
Di ruangan Kaya.
“Kay, aku perhatiin kamu selalu pulang malam melulu sama Adrian?” tanya Nusa cemburu duduk di depan meja Kaya.
“Kenapa? Kamu cemburu yah Nus?” goda Kaya.
“Iya aku cemburu,” ucapnya dengan muka cemberut.
“Yaelah Nus, tenang aja. Aku sama dia, cuman atasan sama bawahan.”Ucap Kaya sambil mengetik lagi.
Kenapa aku harus menjelaskan ke dia?
“Bener yah? Awas kamu Kay, kalau suka sama dia!” ancam Nusa.
“Emang kenapa kalau pun aku suka sama dia Nus?” tanya Kaya berhenti mengetik dan menatap Nusa.
“Aku akan cari cewek lain entar!” Nusa cemberut dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada.
“Nus-Nus,yaudah cari sana!” Kaya menggelengkan kepalanya. Bingung kadang dengan sikap Nusa yang lebay.
“Bener yah? Aku cari cewek lagi nih Kay?” tunjuk Nusa di depan muka Kaya sambil bercanda.
“Iya sana! Jangan lupa yah! Kenalin ke aku ceweknya, biar aku tau seberapa cantik dia dari aku?!” tawa Kaya.
“Yang pasti enggak ada yang secantik kamu sih Kay!” gombal Nusa.
“Berarti aku paling cantik kan di hati kamu?!” Canda Kaya dengan kedua tangan mengadah wajahnya sambil
mengedipkan mata di depan Nusa.
“Haduh!” Nusa ter-enyuh dengan kedua tangan memegang dadanya.
“Kamu emang paling cantik di hatiku Kay.” Canda Nusa membuat Kaya tertawa lucu.
Suara telepon pun berdering, Kaya menghentikan tawanya dan mengankat telepon. “Halo dengan Kaya.”
“Kamu ke ruangan saya yah!” perintah Adrian di telepon.
“Baik pak,” jawab Kaya dan menutup telepon. “Nus, aku dipanggil ke ruangan bos kamu.”
“Yaudah deh. Aku ikut keluar juga Kay.”
Mereka keluar ruangan bersama. Kaya menuju ruangan Adrian, sementara Nusa balik ke ruangannya. Kaya mengetok pintu ruangan Adrian dan masuk. Dia langsung duduk di depan meja Adrian.
“Saya hari ini ada meeting dengan klien besar. Saya mau kamu siapkan beberapa berkas laporan keuangan dan beberapa berkas penjualan kita yah!” perintah Adrian dengan kedua tangan dilipat menumpu dagu.
“Baik pak.”
“Sama satu lagi, nanti kamu ikut saya meeting! Saya mau kamu yang menjelaskan semuanya!”
“Baik pak.”
“Yasudah, kamu bisa pergi!”
“Iya pak,” Kaya beranjak dan ingin membuka pintu tapi Adrian memanggilnya lagi.
“Kay?”panggil Adrian.
“Iya pak,”toleh Kaya.
“Satu lagi, saya mau kamu nanti menjelaskannya jangan bertele-tele yah langsung pada intinya!”
“Baik pak,” ucap Kaya dan balik lagi menuju pintu.
“Oh iya, satu lagi Kay?!” Ucap Adrianmembuat Kaya berhenti membuka pintu.
“Iya pak,” toleh Kaya tersenyum paksa.
“Saya mau kamu nanti bikin PPT-nya (Power point) yangbagus yah dan menarik.”
“Baik pak. Ada lagi pak yang ingin disampaikan?” tanya Kaya gregetan melihat kelakuan Adrian yang memanggilnya melulu.
“Oh, tidak ada.” Ucapnya datar tanpa berdosa.
“Baik Pak, saya permisi dulu yah Pak!” Kaya membalikkan badan dan mau membuka pintu tapi terhenti.
“Oh iya? Jam berapa yah meetingnya?” gumam Kaya pelan dan kembali lagi menoleh Adrian.
“Oh iya pak? Meetingnya jam berapa yah?”
“Jam 3 sore,” jawabnya sambil mengetik.
“Baik Pak, terimakasih.” Ucap Kaya dan Adrian hanya bergumam “Hemm.” Kaya balik ke ruangannya dan duduk sambil mempersiapkan semuanya untuk meeting.
****
Di Ruang Meeting.
Kaya beridiri di samping layar proyector. Dia menaruh laptopnya di meja dan mulai membuka PPT (Power Point) yang dibuatnya. Sambil menunggu semua datang, Kaya mencoba menghafal beberapa kata dengan memegang pena proyector.
“Nusa?” Kaya heran saat Nusa masuk ke ruangan meeting.
“Kenapa? Heran yah?” nyengir Nusa dan mengambil tempat duduk dekat dari Kaya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Kaya bingung.
“Aku ikut meeting lah,” jawabNusa.
“Kok bisa? Bukannya enggak ada hubungannya yah Nus?” tanya Kaya karena ini pembahasan tentang laporan keuangan.
“Tau tuh Adrian, maksa ikut.” adunya kesal.
“Oh,” gumam Kaya. Adrian pun masuk dengan kliennya.
“Selamat sore pak,” sambut Kaya dengan senyum kepada Adrian dan Klien tersebut.
“Sore,” senyum klien tersebut sedangkan Adrian hanya diam dan duduk dekat layar protector. Sementara beberapa kliennya duduk di samping Adrian dan Nusa.
“Bisa kita mulai Kay?” tanya Adrian.
“Bisa pak,” senyum Kaya.
Kaya pun memulai menjelaskan laporan keuangan dan penjualan sambil berdiri. Penjelasannya sangat lugas dan dapat dimengerti oleh semua orang. Power Point yang dibuatnya pun sangat menarik dan kreatif.
Semuanya mendengarkan Kaya berbicara termasuk Adrian, yang sangat serius mendengar Kaya dan menatap layar proyector yang dijelaskan oleh Kaya. Sementara Nusa hanya menatap Kaya saja dan tidak berpaling sama sekali.
Kaya pun selesai menjelaskannya dan berkata. “Sekian dari saya. Jika ada yang ingin bapak sekalian sanggah atau bertanya silahkan?”
Nusa dan klien Adrian langsung bertepuk tangan, sambil memberikan senyuman. “Wah, kamu hebat Kay menjelaskanya!” Puji Nusa sambil bertepuk tangan dan Kaya hanya tersenyum.
“Iya kamu sudah sangat jelas menjelaskan ke kami,” puji klien tersebut.
“Terimakasih pak,” senyum Kaya. Adrian hanya memperhatikan Kaya saja.
“Oke menurut pak Miguel bagaimana? Apakah bapak ingin bergabung dengan kami?” Adrian bertanya langsung pada intinya terhadap klien tersebut.
“Saya bersedia bergabung dengan kalian. Saya melihat prospek kerjasama kita nanti akan bagus. Apalagi di jelaskan oleh ibu Kaya yang sangat cantik tadi membuat saya mengerti semuanya.” Miguel tersenyum menoleh Kaya dan berdiri memberikan tangannya untuk berjabar tangan.
pengikut Miguel ikut berjabat tangan dengan Adrian.
Setelah berjabat tangan mereka ingin keluar ruangan. Kaya dan Nusa sudah bersiap berdiri di samping pintu sambil berjabat tangan dengan mereka.
Pak Miguel berjabat tangan dengan Kaya dan sedikit mencondongkan wajanya ke wajah Kaya untuk membisikan sesuatu.
“Kamu hebat dan cantik. Kalau bisa kamu kerja sama saya aja?” goda Miguel dengan genitnya.
Kaya langsung membuka matanya lebar-lebar. Dasar tua Bangka, batin Kaya. Namun, Kaya hanya menyengir dan berkata. “Bapak bisa saja.”
Pak Miguel pun keluar ruangan bersama dengan temannya dan Adrian.
“Kay, kamu hebat.” puji Nusa.
“Lebay kamu Nus,” senyum Kayasambil membereskan laptop di meja.
“Yeh, beneran?!”
“Makasih,” senyum Kaya.
“Tadi pas jabat tangan dengan Pak Miguel dia bisikin apa?” tanya Nusa penasaran melihat Pak Miguel bisik ke Kaya tadi.
“Oh,tadi dia bilang ‘kamu hebat dan cantik, kalau bisa kamu kerja sama saya saja.”
“Sue tuh Pak Miguel, genit amat sama kamu Kay?!” dumel Nusa.
“Udahlah, lagi pula udah pergi dia!” Kaya sambil memegang laptop. “Yuk!” ajaknyakeluar ruangan.
“Iya sih. Tapi kan, aku kesel kalau ada yang ganggu calonku.” CandaNusa berjalan bersama Kaya keluar ruangan.
“Calon apa maksudnya?” tanya Kaya melihat Nusa dengan tatapan sinis.
“Hemmm, calon pacar.” Tawa Nusa.
“Emang aku mau jadi pacar kamu?” tanyaKaya.
“Kamu yah, sama aku selalu aja begitu. Sekali aja bilang iya?!” Ucap Nusa dengan kesal.
“Iya deh, tapi mungkin dalam mimpi.” Tawa Kaya sambil berjalan bersama Nusa.
“Tuh kan?” Ucap Nusa dengan bete. Kaya hanya tertawa melihat kelakuan Nusa. Mereka pun berjalan menuju ruangan Kaya.
****
Di ruangan Kaya.
“Kay?” Nusa duduk di depan mejaKaya.
“Hmmm,” Kaya sedang memeriksa beberapa dokumen di mejanya sambil menandatangani dokumen tersebut.
“Kenapa kamucantik banget yah?” tanya Nusa dengan tangan menumpu dagu sambil menatap Kaya yang sedang sibuk.
“Aku juga enggak tahu Nus! Kenapa akucantik?” balik tanya Kaya yang masih fokus dengan tumpukan dokumen di
mejanya.
“Kalo kamu aja enggak tau apalagi aku?!”
“Lagian pertanyaanya ada-ada aja!” tawa Kaya sambil memegang pulpen.
“Abisnya kamu terlalu cantik dari semua cewek di sini! Jadi, aku tidak bisa berpaling dari wanita lain deh!” gombal Nusa dengan menyengir.
“Nusa, mulai deh gombal dan lebay!”
“Yeah, akuserius! Enggak gombal!”
“Udah ah, aku banyak kerjaan nih! Nanti sahabat kamu marah-marah sama aku kalau enggak selesai.”
Nusa beranjak dari kursi dan ingin keluar ruangan, tapi suara telepon berdering dan dia berbalik badan lagi melihat Kaya mengangkat teleponnya.
“Halo dengan Kaya.”
“Kamu ke ruangan saya yah!” perintah Adriandi telepon.
“Baik Pak,” ucapnya dan menutup telepon. “Tuh kan baru aja di omongin, udah nelpon dia. Panjang umur banget tuh bos kamu Nus.” Kaya berdiri dari kursi.
“Lah itu mah bos kamu Kay! Bukan bos aku!”
“Kok bukan bos kamu sih Nus? Jelas-jelas kamu kerja di sini, bagaimana sih kamuNus?” desis Kaya.
“Iya juga sih,” nyengir Nusa.
“Hadeh!” Kaya memutar kedua bola matanya.
Mereka pun keluar ruangan bersama. Kaya masuk ke ruangan Adrian dan duduk di depan meja Adrian, sedangkan Nusa balik ke ruangannya.
“Ada apa yah pak?” tanya Kaya.
“Saya ingin ucapkan terimakasih ke kamu atas presentasi kamu tadi.” Senyum Adrian dengan cool.
“Sama-sama pak,” senyum Kaya.
“Kamu hebat yah menjelaskanya dengan baik,” puji Adrian.
“Bapak bisa aja. Saya hanya menyampaikan menurut saya saja kok pak.”
“Pantesan kamu jadi asisten dosen yah?!” pujinya lagi.
“Bapak bisa aja,” senyum Kaya.
“Yaudah karena kamu tadi presentasinya bagus. Saya traktir kamu makan yah?”
“Tidak usah pak, saya jadi enggak enak sama bapak.”
“Tidak usah tidak enak. Memang seharusnya kamu dapat penghargaan dari saya.”
“Terimakasih pak,” senyum Kaya.
“Nanti jam 6 sore kita pulang bareng yah!”
“Baik pak,” senyumKaya.
“Yaudah kamu boleh kembali bekerja!”
“Iya pak. Terimakasih pak,” Kaya beranjak dari tempat duduk dan Adrian hanya bergumam. “Hmmm.”
Kaya pun kembali ke ruangannya dan duduk. “Yes, yes, yes!”
“Akhirnya dia menyadari kalau aku itu hebat! Memang aku hebat! Baru tahu dia?”sombongnya sambil tertawa
cekikikan.
“Terus dia mau traktir aku makan lagi. Senangnya hatiku.”Ucapnya senyam-senyum sendiri.
~ Bersambung ~