidur. Ia turun dari tangga dan melihat ayahnya di ruang tamu, lalu menghampirinya. Kaya duduk di samping ayahnya sambil ikut menonton TV bersama.


          Erlangga menoleh Kaya dan bertanya. “Kamu udah sembuh emangnya Kay?”


          “Udah pah,” bohong Kaya padahal dirinya masih terlihat lemas.


          “Ohhh...,” gumam Erlangga.


          Ada keraguan dihatinya terhadap anaknya dan ingin menanyakan sesuatu tentang Nusa. Namun, dia merasa belum waktu yang tepat sekarang ini.


          Erlangga mengambil remote di sampingnya dan mencoba mengganti siaran TV karena bosan. Siaran TV diganti terus olehnya sehingga Kaya melihat seseorang yang tak asing baginya.


          “Pah jangan diganti!”


          Kaya menghentikan tangan ayahnya untuk mengganti siaran TV. Dengan cepat Kaya langsung mengambil remote tersebut dari tangan ayahnya untuk memperjelas suaranya.


          Erlangga langsung menoleh anaknya dengan sedikit terkejut. Kenapa dia mengenali Nusantara anak Tama tersebut.


Di dalam siaran tersebut......


          “Pak Nusa, apakah benar bapak akan bertunangan dengan ibu Jessica?” tanya seorang wartawan yang menyodorkan mikrofonnya ke arah mulut Nusa.


          “Iya benar,” jawab Nusa tersenyum dan berdiri di samping Jessica.


          “Lalu kapan kalian akan bertunangan?”


          “Kami akan bertunangan tanggal 8 bulan depan,” jawab Nusa.


          “Apakah benar bapak adalah anak dari Wijaya Tama?”


          “Iya benar,”


          “Lalu kenapa anda baru muncul sekarang?”


          Entah wartawan mana yang menanyakan tersebut, tapi telah membuat Nusa tersentil dengan pertanyaannya.


          “Saya selama ini belajar,” kilah Nusa.


          “Sudah berapa lama bapak pacaran sama ibu Jessica?”


          “Sudah lama sekali,” sahut Jessica tersenyum.


          “Lalu setelah bertunangan. Apakah kalian akan menikah?”


          Pertanyaan tersebut sontak membuat Jessica tertawa. “Yaiyalah jelas kami akan menikah, masa abis tunangan tidak menikah. Gimana sih nih wartawan?!” Tawa Jessica dan semuanya ikut tertawa juga kecuali Nusa.


          Kaya yang muak mendengar beritanya berdiri dari sofa dan melemparkan remote ke sofa dengan kesal. Ayahnya sedikit kaget melihat kelakuan anaknya yang kesal. Kaya berbalik badan, hendak ingin pergi meninggalkan ayahnya.


          “Kaya,” panggil Erlangga dan membuat Kaya berhenti melangkah.


          “Iya pah,” Kaya tidak menoleh.


          “Kamu kenal dengan Nusantara Gemilang Raya Tama?”


          “DEG”


          Seketika jangtung Kaya terkerjut dengan cepat. Pertanyaan ayahnya membuat dirinya terdiam dan bertanya dalam hati.


          Bagaimana bisa papa tahu kepanjangan Nusa?


          Kaya mencoba bersikap tenang dan berbalik badan memandang ayahnya yang masih duduk di sofa dengan kaki kiri diangkat ke paha kanan.


          “Enggak kok pah,” kelak Kaya.


          “Jangan bohong kamu!” Erlangga kini menatap Kaya dengan serius.


          “Sumpah, aku enggak kenal.” Kaya bersumpah dengan jari membentuk V di atas kepalanya.


          Mina yang sudah selesai mencuci piring menghampiri mereka. “Ada apa pah?”


          “Tadi cowok yang datang ke sini. Apakah dia orangnya!” tunjuk Erlangga ke arah TV.


          “Iya, dia. Namanya Nusa pah, ” jawab Mina.


          “Kaya!” Erlangga berdiri dari sofa. “Jelaskan ke papa?!”


          “Apa hubungannya denganmu?” lanjut Erlangga.


          “Aku tidak ada hubungan apapun dengannya!” jawab Kaya dengan nada tinggi.


          “Emang ada apa sih pah?” tanya Mina bingung dengan perdebatan mereka.


          “Dia adalah anak dari WIJAYA TAMA mah,” jawab Erlangga dengan nada tinggi.


          “Apa?” Istrinya langsung kaget.


          “Kay, kamu kenapa bisa dekat sama dia?” tanya Mina.


          “A-aku…, aku sama dia kenal di kantor lama. Aku tidak tahu dia adalah anak Wijaya Tama,” kilah Kaya.


          “Kamu jangan bohong Kaya?” tanya Erlangga tak percaya.


          “Katakan sekarang yang sejujurnya Kaya?!” lanjut Erlangga.


          “Oke. Aku emang rekan kerja dia. Dan aku sengaja datang ke perusahaan dia untuk balas dendam akibat…,” belum sempat melanjutkan perkataannya. Mereka langsung menengok ke arah TV karena mendengar suara dari Nusa.


Di siaran TV......


          “Oh iya pak Nusa. Apa betul bahwa perusahaan bapak sekarang ada yang mengambil alihnya?”


          Nusa langsung menatap sinis wartawan yang bertanya kepadanya. Sebenarnya dia tidak ingin menjawabnya, namun dia berpikir akan lebih baik semua tahu tentang Kaya.


          “Ambil alih sepenuhnya tidak. Namun dia memang mempunyai setengah saham dari perusahaan ini.”


          “Apakah betul pak yang mempunyai setengah saham di perusahaan bapak namanya ibu Kaya Aqila Naya Raya?”


         Dari mana mereka mengetahuinya? Tanya Nusa dalam hati melirik Jessica.


          “Iya anda benar sekali,” sahut Jessica menunjuk wartawan tersebut dengan senyum.


          Jantung Kaya kini berdegup sangat kencang. Semua rahasia yang dia pendam selama ini terbongkar semua di depan kedua orangtuanya. Dia merasa bersalah telah membohongi orangtuanya. Hatinya tidak tenang dan pikirannya mulai merasa bingung harus menjawab apa.


          Ayahnya dulu pernah bilang untuk berjanji tidak membalaskan perbuatan Wijaya. Namun, sekarang Kaya melanggar janjinya terhadap ayahnya.


          Perasaannya kini bingung dan ada perasaan takut, bersalah, juga merasa lega karena mereka tahu. Entah apa yang akan dikatakan ayahnya setelah mendengar semua ini.


          “Kay, katakan pada papa? Apakah itu benar?” tanya Erlangga memandang Kaya yang terdiam kaku.


          Kaya hanya terdiam dan tidak tahu harus mengatakan apa. Semua yang dikatakan emang benar apa adanya.


          “Kaya!” bentak Erlangga dan membuat Kaya menjadi marah.


          Kaya berbalik badan dan enggan menjawab pertanyaan ayahnya yang sedang marah. Kaya berjalan menaiki tangga.


          “Kaya? Mau ke mana kamu? Sudah papa bilang berapa kali! Jangan berurusan dengan keluarga Tama!”


          “Papah, dia yang menghancurkan keluarga kita. Harusnya kalian bangga aku telah merebut sahamnya walau setengah.” Kaya menoleh ayahnya sambil memegang pegangan tangga.


          “Kamu enggak tahu apa-apa soal mereka Kaya!”


          “Lalu apa yang tidak ku ketahui pah? Kenapa papa marah padaku? Aku memang sengaja menipu keluarga Wijaya agar rasa sakit hatiku terbalaskan.”


          “Tapi kamu tidak perlu melakukan hal itu, kita sudah cukup tenang dengan begini. Tidak usah kamu membalasnya.”


          “Sampai kapan pun aku tidak akan biarkan Wijaya merasa menang! Sekalipun anaknya akan membalaskannya kepadaku juga!”


          “Kaya dengarkan papamu sayang!” ucap Mina.


          “Sudah tidak perlu lagi dibahas, aku lelah. Aku ingin kembali tidur.”


          “Kaya!” bentak Erlangga.


          “Sudahlah pah, nanti kita bicarakan! Dia habis sakit, nanti kambuh lagi sakitnya!”


          Kaya masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu sehingga Erlangga dan istrinya kaget.


          “Bagaimana mungkin aku tenang sekarang?! Anakku sendiri telah melakukan apa yang dilakukan Wijaya kepada kita.”


          “Tenanglah!” Mina mengelus pundak suaminya agar emosinya turun.


          “Kaya melakukan ini hanya karena melihat kita dulu bersedih. Lagi pula kamu tidak pernah cerita masa lalu kita kepadanya.”


          “Iya kamu benar. Tapi aku tidak mau Kaya menjadi pendendam.”


          “Kita akan bicara baik-baik dengannya. Kamu tenanglah dia baru sembuh.” Saran Mina.


          Mereka pun duduk bersama di sofa. Erlangga mengatur nafasnya yang terkejut mengetahui anaknya punya saham di perusahaan Tama.


          Sedangkan Mina tidak menyangka anaknya akan membalaskan dendam kepada Wijaya. Dia juga tak menyangka Nusa yang ia kenal adalah anak Wijaya. Padahal Mina sudah berharap Nusa menjadi jodoh anaknya yang baik. Ternyata dia salah, Nusa bukan jodoh yang baik buat anaknya.


~ Bersambung ~