
~ Happy Reading ~
“Hello,” lambai Nusa di hadapan wajah Kaya yang melamun. Kaya langsung tersadar dan menatap ke Nusa.
“Aku bertanya padamu nona Kaya? Apakah kau menyembunyikan pak Boni dariku?” tanya Nusa tersenyum licik.
“Sebenarnya apa mau mu? Kenapa kau mengancam Boni?” tanya Kaya terus terang.
“Heh,” senyum Nusa. “Jadi kau sudah tahu aku mengancam pak Boni akan memberitahukan Michael?”
“Katakan padaku apa maumu asal jangan kau bocorkan bahwa pak Boni ikut membantuku menipu ayahmu dari Michael?”
“Baiklah, jika kau menawarkannya aku akan pikirkan dulu sejenak.” Ucap Nusa dengan cool.
“Katakanlah aku tak punya banyak waktu tuan Nusa,” kesal Kaya.
“Sabarlah Kaya sayang, kenapa engkau selalu penuh dengan emosi. Apakah kekuatanmu sudah pulih lagi?” tanya Nusa tersenyum miring. Kaya hanya diam dengan tatapan tak suka.
“Baiklah aku menginginkan kau menyerahkan dirimu? Bagaimana?” tanya Nusa mendekatkan wajahnya dekat sekali dengan Kaya.
Kaya tidak berbicara dan hanya menatap Nusa dengan sinis. Nusa juga membalas tatapan sinis Kaya. Mereka saling mengunci pandangan mata. Lalu Mila kembali dengan membawa nampan yang berisi dua gelas.
Wajah Nusa dan Kaya yang sangat dekat sekali membuat Mila curiga. “Kenapa ibu Kaya dan pak Nusa saling pandang begitu dengan jarak yang dekat lagi?” gumam Mila terlihat kesal.
“Ehem,” Mila berdehem dengan berdiri di depan meja Kaya. Mereka langsung tersadar. Nusa turun dari meja Kaya dan berdiri menghadap Mila yang membawakan minumannya.
“Makasih Mil,” senyum Nusa mengambil dari nampan yang dibawa Mila dan berjalan menuju kursinya kembali sambil minum kopi.
“Iya pak,” senyum Mila.
“Bu Kaya ini minumannya?” Mila menaruh di meja Kaya.
“Makasih Mila,” senyum Kaya yang kikuk dan Mila hanya tersenyum.
Mila kembali duduk ke tempatnya dan menaruh nampan di bawah mejanya. Mila terus memperhatikan gerak-gerik Nusa dan sesekali melihat Nusa tersenyum melihat Kaya.
Apa iya pak Nusa cinta ibu Kaya atau ibu Kaya yang cinta pak Nusa? Mila bertanya dalam hatinya dan terus memperhatikan mereka.
Tapi bukannya mereka saling benci kata si tukang gosip itu, Mila masih bertanya dalam hatinya. Di dalam pikiran Mila dia mencurigai keduanya.
“Hai semua,” sapa Jessica dengan senyuman lebar berjalan menuju meja Nusa.
Pakai datang lagi ini nenek lampir, batin Mila tambah kesal.
Jessica berhenti sejenak dan melihat Kaya di mejanya. “Eh, ada Kaya. Ke mana aja kamu Kaya? Padahal kalo kemarin lusa kamu masuk. Kamu bakal dengar berita tanggal pertunanganku dengan Nusa.” Jessica sengaja memancing Kaya cemburu.
“Aku sudah tahu kok,” senyum Kaya yang tak terpancing.
“Ohh..., sudah tahu..., baguslah. Jadi jangan harap kamu bakal dekatin Nusaku!”
“Heh, harusnya kau menjaganya dengan baik. Siapa tau dia akan diambil oleh orang lain.” Senyum Kaya memancing emosi Jessica.
Apa coba mereka? Perasaan yang selalu dekatin Nusa ibu Jessica deh? Terus maksud ibu Kaya apa? Apa aku maksudnya orang lain itu? tanya Mila dalam hati.
“Tidak bakal. Yah kan Nusa?” tanya Jessica menoleh Nusa yang duduk di depannya. Nusa yang asyik main ponsel langsung sadar dan mengiyakan tanpa tahu apa obrolan mereka dari tadi.
Jessica melanjutkan langkahnya menuju Nusa yang duduk dan dia berdiri di samping. Kaya dan Mila memperhatikan Jessica yang memberikan sinyal untuk melihatnya.
Apa yang mau dilakukan Jessica dengan berdiri di samping Nusa?btanya Kaya dalam hati, sambil mengangkat gelasnya untuk minum.
“Nusa,” Jessica mencolek lengan Nusa dengan senyum.
“Iya,” senyum Nusa menoleh Jessica di sampingnya.
Jessica langsung duduk di pangkuan Nusa dan Nusa tidak menolaknya sama sekali. Jessica langsung tersenyum licik ke arah Kaya dan Mila. Dengan merangkul leher Nusa, Jessica berbicara dengan manja.
Mila yang sadar Kaya keselek langsung menoleh dan bertanya. “Ibu kenapa?” tanya Mila berdiri melihat kemeja Kaya kena tumpah teh.
Sementara Jessica tersenyum penuh kemenangan dan Nusa tersenyum senang melihat Kaya cemburu. Pandangan mereka langsung mengarah Kaya yang berdiri memegang kemejanya yang kena teh agar jauh dari kulitnya karena panas, sambil mengebas-ngebaskan kemeja bagian atas tersebut. Kemeja yang terkena teh
tersebut di bawah kerah.
Mila menghampiri Kaya yang berdiri dari kursinya dan membantu mengelap kemejanya yang basah dengan tisu yang tersedia di meja Kaya.
“Bu mending ganti baju aja daripada masuk angin!” suruh Mila sambil mengelap kemeja Kaya yang terkena teh.
“Enggak papa Mil, ini cuman basah sedikit.” Ucap Kaya yang masih memegang kemejanya.
“Kaya kamu kenapa?” tanya Jessica berpura-pura lembut.
“Aku keselek aja tadi,” jawab Kaya tak menoleh Jessica.
“Kok bis keselek air sih?” tanya Jessica yang sengaja.
“Iya mana ku tahu Jess,” ketus Kaya.
“Ohhh..., kasihan sekali kamu Kaya. Mending kamu pulang aja dulu ganti baju dari pada masuk angin nanti.” Saran Jessica dengan penuh drama. Nusa hanya terdiam melihatnya.
“Iya bu. Mending ibu pulang aja ganti baju,” sahut Mila setuju dengan Jessica dan sudah selesai mengelap kemeja Kaya.
“Tidak usah ini cuman dikit kok,” senyum Kaya.
“Yaudah deh,” ucap Mila. “Kalo begitu aku balik ke tempat duduk yah bu!”
“Iya Mil, makasih yah.” Senyum Kaya dan Mila hanya membalas dengan senyum, lalu kembali ke tempatnya.
“Sayangku Jessica, kamu mau enggak kita ke Mall?” tanya Nusa.
“Mau,” jawab Jessica dengan gembira.
“Baiklah yuk!” ajak Nusa. Jessica melepas rangkulannya dan berdiri dari pangkuannya dengan Nusa.
Nusa beranjak dari kursi dan menggandeng tangan Jessica berjalan menuju pintu. Kaya yang masih berdiri agak kesal melihatnya bersamaan dengan Mila. Saat punggung mereka sudah menghilang, Kaya dan Mila bersamaan melangkahkan kakinya menuju pintu.
“Ibu mau ke mana?” tanya Mila.
“Saya mau ke kamar mandi. Kamu?” tanya Kaya.
“Saya mau ke mana yah...,” ucap Mila bingun sangking kesalnya dengan Nusa dan Jessica. “Hhehe..., saya lupa bu.” Nyengir Mila.
Kaya hanya diam dan tidak menanggapi lagi Mila, lalu melanjutkan lagi langkahnya menuju pintu. “Bu,” panggil Mila dan Kaya menoleh kembali.
“Iya,” sahut Kaya.
“Saya mau tanya, ibu tidak suka kan sama pak Nusa?” tanya Mila.
“Tidak kok,” kelak Kaya.
“Ibu enggak bohong kan?”
“Enggak,” kelak Kaya.
“Tapi kalo ibu suka sih aku juga enggak peduli. Yang jelas berarti nanti kita saingan.” Ucap Mila.
“Harusnya kamu takutkan itu Jessica bukan saya. Jadi saingan kamu itu Jessica.” Kaya tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar pintu.
“Justru saingan sebenarnya adalah kamu Kaya,” gumam Mila melihat Kaya menghilang dari pintu.
~ Bersambung ~