
Seperti biasa hari ini aku dan Fathar ditemani Serda Yuni,kami belanja bulanan sekalian membeli perlengkapan baby yang kata dokter William berjenis kelamin perempuan,
"ko belinya dikit bu"
"Mbak bukan Bu,buat syarat aja kasihan kalau semua bekas kakaknya ya kebanyakan punya Fathar sih warna netral jadi bisa masuk ke cewek cowok "
"ibunya kapan kesini Mbak "
"Tar kalau dah terasa mules kalau lama lama disini pasti minta buru buru pulang banyak banget alasannya "
"ya begitulah orang tua mbak buat mereka rumahnya adalah yang paling nyaman versi mereka "
"ha ha ha bener yang kamu ,mau makan dimana ni"
"langsung pulang aja mbak kasihan Fathar kayanya udah ngantuk banget "
"Oke kita langsung otw pulang"
"Yun berhenti di depan aku mau beli jajanan dekat sekolah "
"siap ibu"
"mama ikut "kata Fathar yang melihat ku hendak keluar,
"ayo masih ngantuk mama gendong takut jatuh masih ngantuk gitu "
"tapi Bu "
"udah ga apa apa"
"saya aja yang gendong "di saat aku sedang menurunkan Fathar karena membetulkan jilbab ku yang ketarik Fathar,aku mendengar suara motor yang sangat kencang aku bisa melihat motor itu melaju kearah ku tapi kakiku sangat susah bergerak hingga aku merasa Yuni menarik ku dan Fathar secara bersamaan hingga kami terjatuh.
"Yun bagaimana Fathar Yun"cemas ku saat ku dengar suara tangis kencang Fathar.
"Fathar ga apa apa Bu tapi ibu"
"aku ."aku melihat begitu banyak darah sebelum aku merasakan tiba tiba gelap.
"egh eghh "
"Mbak udah sadar" saat kebuka mataku suara Bayu yang kudengar dan yang kulihat pertama kali, mulutku terasa susah digerakkan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku.
"aku panggil dokter jangan banyak bergerak dulu"setelah Bayu memencet tombol darurat dalam selang beberapa menit pintu terbuka tanpa kulihat dokter William datang dengan beberapa dokter, mereka langsung memeriksaku dan menanyakan beberapa hal yang kurasakan, yang hanya bisa aku jawab dengan gelengan dan anggukan.
"Bagaimana mana dengan putriku" tanyaku setelah mengumpulkan tenaga untuk bersuara.
"Alhamdulillah putrimu selamat "
"Fathar ,Serda Yuni "
"mereka semua selamat, lebih baik kamu istirahat biar cepat pulih dan bisa menyusui Putri cantikmu"
"boleh aku melihat Putriku dok"
"ntar aku suruh perawat membawanya ke sini"setelah itu dokter dan suster pergi meninggalkan ruanganku hanya menyisakan aku dan Bayu.
"Mbak nggak perlu khawatir Fathar sama Omanya di hotel"
"Apa bapak dan ibu tahu"
"aku belum ngasih tahu,aku diajak mas Radit kesini secara mendadak dari pabrik langsung kesini, oiya aku ambil baju suami mu, habis nya mau beli gak sempet aku juga sudah bilang mas Raffi bajunya aku Pake dia juga sudah transfer aku uang buat beli keperluan ku selama disini tanpa meminta mbak tapi syaratnya aku harus selalu memegang ponsel jadi begitu dia bisa telpon dia akan telpon dan aku harus menjawab panggilannya "
"pasti kamu untung banyak "kataku sambil menahan tawa melihat mukanya yang berbinar membayangkan uang dari Raffi.
"kalau mau ketawain ga apa apa Lo mbak"
"asem kamu bukan menahan tawa tapi sakit buat ketawa perutku,"
"coba aku panggil suster " selang beberapa menit Suter datang.
"ada yang bisa dibantu ibu"
"ini Suter kata kakak saya buat ketawa perutnya sakit "
"begini sus perut bagian sini tersa nyeri dan perih apalagi buat ketawa dan batuk, badan juga buat gerak sakit"
"tidak apa-apa ibu itu efek dari obat bius yang sudah habis jadi sakit yang ibu rasakan itu wajar setelah Cesar , pelan pelan aja Bu" jadi aku melahirkan Cesar kata ku dalam hati.
"saya tinggal ibu kalau ada apa apa pencet aja "
"terimakasih Suter cantik " kata Bayu membuat suster itu tersenyum malu.
"kamu dapat berapa dari Raffi ko melayaniku seperti ratu"
"jangan kaget ya mbak ,bisa buat beli motor Vario 150 terbaru "seketika aku melotot mendengarnya.
"pemborosan "umpatku.
"udah dibilang jangan kaget masih aja kaget"katanya sambil tertawa.
"jangan tertawa kamu"
"gimana nggak tertawa aku jaga kamu seminggu digaji kayak gajiku di pabrik gula setahun" aku tarik nafas buang jangan pikiran, jangan pikirkan sugesti ku buat aku sendiri,kenapa kamu bodoh sekali ingin aku marah dengan Raffi , tapi kalau masalah materi aku akui dia sangat royal pada keluargaku terutama buat si bontot ini katanya karena Bayu belum kerja dia masih kuliah.
"Mbak, Mbak jangan marah ya mau aku bagi dua kalau mau aku transfer ke kamu lagi nih separuhnya"
"nggak usah manfaatkan aja sebaik baiknya jangan digunakan untuk yang tidak berguna apalagi kalau mabuk dan narkoba aku bunuh kamu"
"hehehe nggak santai aja"
"mbak mau tidur dulu "kataku karena merasa mataku sudah sangat berat.
cklek
"belum selesai juga dari tadi"
"udah Mas tadi juga udah diperiksa dokter, katanya mbak Ika sih masih terasa nyeri terus kata susternya pengaruh obat biusnya yang hilang ini tidur juga baru 15 menit"
"kamu mau keluar cari makan atau mau keluar beli baju ganti "
"ada ada aja kamu Mas ini tuh jam 12.00 malam emang ada toko baju buka"
"tuh di luar ada minimarket 24 jam di sana juga menjual baju dalam dan handuk , aku tahu pasti kamu nggak nyaman buktinya kamu pinjam baju Raffi buat ganti baju"
"ha ha kamu salah Mas aku ganti Karena tadi aku ke sini kan cuma pakai seragam pabrik ya aku malu lah Mas , masak nungguin di ruang VIP terus susternya cantik cantik masak pakaianku cuma seragam pabrik"
"ha ha ha pantas kamu jadi adiknya Raffi selalu mengutamakan penampilan di depan wanita"
"tapi aku kan cuma adik ipar Mas jadi nggak ada gen turunan dari mas Raffi"
"ha ha terserah kamu lah Bay"
"gimana Fathar mas"
"sama mama di hotel"
"terus serda Yuni udah pulang"
"udah,mas minta maaf ya"
"buat apa Mas "
"karena sepertinya kecelakaan yang menimpa kakakmu, adalah keluarga kami"
"emang udah di selidiki "
"posisi masih menyelidikinya tapi orang suruhan papa yang bergerak dah tau cuma lagi ngumpulin bukti biar kuat dan tersangka tidak bisa melakukan penyangkalan lagi "
"wah mas aku gak punya hak untuk memaafkan lebih baik Mas tanya aja sama mbak Ika yang menjadi korbannya "
"bapak dan ibu sudah kamu kasih tau "
"belum tapi aku sudah menghubungi Dwi nanti Dwi yang akan mengantar bapak ibu kesini, jadi biar mereka tahu pas udah disini aja"
"kalau mau ke sini bilang Mas entar Mas pesankan tiket pesawat dari sini aja"
"ok Mas tar aku infoin ke Dwi dulu"
"Raffi sudah menghubungi mu lagi "
"belum mas terahkir menghubungiku tadi pas mbak Ika keluar dari ruang operasi,dia memintaku untuk merekam suaranya yang lagi adzan supaya putrinya bisa mendengar kan adzan dari mulutnya meskipun tidak langsung "
"udah kamu dengarkan "
"udah tadi aku video juga Pake Ponsel mbak Ika terus aku kirim tapi masih cek list satu, sepertinya ponselnya masih belum aktif atau emang lagi gak ada sinyal "
"itulah mengapa mama marah, Taulah resiko kerjaan Raffi"
"ya semua kerjaan ada resikonya,Mas"
"Dan inilah pilihan karir Raffi"