
"Aku mau pergi ke toilet dulu" bisikku pada Bagas.
" Mau aku antar" .
" Tidak usah aku bisa bertanya pada salah satu pelayanan yang ku temui".
Aku berjalan sambil memperhatikan sekeliling supaya aku bisa menghindar jika bertemu dengan Fathar, sampai aku melihat seorang pelayan yang sedang menata aneka kue di meja.
" Maaf permisi ibu kamar kecilnya sebelah mana ya" .
" oh masuk aja mbak ntar ada meja makan di belakang meja makan itu ,ada dapur bersih di sampingnya ada kamar kecil khusus tamu" ucapnya sopan.
" Terima kasih ibu".
" Sama-sama Mbak".
Setelah mengikuti arahan yang diberikan Ibu tadi ,aku menemukan pintu kecil yang kuduga itu pasti kamar kecilnya.
Setelah menyelesaikan hajatku aku merapikan sedikit make up dan rambutku, supaya terlihat lebih rapi.
"Ahkirnya aku menemukanmu Setelah menunggu hampir 2 tahun" ucap Fathar yang sudah lama berusaha aku lupakan . Sebenarnya sejak aku tahu ini acara dari keluarga Raksa aku sudah menduga kemungkinan bertemu dengannya itu besar, meski begitu ternyata masih membuatku sedikit kaget.
"Bagaimana kabar keadaan mu" ucapnya Setelah kami hanya saling diam dan masih di depan toilet.
"Alhamdulillah sehat seperti yang kau lihat " jawabku berusaha setenang mungkin.
"Bisa kita bicara sebentar tapi tidak disini " katanya sambil menarik tanganku menjauh dari toilet tanpa perlawanan sama sekali, seperti kerbau di cucuk hidungnya.
" Sesuai yang kau katakan dulu aku tidak mencarimu tapi takdir yang mempertemukan kita, atau emang sengaja kamu datang ke rumah keluargaku mengingat kau tahu alamat rumahku" ucapnya percaya diri.
" Kalau aku tahu ini rumahmu aku takkan mau datang ke sini, sudah 12 tahun saat itu aku hanya tahu alamat rumahmu tanpa tahu rumahmu " jawab ku menahan rasa kesal.
" Apakah kamu sudah punya pasangan atau sudah berkeluarga".
" Emang kalau aku udah punya pasangan kenapa andai kalau belum juga kenapa" tantang ku.
" Bukannya janjimu dulu kalau kita bertemu lagi dan masih sama-sama single kita akan mencoba menjalin hubungan".
" Saat itu aku bilang begitu karena belum mengenal dirimu tapi sekarang aku tidak mau berhubungan dengan pembohong" ucapku, yang merasa dibohongi mengenai status hubungannya dengan Yumi.
" Bohong apa ,aku tidak pernah berbohong padamu" ucapnya sambil menarik tanganku setelah mengejar ku .
" Jika kau tidak merasa berbohong yaudah " jawabku santai.
" Jelaskan kapan aku berbohong padamu, supaya aku bisa tahu kesalahanku" katanya yang cuma ku balas dengan senyum sinis.
Aku tidak suka dengan kebohongan sekecil apapun itu, karena satu kebohongan akan ditutupi dengan kebohongan berikutnya dan disusul kebohongan lagi. Tanpa kuduga sama sekali tiba-tiba tengkukku di tarik dan bibir ku dilumat secara kasar seolah bibirku adalah makanan yang lezat ,ini adalah ciuman pertamaku dan di ambil cinta pertamaku .
Pikiranku kosong seketika aku tidak bisa membalas atau menolak, hingga ciuman itu terlepas kulihat Bagas bersiap hendak memukulnya.
" Please jangan bikin onar kita tamu di sini " ucapku sambil memegang tangan Bagas untuk menghentikannya memukulku Fathar.
" Dia telah melecehkan kamu dia harus diberi pelajaran" Ucapnya dengan mata tajam.
" Tar kamu yang malah yang dihajarnya" ucapku sambil menarik Bagas menjauh.
"Siapa dia sebenarnya mengapa dia berani menciummu dan mengapa kamu melarang ku menghajarnya" ucap Bagas setelah posisi kami agak jauh.
"Dia teman SMA ku dulu, dia seorang tentara jika kau menghajarnya kamu yang akan babak belur di buatnya dan ingat kita tamu di sini" ucapku setelah kami kembali ke tempat duduk kami.
" Sebaiknya kita segera pulang aku gak nyaman disini lama-lama " ucapku yang merasa gak nyaman, karena selalu diperhatikan gerak-gerik ku oleh Fathar.
" Baiklah ayo kita temui Aufar dan keluarganya terus kita pamitan pulang" Kata Bagas sambil mengajak ku mendekati orang tua Aufar.
Setelah berpamitan kepada orang tua Aufar, kami berlanjut berpamitan kepada Yumi dan Aufar.
" Bro Gw balik dulu udah malam " ucap Bagas sambil memegang bahu Aufar.
" Baru juga ke jam 10.00 malam, oh ya kenalkan ini tunanganku Yumi".
" Ayumi " ucap Yumi.
" Bagas".
" kak Feby" ucap Yumi sepertinya kaget melihatku ada disini.
"Hai Yumi,selamat ya atas pertunangan nya semoga lancar sampai hari H " ucapku berusaha setenang mungkin.
"Bisa kita bicara sebentar atau kakak bisa tinggalkan no ponsel aku akan hubungi kakak ".
" Maaf kami buru-buru " ucapku segera menarik Bagas dari sana.
"Kalian saling mengenal" ucap Bagas saat kami sudah berada di dalam mobil.
"Dia Adik kelasku, waktu aku kelas 12 dia kelas 10".
" Terus laki-laki yang ku pukul tadi pasti keluarganya, mengingat dress code nya putih ".
" Besok akan ku ceritakan jika kamu penasaran jangan sekarang Aku ngantuk berat" kataku berbohong saat mobil sudah berhenti di depan rumah pak Dhe.
Aku masuk ke sebuah kamar yang biasa aku tempati setiap kali aku ke sini. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Fathar setelah setahun tinggal di kota ini, aku juga tidak menyangka begitu kami bertemu dia langsung menanyakan statusku. Apa ini yang disebut kalau sudah jodoh pasti akan bertemu meskipun waktu sudah memisahkan kita.
Aku raba bibirku yang tadi sudah di cium Fathar secara kasar, ciuman pertamaku yang diambil secara kasar ,anehnya tidak ada rasa marah saat aku diciumnya . Apa emang masih ada benih-benih cinta di hatiku buatnya.
"lo semalam nggak bisa tidur ya" ucap Bagas saat kami sarapan bersama dan melihat ku yang menguap terus.
"Bisa ko, tidurku juga nyenyak ".
"Hahaha jangan bohong padaku matamu itu matanya orang ngantuk terus kamu juga menguap terus jadi jujur aja" ucapnya sambil tertawa.
" Ko sepi pakde dan Bu Dhe pada ke mana".
" Lo lupa hari ini hari Minggu ya pasti jogging di taman kota jadi nggak ada orang, sekarang ceritakan padaku siapa laki-laki semalam" ucapnya persis seorang kakak yang menginterogasi adiknya.
Ahkirnya mengalir lah ceritaku tentang masa SMA ku yang sangat mencintai seorang murid pindahan yang tampan dan pintar, tapi saatnya kelas 3 murid pindahan itu yang tadinya sangat cuek menjadi perhatian pada anak baru. Feby juga menceritakan tentang insiden tantangannya memakan makanan pedas yang berakhir Yumi masuk UGD, tetapi yang bikin kesel dia adalah kebohongan laki-laki itu. Setelah menghadiri acara pertunangan semalam dia yakin Fathar dan Yumi adalah keluarga meski dia tidak tahu hubungan mereka saudara kandung apa sepupu kayak dia dan Bagas.
" Jadi lu kesel karena dibohongin loo menuduh Fathar mendekati atau pendekatan sama Yuni, padahal mereka saudara".
" Iya gua merasa sangat bersalah kala itu Fathar juga membohongiku Katanya aku akan dilaporkan ke polisi, tetapi setelah melihat yang semalam aku yakin itu hanya akal-akalan Fathar kalau itu".
" Kamu menuduh dia saudara" ucap Bagas yang aku jawab dengan aku kan.
"Apa kamu pernah bertanya hubungan mereka saat dulu maupun saat sekarang?" tanya Bagas lagi padaku, kali ini kujawab dengan gelengan kepala.
" Jadi tidak ada yang berbohong di sini, kamu saja yang dulu mengasumsikan sendiri kalau Fathar mendekati Yumi".
" Ko loo bela dia sih" kataku kesel.
" Begini nih para wanita selalu merasa benar padahal salah" ucap Bagas sambil geleng-geleng kepala.
"Terus kenapa dia tiba-tiba nyosor ke kamu bukannya dia dulu nggak ada rasa sama kamu".
Aku menceritakan semua pertemuanku waktu di Bandung dan tinggal di rumah Pak lek selama sebulan. aku juga cerita tentang kedatangannya di Jogja kala itu beserta permintaannya untuk menjalin hubungan , yang balas biar waktu yang menjawab dan tidak usah kita saling mencari.
" Aku baru sadar saat kamu bercerita kalau temanmu bertunangan dengan salah satu cucu RR GROP ".
" Terus kamu tahu mereka saudara saat melihat foto keluarga mereka " ucap Bagas yang ku jawab dengan memukulkan kepalaku ke meja makan.
" Pantas sikapmu semalam sama tunangan Aufar kurang ramah".
"Dia mungkin mengira kita pasangan jadi biarkan mereka semua mengira kita pasangan jangan pernah buka kartu ".
" Yakin nggak nyesel cinta pertamamu loh ,keluarga konglomerat mendekatimu".
" Assalamualaikum" ucap pak Dhe, Bude dan Isal yang baru pulang dari jogging secara bersamaan.
" Waalaikumsalam" jawabku dan Bagas bersamaan.
" Kalian lagi sarapan apa?" tanya Bu Dhe.
" nasi goreng " jawab Bagas.
" Gas kamu kalau mama jodohkan sama Afifah mau nggak" ucap Bude, membuat Bagas yang lagi minum kopi langsung tersedak.
"Ma jangan dipaksa biarkan Bagas memilih jodohnya sendiri".
" Habis usianya Bagas udah 33 tapi belum ada tanda-tanda yang mau nikah, jangankan mau nikah membawa calon aja belum" ucap Bu Dhe.
" Kenapa harus dengan Afifah Ma,aku bisa mencari jodohku sendiri".
" Tadi waktu jogging Mama ketemu keluarga mereka dan juga calon istrinya Aufar , kamu nggak bilang kalau datang dengan sepupumu hingga mereka menuduh kalian pasangan" ucap Bu Dhe membuat kami berdua langsung terbatuk.
Mampus jika Yumi tahu aku sepupu dengan Bagas maka Fathar juga akan tahu kata ku dalam hati.