
~ Happy Reading ~
Malam ini Kaya sudah ada janji dengan Adrian. Kaya sudah datang duluan dan duduk di restoran Tama dekat jendela. Sambil menunggu Adrian, Kaya memandangi indahnya kota malam dari jendela.
Kaya masih memikirkan ciuman yang diberi oleh Nusa dengan paksa. Di satu sisi dia senang, tapi di sisi lain dia sangat takut jika Nusa mempermainkannya. Adrian pun datang.
“Hei, udah lama?” tanya Adrian sambil duduk.
“Belum,” jawab Kaya dengan senyum.
“Kita pesan makanan dulu yah!” ajak Adrian dan Kaya hanya mengangguk.
Adrian memanggil pelayan yang tidak jauh dari pandangannya dengan tangannya. Pelayan itu menghampiri mereka.
“Iya pak?” tanya pelayan tersebut.
“Saya pesan ini dan ini,” tunjuk Adrian pada buku menu.
“Baik pak,” pelayan itu mencatatnya.
“Kamu mau apa Kay?” tanya Adrian.
“Samain aja,” jawab Kaya dengan senyum.
“Saya pesan dua makanan dan minuman yang sama berarti.”
“Baik pak,” ucap pelayan tersebut dan pergi.
“Kamu apa kabar Adrian?” tanya Kaya.
“Baik,” jawab Adrian. “Kamu sendiri?”
“Aku baik,” senyum Kaya. “Oh iya, kamu mau bicara apa dengan aku?” tanya Kaya.
“Kamu enggak merasa bersalah padaku Kaya?” tanya Adrian tersenyum cool.
“Sebanarnya, aku merasa bersalah. Pasti kamu sudah tahu dari Nusa?” tanya Kaya dengan senyum.
“Bukan, aku tahu dari Lita.” Jawab Adrian.
“Ohhh..., Lita.” Gumam Kaya tersenyum.
Makanan dan minuman pun datang dibawa oleh pelayan dan menaruhnya di meja mereka.
“Silahkan Kay!” ajak Adrian.
“Baik pak,” senyum Kaya.
Adrian terkekeh mendengar ucapan Kaya. “Saya bukan atasanmu lagi, jadi jangan panggil saya pak.”
“Oh iyah, saya lupa Adrian.” Kaya tersenyum malu.
“Sebenarnya saya merasa canggung untuk bertemu denganmu Adrian. Karena kesalahan yang kubuat padamu itu salah.” Ucap Kaya dengan lirih.
“Aku sudah tahu sebenarnya,” ucap Adrian.
“Aku tahu pasti kamu akan membenciku, tapi aku melihat sepertinya kamu biasa saja.”
“Karena aku sudah memaafkan dirimu Kaya,”
“Benarkah? Apakah kamu tidak sakit hati dengan ucapanku yang lalu?” tanya Kaya.
“Tidak, aku udah tahu kalau kamu melakukan itu karena dendam kepada Wijaya. Tapi kamu mengira aku ini anak dari Wijaya, sehingga kamu melakukan itu dan ternyata kamu salah. Betulkan?”
“Iya kamu benar. Tapi kamu adalah sahabat Nusa. Apakah kamu tidak kesal jika aku melakukan ini kepada sahabatmu sendiri?” tanya Kaya dengan serius.
Adrian menghentikan makannya dan memperhatikan Kaya dengan tatapan tajam. “Aku tidak tahu siapa yang salah atau tidak. Tapi aku tahu kamu orang yang baik sebenarnya. Lagi pula kamu melakukan itu karena kamu membalas semuanya yang dilakukan kepadamu dulu. Aku juga tahu dari Lita, bahwa kamu menderita karena papa Nusa yang membuat keluarga kalian bangkrut.” Senyum Adrian menjelaskannya.
“Makasih Adrian kamu sudah memafkan aku dan percaya padaku. Ternyata kamu itu orang yang sangat dewasa sekali.” Senyum Kaya.
“Kalau begitu bagaimana kita bersalaman dan memulai pertemanan yang baru!” ajak Adrian.
“Baiklah.” Kaya tersenyum menyulurkan tangannya dan Adrian membalasnya dengan berjabat tangan.
“Perkenalkan nama saya Adrian Pratama.”
“Perkenalkan saya Kaya Aqila Naya Raya.”
“Apakah kita bisa berteman Kaya dan melupakan semuanya?” tanya Adrian.
“Bisa, kita berteman sekarang.” Jawab Kaya dengan senyum. Mereka melepaskan tangannya dan melanjutkan makannya sambil tersenyum.
*****
Nusa masuk ke dalam restoran Tama. Ia berencana untuk bertemu koki di dalam restoran tersebut. Namun kakinya berhenti melangkah saat melihat dua insan sedang makan bersama.
Nusa langsung meng-umpatkan dirinya dengan duduk tidak jauh dari mereka, sambil
“Adrian,”
“Hem,” senyum Adrian.
“Sekarang kamu banyak berubah yah?!” senyum Kaya.
“Maksudnya?” tanya Adrian dengan cool.
“Kamu kayaknya lebih banyak senyum,” jawab Kaya sambil makan.
“Iya kamu benar. Aku tersenyum terus karena melihat dirimu.” Gombal Adrian dan membuat Kaya cengo mendengarnya.
“Aku hanya bercanda Kaya,” senyum Adrian.
“Oh..., aku kira.” Senyum Kaya kembali memakan makanannya.
“Tapi makasih kamu sudah mau memaafkan diriku Adrian,” senyum Kaya.
Aku memaafkanmu Kaya, karena aku menginginkan dirimu, batin Adrian.
“Sama-sama,” senyum Adrian meminum airnya.
Kenapa Adrian mudah memaafkan Kaya? Apakah dia masih mencintai Kaya? Atau ada hal lain yang dia inginkan? Memang aku menginginkan Adrian memaafkan Kaya, tapi apa iya secepat ini dan mereka seperti berteman lagi, ucap Nusa dalam hati.
Nusa beranjak dari kursi dan menghampiri mereka. “Wow, tidak terduga. Aku bertemu kalian di sini!” Nusa berdiri di samping mereka.
“Hai Nus, apa kabar?” tanya Adrian dengan senyum.
“Baik sobat. Boleh kah aku bergabung?” tanya Nusa dengan senyum.
“Silahkan!” ucap Adrian dengan cool.
“Sebenarnya aku heran melihat kalian berduaan di sini. Apakah kalian pacaran?” tanya Nusa.
“Mungkin,” ucap Adrian sambil minum. Kaya langsung menatap Adrian.
“Enggak, Adrian bercanda.” sela Kaya.
“Iya aku hanya bercanda,” nyengir Adrian.
“Lalu kalian sedang apa di sini. Bukankah kau telah ditolak oleh Kaya, Adrian?” tanya Nusa.
“Dari mana kau tahu?” tanya Kaya.
“Aku mendengarnya,” jawab Nusa dengan senyum. Nusa memanggil pelayan dan memesan minuman alkohol buatnya.
“Iya betul. Tapi aku sudah memaafkan Kaya dan ingin berteman dengannya.” Jawab Adrian.
“Wow..., ini sangat mengejutkanku Adrian? Harusnya kau tahu dia menipu papaku Adrian. Apakah kau tidak merasa prihatin dengan sahabatmu ini?” tanya Nusa mendramatisir dirinya.
“Heh, prihatin?” Adrian tersenyum. “Aku memang prihatin dengan keadaanmu, tapi bukan berarti aku memusuhi Kaya bukan?”
Apakah Adrian memang mencintai Kaya? Sehingga dia melupakan siapa Kaya sebenarnya? Tanya Nusa dalam hati.
Pelayan itu datang membawa botol alkohol dan gelas, lalu menaruhnya di depan Nusa.
“Apakah kau mau minum?” tanya Nusa tersenyum menyodorkan botolnya.
“Tidak, terimakasih.” Jawab Adrian.
“Apakah kau juga mau minum Kaya?” tanya Nusa.
“Tidak,” jawab Kaya.
“Baiklah aku akan minum sendirian,” Nusa meminum airnya. “Balik lagi ke ucapanmu Adrian. Kau memang benar aku yang bermusuhan, bukan berarti kau memusuhinya.”
Sebenarnya apa pembicaraan mereka ini. Kenapa mereka memojokan diriku, batin Kaya.
“Kalau begitu kalian sekarang sedang apa?” tanya Nusa.
“Kami sedang menjalin pertemanan,” jawab Adrian.
“Ohh..., bagus dong. Kalau begitu mari kita bersulang untuk menyambut pertemanan kalian yang baru.” Nusa menyodorkan gelasnya ke arah mereka.
Kaya dan Adrian mengambil gelas melakukan yang disuruh oleh Nusa. Mereka pun bersulang, lalu minum dengan menatap sinis.
“Ini lucu sekali bukan, kalian berteman setelah semua ini. Kaya menipu papaku dan Adrian malah menjalin pertemanan. Wow...., sungguh menyenangkan sekali bukan. Tapi tidak apa-apa, aku tidak akan marah.” Nusa tertawa dengan cool.
“Buat apa kau marah Nusa? Bertemannya aku dengan Adrian, itu adalah hak Adrian. Bukankah begitu Adrian?” Kaya tersenyum mengangkat alisnya melihat Adrian dan Adrian hanya tersenyum.
Nusa sebenarnya ingin marah, namun dia menahan emosinya. Bibirnya sudah dinaikan ke atas, seakan tidak suka dengan tatapan mereka.
“Kau benar Kaya. Buat apa aku marah. Ini adalah hak Adrian untuk berteman dengan siapa saja.” Nusa tersenyum sinis. Mereka pun tersenyum sambil meminum dan tidak berbicara lagi.
~ Bersambung ~