My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 62 ~ Adrian Masih Menyukai Kaya.



~ Happy Reading ~


          Adrian dan Lita telah selesai makan. Lita menatap Adrian dengan heran karena memafkan Kaya dengan cepat.


          “Adrian,” seru Lita.


          “Iyah,” ucap Adrian sambil minum.


          “Apakah kamu masih suka sama Kaya?” tanya Lita terus terang.


          Adrian menaruh gelasnya dan menatap Lita dengan serius. “Aku masih menyukainya,” jawab Adrian dengan jujur.


          Kenapa dia masih menyukai Kaya. Setelah dia tahu kebenarannya?


          “Kenapa kamu masih menyukainya?” tanya Lita.


          Karena aku menginginkannya, batin Adrian tersenyum.


          “Entahlah,” senyum Adrian meminum lagi.


          Segitunyakah dirimu mencintainya, batin Lita menatap Adrian yang minum.


          Lita yang masih menyukai Adrian tidak tahu harus berbicara apalagi. Dia merasa hatinya sudah sakit mendengar ucapan Adrian.


***


Keesokan harinya....


          Kaya sudah sampai di ruangan dan duduk melihat Mila yang juga sudah sampai.


          “Pagi bu Kaya,” sapa Mila dengan senyum.


          “Pagi,” balas Kaya dengan senyum.


          “Ibu saya boleh tanya tidak.”


          “Boleh.”


          “Pak Nusa punya pacar tidak?” tanya Mila dengan senyum.


          Kaya beranjak dari kursi menghampiri meja Mila dan duduk di atas mejanya. “Nusa itu belum punya pacar Mil, tapi dia banyak wanita.”


          “Oh…,” gumam Mila.


          “Kenapa emangnya Mila?” tanya Kaya dengan senyum.


          “Enggak papa bu,” jawab Mila tersenyum malu.


          “Kamu suka sama pak Nusa yah?” tebak Kaya menunjuk Mila dan menggodanya.


          “Iya bu,” nyengir Mila.


          “Oh? kalau suka juga enggak papa?! Mungkin aja pak Nusa suka sama kamu. Dia suka yang sexy dan cantik,” goda Kaya beranjak dari meja dan berdiri di samping Mila.


          “Tapi saya udah cantik dan sexy kan Bu?” tanya Mila berdiri dari kursi.


          “Kamu sudah sexy dan cantik kok, tinggal kamu goda aja dia.” Saran Kaya.


          “Baiklah bu, makasih yah bu.” Senyum Mila kembali duduk.


          “Iyah,” senyum Kaya berbalik badan menuju mejanya.


          “Bu,” panggil Mila dan Kaya berbalik badan.


          “Apakah ibu tidak tertarik dengan pak Nusa?” tanya Mila dan ternyata Nusa sudah di pintu mendengar mereka.


           “Saya tidak suka dengannya.” Jawab Kaya dengan senyum.


          “Kenapa bu? Padahal dia sangat tampan, cool, kaya dan pewaris tunggal lagi?” tanya Mila kagum, mengingat wajah Nusa.


          Kamu benar Mila, dia sangat tampan, batin Kaya.


          “Dia bukan tipe saya,” jawab Kaya dengan senyum.


          “Ohhh..., sayang sekali bu. Padahal ibu sangat cantik sekali dan cocok dengannya.”


          Mana mungkin aku cocok dengannya, karena kami adalah musuh sekarang, batin Kaya kembali menuju tempat duduknya.


          Nusa yang sedari tadi berdiri di depan pintu mendengar percakapan mereka. Ia merasa kesal kepada Kaya atas pernyataanya terhadap Mila, namun ia harus tetap stay cool.


          Nusa membuka pintu dan masuk berjalan menuju mejanya. Mila berdiri mengucapkan salam kepada Nusa dengan senyum. Sementara Kaya, bersikap cuek dan tidak perduli kedatangan Nusa.


          “Bapak mau minum kopi tidak?”


          “Dia tidak suka kopi Mil, sukanya alkohol.” Celetuk Kaya menatap Nusa dengan sinis.


          Mila langsung menoleh Kaya, ia sedikit terkejut dengan ucapan Kaya. Kok, ibu Kaya


tahu pak Nusa tidak suka kopi?


          “Kamu jangan dengarkan dia! Mana mungkin saya minum alkohol di sini?! Kamu bikinin saya teh pahit saja!” Perintah Nusa dengan kedua tangan menumpu dagu, sambil tersenyum melihat Mila.


          “Kok, teh pahit sih pak?” tanya Nusa.


          “Soalnya kamu sudah manis,” gombal Nusa.


          Kaya yang mendengarnya ingin muntah. Dasar tukang gombal!


          “Bapak bisa aja,” Mila tersipu malu.


          Mila berbalik badan dan berjalan menuju Kaya. “Ibu mau juga enggak?” tanya Mila.


          “Kamu tidak perlu melayaninya. Dia bisa sendiri!” Nusa menoleh ke arah Mila dan Kaya.


          “Dengarin atasan kamu Mil! Nanti, saya buat sendiri.”


          “Baiklah,” senyum Mila.


          Mila berjalan menuju pintu. Ini aneh, mereka berdua seperti saling benci tapi ada tatapan cinta juga. Ahhh..., mungkin perasaanku aja, batin Mila membuka pintu dan keluar menuju pantry.


          Nusa beranjak dari kursi dan menghampiri Kaya, lalu duduk di atas meja. “Apa kabar sayang?” tanya Nusa menyolek dagu Kaya.


          Kaya langsung membuang muka. “Kenapa kamu selalu saja buang muka?” tanya Nusa.


          “Bukankah sudah jelas. Kenapa kau selalu bertanya?” tanya Kaya dengan sinis.


          “Kaya..., Kaya...,” Nusa beranjak dari meja dan menuju belakang Kaya. Nusa memegang bahu Kaya dan mendekatkan wajahnya ke kuping Kaya.


          “Aku tahu kau tidak menyukaiku, tapi kenapa kau selalu memakai kalung yang ku berikan?” bisik Nusa tersenyum. Lalu berdiri menyender meja Kayayang berhadapan dengannya.


          Karena aku menginginkannya Nusa. Aku tidak mungkin menghukum pemberianmu hanya karena kita sekarang bermusuhan, batin Kaya memegang kalung tersebut.


          “Karena aku ini matre. Bukankah kau sendiri bilang ini sangat mahal? Buat apa aku buang? Lebih baik ku jadikan uang nantinya?!” Senyum Kaya menatap Nusa yang berdiri di depannya.


          “Yah itu benar, memang sangat mahal sekali. Bahkan harga diri pun serupa dengan harga kalung tersebut.”


          “Bisakah kau tidak memandang harga diri dengan uang?”


          Nusa langsung menarik tangan Kaya, sehingga berdiri menghadapnya. “Kenapa? Bukankah benar?” bisik Nusa.


          “Yah itu memang benar, kau beli saja harga diri dengan uangmu itu?! Mungkin kau bisa membeli banyak gadis dengan uangmu itu Nusa.” Sarkas Kaya, lalu berbalik badan ingin pergi. Tapi Nusa menarik lagi tanganKaya dan mendekapkannya.


          “Lepasin Nusa!” tatap Kaya dengan tajam dan mencoba melepas dekapan Nusa.


          “Iya itu memang benar. Aku akan berikan perusahaan ini asal dengan satu syarat. Kau harus tidur denganku malam ini. Bagaimana?”


          Kaya menaruh kedua tangannya dibahu Nusa dan menatap Nusa dengan tajam. “Jangan harap!” Nusa semakin menjadi mendekapkan Kaya dengan kuat.


          “Kenapa? Hanya tidur denganku, kamu tidak perlu repot menjadi penipu dan mendapatkan perusahaan ini.” Senyum Nusa.


          “Kamu pikir aku menipu papamu karena uang. Kamu salah Nusa. Aku menipu papamu karena aku menginginkannya hancur. Bukankah aku sudah pernah bilang?!” Kaya membelai wajah Nusa dengan senyum sinisnya.


          “Baiklah kamu benar Kaya, aku lupa hal itu. Tapi bukannya sudah kau lakukan? Lalu apalagi yang kamu inginkan?” tanya Nusa.


          “Aku belum puas, sampai aku menjadi CEO dan mendepak dirimu dari sini. Lalu membuat papamu menjad benar-benar frustasi.”


          Nusa tambah mendekapkan Kaya dengan kuat dan Kaya merasa kesakitan namun ia menahannya. “Tapi sayang, aku akan menghalangi dirimu kalau begitu.” Senyum Nusa.


          “Coba saja kalo bisa!” senyum Kaya.


          Mereka saling bertatapan dengan sinis dan cukup lama. Nusa memajukan mulutnya untuk mencium Kaya, tapi tidak jadi karena mendengar suara kaki datang.


          “Minumannya sudah siap pak Nusa.” Ucap Mila dengan senyum sambil membuka pintu.


          Mendengar suara Mila.Nusa langsung melepaskan Kaya dari dekapannya dengan masih berdiri dihadapan Kaya.


          “Pak, ini minumannya ditaruh mana?” tanya Mila berdiri di depan meja Kaya.


          “Taruh saja di meja!” perintah Nusa mengusap lehernya karena canggung dan berjalan menuju kursinya. Kaya juga langsung duduk kembali.


~ Bersambung ~