
Fathar memperhatikan bayi kecil yang memiliki tubuh sangat kecil itu beratnya tidak ada 2 kg. Disana tertulis Adiva Fathiyyah Raksa, berat 1800 gram, panjang 50 cm. Itu putrinya yang tidak diketahui Fathar meneteskan air matanya mengingat ucapan jahatnya ' kasihan sekali suamimu nanti sudah cacat bisu lagi ,jangan-jangan mukamu juga jelek makanya selalu ditutupin' kejam sekali kalimat itu.
Ternyata perasaan berdebar ku saat berdekatan dengannya karena hati kami saling terikat, dia bukan orang baru dia istriku yang selama ini aku cari-cari keberadaannya katanya di dalam hati.
" Waktu aku ngajak ketemuan terahkir itu tempat yang memilih Feby kami janji ketemu di sana, tetapi aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku dengar mulutmu sangat tajam seperti pisau yang bisa membunuh orang.Tapi benar juga sih karena terlalu tajam mulutmu hingga mengakibatkan luka yang tidak kelihatan darahnya buat sepupuku, bahkan gara-gara luka itu mengakibatkan bayi yang masih kurang berat badannya yang seharusnya 10 hari lagi dilahirkan ,harus dilahirkan dan sekarang harus terpisah dengan ibunya karena fisiknya yang masih lemah. Sekarang Lo gak perlu kasihan dengan suami wanita cacat yang katamu bisu cacat dan mungkin juga jelek, karena bentar lagi laki-laki itu bisa bebas mencari yang lebih cantik lebih sempurna dari wanita cacat itu" ucap Bagas.
begitu panjang kalimat yang diucapkan Bagas tak ada satupun yang direspon oleh Fathar, hanya pandangan lurus dan kosong yang Fathar berikan kepada Bagas yang sedang berdiri di sampingnya di depan kamar perawatan bayi.
Setelah mendapat pesan dari Yumi ,Fathar segera meninggalkan kamar Febi dan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit sesuai instruksi dari adiknya di pesan tadi.
Jadi karena dia kamu makanya kamu selalu menunduk tidak pernah melihat kearah ku meski aku menghinamu, dia tak pernah membalas setiap kata-kata jahat ku bahkan tak pernah melihat kearah ku karena dia tahu aku akan mengenali suara dan matanya kata Fathar dalam hati.
"Kenapa Feby tidak pernah menghubungi ku sama sekali, seharusnya aku orang pertama yang tahu keadaannya aku suaminya" ucap Fathar , itulah pertanyaan Fathar pertama setelah sampai di rumah sakit.
" Mbak Irma dan suaminya yang menyelamatkan Feby tidak berani membawa ke rumah sakit, karena takut dikira dia yang menabrak Feby jadi Mbak Irma yang seorang perawat merawat Febi di rumah selama itu pula hanya memanggil dokter datang ke rumah tanpa pergi ke rumah sakit. Sebulan setelah kecelakaan Mbak Irma menyarankan ke rumah sakit karena Febi sudah bisa memberi keterangan, tetapi Febi menolak dia merasa malu dengan wajahnya ya rusak dan kakinya yang susah buat berjalan. Di saat Feby terpuruk saat itu lah dia diprediksi hamil karena itu Feby menolak segala la pengobatan buat luka-luka luarnya, maupun luka dalam yang dialami termasuk memeriksakan kakinya yang diduga mengalami patah tulang paha bagian dalam. Dia tidak mau berobat karena tidak mau membahayakan janin yang ada di perutnya " ucap Bagas panjang sedang Fathar hanya diam sambil memandang ke kotak inkubator tempat anaknya dirawat.
" Kenapa kamu tidak memukulku saat kau melihat dan mendengar ku menghina sepupumu" ucap Fathar.
" Siapa bilang aku tidak ingin memukul dan mengejar mu aku sangat ingin melakukannya, tapi setelah aku memastikan yang kamu hina itu benar Feby sepupuku ,aku harus membawa Febi ke rumah sakit gara-gara mulutmu yang setajam pisau" ucap Bagas.
"kalian semua sengaja melakukan ini padaku tanpa memberitahuku kebenarannya" ucap Fathar menahan emosinya. Semua orang tahu istrinya udah diketemukan hanya dirinya yang tidak tahu bagaikan orang bodoh saja .
" Hari di mana pak lik membawa Febi ke Jakarta setelah dibujuknya dengan susah payah , dia melihat mu bersama wanita cantik dan seksi apa menurutmu dia tidak tambah down " ucap Bagas emosi.
"Tapi seharusnya dia menemuiku. Aku harusnya tahu jika aku calon ayah "ucap Fathar.
" KENAPA kamu selalu menyalahkan orang kenapa kamu tidak introspeksi dirimu sendiri, jika kedatangan Feby pertama ke sini tidak melihatmu dengan seorang wanita Feby tidak akan down. Feby tidak akan menggugat cerai kamu jika kamu bisa menghargai perempuan dan menghormati semua perempuan, serta menjaga mulutmu untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan" ucap Bagas.
" Jika aku tahu aku tidak akan menyakiti" ucap Fathar.
" Jadi kalau dia istrimu kamu tidak menghinanya dan karena dia orang lain kamu bisa menghinanya sesukamu begitu. Mau dia istrimu mau dia orang lain kamu seharusnya menghargai dia sebagai perempuan ,apalagi dengan kondisi fisiknya yang kekurangan bukan simpati kamu malah menghinanya dimana otakmu berada" geram Bagas dengan pembelaan Fathar terhadap dirinya.
" Sungguh tidak ada niatan buatku untuk menghinanya kamu tidak tahu apa yang kurasakan" ucap Fathar lirih.
" saat pertama aku melihatnya di bandara dengan memakai cadar jantungku berdetak dengan sangat cepat awalnya aku mengira biasa saja, tapi beberapa hari kemudian aku bertemu lagi di bandara dengannya dan jantungku juga berdetak sangat cepat. Aku kesal dengan diriku di saat istriku tidak ketahuan di mana berada hatiku malah berdebar dan berdetak sangat cepat di depan wanita bercadar yang ku temui dua kali tanpa ku kenal. Makanya hanya tatapan sinis dan merendahkan yang ku berikan, untuk menyangkal apa yang kurasakan " ucap Fathar.
" Alasan yang mengada-ngada itu " ucap Bagas sambil berjalan pergi menjauh dari Fathar dan ruang perawatan bayi.
Fathar masih betah berada di ruang perawatan bayi sambil memperhatikan Putri kecilnya sampai adzan subuh berkumandang, Fathar baru berjalan meninggalkan ruang perawatan bayi menuju hotel terdekat bukan untuk tidur melainkan untuk mandi dan mengganti baju dengan yang bersih. Setelahnya Fathar meninggalkan hotel menuju masjid yang berada tak jauh dari rumah sakit, dia bersimpuh memohon ampun atas segala dosanya yang menghina istrinya ,bersimpuh untuk memohon kesehatan untuk Putri kecilnya dan istrinya, bersimpuh mohon ampun atas dosa-dosanya selama ini.
" Kamu tidur di mana semalem " tegur Ika saat melihat Fathar memasuki rumah.
" Aku tidak tidur di mana-mana" jawabnya ikut duduk di meja makan bergabung dengan keluarga yang lain, tetapi bukan untuk makan hanya melihat keluarganya yang sedang sarapan pagi.
" Ada apa Ada yang ingin ku sampaikan atau ingin kau tanyakan?" tanya Raffi pada putranya yang dari tadi hanya diam memperhatikan mereka semua.
" Apakah kedatanganku di pengadilan sengaja dibikin telat supaya tidak bisa menghadiri persidangan ?"tanya Fathar pada keluarganya.
" Iya Opa sengaja melakukannya. Tadinya opa mau membuatmu tidak menghadirinya tapi setelah opa pikir kamu harus tahu apa yang sebenarnya. Jadi dengan keterlambatan mu datang paling tidak kamu bisa berpikir dan mengasumsikan sendiri apa yang terjadi" ucap Opo.
" Terima kasih akhirnya aku tahu kebenarannya meskipun terlambat" ucap Fathar sambil berdiri hendak pergi.
" Kamu mau ke mana nak, lebih baik kamu sarapan dulu" cegah Ika.
"Aku tidak lapar aku harus berganti baju segera ke bandara 2 jam lagi aku ada penerbangan " ucapnya.
" Tapi kamu belum istirahat jangan membahayakan dirimu dan orang lain" cegah Ika.
" Aku tahu kondisiku aku pernah di didik lebih keras daripada ini" ucapnya sambil melangkah pergi.
" Biarkan dia. Dia pernah jadi Kopassus dan Kopasgat,kalau hanya bergadang semalam tidak akan membuatnya jatuh" ucap Raffi.
" Aku tidak mau anakku kenapa-napa".
Hari ini Fathar dapat penerbangan Jakarta - Surabaya - Bali - Lombok -Bali -Surabaya - Jakarta habis itu dia akan libur sehari ,dia akan gunakan liburannya untuk bicara dengan Feby siapa tahu istrinya mau memberikan kesempatan buatnya.