
~ Happy Reading ~
Kaya dan kedua orangtuanya harus berjalan kaki menuju jalan utama. Karena letak rumah mereka berada di komplek dan jarak rumah mereka menuju jalan utama kira-kira 500 meter.
Mereka membawa koper sambil berjalan. Rasanya berjalan 100 meter saja mereka sudah lelah apalagi 500 meter. Ibu Kaya yang sudah merasa lelah berhenti.
“Pah, Kay, mama capek! Mama enggak kuat lagi jalan jauh!” ucapnya membungkuk sedikit, menumpu kedua lutut dengan kedua tangannya.
“Yaudah kita istrirahat dulu yuk pah!” ajak Kaya.
“Iya Kay,” setujunya.
Mereka duduk di pinggir jalan dengan kaki di seloncorkan lurus ke depan. Kaya merasa kasihan dengan kedua orangtuanya dan tidak tega jika mereka harus berjalan menuju jalan utama yang begitu jauh.
Air matanya mengalir begitu saja melihat keadaan orangtuanya yang lelah. Ia langsung membuang muka ke arah lain, agar tidak dilihat kedua orangtuanya. Kaya mengusap air mata di pipinya, lalu menoleh ke arah mereka dengan senyum.
“Mama, papa haus enggak? Biar Kaya beliin minum?” tawar Kaya dengan senyum.
“Iya Kay, mama haus.” Jawab ibunya.
“Emang di sini ada jual minum sayang?” tanya ayahnya.
“Ada pah, di depan tidak terlalu jauh kok.” Senyum Kaya.
“Yaudah papa juga yah sayang. Tapi, kamu duit dari mana?” tanya ayahnya.
“Papa tenang aja. Aku punya uang kok.” Jawab Kaya dengan senyum. “Yaudah, kalian tunggu di sini aja yah!”
Kaya berjalan menuju warung komplek yang tidak jauh dari tempat mereka duduk. Ia membelikan tiga botol minum air dingin. Setelah membayar, Kaya kembali berjalan menuju tempat mereka tadi duduk.
Saat Kaya kembali, Kaya kaget melihat seorang bapak dengan mobil di sampingnya. Ia pun menghampiri mereka.
“Om?” Panggil Kaya menunjuk seorang bapak yang berdiri di depan ayahnya dan ternyata ia adalah ayah Lita.
“Iya, Kay.” Jawabnya.
“Om kok bisa di sini?” tanya Kaya.
“Iya. om kebetulan lewat sini. Lalu om melihat ayah dan ibu Kamu duduk, jadi om berhenti Kay.” Jawabnya dengan senyum.
“Oh…,” gumam Kaya yang masih memegang tiga botol minum air putih.
“Oh iya? Ini minumnya pah, mah!” Kaya mengasih botol tersebut ke tangan orangtuanya.
“Kalian mau ke mana sebenarnya?” tanya ayah Lita.
“Kaya enggak tahu om mau ke mana.” Jawab Kaya bingung arah tujuannya, karena rumahnya sudah tidak ada lagi.
“Saya juga enggak tahu mau ke mana Brahma. Kamu pasti sudah mendengarnya, saya tidak punya apa-apa lagi sekarang bahkan rumah pun disita.” Jawab Erlangga.
“Yaudah kalau gitu, kalian naik dulu! Saya ada kenalan seseorang yang mempunyai rumah kontrakan, tapi kecil rumahnya tidak sebesar rumah kalian yang dulu.”
“Tidak apa-apa om, yang penting buat tinggal.” Ucap Kaya.
“Yaudah ayuk masuk ke dalam mobil saya!” ajak Brahma.
Mereka mengiyakan ajakan Brahma dan masuk ke dalam mobil dengam menaruh koper mereka terlebih dahulu di bagasi mobil. Lalu Brahma menjalankan mobilnya menuju tujuan yang ia bilang tadi.
Selama di perjalanan...,
“Om kita mau ke mana?” tanya Kaya yang duduk bersebelahan dengan ibunya di belakang.
“Saya mau bawa kalian langsung ke kontrakan tersebut. Kalian tidak usah khwatir. Saya akan bayar kontrakan tersebut selama setahun.” Senyum Brahma.
“Brahma, tidak usah. Saya tidak mau menyusahkan kamu.” Tolak Erlangga tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, Erlangga. Ini saya lakukan karena saya juga merasa tidak enak hati dengan kamu.”
Apa maksud ayah Lita tidak enak hati yah? Kaya bertanya dalam hatinya. Namun, Kaya mengabaikannya dan bersandar pada bangku mobil. Ia melirik ke arah samping, tepat di mana ibunya duduk dan ternyata ibunya sudah tertidur pulas.
Kaya yang melihatnya prihatin sekali. Ibunya pasti merasa kelelahan akibat berjalan jauh. Kaya mengelus pipi ibunya dengan lembut. Hatinya merasa sakit sekali melihat ibunya kehilangan semuanya. Perusahaan,
harta, rumah, mobil, bahkan perhiasan pun tidak ada sekarang.
Kaya bertanya-tanya dalam dirinya. Apakah ia bisa membangkitkan kembali ekonomi keluarganya, sedangkan dirinya masih SMA. Belum lagi, dirinya harus membayar biaya sekolah.
Satu tetes air mata jatuh di pipinya. Aku akan membangun kehidupan kita yang seperti dulu lagi mah, batinnya. Kaya pun menutup matanya dan ikut tertidur di samping ibunya.
Erlangga menoleh Kaya dan istrinya yang sudah tertidur dengan pulas. Dia melihat mereka dengan perasaan bersalah dan sedih. Lalu Erlangga menghadap ke depan lagi dan menatap jendela depan.
“Kamu tidak perlu membalasnya Erlangga. Saya sudah menganggap Kaya sebagai anak saya juga dan kamu sebagai saudara saya. Saya tahu perbuatan Wijaya emang salah, dan dia tidak benar melakukan ini. Tapi saya ingin kamu tidak memusuhi saya juga dan anak saya Lita. Karena bagaimana pun Kaya danLita bersahabat.”
“Iya Brahma. Aku tidak akan memberitahu Kaya bahwa Lita adalah keponakan dari Wijaya Tama.” Ucap Erlangga.
“Terimakasih Erlangga,” senyum Brahma.
***
Saat sampai di kontrakan…,
Brahma memarkirkan mobilnya di depan kontrakan yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar juga. Erlangga pun membangunkan Kaya dan istrinya.
“Bangun sayang, Kay!” Erlangga menepuk lengan istrinya dan Kaya.
“Sudah sampai sayang?” tanya istrinya dengan mata masih mengantuk.
“Iya, udah sampai pah?” tanya Kaya juga dengan mata masih mengantuk.
“Sudah. Itu di depan kita rumah kontrakannya!” tunjuk Erlangga ke jendela kanan mobil.
Mereka pun turun dari mobil dan mengambil koper mereka di bagasi. Lalu memegang koper tersebut dan membawanya menuju gerbang. Brahma juga turun dari mobil untuk menemani mereka berjalan menuju gerbang tersebut.
“Ini kontrakannya om?” tanya Kaya menunjuk rumah tersebut.
“Iya, Kay.” Jawab Brahma.
“Ini mah, bagus om.Memang tidak besar, tapi cukup untuk kita bertiga.” Nyengir Kaya.
“Iya, nanti teman om bentar lagi datang mengasih kunci. Kalian tunggu sebentar yah!”
“Iya Brahma, terimakasih yah.” Ucap Erlangga dengan senyum.
“Sama-sama, Erlangga.” Brahma menepuk bahu Erlangga dengan pelan.
Teman Brahma pun datang menghampiri mereka. Lalu Brahma mengajaknya berbincang dengannya berduan. Sementara Kaya dan kedua orangtuanya berdiri menunggu di depan pintu gerbang dengan digigitin
nyamuk.
Brahma pun selesai berbincang pada temannya dan teman Brahma pergi begitu saja tanpa pamit ke keluarga Kaya.
“Teman kamu langsung pergi Brahma?” tanya Erlangga menunjuk temannya yang sedang berjalan membelakangi mereka.
“Iya, dia ada urusan penting soalnya.” Jawab Brahma.
“Oh iya Erlangga, ini kuncinya, dan kalian tidak usah bayarrumah ini selama setahun. Karena saya sudah
menanggungnya.”
“Makasih Brahma,” senyum ibu Kaya.
“Sama-sama Mina.” Balas Brahma dengan senyum.
“Iya Brahma, saya berterimakasih sekali kepada kamu.” Ucap Erlangga.
“Tidak usah berterimakasih Erlangga, kita ini adalah sahabat.” Ucap Brahma.
“Om, baik banget sih.” Senyum Kaya.
“Iya, sama-sama Kaya.” Brahma mengelus kepala Kaya.
“Kalian bisa masuk ke dalam dan maaf kalau perabotannya ada yang kurang, karena dia mendadak baru tahu juga tadi.”
“Tidak apa-apa om, di beri setahun tinggal gratis di rumah ini aja saya sudah senang.” Senyum Kaya.
“Iya Brahma, kamu tidak perlu minta maaf.” Ucap Erlangga.
“Yaudah, saya tidak bisa mengantar kalian ke dalam karena ini juga sudah malam. Kalian bisa langsung tidur juga nanti. Saya pamit yah Erlangga, Mina dan Kaya.” Brahma berpamitan dan berbalik badan menuju mobilnya, lalu dia membuka jendela mobilnya.
“Erlangga saya pulang yah!” Brahma melambai ke arah mereka.
“Makasih Brahma, hati-hati yah!” Erlangga melambai juga.
“Iya om, hati-hati.” Lambai Kaya.
~ Bersambung ~