
Setelah bersiap Feby dan Isal berangkat ke sekolah Isal, karena mereka akan berangkat bersama rombongan dari sekolah.
"Tetap patuhi protokol kesehatan ya" pesan sang guru pembimbing saat memberikan pengarahan pada murid - muridnya.
" Mbak Feby bareng kita aja mobil Kita kosong kok" ucap seorang wanita muda yang usianya 5 tahun diatasnya.
" Apa tidak merepotkan nantinya mama Aldi " ucap Feby.
"Kaya sama siapa aja kamu ayuuuk masuk" ajak mama Aldi pada Feby.
"Lo gak ngundang orang mas buat acara nanti " ucap Ika.
"Sebenarnya aku kasih undangan ke teman ,tapi sejak kemarin pagi dia gak ngasih kabar mas tentang kepastian bisa gak buat datang" ucap Fathar ke pada sang mama.
Ika datang mendampingi suaminya sebagai mantan Jendral bintang 2.
" Kalau dia sudah jodohmu pasti kalian akan dipersatukan jadi nggak perlu risau " ucap sang mama.
" Bener juga sih yang mama bilang tapi masak dia tidak kasih kabar,Oya mana papa ?" tanya Fathar.
"Seperti biasa papa ngobrol sama temen lama ,makanya mama bisa kesini nyamperin kamu"ucap sang mama yang sengaja mendatangi anak untuk mengasih semangat.
"Aku dengar papa salah satu kandidat ketua BIN ma?" tanya Fathar.
"Iya mama jujur kurang setuju sebenarnya " ucap Ika.
"Kenapa " tanya Fathar.
"Waktu menjadi tentara papa enggak bisa ikut ngurusin bisnis karena peraturan, baru pensiun belum ada setahun masak aktif lagi urusan pemerintah " kesal Ika.
"Hahaha sabar ya ma" ucap Fathar.
"Kamu sama aja sama papamu,udah mama mau nemui teman mama saja "kesel Ika meninggalkan Fathar.
Ika lebih suka Raffi mengurusi bisnis dari pada berkabung dengan pemerintahan karena itu membuatnya terikat.
Bugh
"Bagaimana sih anda berjalan ,kalau udah rabun Pake kacamata " kata wanita muda yang tidak sengaja Ika senggol karena sibuk memperhatikan ponselnya.
"Maaf dek tidak sengaja" ucap Ika.
"Sudahlah malas berurusan dengan orang tua" ucapnya sambil pergi begitu saja.
Cantik- cantik tidak punya sopan santun, baru juga menjadi tertera sudah sombong,kata Ika dalam hati sambil memperhatikan tentara wanita yang menabraknya tadi seorang Wara (Wanita udara).
Acara berjalan lancar seusai upacara berlangsung Feby mencari Isal, tapi tanpa sengaja dia melihat Fathar bergandengan tangan dengan seorang Wara lewat di depan Feby.
" Jangan di lihat mbak lebih cantik " ucap Isal di barengi dengan gegaman tanganya membuat Feby menoleh kearah sang adik.
" Mbak enggak sengaja melihatnya, lagian Mbak juga nggak apa-apa kok ayo kita pulang" ajak Feby.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan meninggalkan Istana negara.
"Feby " teriak seseorang memanggil namanya di kerumunan orang yang sedang mencari Tadi.
"Erni " ucap Feby lirih.
" Dimana saja kamu,apa kabarnya " ucap Erni sambil memeluknya.
" Dek itu temannya ga bisa nafas " tegur Lak -laki pada Erni.
" Maaf gw senang sekali bisa ketemu Lo setelah hampir 12 tahun.tahu".
" Aku baik Lo pastinya juga baikkan" ucap Feby"
"Iya ,Lo lagi nyari taxi".
"Iya pesen online gak dapet - dapet dari tadi " keluh Feby.
"Mas mau anterin temanku dulu gak" ucap Erni.
"Gak usah aku gak mau mau merepotkan" tolak Feby.
" Nggak apa-apa ko ayo dek" ucap Ali.
" Terima kasih atas tumpangannya" ucap Feby saat mengantar Erni yang akan pulang.
" Ah kaya sama siapa aja ".
" Tar kamu hadir ya kalau kami jadi lamaran" bisik Erni.
" Insyaallah aku usahakan" jawab Feby.
" kamu hebat waktu manuver tadi " puji Zahra sambil berjalan bergandengan tangan dengan Fathar.
"Kamu juga hebat "ucap Fathar.
"Aku masih seminggu disini ajak aku jalan-jalan keliling Jakarta dong" ucap Zahra.
" Tentu" ucap Fathar.
" Ya udah aku sudah di tunggu temanku,kita mau makan siang bersama terus hang out bareng" pamit Zahra sambil mencium pipi Fathar. Fathar sedikit kaget dengan keagresifan Zahra sebenarnya ada wanita yang pernah mengutarakan cinta bahkan ada memberikan ciuman panas padanya, tapi tidak ada yang berani menciumnya di depan umum mereka masih melihat situasi dan kondisi yang tepat.
" Lo baru pulang " ucap Fathar saat melihat Ali baru datang.
"Tadi baru mengantarkan cewek gw pulang dan kebetulan dia ketemu temen lamanya jadi sekalian gw mengantarkan temannya pulang karena nuguin taxi ga dapet-dapet kasihan" cerita Ali.
"Ketemu di mana " tanya Fathar.
"Ya di Istana Negara lah sepertinya sekolah sang adik terpilih mengikuti upacara disini" cerita Ali.
" Sampai kapan Lo disini ?" tanya Fathar.
"Senin gw mulai dinas lagi, kenapa " ucap Ali.
"Zahra mengajak aku keliling Jakarta selama dia disini " ucapku.
" Pasti mau nguras dompet loo" ucap Ali tak suka.
"Jangan prasangka buruk pada orang lain " ucap Fathar menasehati.
"Gw tanya uang yang dipinjam buat beli sepatu kemarin sudah dibalikin belum" ucap Ali yang dijawab Fathar dengan gelengan kepala.
" meski kamu tidak bakal menerimanya jika dia berniat baik dia akan berusaha mengembalikan uangmu meski kamu tolak" ucap Ali, Fathar hanya dia mendengarkannya buat dia harga sepatu satu juta bukan masalah.
" Intinya kamu mau nggak nemenin gue besok " ucap Fathar.
" Boleh sekalian gue ajak cewek gue ,gue juga mau lihat seberapa banyak lagi dia menguras dompetmu" ucap Ali malas.
" Aku tidak masalah mengeluarkan duit buat dia lagian tidak menghabiskan gajiku sebulan " ucap Fathar santai.
" kamu boleh suka sama dia tapi jangan mau dibodohi sama dia, dia hanya memanfaatkan isi kantongmu" kata Ali.
" Aku senang saja jalan sama dia" ungkap Fathar.
" Bukan karena penasaran kan dulu dia menolakmu sekarang dia yang mendekatimu" tebak Ali.
Fathar hanya diam mendengarkan kata-kata temannya.
" Perempuan kayak begitu tidak cocok untuk dijadikan pendamping hidup karena kita tidak tahu kapan roda berputar kapan di bawah kapan di atas" ucap Ali lagi Fathar juga hanya mendengarkan.
" Aku tidak tahu latar belakang keluargamu tapi dari pakaian yang kamu kenakan sejak aku mengenalmu semuanya barang bermerek pasti kamu orang berada ,mungkin kehidupan ekonomi mu di atas Bintara tapi kamu tidak pernah menunjukkannya seperti Bintara yang selalu memamerkan pangkat orang tuanya dan ekonomi orang tuanya" ucap Ali kali ini lebih panjang.
" Beberapa hari aku lalu aku mendekati wanita tapi dia tidak merespon dan terkesan menolak, bahkan undanganku untuk menghadiri upacara kemerdekaan tidak ditanggapi mungkin sudah saatnya aku mundur untuk mendekatinya " cerita Fathar.
" Apa kamu yakin dia menolakmu atau kamu yang tidak bisa meluluhkan hatinya, tapi seperti yang kulihat akhir-akhir ini kamu tidak pernah pegang ponsel selama aku di sini jangan-jangan Kamu melupakannya dan tidak pernah menghubungi lagi" tebak Ali.
" Jujur sejak ketemu Zahra Aku tidak pernah menghubunginya . Aku berharap dia menghubungiku dan menanyakan keadaanku tapi nihil sampai sekarang tidak pernah menghubungi ku sama sekali".
" kenapa kamu tidak bertanya kepadanya kenapa dia tidak menghubungimu ,siapa tahu dia lagi ada masalah atau pernah melihatmu waktu kita berjalan bersama. Jujur waktu kita jalan berempat ada yang mengambil foto dan mengirim ke cewekku dia sempat marah tapi hari itu juga aku menceritakan yang sebenarnya, makanya paginya dia bisa datang menemuiku di upacara kemerdekaan dan tak marah lagi" ucap Ali.
" kurasa itu tak mungkin, karena dia orang yang gila kerja " ucap Fathar yakin.
"Terserah padamu meski aku belum tahu siapa cewek yang kamu maksudku,tapi sepertinya dia lebih baik dari Zahra" ucap Ali.
"Sok tahu loo" ucap Fathar sambil tersenyum, tidak rasa apapun saat Fathar mendengar Ali berkomentar tentang Zahra dan keburukan Zahra.