My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 78 ~ Dasar Pelacur!



~ Happy Reading ~


          “Heh, aku tidak akan percaya Kaya. Dasar Pelacur!” Nusa tidak menoleh sama sekali Kaya dari tadi. Ia tetap membelakangi Kaya.


          “Nusa jaga mulut kamu! Kenapa kamu tega mengatai diriku dengan sebutan itu?”


          “Iya, aku memang tega Kaya. Kamu dengar itu!”


          “Aku sudah memperhatikan dirimu sejak lama. Kamu suka sekali menggoda pria di kantor Adrian dulu.”


          “Aku tidak pernah menggoda siapapun. Semua pria di kantor Adrian ramah padaku Nus. Bukankah kamu juga sama seperti aku. Tapi bedanya kamu yang genit kepada wanita di sana sedangkan aku di dekatin.”


          “Iya memang benar, aku genit sama semua wanita. Tapi tidak seperti kamu yang memamerkan keseksianmu terhadap pria lain. Bukankah itu disebut pelacur.”


          “Hentikan Nusa! Diam kau!” Kaya mulai meneteskan air matanya.


          “Yasudahlah Kaya, sekarang sudah malam baiknya aku pulang. Atau aku akan digoda oleh dirimu.”


          Nusa berjalan untuk masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya. Nusa melihat Kaya dari spion yang berdiam berdiri memandang ke arah mobilnya.


          Kaya memperhatikan mobil Nusa yang sudah jalan dari belakang. Kaya mulai meneteskan air matanya dan tak tahan membendung semua perasaan yang dialaminya. Dia tidak tahan mendengar perkataan Nusa yang kasar.


          Nusa kenapa kamu tega mengatai diriku dengan sebutan itu. Apakah tidak ada cinta di hatimu lagi terhadap diriku? Atau aku yang naif, mengira kamu mencintaiku Nusa?


          Kaya perlahan menekuk kakinya sambil mengeluarkan air mata. Dia duduk dengan dengkul menyentuh jalan dan terus-menerus mengeluarkan air mata dengan kepala bersandar di banper mobil.


          “Kenapa? Kenapa kamu tega mengataiku Nusa?” Kaya berteriak dan menangis dengan pecah. Ia menangis terisak sehingga merasakan dadanya sakit sekali.


          “Kamu tidak tahu penderitaanku selama ini? Kenapa kamu menjudge diriku seperti itu Nusa?!” teriaknya dengan isakan tangisan yang pecah.


          “Hah.....!” teriak Kaya memukul banper mobil yang berada di belakangnya dengan tangan kanannya yang sakit.


          Anehnya Kaya tidak merasa kesakitan sama sekali. Padahal punggung tangannya sudah memar akibat hempasan dari Nusa, ditambah dirinya sendiri memukul banper dengan kepalan tangan kanannya.


          “Kenapa kamu melukai hatiku Nus?” tangis Kaya yang tak henti. Dirinya sudah tidak peduli lagi dengan suasana malam dan jalanan yang sepi.


          Kaya memegang dadanya yang sesak sambil menangis. “Hahh....!” teriaknya lagi dengan kencang sehingga menimbulakan suara yang bergema.


          Kaya perlahan menghentikan tangisannya dan mengusap air matanya. Ia berdiri dan masuk ke dalam mobil. Kaya menyalakan mesinnya dan menjalankan mobilnya dengan muka penuh kebencian.


          Kaya menyetir dengan perasaan masih kecewa terhadap Nusa. Ia terdiam dan tidak merasakan sakit sama sekali dengan tangannya yang digunakan untuk menyetir padahal punggung tangannya sudah memar parah.


          Kaya terus menyetir dengan pandangan tajam seakan mata harimau sudah keluar dari matanya. Kaya terus membayangkan perkataan Nusa. Di otaknya terngiang-ngiang akan sebutan pelacur.


          Tanpa disadarinya ada anak kucing lewat dan Kaya langsung ngerem mendadak sehingga kepalanya terpentok stir. Kaya pun keluar dan melihat anak kucing tersebut tapi tidak ada.


          “Meoww....!”


          Terdengar suara anak kucing di kuping Kaya dan ia mencari asal suara kucing tersebut. Kaya mendengarnya berasal dari bawah mobil. Kaya menunduk untuk melihatnya dan dia memang berada di bawah mobilnya.


          Kaya mencoba menggapai dengan tangannya yang memar tadi. Namun, punggung tangannya terkena mesin panas yang membuat dirinya merintih kesakitan sampai mengeluarkan air mata.


          Ditariknya kembali tangannya dan menghembuskan tangannya yang sakit. Punggung tangannya kini menjadi terkelupas sedikit dan menampilkan bagian putih yang berada dalam kulit. Kaya meniupnya sambil mengeluarkan air mata karena ia tak tahan dengan perihnya.


          Kaya mencoba mengambil kembali kucing tersebut dengan tangannya dan akhirnya dapat. Kaya mengelus kucing tersebut dan memeluknya.


           “Aku tidak akan biarkanmu sakit. Pergilah!” Kaya melepas kucing tersebut untuk pergi.


          Kaya berdiri dan masuk ke dalam mobil. Ia kembali menjalankan mobilnya untuk pulang dengan perasaan yang masih sedih, kecewa dan benci.


***


Di rumah Kaya.


          Kaya turun dari mobil dengan wajah yang sudah pucat pasi. Badannya lemas sekali. Ia membuka pintu dan berdiri di depannya dengan memegang tas.


          Mina dan Erlangga menunggu Kaya dari tadi untuk pulang di depan ruang tamu. Mereka khawatir karena jam sudah larut malam dan harusnya Kaya sudah pulang dari tadi.


          Ketika Kaya membuka pintu, Mina langsung menuju pintu dan ia sangat terkejut melihat wajah anaknya yang berantakan dengan berdiri di depannya.


          “Kaya, kamu...,” Mina belum sempat bertanya Kaya langsung pingsan di depan pintu.


          “Kaya...,” teriak Mina langsung menompang tubuh anaknya.


          Erlangga langsung kaget mendengar teriakan istrinya dan berdiri dari sofa melihat yang terjadi. Erlangga terkejut melihat Kaya pingsan dan ditopang oleh istrinya.


          “Pah.....,” teriak Mina meletakkan kepala anaknya di pangkuannya.


          “Iya sayang,” jawabnya menghampiri istrinya.


          Erlangga mulai membawa Kaya ala bridal style menuju kamarnya. Mina mengkuti mereka dengan perasaan khawatir sambil membawa tas anaknya.


          “Sayang, Kaya kenapa yah?” tanya istrinya.


          “Papa mana tahu mah,” jawab suaminya.


          Mina membukakan pintu kamar Kaya dan suaminya masuk meletakkan Kaya di tempat tidur dengan pelan. Mina meletakkan tas Kaya di meja samping tempat tidur, lalu duduk di samping Kaya yang tidur. Sementara suaminya berdiri di samping tempat tidur Kaya.


          Saat ingin mengambil tangan kanan Kaya untuk mengelusnya. Ia  kaget melihat punggung tangan kanan Kaya memar dan terkelupas kulitnya.


          “Sayang lihat! Tangan Kaya memar!” Istrinya menunjukkan kepada suaminya.


          “Iya, Kaya ini sebenarnya kenapa?” tanya suaminya heran.


          “Pah, cepat ambilkan air es dan kain biar mama kompres.”


          “Iya mah,” suaminya bergegas turun menuju dapur mengambil semua yang diperlukan oleh istrinya.


          “Kamu kenapa sih Kaya?” Mina selalu bertanya sambil membereskan rambut Kaya yang berantakan.


          “Apa yang sebenarnya terjadi?”


          Erlangga kembali membawa semua yang diperintahkan istrinya. Lalu Mina memberi kompresan pada tangan Kaya yang memar. Setelah selesai, Mina meminta suaminya keluar agar mengganti baju Kaya yang kotor. Suaminya menuruti semua perkataan istrinya dan keluar.


          “Papa boleh masuk!” ucap Mina yang sudah selesai mengganti baju Kaya. Erlangga pun masuk dan melihat keadaan Kaya.


          “Pah, gimana nih Kaya belum juga bangun malah pucat lagi?” tanya Mina yang khawatir.


          “Coba kamu kasih dia minyak kayu putih!” perintah Erlangga.


          “Oh iya yah...,” gumam Mina memeriksa laci samping tempat tidur Kaya dan ternyata ada. Lalu ia mengusap ke jari telunjuknya dan mendekatkan jarinya ke hidung Kaya.


          “Kay bangun sayang!”


          Kaya perlahan-lahan membuka matanya dan duduk di tempat tidur, sambil memegang kepalanya yang pusing.


          “Kamu kenapa Kaya?” tanya Erlangga.


          “Aku emang kenapa?” tanya balik Kaya.


          “Kamu tadi pingsan sayang,” sahut Mina.


          “Aku pingsan,” gumam Kaya mengingat kembali perkataan Nusa dan membuat kepalanya tambah pusing.


          “Aw..., ” pekik Kaya melihat tangannya yang sakit sambil memegang kepalanya.


          “Kamu kenapa?” tanyanya.


          “Aku pusing mah,” jawab Kaya.


          “Yaudah kamu tidur dulu besok baru kita bicara!” suruhnya dan Kaya kembali membaringkan dirinya untuk tidur.


          Mina berdiri dan membalutkan Kaya dengan selimut. Lalu berbalik badan untuk pergi bersama suaminya. Namun langkahnya terhenti mengingat memar di tangan anaknya.


          “Kay,” Mina berbalik badan.


          “Iya mah,” jawab Kaya yang masih terlihat lemas.


          “Tangan kamu kenapa memar?” tanya Mina dengan serius.


          “Hemmm...,” Kaya berpikir dulu sejenak untuk mencari alasan yang tepat. “Ada barang yang tidak sengaja mengenai tanganku mah,” senyum Kaya.


          “Barang apa?” tanya Mina lagi.


          “Udahlah Mah, besok aja kita bicara!” ucap Erlangga memegang pundak istrinya untuk pergi dari kamar Kaya.


          “Tapi pah, aku harus tahu!”


          “Yaudah besok kan masih ada waktu!” Erlangga memainkan mata terhadap istrinya untuk tidak mengganggu Kaya dulu. Mereka pun keluar dari kamar Kaya.


          “Syukurlah!” Kaya menghela napas dan kembali tidur.


          Mereka berjalan menuruni tangga. “Mama tuh khawatir sama Kaya. Apakah ucapannya benar atau tidak? Karena mama takut dia menyakiti dirinya sendiri saat waktu dia masih SMP dulu.”


          “Sudahlah..., dia tidak seperti dulu. Dia itu sudah dewasa, mana tahu yang baik buat dia dan yang buruk buat dia.” Ucap Erlangga dengan senyum.


          “Baiklah, sebaiknya kita tidur juga soalnya sudah jam 1 pagi sekarang!” Mereka berdua menuju kamarnya untuk tidur.


~ Bersambung ~