
Sebenarnya aku merasa ada yang aneh saat Febi menghentikan mobil di hotel bintang 3 ini, tapi aku berusaha menghilangkan prasangka buruk ku dengan mempercayai semua yang dikatakannya meskipun terasa janggal.
Hingga Feby masuk ke dalam kamar yang anehnya tidak dinyalakan lampu satu pun semuanya gelap, saat aku merasakan ada pergerakan orang asing selain kami berdua ternyata sudah kalah cepat dengan pistol yang bersarang di kepala ku.
"Apa-apa ini " teriak Feby saat lampu menyala. Aku melihat istriku juga terkejut dengan apa yang terjadi, terlihat Bagas dan Isal duduk di kursi dengan posisi duduk dengan tangan dan kaki saling terikat dengan mulut tersumpal kain. Oh Tuhan ternyata dugaan ku benar nampak Pitaloka duduk dengan satu laki-laki berdiri di sampingnya dan satu laki-laki sedang menodongkan pistol ke arahku.
" Apa maumu" tanya Feby dengan muka menahan amarah.
"Nyawamu" jawabnya santai dan tenang membuatku terasa mendidih mendengarnya, wanita gila itu menginginkan nyawa istriku.
" Baik akan kuberikan nyawaku untukmu lepaskan adikku sepupuku dan suamiku sekarang" jawab nya.
" Apa aku kira aku bodoh, kau membohongiku dia bukan anakmu tapi adikmu berarti dia keturunan Kusuma. Sekarang aku berubah pikiran aku menginginkannya nyawa kalian berdua. Jadi siap-siaplah Aku pastikan kamu dan adikmu supaya kalian bisa menyusul mama kalian " ucapnya Sambil tertawa persis seorang psikopat yang suka aku tonton di dalam film-film laga, membuatku bergidik ngeri melihat tawanya.
" Bukannya kamu menginginkan sumsum tulang belakangku buat putrimu ambilah aku akan mengikuti prosedurnya" jawab Feby tenang ,Aku tidak boleh emosi aku harus tenang kata ku dalam hati.
"Terlambat Putri kesayanganku telah diambil mamamu, jadi sekalian aja aku kirim kalian berdua menyusul Mama kalian" ucap Pitaloka santai.
Ku lihat Pitaloka mengambil teko air dan memasukkan beberapa tetes obat ke dalam teko itu.
" Berikan minum ini kepada tiga laki-laki ini setelah 10 menit aku pergi" ucap Pitaloka belum mengambil pistol di dalam tas kecil.
" keluarkan semua kartu identitasmu" ucap Pitaloka pada Feby. Feby menurut mengeluar kan KTP dan SIM yang ada di dalam dompetnya. Setelahnya Pitaloka mengambil ponsel kami semua dan dihancurkan di depan kami sebelum dibuangnya di dalam kamar mandi.dia juga memasukkan kembali dompet Feby ke dalam kantong celana jeans istriku.
" Orang akan mengira kita sepasang kekasih yang sedang bunuh diri" seringainya. Gila ini benar-benar gila baru pertama kali aku melihat orang psikopat kayak dia.
" Aku berubah pikiran aku mau melihat ketika laki-laki ini meminum racun yang telah ku campur" ucap Pitaloka.
" JANGAN gila kamu jangan kamu bunuh mereka " teriak Feby marah.
Kulihat Isal dan Bagas di paksa minum dan di sumpal lagi setelahnya.Aku hanya bisa melihat dan tiba giliranku aku langsung minum racun yang disodorkan tanpa menunggu diperintahnya, membuat Feby menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meneteskan air mata. Aku tidak bisa bicara karena air yang telah di campur racun yang aku minum tidak ku telan tapi aku tahan di tenggorokanku.
" kenapa kamu langsung minum ya seharusnya kamu tolak" teriak Feby dengan air mata yang sudah mengalir seperti sungai di pipinya.
" Woo Aku suka pemandangan ini aku tidak akan menyuruh mu meminum racun karena nanti akan ketahuan mereka" ucap Pitaloka santai.
" Masukkan semua barang bukti ke plastik biar aku bawa sekalian menemui putri ku" ucap Pitaloka sebelum menyeret Feby keluar dari kamar ini. Setelah Feby keluar segera ku memuntahkan air yang tadi ku minum membuat kedua laki-laki anak buah Pitaloka kaget melihat.
" Apa Kamu kira aku bodoh akan minum racun seperti perintah bosmu itu" kataku sambil menghajar dua laki-laki anak buah Pitaloka berbadan kekar tapi tak sekuat tenaganya buktinya begitu mudah aku mengalahkan nya .
" Cepat kita harus menyelematkan Feby" ucap Bagas setelah aku melepaskan tali ikatannya dan segera aku ikat anak buah Pitaloka.
" Tentu aku akan mengejarnya tapi kalian juga harus diperiksa dokter sebelum racun itu menyebar" ucap ku.
Segera hubungi temanku di batalyon yang juga seorang dokter militer dan aku suruh ke sini sambil membawa beberapa anak buahku.
" Aku tinggal mengejar Feby kalian tunggu di sini jangan kemana-mana" ucapku, kulihat Isal dan Bagas sudah mulai lemas sepertinya racun yang mulai bereaksi.
Sampai dini hari tidak ada kabar apapun sudah ku kelilingi seluruh kota Padang tapi tidak ada hasil, akhirnya aku kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Isal dan Bagas.
"Bagaimana sudah ada kabar dari Feby" ucapkan saat aku menemuinya di ruangan perawatannya.
" Aku sudah berputar-putar kota Padang tapi tidak berhasil" jawab ku.
"Temanku dari kepolisian sudah mendapatkan kabar mobil apa yang di pakai Pitaloka sekarang pihak kepolisian sedang mencari keberadaan mobil tersebut".
" Maaf kami benar-benar minta maaf jika kami tidak ke sini semua ini tidak akan terjadi" ucap Bagas.
"Emang benar karena kalian datang ke sini tapi bukannya kalian juga korban disini , Pitaloka sudah mengincar Febi Dan Isal jauh-jauh hari untuk membalaskan kematian putrinya karena tidak bisa mendapatkan donor tulang sumsum"ucap Fathar.
"aku sudah menghubungi papa dan juga papa Febi kemungkinan hari ini dengan penerbangan pagi mereka akan ke sini" ucap Bagas.
Aku tidak bisa beraktivitas dengan tenang selama belum mendapat kabar keadaan istriku di mana. Mama dan papa juga dalam perjalanan ke sini.
"Maaf Bro Aku mau ngasih kabar mobil yang kita cari mengalami kecelakaan beruntun di Tanjakan Silaiang Kariang" ucap salah satu kenalanku yang bekerja di satlantas membuat ku langsung lemas.
"Kita langsung ke sana memeriksa tempat kejadian" ucap papa yang menemani ku dan mama menemani Isal masih dalam pemulihan.
Tanjakan Silaiang Kariang Padang Panjang, Sumatera Barat
Akses jalur ini berada di Padang Panjang, dengan pemandangan alam berupa Air Terjun Lembah Anai yang berada di sisi jalur ini.
Selain memiliki pemandangan alam yang indah, jalur ini juga memiliki ruas jalan dan tanjakan yang berkelak-kelok dan relatif sempit yang sering menyebabkan kecelakaan.
"Bagaimana hasilnya " tanya papa Feby menghampiriku dan papa yang baru saja memeriksa tempat kejadian.
" Terdapat 2 mobil yang rusak parah, Pitaloka dalam keadaan kritis dan Feby tidak ditemukan kemungkinan tubuhnya terlempar dari dalam mobil " ucap Raffi, menjawab pertanyaan Gani, Fathar hanya diam tanpa bersuara.
"Semua salah ku kalau aku tidak berlibur ke sini pasti Tante Pitaloka tidak akan tahu keberadaan mbak Feby" teriak Isal dengan menangis dan meraung menangisi sang kakak dalam dekapan Ika.
"mobil Pitaloka sengaja di buat remnya blong hingga mengakibatkan kecelakaan itu,ada tiga mobil yang juga rusak tidak parah " ucap Raffi.
"Mbak Feby jahat kenapa menyusul mama aku tidak di ajak, kenapa aku di tinggal sendirian "rancu Isal.
"Feby masih hidup, istri ku hanya terluka bukan menyusul mamanya" ucap Fathar tajam kearah Isal.
"Tenangkan dirimu kita akan cari lagi istri mu kita kerahkan semua yang kita punya " ucap Raffi sambil memeluk putranya, usia pernikahan mereka baru seumur jagung tapi harus menerima cobaan yang begitu berat.
" Ternyata di tinggal pasangan pergi tanpa kita tahu ke mana lebih menyakitkan dari pada saat ditinggal pasangan pergi betugas " ucap Ika sambil menyeka air matanya mengingat kejadian hari ini.
Menantunya tidak diketahui keberadaannya dan kondisinya , putra sulungnya seperti orang gila berkeliling mencari istrinya ke beberapa rumah sakit.